Halloween party ideas 2015
Tampilkan postingan dengan label kontroversi. Tampilkan semua postingan

Mengungkap Ketakutan Terpendam Marshanda: Alasan Tak Perjuangkan Hak Asuh Anak Setelah 10 Tahun

Kehidupan pasca-perceraian seringkali menyisakan berbagai dinamika, terutama bagi para figur publik yang sorotan publik selalu menyertainya. Marshanda, aktris yang akrab disapa Caca, baru-baru ini membuka diri mengenai ketakutan mendalam yang ia pendam selama sepuluh tahun pasca-perceraiannya dengan Ben Kasyafani. Meskipun hubungan co-parenting mereka terlihat harmonis di mata publik, Caca mengungkapkan sebuah kekhawatiran yang terus menghantuinya terkait hak asuh putri semata wayangnya, Sienna Ameerah Kasyafani. Rasa takut akan tanggapan negatif dari Sienna, karena dirinya tidak memperjuangkan hak asuh anak tersebut, menjadi bayangan yang tak kunjung sirna. Hingga akhirnya, sebuah percakapan tak terduga dengan Sienna memberikan jawaban yang melegakan.

1. Alasan Awal Marshanda Tidak Mengajukan Banding Hak Asuh Anak

Dalam sebuah unggahan di akun Instagram pribadinya, Marshanda menceritakan sebuah percakapan intim dengan putrinya. Percakapan ini muncul dari rasa takut yang kadang-kadang masih menyelimutinya, bahkan setelah satu dekade berpisah dari ayah Sienna. "Dua malam lalu, saya melakukan percakapan yang sangat menarik dengan putri saya," ungkap Marshanda. "Ini berasal dari ketakutan saya yang kadang-kadang masih muncul setelah sepuluh tahun berpisah dari ayah Sienna."

Meskipun telah lama berpisah, Marshanda menjelaskan alasan di balik keputusannya untuk tidak mengajukan banding hak asuh atas Sienna. Ia menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil dengan pertimbangan matang dan niat baik. Namun, seiring berjalannya waktu, pilihan itu justru menjadi sumber ketakutan yang terkadang menghantuinya. "Saat proses perceraian, saya tidak mengajukan banding untuk berjuang lebih keras memenangkan hak asuh atas Sienna, karena saya percaya bahwa mantan suami saya adalah seseorang yang dewasa dan kami akan bisa melakukan co-parenting sebaik mungkin," jelas Marshanda.

2. Ucapan Mantan Pengacara Memicu Kekhawatiran Marshanda

Rasa takut yang dialami Marshanda rupanya berakar dari ucapan beberapa orang terdekatnya, termasuk mantan pengacaranya pada saat itu. Sang pengacara pernah mengutarakan kemungkinan bahwa suatu hari nanti Sienna bisa saja marah dan kecewa karena ibunya tidak memperjuangkan hak asuhnya.

"Tapi, tetap saja pada saat itu beberapa orang dekat saya, termasuk pengacara saya, sampai berkata seperti ini. 'Ca, kalau kamu sekarang tidak mengajukan banding, suatu hari nanti Sienna akan datang ke kamu dan dia akan marah, dia akan bilang kecewa sama kamu karena tidak berjuang lebih keras untuk memenangkan hak asuh supaya kamu bisa tinggal satu rumah dan mengasuh dia sepenuhnya'," kenang Marshanda.

3. Keyakinan pada Pilihan dan Keinginan Menghindari Konflik

Meski dibayangi rasa takut, Marshanda tetap teguh pada pilihannya dan menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan. Ia memiliki alasan kuat mengapa tidak ingin memperpanjang konflik. Marshanda tidak ingin Sienna tumbuh dengan ingatan buruk tentang pertengkaran kedua orang tuanya.

"Bahkan dengan ketakutan yang saya rasakan setelah pengacara saya mengatakan itu kepada saya, pada saat itu, saya tetap memutuskan untuk melanjutkan dengan keyakinan buta kepada Tuhan, yaitu tidak bertengkar. Tidak berperang lebih jauh dengan mengajukan banding dan menciptakan memori bahwa Ayah dan Ibu bertengkar saat aku kecil di kepala Sienna. Saya tidak menginginkan itu. Itulah mengapa saya tidak memperjuangkan hak asuh," tegas Marshanda.

4. Rasa Takut Masih Ada Meski Anak Tinggal Bersamanya

Seiring berjalannya waktu, fase awal yang penuh tantangan perlahan berhasil dilewati. Sienna menunjukkan kedewasaannya dengan mengambil keputusan penting dalam hidupnya, yaitu memilih untuk tinggal bersama Marshanda. Meskipun keadaan telah membaik, bayang-bayang ucapan mantan pengacara Marshanda sesekali masih menimbulkan rasa takut. Kekhawatiran ini membuat Marshanda memendam pertanyaan besar tentang perasaan terdalam Sienna terhadap dirinya.

"Memang proses awalnya susah dan sekarang Sienna sudah mengambil keputusan untuk tinggal bersama saya. Tetap saja saya kadang-kadang memiliki ketakutan yang disampaikan oleh mantan pengacara saya itu," ujar Marshanda.

5. Keberanian Mengajukan Pertanyaan yang Terpendam

Didorong oleh rasa cemas sekaligus tanggung jawab sebagai seorang ibu, Marshanda akhirnya memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada Sienna. Ia bahkan telah menyiapkan diri untuk menerima jawaban terburuk yang selama ini menghantuinya.

"Beberapa hari lalu saya berbicara dengan Sienna. 'Sien, bolehkah saya jujur?' 'Iya Ibu, kenapa?' 'Apakah kamu pernah memiliki pemikiran atau perasaan kecewa kepada Ibu dan berharap saya berjuang lebih keras untukmu, untuk kita, dalam hidupmu?'" tanya Marshanda kepada Sienna, sembari bersiap menerima jawaban yang paling ia takuti.

6. Jawaban Tak Terduga yang Mengubah Segalanya

Setelah melontarkan pertanyaannya, Marshanda tidak menyangka bahwa jawaban Sienna akan begitu jauh dari bayangannya selama ini. Jawabannya sederhana namun memiliki makna yang sangat mendalam baginya. Sienna hanya membutuhkan Marshanda sebagai sosok ibu yang hadir dalam hidupnya.

"Tapi ternyata Sienna menjawab dengan satu kalimat sederhana, dia berkata, 'Ibu, aku tidak butuh ibu yang sempurna, aku butuh ibu yang ada untukku'," tutur Marshanda sambil memperagakan ucapan Sienna.

Melalui jawaban tersebut, rasa takut yang selalu menghantuinya selama sepuluh tahun seketika berubah menjadi kebahagiaan. Ekspresi wajahnya memancarkan kelegaan yang luar biasa atas jawaban putrinya. Keyakinannya pada pilihan untuk tidak mengajukan banding hak asuh anaknya terbukti tidak sia-sia. "Dan pada saat itu adalah bukti bahwa keyakinan saya, keyakinan saya yang buta dan tak tergoyahkan kepada Tuhan, tidak sia-sia," pungkasnya.

7. Anak Kini Tinggal Bersama Marshanda

Diketahui bahwa sebelumnya Sienna sempat tinggal bersama ayahnya selama sepuluh tahun dan kini telah pindah untuk tinggal bersama Marshanda. Ketika Marshanda mengetahui keinginan Sienna untuk tinggal bersamanya, tentu saja ia merasakan campur aduk emosi. Selama ini, ia bahkan tidak berani berharap apalagi berdoa mengenai keinginan tersebut, karena merasa itu terlalu jauh dari angan-angannya. Namun, keinginan yang hanya tersimpan dalam mimpi itu akhirnya menjadi kenyataan dan membawa kebahagiaan besar bagi Marshanda.

"Sudah lama sejak bulan Juli. Tidak menyangka sesuatu yang saya bahkan tidak berani berdoa untuk menyampaikannya, hanya tersimpan dalam mimpi, namun menjadi kenyataan. Rasanya sangat bahagia," katanya dalam sebuah program televisi.

8. Perubahan Gaya Hidup Sejak Anak Tinggal Bersama

Sejak tinggal bersama, Marshanda mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan signifikan yang ia rasakan, mulai dari gaya hidup hingga urusan makanan. Kehadiran Sienna di rumah Marshanda memberikan suasana yang jauh lebih hidup. Jika dulu ia terbiasa dengan gaya hidup serba praktis dan sering mengandalkan layanan pesan antar makanan, kini semuanya berbeda. Marshanda kini lebih memperhatikan isi kulkas dan teliti dalam merencanakan menu masakan setiap harinya.

"Selama Sienna belum tinggal bersama saya, saya bisa dibilang tinggal sendiri. Kulkas saya selalu kosong karena saya selalu memesan makanan secara daring. Sejak ada Sienna, saya jadi ingin memasak. Akibatnya, bahan makanan ada di kulkas dan kulkas jadi penuh. Yang tadinya selalu kosong, sekarang jadi terlihat penuh ya?" ungkap Marshanda.

9. Rutinitas Pagi Layaknya Orang Tua pada Umumnya

Tidak hanya soal makanan, Marshanda kini dipenuhi kesibukan khas orang tua yang mengurus anak sekolah di pagi hari. Mulai dari memasak sarapan, menyiapkan bekal, hingga memastikan Sienna siap berangkat tepat waktu, semua menjadi pengalaman baru yang seru sekaligus menantang bagi Marshanda.

"Besoknya dia sekolah, kita masak sarapan. Lalu, suasana menjadi 'hectic' di dapur karena kami belum terbiasa. 'Ayo cepat, setengah jam lagi sudah mau berangkat sekolah! Sienna sudah mandi? Ayo cepat-cepat!'" tuturnya.

10. Keputusan Tinggal Bersama Murni Keinginan Anak

Sebagai informasi, keputusan Sienna untuk tinggal bersama ibunya bukanlah hasil dari perebutan hak asuh, melainkan murni keinginannya sendiri. Mengetahui hal ini membuat Marshanda terkejut.

"Sienna sendiri yang ingin tinggal bersama saya, jadi awalnya sangat mengejutkan. Menurut saya, untuk usianya, dia sangat dewasa dan pemikirannya 'out of the box', jadi banyak sekali celetukannya yang berkesan. Kemarin liburan tahun baru di Bali, lalu kita jalan-jalan ke pantai, sempat ke Sumba juga," jelas Marshanda.

Saat berlibur di Bali, Sienna menyampaikan keinginannya untuk tinggal bersama Marshanda. Saat itulah, ucapan polos dari anak semata wayangnya itu menjadi momen paling menyentuh bagi Marshanda.

"Sienna yang berbicara kepada saya. 'Ibu, kita lagi jalan-jalan,' dia bilang, 'Sepertinya mulai tahun depan aku ingin tinggal sama Ibu, deh. Boleh tidak aku pindah tinggal bersamamu?'" ujarnya.

Dari situ, Marshanda berharap bisa terus hidup berdampingan dengan Sienna hingga ia dewasa kelak. "Semoga dia bisa tetap dekat dengan saya sampai dewasa nanti," ucap Marshanda.

Semoga hubungan ibu dan anak ini senantiasa harmonis.

Polemik Ban Kapten Timnas Indonesia: Asnawi Mangkualam Bantah Isu Internal Lawan China

Sebuah perdebatan lama mengenai isu internal Timnas Indonesia, khususnya terkait pergantian ban kapten saat menghadapi China, kembali mencuat. Polemik ini kembali dipanaskan oleh pernyataan seorang figur publik yang kemudian dibantah keras oleh kapten Timnas saat ini, Asnawi Mangkualam. Kejadian ini membuktikan bahwa isu di ruang ganti pemain seringkali menjadi bola liar yang sulit dikendalikan di publik.

Latar Belakang Polemik

Polemik ini berawal dari pertandingan antara Timnas Indonesia melawan China yang berlangsung di Stadion Pemuda Qingdao. Sebelum laga tersebut, sempat beredar isu mengenai adanya permasalahan internal dalam skuad Garuda. Kecurigaan ini semakin menguat ketika pelatih kepala, Shin Tae-yong, melakukan beberapa perubahan signifikan pada susunan pemain utama (line-up). Salah satu perubahan yang paling disorot adalah pergantian ban kapten. Saat itu, Asnawi Mangkualam yang kembali diturunkan sebagai starter, kembali mengenakan ban kapten yang sebelumnya sempat diberikan kepada Jay Idzes ketika Asnawi berada di bangku cadangan.

Pada dasarnya, penunjukan Asnawi sebagai kapten utama bukanlah hal yang baru, karena memang pelatih Shin Tae-yong telah menunjuknya sebagai kapten utama tim. Namun, isu mengenai adanya masalah internal kembali mencuat setelah Arya Sinulingga, dalam sebuah podcast di kanal YouTube pribadinya bersama Haris Pardede (Bung Harpa) pada Rabu (10/12/2025), membahas kembali kejadian tersebut.

Pernyataan Arya Sinulingga dan Tanggapan Awal

Dalam diskusinya, Arya Sinulingga secara terbuka menyatakan bahwa pertandingan melawan China tersebut diwarnai oleh permasalahan internal di tubuh Timnas Indonesia di bawah kepemimpinan Shin Tae-yong. Ia secara spesifik menyoroti pergantian ban kapten yang sebelumnya dipegang oleh Jay Idzes.

"Kalau nggak ada masalah ruang ganti pasti kita nggak gitu komposisinya lawan China, bener nggak, nggak mungkin Jay Idzes diganti dari kapten," ujar Arya.

Mendengar pernyataan tersebut, Bung Harpa mencoba memberikan klarifikasi berdasarkan informasi yang diterimanya. Ia menyebutkan bahwa berdasarkan informasi yang ia dapat, Asnawi Mangkualam memang merupakan kapten utama tim.

"Soal Jay Idzes, boleh saya interupsi bang, setahu saya ini Asnawi kan memang kapten utama bang, memang di masih statusnya kapten utama, setahu saya," ujar Bung Harpa.

Arya Sinulingga kemudian membantah pernyataan Bung Harpa tersebut, dengan tegas menyatakan bahwa status kapten telah berganti. "Enggak udah ganti," sahut Arya.

Bung Harpa kembali membantah dengan mengutip perkataan Jay Idzes sendiri yang menyebutkan bahwa Asnawi adalah kaptennya. "Nah terus Jay Idzesnya katanya yang bilang ya udah si Asnawi saja yang kapten," balas Bung Harpa.

Arya Sinulingga, yang merupakan Exco PSSI, kembali mempertegas pernyataannya. Ia menambahkan bahwa selain isu kapten, adanya konflik saat itu juga dapat dilihat dari dicadangkannya Thom Haye. Ia juga menyinggung pernyataan Jeje yang kerap membahas masalah antara pemain dan pelatih, bukan masalah federasi.

"Enggak udah diganti makanya Jay Idzes yang kapten kan, itu perubahan, Thom Haye nggak main, banyak terjadi. Dan kayak Jeje kan bang Harpa kan banyak gaul sama Jeje, dia nggak pernah ngomongin federasi, dia selalu ngomongin masalah pemain dengan pelatih," imbuh Arya.

Bantahan Tegas Asnawi Mangkualam

Merasa terganggu dengan kemunculan kembali isu lama yang seharusnya sudah tertutup, Asnawi Mangkualam akhirnya angkat bicara. Bek kanan klub Port FC ini secara tegas membantah pernyataan Arya Sinulingga terkait polemik ban kapten.

Sebelum memberikan klarifikasi resmi, Asnawi mengunggah sebuah cuplikan video dari podcast Arya Sinulingga dan Bung Harpa yang membahas isu internal dan pemilihan kapten saat laga melawan China. Dengan nada sarkas, Asnawi menandai akun Jeje dalam unggahannya, seolah meminta klarifikasi dari rekannya tersebut.

"@jeongseokseo coba jelasin Je gimana biar bapak ini ngerti gimana (di tambah emoji heran)," tulis Asnawi pada video tersebut, Kamis (11/12/2025).

Selanjutnya, Asnawi Mangkualam memberikan klarifikasi mendalam melalui fitur InstaStory-nya. Ia mengungkapkan kekecewaannya terhadap pihak yang memberikan informasi yang belum tentu benar.

"Tidak ada dilokasi tapi klarifikasi seakan-akan benar adanya, coba di publik siapa yang memberitahu bapak perihal kapten itu. Apakah pelatih, pemain atau official? Tolong sampaikan biar gak jadi bola liar di publik," tulis Asnawi Mangkualam.

Mantan pemain PSM Makassar ini kemudian memberikan penjelasan gamblang mengenai kronologi sebenarnya terkait pemilihan kapten Timnas Indonesia.

Klarifikasi Detail Asnawi Mangkualam

Asnawi Mangkualam menjelaskan bahwa ia sebenarnya sudah sejak lama berniat untuk menyerahkan ban kapten kepada pemain lain. Bahkan, niat tersebut sudah ada sebelum ajang Piala Asia.

"Saya pribadi sudah lama berniat untuk memberikan kapten itu ke pemain lain bahkan sebelum Piala Asia," ujar Asnawi dalam klarifikasinya.

Ia mengungkapkan bahwa ia sempat berbicara dengan asisten pelatih Timnas Indonesia saat itu, Nova Arianto, mengenai keinginannya untuk memberikan ban kapten utama kepada pemain lain, seperti Jordi Amat atau Jay Idzes.

"Saya pribadi berbicara ke Coach Nova bilang kamu yang masih dipercaya Coach Shin dan berlanjut lagi saya masih berusaha untuk memberikan ke pemain lain lagi yaitu Jay dari sebelum melawan Australia di GBK. Waktu itu setelah makan malam saya mengajak Jay, Sandy, Thom dan Ridho untuk membahas soal kapten ini ke pelatih siapa first kapten dan vice."

Asnawi menegaskan bahwa saat itu, Coach Shin Tae-yong tetap mempercayakan ban kapten utama kepadanya, dan Jay Idzes sebagai wakil kapten. Ia yakin bahwa semua pemain yang disebutkan di atas dapat menjadi saksi atas kebenaran pernyataannya.

"Ketika itu Coach Shin tetap mempercayakan first kapten ke saya dan Jay sebagai vice. Dan di sini jelas dan bisa ditanyakan juga ke semua pemain yang saya sebutkan di atas."

Ia merasa heran mengapa dirinya selalu disudutkan dalam permasalahan ini, dan mengapa isu dari pertandingan melawan China, yang sudah berlalu, masih terus dibahas. Menurutnya, fokus seharusnya adalah perbaikan untuk masa depan tim.

"Saya rasa masalah ini jika paham bola tidak perlu dibahas karena memang jelas alurnya seperti itu. Ketika first kapten bermain tetap akan memakai ban kapten. Tetapi jika tidak bermain diberikan ke vice kapten. Tapi kenapa seakan-akan saya selalu disudutkan di permasalahan ini, dan kenapa juga sampai saat ini masih membahas pertandingan ketika melawan China. Sedangkan yang harus dilakukan bukan membahas yang sudah berlalu tapi memperbaiki buat ke depannya."

Asnawi juga menekankan bahwa jika memang benar Jay Idzes telah ditentukan sebagai kapten utama saat melawan China, ia meminta agar sumber informasi tersebut diungkapkan. Ia menyatakan bahwa ia bangga jika dipercaya, namun akan lebih ikhlas jika kepercayaan itu diberikan kepada orang yang lebih pantas. Alasan keinginannya untuk memberikan ban kapten kepada pemain lain adalah karena ia merasa performanya menurun dan ada pemain lain yang lebih layak.

"Kalau memang perkataan bapak itu benar Jay sudah ditentukan sebagai first kapten melawan China, please let me know who telling you? Jika saya diberikan kepercayaan saya bangga, tapi ketika diberikan jauh lebih baik saya ikhlas. Dan itu sudah lama saya berniat untuk memberikan ke yang lain. Alasan saya ingin memberikan ke yang lain karena that tim saya rasa performa saya menurun dan ada yang lebih pantas," tutup Asnawi Mangkualam.

Klarifikasi mendalam dari Asnawi ini diharapkan dapat menutup rapat "kotak pandora" isu lama yang terus menghantui Timnas Indonesia dan membuka jalan bagi fokus yang lebih positif untuk perkembangan sepak bola nasional.

Cancel culture dikenal sebagai sebuah budaya atau gerakan memboikot publik figur yang problematik. Gerakan ini kerap dilakukan netizen Korea terhadap artis yang tersandung kontroversi atau kena skandal. Cara ini bahkan bisa membuat sang artis kehilangan pekerjaannya, lho.

Namun, tak sedikit pula artis Korea yang tetap menghadiri berbagai acara di tengah kontroversinya, termasuk datang ke acara awards. Beberapa aktor Korea ini justru memanfaatkan momen pidato kemenangan dengan menyinggung kontroversinya, bahkan meminta maaf di hadapan para artis yang hadir. Yuk, simak dalam artikel berikut ini!

1. Jung Woo Sung

Aktor Jung Woo Sung pertama kali muncul di publik setelah terungkapnya kontroversi yang menyebutkan bahwa ia merupakan ayah dari anak model Moon Ga Bi tanpa terikat pernikahan. Ia hadir di 45th Blue Dragon Film Awards yang digelar pada November 2024. Sang aktor memenangkan penghargaan lewat film yang dibintanginya berjudul 12.12: The Day dengan kategori Most Popular Film dengan lebih dari 13 juta penonton.

Saat pidato kemenangan, Jung Woo Sung menyinggung kontroversi yang menyeretnya, ia berkata, "Saya berdiri di sini dengan harapan agar masalah pribadi saya tidak menodai film ini dan orang-orang yang ada di dalamnya. Saya meminta maaf sebesar-besarnya karena telah menimbulkan kekhawatiran dan kekecewaan bagi semua orang yang telah mendukung saya. Saya akan menerima kritik dan bertanggung jawab. Sebagai ayah, saya akan memenuhi kewajiban saya kepada putra saya sampai akhir."

2. Kim Jung Hyun

Melalui acara penghargaan KBS Drama Awards 2024, Kim Jung Hyun menyinggung kembali tentang kesalahan yang pernah ia perbuat bertahun-tahun lalu. Saat menerima penghargaan Top Excellence Award lewat drama The Iron Family (2024), ia menggunakan kesempatan itu untuk meminta maaf terkait sikapnya yang kurang profesional terhadap Seohyun, lawan mainnya di drama Time pada 2018 lalu. Sang maknae SNSD juga kebetulan hadir MC di acara yang diselenggarakan KBS tersebut.

"Pada satu titik dalam karier akting saya, ada saat-saat di mana saya berperilaku buruk dan melakukan hal yang seharusnya tidak saya lakukan, menyakiti dan mengecewakan orang-orang di sekitar saya. Saya ingin mengambil kesempatan ini untuk meminta maaf dengan tulus. Saya juga tidak berpikir dengan meminta maaf semuanya akan berakhir. Saya tidak mengharapkan pengampunan. Namun, langkah yang saya percaya bahwa langkah ini harus saya ambil untuk terus maju dalam hidup ini," ungkap aktor kelahiran tahun 1990 itu.

3. Lee Yi Kyung

Lee Yi Kyung memenangkan kategori Best Choice Award di Asia Artist Awards (AAA) pada 6 Desember 2025 yang digelar di Taiwan. Dalam pidato kemenangannya, sang aktor justru menyinggung tentang kontroversi yang tengah menyeretnya. Sebelumnya, ia dituduh terlibat dalam percakapan yang merujuk pada pelecehan seksual melalui pesan media sosial dengan seorang netizen asal Jerman.

Dalam speech kemenangannya, ia berujar, "Sejujurnya, bahasan ini mungkin tidak sesuai dengan suasana pesta, tetapi akhir-akhir ini rasanya saya seperti diterjang hujan es yang tidak terprediksi dalam ramalan cuaca. Tersangka telah mengirimkan permintaan maaf dan keringanan hukuman melalui email perusahaan. Saya bertekad untuk menangkap mereka."

Tindakan yang diambil sederet aktor Korea untuk menyinggung perihal kontroversi mereka di acara penghargaan ini justru menuai kritikan dari publik. Momen tersebut dianggap tidak tepat dan merusak acara yang khidmat. Netizen berpendapat bahwa tidak seharusnya mereka memanfaatkan acara penghargaan untuk kepentingan pribadinya.

Dituding Sindir Yoo Jae Suk, Agensi Lee Yi Kyung Rilis Klarifikasi Lee Yi Kyung Disorot Usai Abaikan Yoo Jae Suk di Pidato AAA 2025 Lee Yi Kyung Keluhkan Hangout With Yoo, Tim Produksi Buka Suara

Misteri "Project Mercury": Meta Diduga Tutupi Dampak Buruk Media Sosial pada Kesehatan Mental

Dugaan serius kini menghampiri raksasa teknologi Meta, perusahaan induk dari platform media sosial populer seperti Facebook dan Instagram. Laporan terbaru mengindikasikan bahwa Meta diduga telah menghentikan sebuah proyek penelitian internal yang diberi nama sandi "Project Mercury". Proyek ini dibentuk dengan tujuan mulia untuk mengukur dampak penggunaan media sosial terhadap kesejahteraan penggunanya. Namun, ironisnya, penelitian ini konon dihentikan karena ditemukan bukti kuat bahwa produk-produk Meta justru memberikan pengaruh negatif yang signifikan terhadap kesehatan mental para penggunanya.

Tuduhan yang sangat memberatkan ini terungkap melalui dokumen-dokumen pengadilan yang baru saja dibuka ke publik. Dokumen-dokumen tersebut merupakan bagian dari gugatan hukum yang diajukan oleh sejumlah distrik sekolah di Amerika Serikat terhadap Meta dan beberapa platform media sosial terkemuka lainnya. Tudingan utama dalam dokumen tersebut adalah Meta diduga sengaja menyembunyikan "bukti kausal" atau bukti yang menunjukkan hubungan sebab-akibat antara penggunaan media sosial dan dampak buruknya, demi melindungi kepentingan bisnis mereka.

Latar Belakang "Project Mercury"

Berdasarkan informasi yang diperoleh melalui proses hukum, pada tahun 2020, para ilmuwan di Meta memulai sebuah inisiatif penelitian ambisius dengan nama sandi "Project Mercury". Proyek ini dijalankan bekerja sama dengan firma survei terkemuka, Nielsen. Tujuan utama dari kolaborasi ini adalah untuk secara akurat mengukur efek yang timbul ketika seorang pengguna memutuskan untuk menonaktifkan akun Facebook mereka.

Hasil dari penelitian ini, sebagaimana tercatat dalam dokumen internal, sangatlah mengejutkan. Pengguna yang memilih untuk berhenti menggunakan Facebook selama seminggu dilaporkan mengalami peningkatan signifikan dalam kondisi mental mereka. Mereka melaporkan adanya penurunan tingkat depresi, kecemasan, perasaan kesepian, dan yang tak kalah penting, berkurangnya kecenderungan untuk membandingkan diri mereka secara negatif dengan orang lain (fenomena yang dikenal sebagai social comparison).

Bahkan, para peneliti internal Meta dilaporkan secara pribadi mengakui validitas dari data yang mereka kumpulkan. Salah seorang peneliti staf yang identitasnya dirahasiakan dalam dokumen pengadilan, menuliskan pengakuan bahwa "Studi Nielsen ini memang menunjukkan dampak kausal pada perbandingan sosial." Kekhawatiran yang lebih dalam muncul dari staf lain yang secara gamblang menyamakan tindakan merahasiakan temuan negatif ini dengan taktik yang pernah digunakan oleh industri rokok di masa lalu. "Seperti industri tembakau yang melakukan penelitian dan mengetahui rokok itu buruk, lalu menyimpan informasi itu untuk diri mereka sendiri," bunyi kekhawatiran yang tertulis.

Diduga Dihentikan Demi Melindungi Bisnis

Alih-alih mempublikasikan temuan yang krusial ini atau segera melakukan perbaikan pada produk mereka, Meta diduga justru memilih untuk menghentikan proyek penelitian tersebut. Dokumen gugatan tersebut mengungkapkan bahwa Meta secara internal menyatakan bahwa temuan negatif dari studi tersebut telah "tercemar" oleh "narasi media yang ada". Pernyataan ini sangat kontras dengan apa yang Meta sampaikan kepada Kongres Amerika Serikat, di mana mereka mengklaim "tidak memiliki kemampuan untuk mengukur" apakah produk mereka berbahaya bagi remaja putri.

Perlu dicatat bahwa Meta bukanlah satu-satunya platform yang menghadapi tuntutan hukum. Bersama dengan TikTok dan Snapchat, Meta tengah menghadapi gugatan yang diajukan oleh firma hukum terkemuka, Motley Rice. Para penggugat berpendapat bahwa platform-platform media sosial ini secara sengaja menyembunyikan risiko yang melekat pada produk mereka dari pengguna, orang tua, dan para pendidik.

Dokumen-dokumen pengadilan yang kini menjadi sorotan publik juga mengungkap detail yang mengejutkan mengenai prioritas CEO Meta, Mark Zuckerberg. Dalam sebuah pesan teks yang beredar, Zuckerberg dilaporkan menyatakan pada tahun 2021 bahwa ia tidak akan menjadikan keamanan anak sebagai prioritas utamanya. "Ketika saya memiliki sejumlah area lain yang lebih saya fokuskan, seperti membangun metaverse," tulis Zuckerberg dalam pesan tersebut. Ia juga disebut pernah menolak permintaan dari Nick Clegg, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Kebijakan Publik Global, untuk meningkatkan pendanaan bagi program keselamatan anak.

Lebih lanjut, Meta dituduh menerapkan standar ganda yang sangat berbahaya. Dokumen tersebut menyebutkan bahwa Meta baru akan menghapus akun pengguna setelah mereka tertangkap sebanyak 17 kali dalam upaya melakukan perdagangan orang untuk tujuan seksual (sex trafficking). Ambang batas ini bahkan disebut oleh staf internal sebagai sesuatu yang "sangat, sangat, sangat tinggi."

Bantahan dari Meta

Menanggapi bocornya dokumen-dokumen penting ini, Juru Bicara Meta, Andy Stone, memberikan bantahan yang keras. Ia mengklaim bahwa "Project Mercury" dihentikan bukan karena hasil negatifnya, melainkan karena metodologi penelitian yang dianggap cacat. "Catatan lengkap akan menunjukkan bahwa selama lebih dari satu dekade, kami telah mendengarkan orang tua, meneliti masalah yang paling penting, dan membuat perubahan nyata untuk melindungi remaja," ujar Stone dalam pernyataannya. Stone juga menambahkan bahwa gugatan yang diajukan mengandalkan kutipan yang dipilih secara selektif (cherry-picked) dan opini yang disajikan secara keliru.

Sementara itu, platform lain seperti TikTok juga tidak luput dari tuduhan praktik manipulatif. Salah satu tuduhan yang muncul adalah TikTok diduga mensponsori organisasi orang tua seperti National PTA dengan tujuan untuk memengaruhi opini publik demi keuntungan perusahaan.

Sidang terkait dokumen-dokumen krusial ini dijadwalkan akan segera digelar pada tanggal 26 Januari mendatang di Pengadilan Distrik California Utara, yang diperkirakan akan semakin mengungkap tabir di balik operasi platform media sosial raksasa ini.

CCTV Inara-Fahmi: Bukti Perselingkuhan, Netizen Terkejut!

Video CCTV Diduga Jadi Bukti Perselingkuhan: Sorotan Publik dan Proses Hukum

Dalam beberapa hari terakhir, jagat maya diramaikan oleh beredarnya video CCTV yang dikaitkan dengan figur publik Inara Rusli dan Insanul Fahmi. Rekaman ini disebut-sebut sebagai bukti utama dalam laporan dugaan perselingkuhan yang diajukan oleh Wardatina Mawa, istri sah Insanul Fahmi. Kasus ini sontak menarik perhatian publik, tidak hanya karena melibatkan tokoh yang dikenal luas, tetapi juga karena berbagai narasi yang berkembang pesat di media sosial.

Salah satu aspek yang paling disorot publik adalah kecepatan penyebaran video tersebut, padahal rekaman itu belum pernah dipublikasikan secara resmi oleh pihak pelapor. Banyak warganet mengungkapkan keterkejutan mereka terhadap dugaan hubungan terlarang yang digambarkan dalam rekaman, yang oleh sebagian orang dinilai menyerupai interaksi layaknya pasangan suami istri. Perbincangan semakin memanas ketika muncul klaim bahwa video tersebut justru merekam momen lamaran Insanul Fahmi kepada Inara Rusli.

Bukti Utama Laporan Polisi

Wardatina Mawa, sebagai pelapor dan istri sah Insanul Fahmi, menegaskan bahwa rekaman CCTV tersebut merupakan bukti krusial atas dugaan perselingkuhan yang ia laporkan. Ia menyatakan bahwa video tersebut telah diserahkan secara langsung kepada penyidik di Polda Metro Jaya sebagai bagian integral dari laporan resmi yang dibuat pada tanggal 22 November 2025. Namun, Wardatina memilih untuk tidak merilis rekaman itu ke publik dengan alasan bersifat sensitif dan terkait dengan jalannya proses hukum yang sedang berlangsung.

Di tengah maraknya spekulasi dan perdebatan di kalangan publik, rekaman CCTV tersebut terus menjadi topik diskusi hangat di berbagai platform digital. Banyak pengguna media sosial memandang kasus ini sebagai ilustrasi bagaimana teknologi pengawasan, seperti CCTV, dapat memainkan peran penting dalam proses pembuktian di ranah hukum. Reaksi publik pun semakin meluas seiring dengan terus beredarnya informasi mengenai isi rekaman melalui berbagai kanal, mulai dari podcast, komentar warganet, hingga unggahan-unggahan di berbagai media sosial.

Dugaan Perselingkuhan Mencuat Lewat Rekaman CCTV

Rekaman CCTV yang diduga memperlihatkan kedekatan antara Inara Rusli dan Insanul Fahmi ini diklaim menampilkan interaksi yang dianggap tidak pantas oleh pelapor. Narasi mengenai hubungan kedua belah pihak berkembang dengan sangat cepat, memperkuat dugaan adanya pelanggaran moral dalam rumah tangga Wardatina Mawa. Tak heran, kasus ini dengan cepat merangsek naik ke jajaran topik paling banyak dibicarakan atau trending di beberapa platform media sosial.

Laporan resmi yang diajukan ke pihak berwajib menjadikan kasus ini masuk ke dalam ranah hukum, yang menuntut adanya proses pemeriksaan lebih lanjut. Pihak penyidik disebut telah menerima seluruh bukti yang relevan, termasuk video dan keterangan pendukung yang diberikan oleh pelapor. Saat ini, aparat penegak hukum tengah dalam proses mendalami dan menilai validitas rekaman tersebut sesuai dengan prosedur penyelidikan yang berlaku.

Wardatina Mawa sendiri menggambarkan isi rekaman tersebut sebagai sebuah "zina besar" yang ia klaim dilakukan secara sadar oleh kedua terlapor. Ia menyampaikan harapannya agar proses hukum dapat berjalan secara transparan dan memberikan kejelasan yang utuh mengenai dugaan tindakan tersebut. Pernyataan ini sontak memancing perdebatan yang lebih luas mengenai batasan privasi, etika dalam menjalin hubungan, serta implikasi sosial yang mungkin timbul bagi keluarga yang terlibat dalam kasus ini.

Reaksi Publik dan Viralitas di Media Sosial

Di ranah media sosial, komentar warganet banyak didominasi oleh ekspresi keterkejutan dan ketidakpercayaan atas dugaan hubungan terlarang yang beredar. Banyak pengguna mengungkapkan rasa heran mereka, tidak menyangka bahwa isu ini akan menyeret nama Inara Rusli, yang dikenal aktif di dunia hiburan. Sentimen publik pun terlihat terbelah; sebagian mendukung pelapor, sementara sebagian lainnya menunggu klarifikasi resmi dari pihak terlapor.

Salah satu komentar yang mencerminkan keterkejutan tersebut datang dari akun TikTok @Puja Sarah yang menuliskan, "Astaghfirullah Inara, Gak Nyangka" di kolom komentar sebuah unggahan di akun @gosip.ya.

Peran podcast dan konten kreator juga turut memperkuat penyebaran isu ini, dengan mereka membahas secara mendalam dugaan lamaran yang terekam dalam video tersebut. Meskipun video aslinya belum dirilis secara publik, berbagai interpretasi dan spekulasi terus bermunculan. Diskusi intensif mengenai dugaan tindakan tersebut menjadikan kasus ini salah satu topik hiburan yang paling sering dibicarakan dalam periode ini.

Namun, di tengah derasnya arus informasi dan spekulasi, sebagian pihak mengingatkan agar publik bersikap hati-hati dalam menarik kesimpulan. Mereka menekankan pentingnya menunggu pernyataan resmi dari seluruh pihak yang terkait sebelum membuat penilaian. Sikap ini muncul sebagai respons terhadap banyaknya penilaian emosional yang dilontarkan oleh sebagian besar warganet. Mereka berpendapat bahwa proses hukum seharusnya menjadi rujukan utama dalam menafsirkan bukti dan menentukan kebenaran faktual.

Pada akhirnya, video CCTV yang diduga melibatkan Inara Rusli dan Insanul Fahmi kini menjadi pusat perhatian publik dan merupakan bagian penting dari laporan resmi yang telah diajukan ke pihak kepolisian. Meskipun rekaman itu belum dibuka untuk umum, dampaknya telah memicu spekulasi luas dan perdebatan sengit mengenai etika, privasi, serta jalannya proses hukum yang sedang berjalan.

Gus Yahya Didesak Mundur: Kronologi Lengkap & Penolakan Tegas

Gejolak Internal PBNU: Desakan Mundur untuk Gus Yahya dan Penolakannya

Nahdlatul Ulama (NU), salah satu organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, kembali diterpa isu internal yang cukup signifikan. Kali ini, sorotan tertuju pada Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf, yang akrab disapa Gus Yahya. Ia dikabarkan didesak untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Namun, Gus Yahya dengan tegas menyatakan tidak memiliki niat untuk mundur dan berkomitmen menyelesaikan mandat kepemimpinannya hingga akhir.

Kronologi Munculnya Desakan Mundur

Desakan agar Gus Yahya mundur mencuat setelah beredarnya sebuah dokumen yang disebut sebagai Risalah Rapat Harian Syuriah PBNU tertanggal 20 November 2025. Dokumen ini ditandatangani oleh Ketua Dewan Syura PBNU, KH Miftachul Akhyar. Dalam risalah tersebut, disebutkan bahwa Gus Yahya diminta untuk segera mengundurkan diri dalam kurun waktu tiga hari. Jika permintaan tersebut tidak dipenuhi, maka Rapat Harian Syuriah PBNU akan mengambil langkah pemberhentian secara resmi.

Terdapat beberapa alasan yang dikemukakan dalam risalah tersebut sebagai dasar desakan pengunduran diri Gus Yahya. Dua poin utama yang menjadi sorotan adalah:

  • Dugaan Mengundang Narasumber yang Terkait Jaringan Zionisme Internasional: Salah satu alasan yang disebutkan adalah terkait dengan penyelenggaraan Akademi Kepemimpinan Nasional NU (AKN NU). Diduga, dalam kegiatan tersebut, Gus Yahya mengundang narasumber yang memiliki keterkaitan dengan jaringan Zionisme Internasional.
  • Masalah Tata Kelola Keuangan Organisasi: Poin kedua yang diangkat berkaitan dengan dugaan adanya permasalahan dalam tata kelola keuangan di tubuh PBNU.

Tanggapan Tegas Gus Yahya: Penolakan Mundur dan Komitmen Mandat

Menanggapi beredarnya risalah rapat dan desakan untuk mundur, Gus Yahya memberikan pernyataan yang jelas. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak berniat untuk melepaskan jabatannya sebagai Ketua Umum PBNU.

Pada Sabtu malam, 22 November 2025, Gus Yahya dikabarkan menghadiri rapat tertutup bersama Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) yang diselenggarakan di Hotel Novotel Samator Surabaya. Dalam kesempatan tersebut, di hadapan awak media, Gus Yahya menyampaikan tiga poin tanggapannya mengenai ultimatum yang diterimanya:

  1. Belum Menerima Surat Resmi: Gus Yahya menyatakan bahwa hingga saat itu, ia belum menerima risalah rapat secara resmi yang mendesaknya untuk mundur. "Saya belum menerima suratnya," ujarnya singkat. Ia menambahkan bahwa pertemuan dengan para Ketua PWNU di Surabaya tersebut merupakan agenda rapat koordinasi biasa.

  2. Tidak Ada Niat untuk Mundur: Pada Minggu dini hari, 23 November 2025, setelah pertemuan dengan para Ketua PWNU tingkat provinsi, Gus Yahya kembali menegaskan sikapnya. Ia menyatakan dengan tegas bahwa tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk mengundurkan diri dari posisi Ketua PBNU. "Sama sekali tidak pernah terbesit dalam pikiran saya untuk mundur dari Ketua PBNU," tuturnya.

  3. Komitmen Menyelesaikan Mandat Lima Tahun: Gus Yahya mengingatkan kembali mengenai mandat yang diterimanya dari peserta Muktamar ke-34 NU untuk memimpin PBNU sebagai Ketua Tanfidziyah selama lima tahun. Ia resmi menjabat sebagai Ketua Umum PBNU untuk masa khidmat 2021-2026, yang penetapannya dilakukan pada Muktamar ke-34 di Universitas Lampung, Jumat, 24 Desember 2021. "Saya mendapat mandat 5 tahun memimpin NU, karena itu akan saya jalani selama 5 tahun," tegas Gus Yahya. Ia menambahkan, "Insya Allah, saya sanggup."

Pandangan Tokoh Terkait NU

Dinamika internal PBNU ini turut menarik perhatian sejumlah tokoh yang memiliki kedekatan dengan organisasi tersebut.

  • Muhaimin Iskandar (Cak Imin) Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin, menyatakan bahwa partainya tidak akan mencampuri urusan internal PBNU. Ia memilih untuk menunggu proses yang sedang berjalan di tubuh organisasi tersebut. "Kita tunggu saja, kita tunggu saja. Biarkan proses internal mereka berlangsung," ujar Cak Imin saat ditemui di Depok, Jawa Barat, Sabtu, 22 November 2025. Ia juga berharap agar apapun keputusan yang diambil PBNU, merupakan yang terbaik bagi organisasi. Mengingat mayoritas konstituen PKB berasal dari kalangan Nahdliyin, hubungan PKB dan PBNU memang sangat erat.

  • Saifullah Yusuf (Gus Ipul) Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, mengimbau seluruh pengurus NU di semua tingkatan untuk tetap tenang dan menjaga kondusivitas suasana. Ia menekankan bahwa apa yang terjadi saat ini adalah dinamika organisasi biasa yang sedang ditangani sesuai mekanisme internal oleh jajaran Syuriah PBNU. "Ini dinamika organisasi yang sedang berjalan. Saya minta semua pengurus dan warga NU tetap tenang, tidak terbawa arus berita yang menyesatkan, dan tidak memperbesar kesalahpahaman," ujar Gus Ipul dalam keterangannya pada Jumat, 21 November 2025. Ia juga meminta seluruh pengurus untuk menahan diri dari pernyataan atau langkah yang dapat memperkeruh keadaan dan hanya mengikuti informasi resmi dari jajaran Syuriah PBNU. Gus Ipul menegaskan bahwa penyelesaian persoalan ini sepenuhnya berada di tangan otoritas tertinggi PBNU, yaitu jajaran Syuriah yang dipimpin oleh Rais Aam dan para wakilnya. Ia mengajak seluruh warga NU untuk memperbanyak salawat dan menjaga ketenangan hati.

Gus Ipul memastikan bahwa dinamika internal PBNU akan diselesaikan melalui mekanisme organisasi yang sah dan dengan penuh kehati-hatian. Proses ini diharapkan dapat menjaga keutuhan dan marwah Nahdlatul Ulama.

Koresponden medkomsubangnetwork, Nuri Yatul Hikmah

medkomsubangnetwork, PALMERAH— Perundungan di sekolah-sekolah Indonesia semakin sering terjadi. Yang menyedihkan, tindakan ini tidak hanya berupa ucapan kasar, tetapi bahkan bisa mengancam jiwa.

Senin lalu, tepatnya tanggal 10 November 2025, beredar kabar mengenai dugaan kekerasan yang dialami seorang siswa kelas IX di SMP Negeri 19 Tangerang Selatan oleh teman sebangkunya saat jam istirahat.

Ia diduga mengalami benturan keras di kepala dengan kursi besi sampai pingsan, dan kini telah meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di ruang ICU anak RS Fatmawati, Jakarta Selatan.

Menanggapi persoalan ini, Rissalwan Habdy Lubis, seorang Pengamat Sosial dari Universitas Indonesia (UI), menyatakan bahwa perundungan merupakan tindakan tercela yang kerap terjadi di lingkungan sekolah dan kasusnya sangat sering ditemui.

Menurutnya, pada dasarnya manusia adalah pribadi yang kompetitif. Apalagi, sekolah merupakan wadah pembelajaran bagi siswa di masa perkembangannya.

Dengan kata lain, mereka belajar untuk membuktikan bahwa persaingan mereka tidak terbatas di lingkungan kelas saja. Sebagian pelaku perundungan memang berasal dari kalangan yang tidak terintegrasi dengan sistem (di luar sistem). Oleh karena itu, anak-anak tersebut cenderung nakal dan sulit diatur," ujar Rissal ketika dihubungi Warta Kota pada Minggu (16/11/2025).

Rissal mengemukakan bahwa terdapat dua pola yang menjadi penyebab maraknya perundungan di sekolah.

Pertama, karena mereka berada di luar sistem, yaitu individu yang nakal dan kurang berprestasi, sehingga mereka mencari cara untuk membuat diri mereka lebih menonjol dibandingkan orang lain.

Kedua, ingin mempertinggi atau meninggikan kelas atau statusnya. Pola ini kebanyakan dilakukan oleh anak yang terlahir dari keluarga kaya raya.

Jika ini (pola kedua), maka ia melakukan perundungan yang terstruktur. Ia memiliki teman, misalnya. Jadi, perundungan akan selalu terjadi dan dalam jumlah besar, terangnya.

Menurut Rissal, pencegahan terhadap pola perundungan nomor 2 lebih mudah dilakukan dibandingkan pola perundungan nomor 1. Bahkan, metode pencegahan tersebut sudah banyak tersebar luas di media sosial.

Dalam situasi tersebut, seseorang yang menjadi sasaran perundungan oleh individu dengan status ekonomi lebih baik, cukup menunjukkan sikap menolak agar keinginan perundung tidak terpuaskan.

"Jadi, jika ia berhasil membuat orang lain merasa malu, itu berarti ia dianggap sebagai orang yang terpandang. Hal ini dilakukan untuk memperkuat kedudukannya sebagai anggota kelompok paling atas di lingkungan sekolah," terang Rissal.

Hal terpenting pertama adalah, korban tidak boleh merasa rendah diri atau bersikap defensif. Jika bersikap defensif, serangan akan terus berlanjut. Namun, ada cara untuk membalas. Contohnya, jika ada yang berkata, 'Kamu orang miskin ya? Emang kamu kaya banget?', maka langsung tanyakan balik dengan tegas," jelasnya.

Namun, sebagian besar orang abai dalam menangani pola pertama, yaitu anak yang terpinggirkan dari sistem. Padahal, justru pola inilah yang memicu maraknya perundungan.

Rissal menjelaskan bahwa korban perundungan adalah individu yang dipandang berada dalam posisi yang kurang berdaya.

Rissal mengamati bahwa dugaan kasus perundungan di SMPN 19 Tangerang Selatan, yang telah sampai pada tahap kekerasan, menunjukkan pola yang terjadi di luar sistem yang seharusnya.

Karena, tampak ada keberanian pada siswa dalam melakukan tindakan memukul dan kekerasan fisik lainnya. Ini berarti, pelaku yang diduga tidak lagi mempedulikan status sosial.

Menurut Rissal, tren ini mengarah pada anak-anak yang berada di luar sistem pendidikan, yang tidak mendapatkan perhatian dari sekolah, memiliki nilai akademis yang buruk, dan berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang kurang baik.

"Akhirnya, ia menjadi jagoan, menjadi preman di sekolah. Pola *bullying* semacam ini paling banyak terjadi di Amerika. Sementara di Indonesia, yang dominan adalah pola kedua," terangnya.

Dengan demikian, menurut Rissal, kedua bentuk perundungan yang umum terjadi pada anak ini berakar dari persaingan untuk menegaskan kedudukan sosial dan sebagai ganti dari status sosial yang tidak mereka peroleh di lingkungan sekolah.

Meski demikian, Rissal menyayangkan bahwa tidak semua orang tua mampu membimbing anak mereka dalam menghadapi perundungan di sekolah secara efektif. Rendahnya status sosial menjadi salah satu faktor yang berkontribusi pada hal ini.

Perundungan di SMPN 19 Tangerang Selatan

Seorang siswa SMP berinisial MH menjadi korban kekerasan di dalam kelas pada hari Senin, 10 November 2025, saat jam istirahat. Diduga, MH mengalami kekerasan berupa kepalanya dibenturkan ke kursi besi oleh teman sebangkunya yang berinisial RI.

MH menjadi korban kekerasan di ruang kelas pada hari Senin, 10 November 2025, saat jam istirahat. Diduga, RI, teman sebangku MH, membenturkan kepala korban ke sebuah kursi besi.

Kepala SMPN 19 Tangsel, Frida Tesalonika, membenarkan adanya peristiwa tersebut dan mengatakan pihak sekolah telah melakukan mediasi antara orang tua korban dan pelaku. 

Namun, kondisi MH saat ini dikabarkan meninggal dunia di RS Fatmawati setelah sebelumnua kritis dan mendapatkan perawatan intensif di ICU, Minggu (16/11/2025) pukul 06.00 WIB. 

Penjelasan keluarga

Keluarga menyebut Muhammad Hisyam sempat koma dan dirawat di ICU sebelum meninggal. Dugaan perundungan di SMPN 19 Tangsel disorot, sementara Pemkot Tangsel berkomitmen mendukung penyelidikan.

Keluarga korban perundungan di SMPN 19 Kota Tangerang Selatan, Muhammad Hisyam, mengungkapkan bahwa sebelum meninggal, remaja tersebut sudah berada dalam kondisi koma selama menjalani perawatan di RS Fatmawati, Jakarta Selatan.

Rizky Fauzi, sepupu Hisyam, menerangkan bahwa sang korban awalnya menjalani pengobatan di RS Colombus BSD, Serpong. Setelah itu, ia dipindahkan ke RS Fatmawati dan langsung dirawat di ruang ICU selama tujuh hari.

“Sepupu saya masih berada di ruang ICU RS Fatmawati sejak awal dirawat. Dokter belum dapat memberikan keterangan lebih lanjut karena kondisinya masih koma,” tutur Rizky pada hari Minggu, 16 November 2025.

Di tengah suasana berduka, pihak keluarga menyatakan belum mengajukan laporan resmi kepada aparat kepolisian.

"Menurut informasi yang saya dapatkan, KPAI berencana menjatuhkan sanksi kepada pihak sekolah. Pihak keluarga belum melaporkan karena kami masih memprioritaskan proses pemakaman jenazah," urainya lebih lanjut.

Kepala Hisyam diduga dibenturkan ke bangku besi oleh seorang teman sekelasnya, yang mengakibatkan luka serius di kepala dan membuatnya langsung pingsan.

Awalnya, pada tanggal 21 Oktober, korban hanya menyampaikan keluhan sakit kepala ringan kepada keluarganya. Belakangan, setelah diselidiki oleh keluarganya, terungkap bahwa ia menjadi korban perundungan di sekolahnya.

MH awalnya menjalani perawatan di sebuah rumah sakit swasta di Tangsel pada tanggal 21 Oktober. Namun, kondisinya memburuk sehingga ia dipindahkan ke RS Fatmawati pada tanggal 9 November.

Pada tanggal 11 November, ia ditempatkan di Unit Perawatan Intensif (ICU) dan memerlukan intubasi karena kesulitan bernapas yang disebabkan oleh cedera otak serius.

Wakil Wali Kota Tangsel Mengantarkan Jenazah

Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan, ikut mengantarkan jenazah hingga ke tempat peristirahatan terakhir dan menyampaikan simpati mendalam kepada pihak keluarga.

“Pemerintah Kota Tangerang Selatan menyampaikan belasungkawa kami. Semoga almarhum mendapatkan ketenangan di alam kubur dan amalnya diterima oleh Allah SWT,” ujar Pilar.

Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) menyatakan dukungan penuh terhadap investigasi yang tengah berlangsung oleh kepolisian. Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangsel dilaporkan telah menjalin komunikasi dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) guna menangani aspek perlindungan anak terkait insiden ini.

Pilar menyatakan bahwa sosialisasi mengenai pencegahan perundungan secara teratur dilaksanakan bersama para kepala sekolah, komite, serta dewan pendidikan, meskipun demikian, kasus ini tetap menjadi bahan evaluasi yang mendalam bagi pemerintah daerah.

"Ini menjadi pengalaman berharga. Kami menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada keluarga yang ditinggalkan," ujarnya.

Temukan informasi terkini lainnya dari medkomsubangnetwork melalui Google News dan WhatsApp.

medkomsubangnetworkAnak menteri keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Yudo Achilles Sadewa kembali jadi sorotan pubil.

Yudo Achilles meradang merasa keluarganya dihina di media sosial.

Menanggapi hal tersebut, Yudo Achilles membalas komentar warganet.

Yudo menggelar sayembara untuk memburu orang yang dianggapnya telah menghina keluarganya.

Yudo membagikan tangkapan layar sebuah akun bernama emma_irma9 di Instagram yang meledek anak Purbaya dengan sebutan autis.

"Bocah autis," tulis akun tersebut di sebuah postingan melansir dari Tribunnewsbogor.com, Minggu (16/11/2025).

Tak hanya menghina, akun tersebut juga mengurai isu miring soal Purbaya.

"Bapak lo noh selingkuh sama staff R P. Bapak lu mending kerja aja yang benar jangan selingkuh mulu anj**," tulis akun tersebut.

Ogah diam atas hinaan dan fitnahan tersebut, Yudo pun bertindak.

Dalam akun Instagram-nya, Yudo mengumumkan sebuah sayembara dengan hadiah fantastis bagi siapa saja yang bisa menemukan pemilik akun penghina keluarganya.

Yudo bahkan merincikan jumlah uang untuk orang yang bisa membongkar informasi akun tersebut.

Hadiahnya adalah Rp1,6 juta hingga Rp167 juta.

"Bounty yang menghina kakak aku.

Ungkap identitas asli = $100

Berhasil memenjarakan = $10000," tulis Yudo dalam akun Instagram story-nya.

Lebih lanjut diakui Yudo, ia sebenarnya tidak masalah jika sang ayah dan keluargnya dikritik.

Tapi Yudo tidak suka jika keluarganya dicaci maki.

"Kritik, silahkan. Tapi kalau mencaci maki dengan kata kasar itu sudah bukan kritik lagi tetapi menghina," pungkas Yudo.

Tanggapi Dituding Trading Pakai Uang Negara

Yudo Sadewa ribut dengan buzzer di Facebook.

Yudo Sadewa dituding trading pakai uang negara.

Ini berawal dari unggahan di Facebook menyinggung soal sumber kekayaannya.

Unggahan itu viral karena menuding Yudo memiliki harta berlimpah dari aktivitas trading future, yakni kontrak jual beli aset berupa mata uang atau indeks saham di masa depan.

Namun yang membuat publik terbelah bukan soal aktivitas trading-nya, melainkan nada sindiran yang disisipkan dalam postingan tersebut.

Dalam unggahan yang beredar luas itu, penulisnya seolah-olah melontarkan pertanyaan retoris dengan pilihan jawaban yang provokatif.

“Nama: Yudo Sadewa, current status: anak menteri keuangan Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa, konten: nge-future (trading future). Pertanyaan gw adalah, dari mana duit buat dia nge-future?

a. duit jajannya;

b. duit bapaknya;

c. duit negara;

d. duit rakyat;

e. benar semua dan berakhir rungkad,” demikian isi tulisan tersebut.

Sindiran itu langsung menyulut perdebatan. Sebagian warganet menilai unggahan tersebut lucu dan satir, namun sebagian lain menganggapnya fitnah terbuka yang menyeret nama pejabat negara tanpa dasar.

Disebut Pakai Uang Bapak, Uang Negara Yudo Sadewa Balas 

Tak tinggal diam, Yudo Sadewa akhirnya memberikan klarifikasi secara langsung melalui akun TikTok pribadinya.

Dengan gaya santai khas anak muda, ia membantah tegas tuduhan yang menyinggung bahwa kekayaannya berasal dari uang negara.

“Oke, yo guys, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Gue diteror sama buzzer Facebook, ya. Memang lo kira gue nggak punya Facebook, ha? Gen Z punya lagi!” ujarnya membuka video dengan nada setengah bercanda.

Namun tak lama kemudian, Yudo berbicara lebih serius.

Ia menegaskan bahwa seluruh narasi tentang dirinya menggunakan uang bapak atau uang negara adalah bohong besar.

“Tapi nih ya, narasinya udah sangat... ini: uang jajan, uang bapak, uang negara, atau uang rakyat, dan gue nggak ada semuanya di situ, ya guys,” lanjutnya.

Dalam penjelasan yang sama, Yudo mengaku kecewa karena unggahan tersebut telah menggiring opini publik seolah ayahnya, Menteri Purbaya, melakukan korupsi.

“Gue tahu lo nggak bermaksud menghujat, tapi pertanyaan lo itu sangat menyesatkan, seolah mengiring opini bahwa bapak itu korupsi,” tegas Yudo.

Ia pun membeberkan sumber kekayaannya secara gamblang: berasal dari investasi kripto, terutama pada meme coin seperti Shiba Inu.

“Aku kaya dari meme coin yang namanya Shiba Inu. Dan aku kebetulan dapat bottom juga Bitcoin di 17 ribu sekian. Waktu itu, Ethereum di 8 dolar tuh murah banget,” ungkapnya.

Bagi yang belum familiar, meme coin merupakan aset kripto yang lahir dari tren internet atau lelucon digital, namun dalam beberapa kasus mampu menghasilkan keuntungan fantastis bagi investor yang membeli di waktu tepat.

(*/ medkomsubangnetwork)

Sumber: tribunSumsel/Tribunnewsbogor.com

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

Diberdayakan oleh Blogger.