Halloween party ideas 2015
Tampilkan postingan dengan label pengasuhan anak. Tampilkan semua postingan

Mengungkap Ketakutan Terpendam Marshanda: Alasan Tak Perjuangkan Hak Asuh Anak Setelah 10 Tahun

Kehidupan pasca-perceraian seringkali menyisakan berbagai dinamika, terutama bagi para figur publik yang sorotan publik selalu menyertainya. Marshanda, aktris yang akrab disapa Caca, baru-baru ini membuka diri mengenai ketakutan mendalam yang ia pendam selama sepuluh tahun pasca-perceraiannya dengan Ben Kasyafani. Meskipun hubungan co-parenting mereka terlihat harmonis di mata publik, Caca mengungkapkan sebuah kekhawatiran yang terus menghantuinya terkait hak asuh putri semata wayangnya, Sienna Ameerah Kasyafani. Rasa takut akan tanggapan negatif dari Sienna, karena dirinya tidak memperjuangkan hak asuh anak tersebut, menjadi bayangan yang tak kunjung sirna. Hingga akhirnya, sebuah percakapan tak terduga dengan Sienna memberikan jawaban yang melegakan.

1. Alasan Awal Marshanda Tidak Mengajukan Banding Hak Asuh Anak

Dalam sebuah unggahan di akun Instagram pribadinya, Marshanda menceritakan sebuah percakapan intim dengan putrinya. Percakapan ini muncul dari rasa takut yang kadang-kadang masih menyelimutinya, bahkan setelah satu dekade berpisah dari ayah Sienna. "Dua malam lalu, saya melakukan percakapan yang sangat menarik dengan putri saya," ungkap Marshanda. "Ini berasal dari ketakutan saya yang kadang-kadang masih muncul setelah sepuluh tahun berpisah dari ayah Sienna."

Meskipun telah lama berpisah, Marshanda menjelaskan alasan di balik keputusannya untuk tidak mengajukan banding hak asuh atas Sienna. Ia menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil dengan pertimbangan matang dan niat baik. Namun, seiring berjalannya waktu, pilihan itu justru menjadi sumber ketakutan yang terkadang menghantuinya. "Saat proses perceraian, saya tidak mengajukan banding untuk berjuang lebih keras memenangkan hak asuh atas Sienna, karena saya percaya bahwa mantan suami saya adalah seseorang yang dewasa dan kami akan bisa melakukan co-parenting sebaik mungkin," jelas Marshanda.

2. Ucapan Mantan Pengacara Memicu Kekhawatiran Marshanda

Rasa takut yang dialami Marshanda rupanya berakar dari ucapan beberapa orang terdekatnya, termasuk mantan pengacaranya pada saat itu. Sang pengacara pernah mengutarakan kemungkinan bahwa suatu hari nanti Sienna bisa saja marah dan kecewa karena ibunya tidak memperjuangkan hak asuhnya.

"Tapi, tetap saja pada saat itu beberapa orang dekat saya, termasuk pengacara saya, sampai berkata seperti ini. 'Ca, kalau kamu sekarang tidak mengajukan banding, suatu hari nanti Sienna akan datang ke kamu dan dia akan marah, dia akan bilang kecewa sama kamu karena tidak berjuang lebih keras untuk memenangkan hak asuh supaya kamu bisa tinggal satu rumah dan mengasuh dia sepenuhnya'," kenang Marshanda.

3. Keyakinan pada Pilihan dan Keinginan Menghindari Konflik

Meski dibayangi rasa takut, Marshanda tetap teguh pada pilihannya dan menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan. Ia memiliki alasan kuat mengapa tidak ingin memperpanjang konflik. Marshanda tidak ingin Sienna tumbuh dengan ingatan buruk tentang pertengkaran kedua orang tuanya.

"Bahkan dengan ketakutan yang saya rasakan setelah pengacara saya mengatakan itu kepada saya, pada saat itu, saya tetap memutuskan untuk melanjutkan dengan keyakinan buta kepada Tuhan, yaitu tidak bertengkar. Tidak berperang lebih jauh dengan mengajukan banding dan menciptakan memori bahwa Ayah dan Ibu bertengkar saat aku kecil di kepala Sienna. Saya tidak menginginkan itu. Itulah mengapa saya tidak memperjuangkan hak asuh," tegas Marshanda.

4. Rasa Takut Masih Ada Meski Anak Tinggal Bersamanya

Seiring berjalannya waktu, fase awal yang penuh tantangan perlahan berhasil dilewati. Sienna menunjukkan kedewasaannya dengan mengambil keputusan penting dalam hidupnya, yaitu memilih untuk tinggal bersama Marshanda. Meskipun keadaan telah membaik, bayang-bayang ucapan mantan pengacara Marshanda sesekali masih menimbulkan rasa takut. Kekhawatiran ini membuat Marshanda memendam pertanyaan besar tentang perasaan terdalam Sienna terhadap dirinya.

"Memang proses awalnya susah dan sekarang Sienna sudah mengambil keputusan untuk tinggal bersama saya. Tetap saja saya kadang-kadang memiliki ketakutan yang disampaikan oleh mantan pengacara saya itu," ujar Marshanda.

5. Keberanian Mengajukan Pertanyaan yang Terpendam

Didorong oleh rasa cemas sekaligus tanggung jawab sebagai seorang ibu, Marshanda akhirnya memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada Sienna. Ia bahkan telah menyiapkan diri untuk menerima jawaban terburuk yang selama ini menghantuinya.

"Beberapa hari lalu saya berbicara dengan Sienna. 'Sien, bolehkah saya jujur?' 'Iya Ibu, kenapa?' 'Apakah kamu pernah memiliki pemikiran atau perasaan kecewa kepada Ibu dan berharap saya berjuang lebih keras untukmu, untuk kita, dalam hidupmu?'" tanya Marshanda kepada Sienna, sembari bersiap menerima jawaban yang paling ia takuti.

6. Jawaban Tak Terduga yang Mengubah Segalanya

Setelah melontarkan pertanyaannya, Marshanda tidak menyangka bahwa jawaban Sienna akan begitu jauh dari bayangannya selama ini. Jawabannya sederhana namun memiliki makna yang sangat mendalam baginya. Sienna hanya membutuhkan Marshanda sebagai sosok ibu yang hadir dalam hidupnya.

"Tapi ternyata Sienna menjawab dengan satu kalimat sederhana, dia berkata, 'Ibu, aku tidak butuh ibu yang sempurna, aku butuh ibu yang ada untukku'," tutur Marshanda sambil memperagakan ucapan Sienna.

Melalui jawaban tersebut, rasa takut yang selalu menghantuinya selama sepuluh tahun seketika berubah menjadi kebahagiaan. Ekspresi wajahnya memancarkan kelegaan yang luar biasa atas jawaban putrinya. Keyakinannya pada pilihan untuk tidak mengajukan banding hak asuh anaknya terbukti tidak sia-sia. "Dan pada saat itu adalah bukti bahwa keyakinan saya, keyakinan saya yang buta dan tak tergoyahkan kepada Tuhan, tidak sia-sia," pungkasnya.

7. Anak Kini Tinggal Bersama Marshanda

Diketahui bahwa sebelumnya Sienna sempat tinggal bersama ayahnya selama sepuluh tahun dan kini telah pindah untuk tinggal bersama Marshanda. Ketika Marshanda mengetahui keinginan Sienna untuk tinggal bersamanya, tentu saja ia merasakan campur aduk emosi. Selama ini, ia bahkan tidak berani berharap apalagi berdoa mengenai keinginan tersebut, karena merasa itu terlalu jauh dari angan-angannya. Namun, keinginan yang hanya tersimpan dalam mimpi itu akhirnya menjadi kenyataan dan membawa kebahagiaan besar bagi Marshanda.

"Sudah lama sejak bulan Juli. Tidak menyangka sesuatu yang saya bahkan tidak berani berdoa untuk menyampaikannya, hanya tersimpan dalam mimpi, namun menjadi kenyataan. Rasanya sangat bahagia," katanya dalam sebuah program televisi.

8. Perubahan Gaya Hidup Sejak Anak Tinggal Bersama

Sejak tinggal bersama, Marshanda mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan signifikan yang ia rasakan, mulai dari gaya hidup hingga urusan makanan. Kehadiran Sienna di rumah Marshanda memberikan suasana yang jauh lebih hidup. Jika dulu ia terbiasa dengan gaya hidup serba praktis dan sering mengandalkan layanan pesan antar makanan, kini semuanya berbeda. Marshanda kini lebih memperhatikan isi kulkas dan teliti dalam merencanakan menu masakan setiap harinya.

"Selama Sienna belum tinggal bersama saya, saya bisa dibilang tinggal sendiri. Kulkas saya selalu kosong karena saya selalu memesan makanan secara daring. Sejak ada Sienna, saya jadi ingin memasak. Akibatnya, bahan makanan ada di kulkas dan kulkas jadi penuh. Yang tadinya selalu kosong, sekarang jadi terlihat penuh ya?" ungkap Marshanda.

9. Rutinitas Pagi Layaknya Orang Tua pada Umumnya

Tidak hanya soal makanan, Marshanda kini dipenuhi kesibukan khas orang tua yang mengurus anak sekolah di pagi hari. Mulai dari memasak sarapan, menyiapkan bekal, hingga memastikan Sienna siap berangkat tepat waktu, semua menjadi pengalaman baru yang seru sekaligus menantang bagi Marshanda.

"Besoknya dia sekolah, kita masak sarapan. Lalu, suasana menjadi 'hectic' di dapur karena kami belum terbiasa. 'Ayo cepat, setengah jam lagi sudah mau berangkat sekolah! Sienna sudah mandi? Ayo cepat-cepat!'" tuturnya.

10. Keputusan Tinggal Bersama Murni Keinginan Anak

Sebagai informasi, keputusan Sienna untuk tinggal bersama ibunya bukanlah hasil dari perebutan hak asuh, melainkan murni keinginannya sendiri. Mengetahui hal ini membuat Marshanda terkejut.

"Sienna sendiri yang ingin tinggal bersama saya, jadi awalnya sangat mengejutkan. Menurut saya, untuk usianya, dia sangat dewasa dan pemikirannya 'out of the box', jadi banyak sekali celetukannya yang berkesan. Kemarin liburan tahun baru di Bali, lalu kita jalan-jalan ke pantai, sempat ke Sumba juga," jelas Marshanda.

Saat berlibur di Bali, Sienna menyampaikan keinginannya untuk tinggal bersama Marshanda. Saat itulah, ucapan polos dari anak semata wayangnya itu menjadi momen paling menyentuh bagi Marshanda.

"Sienna yang berbicara kepada saya. 'Ibu, kita lagi jalan-jalan,' dia bilang, 'Sepertinya mulai tahun depan aku ingin tinggal sama Ibu, deh. Boleh tidak aku pindah tinggal bersamamu?'" ujarnya.

Dari situ, Marshanda berharap bisa terus hidup berdampingan dengan Sienna hingga ia dewasa kelak. "Semoga dia bisa tetap dekat dengan saya sampai dewasa nanti," ucap Marshanda.

Semoga hubungan ibu dan anak ini senantiasa harmonis.

Sir David Beckham baru-baru ini membuka diri tentang aspek-aspek kehidupan pribadinya, termasuk filosofi pengasuhan anak yang ia anut dan isu emosional yang menyelimuti hubungannya yang tampaknya merenggang dengan putra sulungnya, Brooklyn Beckham. Pengakuan jujur ini disampaikan dalam sebuah episode podcast This Life of Mine yang dibawakan oleh James Corden, yang direkam pada tahun lalu namun baru dirilis minggu ini.

Dalam dialog yang terasa intim namun sarat dengan kerentanan, David Beckham berbagi pandangannya mengenai cara ia membesarkan keempat buah hatinya: Brooklyn, Romeo, Cruz, dan Harper. Ia menyadari bahwa pendekatannya dalam mendidik anak-anaknya berbeda secara signifikan dari gaya pengasuhan yang lebih keras yang ia alami semasa kecil. "Saya lebih lembut dibandingkan ayah saya," ungkap Beckham, yang kini telah memasuki usia 50 tahun. Namun, ia segera menambahkan, "Meskipun demikian, saya tetap membawa banyak nilai yang ditanamkan oleh beliau kepada saya."

Beckham menekankan bahwa prinsip-prinsip fundamental seperti rasa hormat, kerendahan hati, sopan santun, dan etos kerja yang kuat adalah pilar-pilar utama yang ia dan sang istri, Victoria Beckham, upayakan untuk ditanamkan dalam diri anak-anak mereka. Nilai-nilai ini, menurutnya, menjadi fondasi penting bagi perkembangan karakter mereka.

Ketegangan Keluarga yang Terungkap ke Publik

Waktu perilisan wawancara ini menjadi sangat relevan mengingat situasi terkini yang menunjukkan adanya ketegangan yang semakin jelas antara David dan Brooklyn. Perpecahan ini pertama kali menarik perhatian publik ketika Brooklyn, bersama istrinya yang merupakan aktris Nicola Peltz, tidak menghadiri perayaan ulang tahun David yang ke-50. Ketidakhadiran ini dilaporkan menjadi salah satu titik kritis yang mengindikasikan adanya keretakan dalam dinamika keluarga.

Situasi tersebut semakin memanas pada bulan lalu ketika David Beckham menerima gelar kebangsawanan di Kastil Windsor. Acara kehormatan ini dihadiri oleh Victoria dan ketiga anak mereka yang lain, namun Brooklyn kembali tidak hadir. Laporan dari berbagai sumber bahkan menyebutkan bahwa Brooklyn tidak memberikan ucapan selamat secara pribadi kepada ayahnya pada hari istimewa tersebut. Alih-alih, ia dikabarkan menghabiskan hari itu untuk mempromosikan bisnis saus pedas yang ia jalankan.

Meskipun demikian, David Beckham tampaknya memilih untuk tidak memperkeruh suasana dengan membuka konflik secara agresif di depan publik. Ia lebih memilih untuk menekankan pentingnya ikatan keluarga. "Keluarga selalu menjadi hal yang terpenting… dan hal terhebat yang diberikan Victoria kepada saya adalah keempat anak saya," ujarnya dengan nada penuh kasih.

Pengalaman Mengasuh: Kombinasi Ketegasan dan Humor

Beckham juga mengenang momen-momen spesifik dalam pengasuhan anak-anaknya, menggambarkan pendekatannya yang berfokus pada pemberian contoh, bukan pada hukuman semata. Salah satu anekdot yang ia bagikan adalah ketika ia menolak permintaan Cruz untuk makan McDonald's setelah sang anak menampilkan permainan yang kurang memuaskan saat pertandingan sepak bola.

"Ia keluar dari lapangan dan bertanya, 'Ayah, bagaimana penampilanku?' Saya menjawab, 'Tidak terlalu bagus, Nak.'" Beckham melanjutkan ceritanya, "Lalu ia bertanya lagi, 'Jadi, kita jadi makan McDonald's?' dan saya katakan, 'Tidak hari ini.' Padahal saat itu saya sendiri sangat lapar dan menginginkan Big Mac beserta kentang goreng," kenangnya sambil tertawa. Momen ini menggambarkan bagaimana ia berusaha menanamkan disiplin namun tetap menjaga hubungan yang hangat dan humoris dengan anak-anaknya.

Victoria Beckham: Pilar Utama Kekuatan Keluarga

Di penghujung perbincangan, David Beckham tidak ragu untuk memuji Victoria Beckham sebagai kekuatan utama dan jangkar bagi keluarga mereka. "Kami masih benar-benar menikmati kebersamaan kami," ungkapnya dengan penuh kehangatan. Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen mereka terhadap keutuhan keluarga di tengah berbagai tantangan yang mungkin dihadapi.

Victoria sendiri baru-baru ini juga sempat menyinggung pentingnya komunikasi yang terbuka dan penciptaan rasa aman emosional dalam menghadapi perubahan dinamika keluarga. Meskipun tidak menyebut nama Brooklyn secara eksplisit, komentarnya memberikan gambaran tentang upaya mereka untuk menjaga keharmonisan keluarga dalam berbagai situasi.

Kisah keluarga Beckham ini menjadi pengingat bahwa di balik sorotan publik dan citra glamor, mereka juga menghadapi tantangan dan kompleksitas layaknya keluarga pada umumnya. Refleksi jujur David Beckham ini memberikan pandangan yang langka tentang sisi manusiawi dari seorang ikon global, serta nilai-nilai yang ia pegang teguh dalam mendidik anak-anaknya dan menjaga keutuhan keluarganya.

medkomsubangnetwork.CO.ID, JAKARTA  -- Sebuah buku yang merangkum nilai-nilai pengasuhan keluarga mantan Wakil Presiden RI ke-6, Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno, resmi diluncurkan Sabtu (15/11) di The Ballroom Djakarta Theater XXI. Buku berjudul "Filosofi Parenting Try Sutrisno” ini menghadirkan refleksi tentang pola asuh dari seorang prajurit yang menyeimbangkan disiplin, ketegasan, kasih sayang, spiritualitas, dan nasionalisme dalam keluarga.

Acara peluncuran dihadiri sejumlah tokoh nasional, keluarga besar, sahabat dekat, serta para pemimpin lintas generasi. Peluncuran ini sekaligus menjadi momentum perayaan usia ke-90 Pak Try Sutrisno, yang hingga hari ini masih dihormati sebagai figur teladan dalam kepemimpinan dan kehidupan keluarga.

Dalam sambutannya, Adhyaksa Dault sebagai penyusun buku, bersama Luqman Hakim Arifin, Mujib Rahman dan Maria Dominique, menegaskan bahwa filosofi pengasuhan Pak Try adalah warisan penting bagi keluarga Indonesia.

“Selama puluhan tahun kita hanya mengenal Pak Try sebagai prajurit dan pemimpin bangsa. Buku ini memperlihatkan sisi lainnya, seorang ayah yang sederhana, penuh nilai, dan konsisten menanamkan integritas, disiplin, iman, serta cinta tanah air di rumahnya,” ujar Adhyaksa.

“Nilai-nilai dan gaya parenting Pak Try masih sangat relevan bagi keluarga Indonesia hari ini, khususnya para orangtua muda,” katanya menambahkan.

Adhyaksa juga menekankan bahwa filosofi pengasuhan Pak Try berpijak pada empat pilar. Di antaranya Islam, nilai Jawa, disiplin seorang prajurit, dan nasionalisme yang kuat.

 

Sementara itu, Dr. Taufik Dwicahyono (Cheppy), salah satu putra Pak Try, tampil sebagai perwakilan keluarga. Ia menyampaikan bahwa pola asuh kedua orang tuanya dibangun dari hal-hal sehari-hari yang sederhana namun konsisten.

“Papa tidak pernah banyak bicara, tetapi kami belajar dari caranya hidup. Dari sepatu lungsuran, dari menolak privilese, dari keteguhan dan kejujuran beliau. Semua itu membentuk kami menjadi manusia yang berdiri dengan kaki sendiri,” ungkapnya.

Menurutnya, nilai-nilai yang diajarkan Pak Try tak hanya membentuk anak-anaknya, tapi juga mengalir ke cucu-cucunya—generasi baru yang kini hidup di era digital tapi tetap berpijak pada prinsip luhur keluarga Indonesia. “Parenting Papa tidak berhenti pada nasihat, tapi keteladanan,” tambanya.

Peluncuran buku ini juga menyentuh sisi emosional para tokoh bangsa yang hadir. Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang turut hadir, mengenang momen pertama melihat Try Sutrisno muda di Akademi Militer: “A new star was born,” kata SBY—kutipan yang mewakili kekaguman generasi sejawat terhadap integritas Try Sutrisno sejak masa remaja.

Meski ditulis dengan riset panjang, buku terbitan Renebook ini menyajikan format yang jauh dari kemewahan: soft cover, kertas book paper, ringan digenggam—seolah menegaskan kesederhanaan yang menjadi nafas hidup keluarga Try.

“Buku ini tidak dibuat untuk gaya,” kata Adhyaksa, “tetapi agar para orang tua di seluruh Indonesia bisa membacanya dengan mudah, membawanya ke mana-mana, dan mengamalkannya.”

Lebih dari sekadar biografi biasa, Filosofi Parenting Try Sutrisno menjadi cermin bagi publik tentang bagaimana nilai dibangun, ditanam, dan diteruskan. Bahwa membentuk manusia bukanlah pekerjaan instan, bukan pula tugas fasilitas—tetapi buah dari keteladanan yang konsisten.

Buku setebal 336 halaman ini pada dasarnya merangkum cerita-cerita pribadi ketujuh putra-putrinya tentang pola asuh kedua orang tuanya—sebuah filosofi yang bertumpu pada keteladanan, kedisiplinan, kemandirian, kesederhanaan, spiritualitas, dan nilai kebangsaan.

Di usianya yang ke-90 Pak Try menutup acara dengan kalimat yang mengendap di telinga para tamu: “Bangsa ini tidak cukup dibangun dengan senjata, ekonomi atau politik. Bangsa yang kuat lahir dari keluarga yang kuat.”

Diberdayakan oleh Blogger.