Halloween party ideas 2015
Tampilkan postingan dengan label insiden. Tampilkan semua postingan

Tambang emas ilegal di Tebo merajalela, warga bakal lapor ke Polda Jambi
Ringkasan Berita:PETI di Tebo Jambi
  • Tambang emas ilegal (PETI) di Teluk Langkap Tebo cemari air dan rusak lahan.
  • Warga kecewa laporan ke Polsek dan Polres Tebo tak kunjung ditindaklanjuti.
  • Muncul dugaan pembiaran oleh aparat terkait maraknya praktik ilegal tersebut.
  • Masyarakat Desa Teluk Langkap berencana lapor ke Polda Jambi demi transparansi.
  • Aktivitas PETI jelas melanggar Perdes serta peraturan perundang-undangan.
 

medkomsubangnetwork, Aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) di Desa Teluk Langkap, Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi, kini berada di titik nadir keresahan masyarakat. 

Praktik ilegal yang dilakukan secara terang-terangan dan berulang ini dinilai telah merusak tatanan hidup warga, mengancam kesehatan, hingga merusak kelestarian lingkungan secara masif.

Meski regulasi tegas telah tertuang dalam Peraturan Desa (Perdes) hingga Undang-Undang, para pelaku seolah tak tersentuh hukum. 

Kondisi ini memicu spekulasi liar di tengah masyarakat mengenai adanya pembiaran oleh oknum aparat.

Kekecewaan warga memuncak setelah serangkaian laporan resmi yang dilayangkan ke pihak kepolisian setempat tidak kunjung membuahkan hasil. 

Upaya masyarakat untuk mencari keadilan seolah membentur tembok tebal.

“Saya sudah sering melapor ke Polsek, tapi tidak pernah ditindak. Sebenarnya ada apa ini? Kenapa tidak ada tindakan?” ujar salah seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan, Minggu (12/4/2026).

Rasa frustrasi tersebut semakin mendalam karena laporan yang diteruskan ke tingkat kepolisian resor pun tetap tidak menunjukkan tanda-tanda penertiban.

“Ke Polres juga sudah kami laporkan, tapi tidak juga ditindaklanjuti dengan serius. Warga sudah sangat resah dengan kondisi ini,” lanjutnya.

Ancaman Lingkungan dan Kesehatan

Dampak dari aktivitas PETI ini bukan sekadar masalah administratif. 

Lahan produktif warga kini hancur, dan yang paling mengkhawatirkan adalah potensi pencemaran sumber air bersih yang menjadi urat nadi kehidupan sehari-hari. 

Penggunaan zat kimia berbahaya dalam proses penambangan emas ilegal menjadi ancaman jangka panjang bagi kesehatan generasi mendatang di Desa Teluk Langkap.

Warga Desak Polda Jambi Turun Tangan

Merasa aspirasi mereka diabaikan di tingkat lokal, warga Desa Teluk Langkap kini bersiap mengambil langkah lebih tinggi. 

Mereka berencana melaporkan karut-marut aktivitas PETI ini langsung ke Polda Jambi. 

Harapannya, kepolisian tingkat provinsi dapat memberikan penanganan yang lebih serius, transparan, dan profesional.

Masyarakat mendesak aparat penegak hukum untuk tidak lagi "tutup mata" dan segera menjalankan fungsi perlindungan serta penegakan hukum demi menjaga keberlanjutan lingkungan dan keselamatan warga luas dari cengkeraman tambang ilegal.

12 Nyawa Terenggut PETI di Sarolangun, Pemilik Kabur

Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Sarolangun kembali menelan korban jiwa.

Peristiwa ini terjadi di lokasi tambang emas ilegal jenis dompeng darat yang berada di kawasan Km 18 Desa Teluk Kecimbung, Sungai Batu Putih Selembau, Kecamatan Bathin VIII, Kabupaten Sarolangun.

Dalam insiden tersebut, empat orang penambang dilaporkan meninggal dunia setelah tertimbun longsoran tanah. Kejadian tragis itu berlangsung pada Minggu (15/2/2026) sekitar pukul 12.30 WIB.

Usai menerima laporan, tim gabungan dari Polres Sarolangun dan Polsek Bathin VIII segera mendatangi lokasi kejadian atau tempat kejadian perkara (TKP).

Kasi Humas Polres Sarolangun membenarkan peristiwa tersebut melalui keterangan resmi yang disampaikan pada Jumat (20/02/26).

Ia menjelaskan, menindaklanjuti kejadian itu, Kapolsek Bathin VIII IPTU Erikurniawan bersama Kanit Tipidter IPDA Gagah Tegar Dwitama telah melakukan olah TKP di lokasi tambang.

Berdasarkan hasil keterangan saksi serta para pendulang yang berada di sekitar area kejadian, tercatat terdapat lima orang korban dalam musibah tersebut.

"Empat di antaranya dinyatakan meninggal dunia, sementara satu orang berhasil selamat dengan luka-luka," ujarnya.

Adapun identitas para korban meninggal dunia yakni Zai (31) warga Desa Karang Jaya, Musirawas Utara; Serli (26) warga Dusun Macang, Musirawas Utara; Agus (40) warga Bengkulu; serta Kadir (40) warga Aur Gading, Batanghari.

Sementara satu korban selamat diketahui bernama Raka alias Bocil (16), warga Bengkulu, yang mengalami luka memar.

Pasca kejadian, aparat kepolisian melakukan langkah hukum dengan mengamankan sejumlah peralatan yang diduga digunakan dalam aktivitas penambangan ilegal tersebut.

Selain itu, lokasi kejadian turut disegel dengan pemasangan spanduk penyelidikan oleh Sat Reskrim Polres Sarolangun guna mencegah adanya aktivitas lanjutan di area tambang.

"Sedangkan pemilik lahan telah kami kantongi identitasnya, dan sedang kami buru," tutupnya.

Pemilik PETI Kabur

Meski pemilik PETI telah diketahui identitasnya, mereka kabur.

Di Desa Teluk Kecimbung, hingga nyaris sepekan, belum ada informasi lanjutan soral pemilik lahan PETI tersebut.

Pada kejadian sebelumnya juga, pemilik lahan di Desa Temenggun juga dilaporkan melarikan diri saat hendak diamankan oleh aparat kepolisian.

Kanit Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Ditreskrimsus Polda Jambi, AKBP Hadi Handoko, beberapa waktu lalu mengatakan bahwa identitas pemilik lahan telah diketahui pihak kepolisian. Namun saat didatangi, yang bersangkutan tidak berada di rumah.

Pemilik lahan tersebut berinisial ID dan merupakan warga Kabupaten Sarolangun.

"Masih proses penyelidikan, pemiliki lahan sudah teridentifikasi. Namun kami masih mencari pemilik lahan karena saat kami datangi rumahnya, dia sudah meninggalkan rumah," jelas Hadi Handoko.

Ia menambahkan bahwa ID diduga menghilang sejak terjadinya peristiwa longsor yang merenggut delapan korban jiwa tersebut.

"(Dia menghilang) Sejak kejadian itu," sebutnya.

Mengenai dugaan keterlibatan pemilik lahan sebagai pemodal dalam aktivitas tambang ilegal tersebut, Hadi Handoko belum memberikan keterangan secara rinci.

Ia menegaskan, saat ini penyelidikan difokuskan untuk melacak keberadaan ID.

"Kita belum tau karena harus meminta keterangan langsung. Mohon doanya," kata dia.

Kali Kedua Tahun Ini

Insiden longsor yang memakan korban jiwa di area tambang emas ilegal ini bukan pertama kali terjadi dalam awal tahun 2026.

Pada Selasa, 20 Januari 2026 lalu, longsor mengakibatkan 12 orang jadi korban di Desa Temenggung--delapan tewas, empat luka-luka.

Peristiwa longsor sebelumnya terjadi di lokasi PETI Dusun Mengkadai, Desa Temenggung, Kecamatan Limun, Kabupaten Sarolangun, menimbulkan korban jiwa.

Para penambang yang menggantungkan hidup dari kegiatan ilegal itu tertimbun material longsoran.

Korban meninggal dunia diketahui merupakan pekerja PETI dari sejumlah desa di wilayah Kabupaten Sarolangun, yakni Kandar (40), Tabri (46), dan Sila (22) warga Dusun Mengkadai; Oto (40) warga Desa Mensao; Iril (50) warga Desa Lubuk Sayak; Shirun (35) warga Desa Pulau Pandan; serta A dan KK.

Sementara itu, korban yang mengalami luka-luka berinisial IM, S, IS, dan P.

Usai kejadian, Polres Sarolangun langsung memasang garis polisi dan menutup lokasi tambang.

Di area tersebut juga terpasang papan bertuliskan, "Lokasi Ini Dalam Penyelidikan Unit Tipidter Sateskrim Sarolangun".

Kepala Desa Temengung, Supriadi, menjelaskan bahwa mayoritas korban merupakan penambang yang hanya bekerja atau menumpang di lokasi tersebut.

Supriadi menyebutkan bahwa aktivitas PETI di wilayah itu sudah berlangsung cukup lama.

Awalnya, penambangan dilakukan secara tradisional menggunakan dulang atau ayakan.

Namun seiring berjalannya waktu, metode penambangan berubah menjadi lebih modern tanpa diimbangi penerapan standar keselamatan yang memadai.

Ia juga mengakui bahwa kejadian longsor bukan pertama kali terjadi di lokasi tersebut, meskipun sebelumnya tidak menimbulkan korban sebanyak kali ini.

Pemerintah desa bersama aparat kepolisian dan TNI telah berulang kali melakukan sosialisasi, pemasangan spanduk, serta menyampaikan larangan terkait aktivitas PETI.

"Kami selalu mengingatkan masyarakat, baik lewat spanduk maupun dalam setiap kegiatan desa. Imbauan untuk menghentikan PETI sudah sering kami sampaikan," tegasnya.

Ke depan, pemerintah desa berencana mendorong reklamasi lahan bekas tambang dengan menanam kelapa sawit sebagai alternatif sumber mata pencaharian yang lebih aman.

"Kami berharap aktivitas pertambangan ini bisa berangsur dihentikan. Bekas tambang akan direklamasi dan ditanami sawit agar masyarakat punya penghasilan yang lebih aman,” ujarnya.

Kabid Humas Polda Jambi, Kombes Pol Erlan Munaji, menyampaikan kejadian diperkirakan berlangsung sekitar pukul 17.00 WIB saat wilayah tersebut diguyur hujan deras, namun aktivitas penambangan masih berlangsung.

Akibat curah hujan yang tinggi, struktur tanah mengalami pergeseran hingga memicu longsor dan menimbun para pekerja di area pertambangan.

"Dari informasi yang kita terima, saat itu hujan deras sehingga terjadi pegerakan tanah sehingga menimbun para pekerja di sana," jelasnya pada Rabu (21/1/2026) lalu.

DISCLAIMER

Berita ini bersifat informasi dan tidak bermaksud untuk menyinggung pihak manapun, melainkan sebagai bentuk penyampaian informasi publik.

Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit dan memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, atau melakukan tindak pidana lainnya segera hubungi layanan kesehatan jiwa atau profesional di puskesmas/rumah sakit terdekat atau pihak berwajib.

Simak berita terbaru medkomsubangnetwork,diGoogle News dan Media Sosial Facebook, Instagram dan Threads

Sebagian artikel ini tayang di medkomsubangnetwork,dengan judul Warga Resah Aktivitas PETI di Teluk Langkap Semakin Merajalela

Tabiat Pratu Farkhan Syauqi yang tewas diduga dianiaya senior, Ayah: Anakku mati di tangan kopral
Ringkasan Berita:
  • Pratu Farkhan Syauqi Marpaung meninggal dunia pada 31 Desember 2025 di Papua, diduga akibat penganiayaan oleh seniornya berpangkat Kopral.
  • Panglima TNI telah memerintahkan pengusutan tuntas kasus ini. 
  • Terduga pelaku saat ini sudah diamankan dan ditahan di POM Timika untuk pemeriksaan lebih lanjut terkait kemungkinan adanya pelaku lain.
 

medkomsubangnetwork,Seorang prajurit TNI bernama Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, meninggal dunia, Rabu (31/12/2025).

Pratu Farkhan tewas diduga dianiaya seniornya saat bertugas di Papua. 

Ayah Pratu Farkhan, Zakaria Marpaung, menceritakan bahwa awalnya sang putra bertugas di Yonif 113/Jaya Sakti Aceh.

Kemudian, Pratu Farkhan ditugaskan ke Papua. 

Zakaria tak menyangka anaknya justru meregang nyawa saat menjalankan tugas negara. 

"Kabar itu disampaikan sepupunya. Awalnya dia sakit, lalu menghangatkan badan di perapian, di Papua," kata Zakaria saat diwawancarai di Desa Hassan Air Genting, Sabtu (3/1/2026), dikutip medkomsubangnetwork,dari Kompas.com.

Seorang prajurit berpangkat Sersan kemudian menghampiri Pratu Farkhan untuk menanyakan kondisi. 

Saat itu, Pratu Farkhan mengaku sakit.

"Terus si Sersan ini memijiti. Lalu, datang yang berpangkat Kopral dan memanggil anak saya."

"Diajaknya ke samping, lalu disuruh tunduk, dipukul pakai ranting punggungnya," ungkap Zakaria.

"Disuruh, kalau istilah di tentara itu, peluk tobat, ditendang. Dia tersungkur, jatuh. Lalu, dia bangkit terjadi pembelaan," katanya lagi.

Zakaria pun menyayangkan insiden tersebut.

Meski begitu, dia bangga anaknya berani melawan senior untuk membela nyawanya.

"Yang kukecewakan anakku mati bukan di ujung senjata GPK (Gerakan Pengacau Keamanan). Anakku mati sesama TNI dan di bawah tangan dan kaki seorang Kopral TNI," ujar Zakaria.

"Mereka menyambung nyawa di sana. Yang harusnya saling menguatkan, saling melindungi, kenapa saling membunuh."

"Belum kering makam Prada lucky sekarang datang lagi makam Pratu Farkhan," katanya lagi.

Momen Pemakaman 

Jasad Pratu Farkhan Syauqi sudah dimakamkan di TPU Dusun V, Desa Hessa Air Genting, Air Batu, Kabupaten Asahan, Sabtu (3/1/2026).

Prosesi pemakaman diawali upacara penghormatan yang dipimpin oleh inspektur upacara, Kolonel Inf Dimar Bahtera.

Tangis keluarga tak terbendung setelah melihat peti mati Pratu Farkhan Syauqi dibawa dari masjid dekat rumahnya di Dusun IV, Desa Hessa Air Genting, Air Batu, Kabupaten Asahan ke TPU.

Tampak ibu Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, Marsinah Wati Silalahi, bersandar di bahu keluarga,

"Anakku, sehat-sehat kamu ya nak. Selamat jalan anakku," kata Marsinah Wati, dikutip medkomsubangnetwork,dari TribunMedan.

Iringan sirene ambulans mengiringi perjalanan Pratu Farkhan Syauqi Marpaung ke kediaman terakhirnya.

Tabiat Pratu Farkhan Syauqi

Sebagai seorang prajurit TNI, Pratu Farkhan Syauqi Marpaung termasuk sosok tangguh yang dimiliki Batalyon infanteri 113/Jaya Sakti.

"Pratu Farkhan ini memiliki motivasi yang tinggi, dia menjadi prajurit yang dicontoh bagi rekan-rekannya, adik-adiknya."

"Seperti diamanat saya tadi, Pratu Farkhan ini prajurit yang tangguh," kata Komandan Brigif 25/Siwah Aceh, Kolonel Infanteri Dimar Bahtera.

Pratu Farkhan Syauqi Marpaung menjadi prajurit yang siap ditugaskan di mana saja.

"Dia orangnya flexible, mudah bergaul dan tegas."

"Kami adalah orang tuanya, kami adalah mentornya, kami adalah pelatihnya, kami juga adalah abangnya, kami saudaranya, kami juga sahabatnya. Kami tau beliau anak yang tangguh," ujarnya.

Dugaan Penganiayaan Memang Benar

Terkait dugaan penganiayaan terhadap Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, Kolonel Infanteri Dimar tak menampik. 

Menurutnya, kasus tersebut sedang diusut oleh pihak satuan TNI Angkatan Darat, dan diperintahkan langsung oleh panglima TNI, Agus Subianto.

"Adik kita meninggal karena sakit, dan memang ada dugaan kekerasan."

"Tapi kejadiannya ada didaerah penugasan, jadi ada proses dan mekanisme dalam memeriksa dan menyelidiki kasus ini," katanya. 

Terduga Pelaku Sudah Diamankan

Komandan Brigade Infanteri 25/Siwah, Kolonel Dimar Bahtera turut hadir dalam upacara pemakaman bersama beberapa prajurit lainnya.

Kolonel Dimar menuturkan bahwa kasus Pratu Farkhan sedang diusut satuan TNI AD atas perintah langsung Panglima TNI, Agus Subianto.

"Terduga pelaku sudah diamankan dan ditahan di POM Timika. Sejauh ini masih satu orang. Tapi kami masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Barang kali ada pelaku lainnya," kata Dimar dikutip dari Tribun Medan.

===

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam Whatsapp Channel Harian Surya. Melalui Channel Whatsapp ini, Harian Surya akan mengirimkan rekomendasi bacaan menarik Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Persebaya dari seluruh daerah di Jawa Timur.  

Klik di sini untuk untuk bergabung 

Duka Mendalam dan Pencarian Keadilan: Kasus Dugaan Perundungan yang Merenggut Nyawa Siswa di Brebes

Empat bulan telah berlalu sejak kepergian Azka Rizki Fadholi, seorang siswa berusia 11 tahun dari MTs. Miftahul Ulum Rengaspendawa, Brebes, Jawa Tengah. Namun, bagi kedua orang tuanya, Sunarto (49) dan Siti Royanah (42), kepergian putra mereka pada 12 Agustus 2025 lalu masih menyisakan luka mendalam dan pertanyaan besar mengenai kepastian hukum. Azka, yang kala itu duduk di bangku kelas VII, meninggal dunia diduga akibat perundungan yang dialaminya di sekolah beberapa hari sebelum peristiwa nahas tersebut.

Siti Royanah, ibu Azka, dengan suara parau dan mata berlinang air mata, menceritakan kisah pilu yang dialami anaknya. Ia tak pernah menyangka bahwa Azka, seorang anak yang penurut dan pendiam, akan menjadi korban kekerasan di lingkungan sekolahnya. Keluhan Azka yang tidak enak badan sepulang sekolah pada Jumat, 8 Agustus 2025, menjadi awal mula kecurigaan Siti.

"Saat pulang sekolah, dia tidak ceria seperti biasanya. Dia terlihat murung dan langsung masuk ke kamar," kenang Siti, Minggu (14/12/2025), di rumah sederhananya.

Ketika waktu salat Jumat tiba, Azka mengeluh sakit kepala dan merasa tidak kuat untuk bangun, padahal pamannya sudah datang untuk mengajaknya ke masjid. Keesokan harinya, Sabtu, 9 Agustus 2025, Azka memaksakan diri untuk berangkat sekolah. Siti mulai menaruh curiga ketika melihat kaus kaki anaknya kotor, seperti bekas terperosok ke lumpur.

"Saya suruh ganti kaus kakinya yang kotor, tapi almarhum tidak mau ganti," ujar Siti.

Malam harinya, Siti kembali menanyakan kondisi kesehatan Azka. Sang anak akhirnya mengaku merasakan sakit pada bagian dada dan tangannya. Ketika diminta menggerakkan tangannya, Azka tidak bisa. Siti pun memutuskan untuk membawanya ke tukang urut. Sejak saat itu, Azka semakin menutup diri, bahkan makan pun harus diantarkan Siti ke kamarnya.

Kecurigaan Siti semakin memuncak melihat perubahan drastis pada Azka yang menghabiskan banyak waktu di kamar dan tidak ceria seperti biasanya. Puncak kekhawatiran terjadi pada Senin dini hari, 11 Agustus 2025. Azka keluar kamar ditemani kakaknya untuk ke toilet. Saat berada di samping Siti yang sedang memasak di dapur, Azka hampir terjatuh. Siti segera merangkul dan mengantarnya ke toilet.

Setelah dari toilet, Azka duduk di ruang tamu. Penasaran dengan kondisi anaknya, Siti kembali bertanya. Dengan suara tertahan tangis, Siti menanyakan apa yang terjadi. Azka akhirnya mengaku bahwa ia dipukuli oleh teman-temannya di sekolah dan diancam agar tidak memberitahu siapa pun.

"Saya mau ngomong tapi ibu jangan marah, saya dipukulin sama teman di sekolahan. Saya diancam jangan ngomong sama siapa-siapa," ungkap Siti menirukan perkataan Azka.

Senin pagi, Azka mengalami kejang. Siti segera membawanya ke Puskesmas. Namun, pihak Puskesmas meminta agar Azka langsung dibawa ke rumah sakit karena kondisinya yang lemah. Azka akhirnya dirawat di RS Harapan Sehat Jatibarang selama satu hari. Kondisinya semakin memburuk, trombositnya menurun drastis.

Pada Selasa petang, 12 Agustus 2025, Azka dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit. Siti sempat bertanya kepada petugas medis mengenai hasil pemeriksaan. Ia terkejut mengetahui bahwa selain mengalami Demam Berdarah Dengue (DBD), Azka juga mengalami patah tulang di tangan.

Perjuangan Menuntut Keadilan

Siti Royanah menyebutkan ada empat nama teman sekolah Azka yang diduga melakukan perundungan tersebut. Beberapa hari setelah kepergian Azka, pihak keluarga terduga pelaku dan pihak sekolah mendatangi rumah duka. Sebuah mediasi pun dilakukan oleh pihak sekolah.

Dalam mediasi tersebut, pihak sekolah menyarankan pemberian uang damai. Namun, tawaran tersebut ditolak mentah-mentah oleh keluarga Siti.

"Keluarga terduga pelaku menawarkan dari Rp 5 juta kemudian Rp 10 juta per anak, tapi saya menolak, karena saya ingin lanjut ke jalur hukum," tegas Siti.

Merasa tidak mendapatkan keadilan melalui mediasi, Siti bersama kuasa hukumnya, Fery Junaidi, S.H., memutuskan untuk membuat laporan resmi ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Brebes. Laporan tersebut diterima oleh piket Reskrim Polres Brebes Brigadir Polisi R. Putri S., S.H., dengan cap tertanggal 21 Agustus 2025.

Sebulan kemudian, pada 24 September 2025, Siti kembali dipanggil oleh pihak kepolisian untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Surat panggilan tersebut dicap dan ditandatangani oleh Kasat Reskrim Polres Brebes, AKP Resandro Handrianjati.

"Saya sudah lapor ke kepolisian, sudah 3 bulan lebih belum ada perkembangan. Saya ingin kasus saya sama dengan yang lain, jangan dibedakan dengan yang punya uang," pungkas Siti dengan penuh harap.

Kuasa hukum korban, Fery Junaidi, S.H., menyatakan bahwa proses hukum kasus tersebut masih ditangani oleh kepolisian. Ia berencana akan mendatangi Polres Brebes untuk menanyakan perkembangan kasus tersebut secepatnya.

Sementara itu, Guru Bimbingan Konseling (BK) MTs. Miftahul Ulum Rengaspendawa, Mustofa, angkat bicara mengenai investigasi internal yang telah dilakukan sekolah. Ia mengklarifikasi bahwa tawaran dari pihak keluarga terduga pelaku bukanlah uang damai, melainkan sebagai tali asih karena mereka semua bertetangga. Namun, Mustofa mengaku tidak mengetahui nominal pastinya.

Upaya untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai perkembangan kasus ini kepada Kasat Reskrim Polres Brebes, AKP Resandro Handriajati, melalui pesan WhatsApp belum mendapatkan respons hingga berita ini diturunkan. Kasus ini menjadi pengingat pentingnya perhatian serius terhadap isu perundungan di sekolah dan pentingnya penegakan hukum yang adil bagi semua pihak.

Ringkasan Berita:
  • Rion Kaluku dianiaya secara brutal menggunakan senjata tajam dan kursi oleh sekelompok pria di depan keluarganya
  • Polisi telah menetapkan dua tersangka berinisial AR
  • Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea, yang berada di lokasi saat kejadian, meminta maaf dan menegaskan insiden ini tidak terkait dengan aktivitas UMKM
 

medkomsubangnetwork– Novaris Kaluku (60) menjadi salah satu saksi kunci dalam kasus pembacokan di Pasar Sentral Kota Gorontalo.

Ia mengungkap detik-detik peristiwa berdarah yang menimpa adiknya, Rion Kaluku, pada Sabtu malam (7/12/2025).

Novaris menyebut dirinya berada di lokasi bersama keluarga ketika insiden itu terjadi. Ia melihat langsung bagaimana adiknya dianiaya oleh tiga pria menggunakan kursi dan senjata tajam.

Dalam kondisi panik, Novaris berlari meminta pertolongan kepada Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea, dan Wakil Wali Kota Indra Gobel yang kebetulan berada tidak jauh dari tempat kejadian.

Sontak, Wali Kota dan Wakil Wali Kota kaget mendengar laporan tersebut. Mereka berusaha menghentikan aksi pelaku, namun serangan tetap berlangsung.

Namun, pelaku bertindak brutal dan tidak terkendali. Rion yang sudah terkapar tetap dihujani serangan hingga bersimbah darah.

Setelah itu, pelaku memasukkan parang ke dalam sarung dan meninggalkan korban yang tergeletak di pelataran pasar.

Belakangan diketahui pelaku langsung menyerahkan diri ke polisi tak lama setelah insiden itu.

Sementara korban segera dilarikan ke RS Multazam menggunakan sepeda motor oleh warga sekitar.

Penetapan Tersangka

Polisi bergerak cepat menangani kasus ini. Dua pria bernama Apriyanto Runtu (35) dan Aksel Rorintulus (29), resmi ditetapkan sebagai tersangka.

Apriyanto diketahui merupakan nelayan asal Gorontalo, sementara Aksel merupakan warga Manado, Sulawesi Utara.

Kapolresta Gorontalo Kota, Kombes Pol Suryono, menjelaskan penetapan tersangka dilakukan setelah pemeriksaan terhadap tujuh saksi.

“Kami sudah menetapkan dua orang berinisial AR,” ungkapnya.

Keduanya dijerat dengan Pasal 170 KUHP dan UU Darurat karena salah satu pelaku menggunakan senjata tajam saat menyerang korban.

Kapolresta menegaskan bahwa kejadian tersebut bukan serangan acak.

Dari hasil pemeriksaan, diketahui konflik antara pelaku dan korban sudah berlangsung lama.

Kronologi Kejadian

Sekitar pukul 22.40 Wita, Novaris bersama Rion dan keluarga mereka dari Jakarta sedang duduk dan menikmati kopi di salah satu booth warkop Pasar Sentral.

Tak lama kemudian, Rion meninggalkan tempat duduknya dan berpindah ke bagian belakang booth.

Novaris melihat Rion berbincang dengan salah seorang temannya.

Selang beberapa waktu, tiba-tiba terjadi keributan yang melibatkan tiga orang tak dikenal.

Novaris berdiri dan memperhatikan orang yang dianiaya. Ia kaget ketika mengetahui korban adalah adiknya sendiri.

Ia melihat Rion terkapar dan dianiaya oleh tiga pria menggunakan kursi serta parang.

Dalam kondisi panik, Novaris berlari menuju tempat duduk Wali Kota Adhan Dambea dan Wakil Wali Kota Indra Gobel.

Mendengar laporan itu, keduanya langsung berteriak dan berusaha menghentikan pelaku.

Namun, pelaku tidak terkendali dan terus melancarkan aksinya.

Setelah puas menyerang, pelaku memasukkan parang ke dalam sarung dan meninggalkan lokasi.

Korban yang bersimbah darah segera dibawa ke RS Multazam menggunakan sepeda motor.

Permintaan Maaf Wali Kota Gorontalo

Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas insiden yang terjadi.

Ia menegaskan bahwa peristiwa itu tidak direncanakan dan tidak berkaitan dengan aktivitas UMKM di kawasan Pasar Sentral.

"Mohon maaf atas kejadian semalam. Kejadian itu memang tidak direncanakan, saya kira semua tidak menghendaki semua itu," ujarnya.

Menurut Adhan, aksi penikaman tersebut dipicu oleh konflik personal yang telah terjadi sejak satu tahun lalu, tepatnya pada masa kampanye.

Ia menuturkan bahwa pelaku dan korban kebetulan bertemu di Pasar Sentral, sehingga pertikaian lama itu kembali memanas.

Terduga pelaku dikenal dengan panggilan "Starky", sementara korban bernama Rion Kaluku.

Adhan menjelaskan bahwa dirinya pernah menjadi sasaran berbagai tuduhan di media sosial, termasuk dituding memiliki utang Rp1 miliar.

Bahkan melalui media sosial, Adhan Dambea jadi sasaran cibiran hingga hinaan oleh korban.

Karena itu, Starky disebut sudah lama memendam amarah terhadap Rion Kaluku.

"Tetapi kebetulan semalam ketemu dengan saudara Rion ini (di Pasar Sentral),” ungkap Adhan.

Kapolresta Gorontalo Kota memastikan pihaknya akan terus mengusut kasus ini hingga tuntas.

Selain menetapkan tersangka, polisi juga berkomitmen meningkatkan keamanan di kawasan Pasar Sentral.

Patroli rutin akan digencarkan dengan melibatkan petugas keamanan pasar.

“Secara rutin tiap malam anggota kami melaksanakan patroli,” jelas Kapolresta.

Kegiatan UMKM Tidak Terkait Peristiwa

Adhan menegaskan bahwa insiden tersebut bukan terjadi karena kegiatan komunitas UMKM di Pasar Sentral.

Ia mengingatkan bahwa aktivitas UMKM yang kini ramai di Pasar Sentral murni berasal dari inisiatif warga.

“Kegiatan ini kegiatan saudara-saudara, bukan kegiatan komunitas pemerintah. Pemerintah hanya memfasilitasi, menyiapkan tempat. Ini benar-benar lahir dari masyarakat, mayoritas generasi muda,” tegasnya.

Ia meminta agar bila terjadi persoalan antarpersonal, sebaiknya diselesaikan secara internal atau dilaporkan ke pihak kepolisian untuk mencegah konflik berkembang menjadi kekerasan.

Adhan bahkan mengungkap bahwa ia sendiri pernah melaporkan dugaan pencemaran nama baik ke Polda Gorontalo namun tidak diproses.

Ia menilai jika laporan itu ditindaklanjuti, kemungkinan besar insiden Sabtu malam tidak akan terjadi.

Meski begitu, kericuhan yang terjadi menyebabkan ratusan kursi dan meja UMKM rusak.

Adhan mengapresiasi sejumlah pihak yang langsung berinisiatif mengumpulkan dana untuk mengganti kerugian pedagang.

Namun ia mengingatkan agar penggantian dilakukan dengan jujur dan berdasarkan bukti riil, bukan dengan menambah-nambahi kerusakan.

“Saya sarankan, jangan kasih uang. Dihitung berapa kursi yang rusak, diganti dengan kursi, bukan uang. Jangan tambah-tambah, kalian dapat dosa. Yang penting ada nota yang benar,” tegasnya.

 

(medkomsubangnetwork/Herjianto Tangahu/*)

medkomsubangnetwork Ketegangan di kawasan kembali meningkat setelah Jepang melaporkan pesawat militer China mengarahkan radar pada jet tempur F-15 mereka di dekat Okinawa.

Insiden itu terjadi dua kali pada Sabtu (6/12/2025), masing-masing berlangsung sekitar 3 menit pada sore hari dan hampir setengah jam pada malam hari.

Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi, menyebut tindakan tersebut berbahaya dan berada di luar prosedur penerbangan yang aman.

“Kami telah menyampaikan protes keras kepada pihak China dan menuntut tindakan pencegahan yang ketat,” kata Koizumi sebagaimana dilaporkan Associated Press, Minggu (7/12/2025).

Menurut Kementerian Pertahanan Jepang, jet-jet F-15 dikerahkan untuk memantau latihan lepas-landas dan pendaratan yang dilakukan armada China di Pasifik, namun mereka tetap menjaga jarak agar tidak memicu provokasi.

Tidak ada pelanggaran wilayah udara maupun kerusakan yang dilaporkan.

Di sisi lain, juru bicara Angkatan Laut China, Kolonel Senior Wang Xuemeng, mengatakan latihan mereka sudah diumumkan sebelumnya dan menuduh pesawat Jepang melakukan gangguan.

Ia meminta Tokyo agar menghentikan fitnah dan menegaskan bahwa China akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingannya.

"Kami dengan sungguh-sungguh meminta pihak Jepang untuk segera menghentikan fitnah dan pencemaran nama baik, serta secara tegas mengekang tindakan-tindakan di garis depan. Angkatan Laut China akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai dengan hukum untuk secara tegas menjaga keamanannya sendiri serta hak dan kepentingan yang sah," ujar Wang dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan pada Minggu di situs web Kementerian Pertahanan China dikutip dari The Japan News. 

Insiden ini terjadi di tengah hubungan bilateral yang memburuk setelah pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi terkait kemungkinan keterlibatan militer Jepang jika China bertindak terhadap Taiwan.

Australia ikut bereaksi

AP juga melaporkan bahwa situasi tersebut menjadi perhatian Australia, yang menterinya tengah berada di Tokyo untuk pertemuan bilateral.

Menteri Pertahanan Australia Richard Marles menyatakan keprihatinan atas insiden tersebut dan berharap interaksi di udara tetap berlangsung secara profesional.

Ia menegaskan Australia tidak menginginkan perubahan sepihak atas status quo di Selat Taiwan, meski tetap berupaya menjaga hubungan konstruktif dengan Beijing.

Dalam pertemuan pada Minggu (7/12/2025), Jepang dan Australia sepakat mempererat koordinasi militer melalui kerangka kerja baru yang lebih strategis.

Kerjasama tersebut mencerminkan upaya Tokyo memperluas jejaring pertahanannya di luar aliansi utama dengan Amerika Serikat.

Di tengah dinamika itu, insiden penguncian radar tercatat sebagai yang pertama melibatkan jet kedua negara, meski kasus serupa pernah terjadi pada 2013 antara kapal perang China dan kapal perusak Jepang.

Sementara itu di wilayah Pasifik lain, Filipina melaporkan pesawat pengawas mereka ditembaki suar peringatan oleh penjaga pantai China di Laut Cina Selatan.

Peristiwa ini juga menandakan tensi di kawasan Indo-Pasifik terus menyebar ke berbagai titik.

Respons Sanae Takaichi atas insiden penguncian radar jet tempur Jepang

Dilansir dari The Guardian, Minggu (7/12/2025), Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan bahwa pemerintah akan merespons dengan tenang namun tegas setelah radar China mengunci jet tempur Jepang di tenggara Okinawa akhir pekan lalu.

Ia menyatakan Jepang akan memperkuat pengawasan di laut dan udara serta memantau aktivitas militer Beijing secara lebih ketat, sementara pemerintah juga telah memanggil duta besar China pada Minggu (7/12/2025).

Menurut Kementerian Pertahanan Jepang, dua jet J-15 yang lepas landas dari kapal induk Liaoning mengunci radar pada F-15 Jepang pada pukul 16.32 dan sekitar dua jam setelahnya.

Karena jarak yang cukup jauh, tidak ada konfirmasi visual, namun tidak ditemukan kerusakan maupun korban.

Ini menjadi kali pertama kementerian mengungkap insiden serupa, dengan radar jet umumnya dipakai untuk identifikasi target maupun operasi pencarian.

Takaichi kembali menegaskan bahwa Jepang berhak membela diri dan membantu sekutu jika situasi di kawasan memburuk, seraya menyebut pentingnya bersiap menghadapi skenario terburuk di Selat Taiwan.

Pernyataannya turut memicu seruan dari Donald Trump agar Jepang berhati-hati agar ketegangan dengan China tidak meningkat.

Jepang selama ini memang terus memikirkan langkah yang tepat dalam menghadapi potensi konflik China–Taiwan, terlebih jaraknya yang sangat dekat dengan pulau Yonaguni di Laut Cina Timur.

Verrell Bramasta Klarifikasi Penggunaan Rompi Saat Tinjau Banjir: Bukan Rompi Antipeluru

Penampilan aktor sekaligus anggota DPR RI, Verrell Bramasta, saat meninjau langsung lokasi bencana banjir di Sumatera Barat pada 30 November 2025, mendadak menjadi sorotan publik. Sebuah rompi yang dikenakannya saat berada di tengah-tengah korban banjir memicu perdebatan hangat di media sosial, dengan banyak pihak menduga bahwa rompi tersebut adalah rompi antipeluru atau pelampung. Menanggapi kesalahpahaman yang berkembang, Verrell Bramasta akhirnya memberikan klarifikasi resmi mengenai penggunaan rompi tersebut.

Verrell Bramasta menegaskan dengan gamblang bahwa rompi yang ia kenakan bukanlah rompi antipeluru. Ia menjelaskan bahwa benda tersebut adalah sebuah tactical vest yang memang umum digunakan dalam kegiatan lapangan, terutama saat melakukan peninjauan di area yang membutuhkan mobilitas tinggi dan logistik yang memadai.

“Rompi tersebut bukan rompi anti-peluru, melainkan tactical vest yang umum dipakai di kegiatan lapangan," ujar Verrell dalam keterangan tertulisnya kepada awak media pada Selasa, 2 Desember 2025.

Anak sulung dari Venna Melinda ini menambahkan bahwa rompi tersebut merupakan pemberian dari seorang teman yang bertugas di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL). “Itu merupakan hadiah dari rekan AL kepada saya,” ungkapnya, mengindikasikan bahwa desain rompi tersebut memang menyerupai perlengkapan militer.

Bongkar Isi Rompi: Fungsi Sebenarnya Tactical Vest

Lebih lanjut, Verrell Bramasta secara tegas menepis anggapan bahwa rompi tersebut memiliki fungsi pelindung layaknya pelat balistik yang mampu menahan tembakan. Menurutnya, fungsi utama dari tactical vest yang dikenakannya adalah sebagai wadah untuk membawa berbagai perlengkapan dan kebutuhan yang esensial saat beraktivitas di area terdampak bencana.

“Rompi taktis ini tidak dilengkapi pelat balistik, dan fungsinya memang untuk membawa perlengkapan kebutuhan. Saat itu saya membawa air minum, uang kas untuk dibagikan, dan perlengkapan lainnya,” papar Verrell, menjelaskan isi dari kantong-kantong pada rompi tersebut.

Verrell menjelaskan bahwa keberadaan sistem kantong modular (MOLLE) pada tactical vest tersebut sangat membantunya untuk bergerak dengan lincah. Kemudahan ini memungkinkan dirinya untuk menyalurkan bantuan secara cepat dan berinteraksi langsung dengan warga yang terdampak bencana.

“Kondisi di lokasi sangat dinamis, sehingga saya butuh membawa banyak barang tanpa menghambat gerak. Tujuannya agar bisa cepat membantu warga dan tim di lapangan,” tambahnya.

Dalam kunjungannya ke Sumatera Barat, Verrell Bramasta tidak hanya meninjau kondisi pengungsian secara langsung, tetapi juga turut memberikan bantuan kepada para korban. Ia juga melakukan diskusi dengan pemerintah daerah setempat guna mencari solusi dan mempercepat proses penanganan bagi para korban banjir.

Melalui klarifikasi ini, Verrell berharap dapat meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di publik. “Jadi distorsi informasi yang terjadi, dibilang anti peluru atau pelampung, itu salah besar. Sekian,” pungkasnya.

Mengenal Tactical Vest: Rompi Multifungsi untuk Kebutuhan Lapangan

Tactical vest, seperti yang dikenakan oleh Verrell Bramasta, merupakan jenis rompi yang dirancang khusus untuk membawa berbagai perlengkapan yang dibutuhkan oleh aparat, relawan, atau individu yang beraktivitas di lapangan. Desainnya yang dilengkapi dengan banyak kantong dan slot membuatnya sangat fungsional untuk menyimpan barang-barang penting seperti handy talky, botol minum, senter, atau peralatan medis kecil.

Fungsi utama dari tactical vest adalah membantu distribusi beban agar terasa lebih ringan saat penggunanya bergerak, terutama di area yang sulit dijangkau atau medan yang berat seperti di lokasi bencana. Bahan yang digunakan umumnya adalah material nylon atau polyester tebal yang memiliki ketahanan terhadap air dan cukup kuat untuk menahan gesekan.

Beberapa karakteristik penting dari tactical vest meliputi:

  • Desain:
    • Tidak dilengkapi dengan pelat baja atau kevlar, berbeda dengan rompi antipeluru.
    • Umumnya lebih ringan dan fleksibel, sehingga sangat mendukung mobilitas pengguna.
  • Asal Rompi Verrell:
    • Verrell menyebutkan bahwa rompi tersebut adalah hadiah dari sahabatnya di TNI AL.
    • Oleh karena itu, modelnya memang didesain agar menyerupai perlengkapan militer.
  • Alasan Pemakaian oleh Verrell:
    • Tujuan utamanya adalah untuk mempermudah dan mempraktikkan bawaan logistik serta perlengkapan saat melakukan peninjauan banjir.
    • Sama sekali bukan untuk tujuan perlindungan dari peluru.

Kisah Verrell Bramasta di Tengah Korban Bencana

Dalam kunjungannya ke Padang, Sumatera Barat, Verrell Bramasta tidak hanya fokus pada tugasnya sebagai wakil rakyat, tetapi juga menyerap cerita dan merasakan langsung kepedihan para korban bencana. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, ia berbagi kisah menyentuh tentang pertemuannya dengan seorang ibu di tengah puing-puing rumah yang masih tergenang lumpur.

Sang ibu menceritakan bahwa ia tidak sempat menyelamatkan harta benda karena air bah datang begitu cepat. Verrell juga bertemu dengan seorang bapak yang, meskipun rumahnya dilanda banjir besar, masih mampu tersenyum tipis seraya berkata, "Yang penting anak-anak selamat, Mas."

Pengalaman ini semakin menguatkan pandangan Verrell bahwa di balik luka yang dialami Sumatera, harapan tetap menyala. "Sumatera mungkin sedang terluka, tetapi bukan tanpa harapan. Hari ini, saya melihat sendiri bagaimana harapan masih menyala di mata setiap orang yang saya temui," tulis Verrell.

Ia menutup pesannya dengan harapan agar proses pemulihan berjalan cepat dan mengajak semua pihak untuk terus menjadi bagian dari kekuatan yang membangkitkan semangat kebersamaan. "Semoga pemulihan berlangsung cepat dan kita semua terus menjadi bagian dari kekuatan untuk bangkit bersama."

Modus Ganjal ATM Bekasi: Penyelidikan Dimulai

Modus Ganjal ATM Merajalela: Warga Bekasi Kehilangan Rp 109 Juta di Minimarket

Bekasi Selatan - Kejahatan dengan modus ganjal kartu anjungan tunai mandiri (ATM) kembali dilaporkan terjadi di wilayah Bekasi Selatan. Kali ini, seorang warga berinisial EI (52) menjadi korban, kehilangan saldo tabungannya yang fantastis senilai Rp 109 juta akibat serangkaian transaksi mencurigakan yang tidak pernah dilakukannya. Peristiwa ini terjadi di sebuah minimarket di Jalan Nangka Raya, Kayuringin Jaya, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi, dan kini telah dilaporkan ke pihak kepolisian untuk penyelidikan lebih lanjut.

Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota, AKBP Braiel Arnold Rondonuwu, membenarkan bahwa pihaknya telah menerima laporan dari terduga korban. "Perkara dalam proses penyelidikan," ujar AKBP Braiel Arnold Rondonuwu pada Selasa (2/12/2025), mengindikasikan bahwa timnya tengah bekerja untuk mengungkap kasus ini.

Kronologi Kejadian: Bantuan yang Berujung Petaka

Kejadian nahas yang dialami EI bermula pada Rabu, 19 November 2025, sekitar pukul 16.30 WIB. Saat itu, EI berniat melakukan transaksi tarik tunai di mesin ATM BRI yang berlokasi di minimarket tersebut. Sesampainya di lokasi, ia melihat seorang wanita yang baru saja selesai bertransaksi tampak frustrasi. Saat ditanya oleh EI, wanita tersebut mengaku mengalami kendala pada mesin ATM, kartunya terasa seret, sehingga ia memutuskan untuk tidak melanjutkan dan meninggalkan lokasi.

Meskipun mendapat peringatan implisit tersebut, EI tetap mencoba menggunakan mesin ATM. Benar saja, EI mengalami hal serupa. Kartu ATM miliknya pun terasa seret saat dimasukkan. Di tengah kebingungannya, seorang pria tak dikenal menghampirinya dan menawarkan bantuan. Pria tersebut mengaku bisa mengatasi masalah kartu yang seret.

"Saya coba masukin kartu seret juga, habis itu ada laki-laki bilang oh bisa ini bu gitu jadi tidak seret dibantuin, kartu masuk, saya mulai masukan PIN, tapi PIN saya salah udah coba dua kali, takut keblokir, akhirnya saya batalin transaksi," jelas EI menceritakan momen menegangkan tersebut.

Merasa transaksi gagal dan khawatir kartu ATM-nya terblokir, EI memutuskan untuk menghentikan upayanya dan segera pulang ke rumah. Ia tidak menyadari bahwa momen bantuan tersebut adalah awal dari hilangnya seluruh tabungannya.

Penemuan Mengejutkan: 13 Transaksi Ilegal Senilai Jutaan Rupiah

Kecurigaan EI mulai muncul pada malam harinya, sekitar pukul 23.00 WIB. Ia berniat untuk melakukan rekapitulasi transaksi melalui aplikasi mobile banking miliknya. Namun, apa yang ditemukannya justru membuat EI terkejut dan panik. Rekeningnya menunjukkan adanya 13 transaksi yang tidak ia kenali sama sekali. Lebih parahnya lagi, saldo rekeningnya yang seharusnya berjumlah besar, kini hanya tersisa sekitar Rp 305.000.

"Saya lihat di situ ada 13 transaksi, total transaksinya itu lebih kurang mencapai Rp 109 juta, ada tiga nomor rekening yang berbeda ditransfer, lalu ada juga tarik tunai, dua dari rekening itu BRI, dan satu BCA, dua atas nama di BRI itu namanya Misron dan Rizki," ungkap EI dengan nada prihatin.

Dari rincian transaksi tersebut, EI menyadari bahwa uangnya telah ditransfer ke tiga rekening berbeda, sebagian besar untuk tarik tunai, dan sebagian lagi untuk transfer. Dua rekening tujuan transfer adalah rekening BRI dengan nama Misron dan Rizki, sementara satu rekening lagi adalah rekening BCA.

Kartu ATM Tertukar: Kunci Kasus Pembobolan

Merasa ada yang tidak beres dan yakin bahwa dirinya telah menjadi korban penipuan, EI segera mendatangi kantor cabang BRI terdekat pada Kamis, 20 November 2025. Ia melaporkan kejadian tersebut kepada pihak bank dan diminta untuk menyerahkan kartu ATM miliknya guna dicocokkan dengan data diri.

Saat itulah EI mendapatkan bukti konkrit bahwa kartu ATM yang ia gunakan di mesin ATM minimarket bukanlah miliknya. Ada perbedaan mencolok antara kartu yang ia serahkan kepada petugas bank dengan kartu yang ia ingat.

"Dugaan saya kartu saya ditukar oleh laki-laki waktu di ATM, terus ditukarnya waktu saya dibantuin kendala itu, saya baru tahu beda kartu pas di kantor BRI," ungkap EI. Berdasarkan pengamatannya pada rekaman kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi kejadian, EI menduga pelaku berjumlah dua orang pria, yang terlihat masuk ke dalam mobil yang sama.

Laporan Polisi dan Harapan Keadilan

Menindaklanjuti temuan tersebut, EI membuat laporan resmi ke Polres Metro Bekasi Kota pada Jumat, 21 November 2025. Laporannya telah terigistrasi dengan nomor STTLP/B/2960/XI/2025/SPKT/POLRES METRO BEKASI KOTA/POLDA METRO JAYA.

Saat ini, EI hanya bisa berharap agar pihak kepolisian dapat segera memproses laporannya dan menangkap para pelaku yang telah merampas haknya. "Saya berharap segera diproses perkaranya," pungkasnya, dengan harapan keadilan dapat segera ditegakkan. Kasus ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk selalu waspada terhadap modus kejahatan yang semakin beragam, terutama saat bertransaksi di mesin ATM.

Gempa M4,9 Guncang Melonguane Sulut, BMKG Beri Info

Gempa Magnitudo 4,9 Guncang Sulawesi Utara, BMKG Ingatkan Pentingnya Kesiapsiagaan

Pada Kamis, 27 November 2025, sebuah peristiwa alam mengagetkan warga Melonguane, Sulawesi Utara. Gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 4,9 mengguncang wilayah tersebut pada pukul 11.41.35 WIB. Menurut informasi yang dirilis, pusat gempa berlokasi di koordinat 5.02 Lintang Utara dan 126.16 Bujur Timur. Lokasi persisnya berada 127 kilometer arah barat laut Melonguane, dengan kedalaman gempa yang relatif dangkal, yaitu 10 kilometer di bawah permukaan bumi.

Meskipun informasi awal mengenai gempa seringkali bersifat dinamis dan dapat mengalami pembaruan seiring kelengkapan data, kejadian ini menegaskan kembali pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam, khususnya gempa bumi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara rutin memberikan panduan dan informasi mengenai langkah-langkah yang perlu diambil ketika bencana ini terjadi.

Langkah-langkah Penting Saat Gempa Melanda

Menghadapi gempa bumi, baik yang berskala kecil maupun besar, kepanikan seringkali menjadi respons awal. Namun, menjaga ketenangan adalah kunci utama untuk dapat mengambil tindakan yang tepat dan menyelamatkan diri serta orang lain. BMKG menekankan beberapa langkah penting yang perlu diperhatikan, tergantung pada lokasi Anda saat gempa terjadi.

1. Saat Berada di Dalam Ruangan

Jika Anda sedang berada di dalam rumah atau bangunan saat gempa terjadi, prioritas utama adalah mencari perlindungan.

  • Tetap Tenang dan Cari Tempat Aman: Tarik napas dalam-dalam untuk meredakan kepanikan. Amati kondisi sekitar dan segera cari tempat yang aman untuk berlindung.
  • Berlindung di Bawah Perabot Kokoh: Meja atau tempat tidur yang kokoh menjadi pilihan terbaik untuk melindungi diri dari benda-benda yang berjatuhan, seperti lampu, vas bunga, atau bagian bangunan yang rapuh.
  • Lindungi Kepala: Gunakan benda-benda empuk seperti bantal, helm, atau buku tebal untuk melindungi kepala Anda. Jika tidak ada benda lain, gunakan kedua tangan untuk menutupi dan melindungi kepala sambil merunduk.
  • Jauhi Jendela dan Benda Berat: Pastikan Anda tidak berada di dekat jendela, kaca, atau benda-benda berat yang berpotensi jatuh dan menyebabkan cedera.

2. Saat Berada di Luar Ruangan

Berada di area terbuka saat gempa terjadi memiliki tantangan tersendiri.

  • Jauhi Bangunan dan Struktur Berbahaya: Segera bergerak menjauhi gedung, tiang listrik, pohon, atau struktur lain yang berpotensi roboh atau tumbang.
  • Menuju Area Terbuka: Cari lapangan luas atau area terbuka yang aman dari potensi bahaya reruntuhan.
  • Tetap Tenang dan Waspada Gempa Susulan: Setelah getaran pertama mereda, tetaplah tenang dan bersiap untuk kemungkinan adanya gempa susulan.

3. Saat Berada di Tempat Ramai (Kerumunan)

Situasi kerumunan seringkali memicu kepanikan massal yang bisa berbahaya.

  • Perhatikan Arahan Petugas: Ikuti instruksi dari petugas keamanan atau tim penyelamat. Mereka biasanya memiliki protokol evakuasi yang telah ditetapkan.
  • Cari Tangga Darurat: Jika memungkinkan, segera menuju tangga darurat untuk keluar dari gedung dan bergerak menuju area terbuka.
  • Hindari Panik: Usahakan untuk tetap tenang dan jangan ikut terdorong dalam kepanikan massa.

4. Saat Berada di Gunung atau Dataran Tinggi

Kondisi geografis pegunungan memiliki risiko tambahan, yaitu longsor.

  • Bergerak ke Area Lapang: Segera menjauh dari lereng gunung atau tebing yang berpotensi longsor. Cari dataran yang lebih datar dan terbuka.
  • Waspadai Longsor dan Jatuhan Batu: Tetap waspada terhadap kemungkinan longsoran tanah atau jatuhan batu akibat getaran gempa.

5. Saat Berada di Laut

Gempa yang berpusat di bawah laut dapat berpotensi menimbulkan tsunami.

  • Naik ke Dataran Tinggi: Jika Anda berada di pantai atau dekat laut saat gempa terjadi, segera bergerak menuju dataran yang lebih tinggi.
  • Ikuti Peringatan Dini: Perhatikan sirene atau pengumuman peringatan tsunami dari pihak berwenang.

6. Saat Berada di Dalam Kendaraan

Perjalanan saat gempa membutuhkan kewaspadaan ekstra.

  • Pegang Erat Kendaraan: Jika Anda sedang di dalam kendaraan, pegang erat-erat untuk menjaga keseimbangan.
  • Berhenti di Tempat Aman: Segera cari tempat yang lapang dan aman untuk menepikan kendaraan Anda. Hindari berhenti di bawah jembatan, pohon, atau bangunan yang rentan roboh.
  • Matikan Mesin dan Tetap di Dalam: Setelah berhenti, matikan mesin kendaraan dan tetap berada di dalam hingga getaran mereda.

Memahami Skala MMI (Modified Mercalli Intensity)

Selain mengetahui langkah-langkah evakuasi, pemahaman mengenai intensitas gempa berdasarkan skala MMI juga penting. Skala ini mengukur dampak atau getaran gempa yang dirasakan oleh manusia dan kerusakan yang ditimbulkan.

  • I MMI: Getaran gempa tidak dirasakan, kecuali oleh orang yang sangat peka dalam kondisi luar biasa.
  • II MMI: Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang tergantung mulai bergoyang.
  • III MMI: Getaran dirasakan nyata di dalam rumah, terasa seperti ada truk yang lewat.
  • IV MMI: Dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah, beberapa orang di luar rumah. Gerabah pecah, jendela dan pintu berderik, dinding berbunyi.
  • V MMI: Dirasakan hampir semua orang, orang berlarian, gerabah pecah, barang-barang terlempar, tiang dan benda besar bergoyang.
  • VI MMI: Dirasakan oleh semua orang, kebanyakan terkejut dan lari keluar. Plester dinding jatuh, cerobong asap pabrik rusak ringan.
  • VII MMI: Semua orang keluar rumah. Kerusakan ringan pada bangunan baik, kerusakan signifikan pada bangunan dengan konstruksi kurang baik. Cerobong asap pecah.
  • VIII MMI: Kerusakan ringan pada bangunan kuat, retakan pada bangunan kurang baik, dinding terlepas, cerobong asap dan monumen roboh, air keruh.
  • IX MMI: Kerusakan pada bangunan kuat, rangka rumah tidak lurus, banyak retakan. Rumah bergeser dari pondasi, pipa putus.
  • X MMI: Bangunan kayu kuat rusak, rangka rumah lepas dari pondasi. Tanah terbelah, rel melengkung, longsor di sungai dan lereng curam.
  • XI MMI: Sedikit bangunan yang masih berdiri. Jembatan rusak, terjadi lembah, pipa bawah tanah tidak dapat dipakai, rel sangat melengkung.
  • XII MMI: Hancur total, gelombang terlihat di permukaan tanah, pemandangan gelap, benda-benda terlempar ke udara.

Dengan memahami langkah-langkah kesiapsiagaan dan skala intensitas gempa, masyarakat diharapkan dapat lebih siap dan mengurangi risiko saat bencana alam terjadi. Kesiapsiagaan adalah investasi terbaik untuk keselamatan jiwa.

Tawuran Maut di Makassar: 13 Rumah Ludes, Polisi Ungkap Dugaan Keterlibatan Jaringan Narkoba

MAKASSAR – Rangkaian konflik antarwarga yang telah berlangsung berbulan-bulan di bagian utara Kota Makassar, Sulawesi Selatan, kembali memanas dengan insiden tragis yang melibatkan kelompok dari Sapiria dan Borta di area pekuburan Beroangin, Tallo. Peristiwa ini tidak hanya menyebabkan kehancuran fisik dengan ludesnya 13 rumah, tetapi juga merenggut nyawa seorang warga akibat luka tembak dan menjerat enam orang sebagai tersangka pembakaran.

Lebih dalam dari sekadar bentrokan fisik, pihak kepolisian kini mencurigai adanya motif tersembunyi di balik tawuran yang tak kunjung usai ini. Dugaan kuat mengarah pada persaingan antar bandar narkoba yang beroperasi di wilayah tersebut. Kecurigaan ini diungkapkan langsung oleh Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Sulsel, Kombes Pol Setiadi Sulaksono, dalam sebuah konferensi pers yang digelar di Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Sulsel.

Dalam konferensi pers tersebut, enam tersangka pelaku pembakaran 13 rumah dihadirkan ke hadapan publik. Mereka, yang mengenakan kaos merah bertuliskan "Tahanan Ditreskrimum Polda Sulsel", digiring dengan tangan terborgol dan berjalan tertunduk, dikawal ketat oleh personel Resmob Polda Sulsel. Salah satu pengawal bahkan terlihat menenteng senjata laras panjang jenis Scorpion Evo 3 buatan Ceko dengan amunisi kaliber 9 milimeter.

Barang bukti yang disita polisi dari lokasi tawuran juga dipamerkan, menunjukkan skala kekerasan yang terjadi. Di antaranya adalah lima botol molotov, dua tabung gas CO2 untuk senapan angin, dua petasan, jeriken berisi bensin, serta sejumlah anak panah busur.

Selain itu, turut dihadirkan tersangka penembakan terhadap warga Sapiria, yaitu Nursyam alias Cipas (37), yang diwakili oleh tersangka berinisial CD (36). CD mengenakan kaos oranye bertuliskan "Tahanan Polrestabes Makassar" dan diduga kuat menggunakan senjata senapan angin PCP Predator yang juga turut diamankan sebagai barang bukti oleh Satreskrim Polrestabes Makassar, bersama puluhan anak panah busur dan ketapel.

Keenam tersangka pelaku pembakaran rumah tersebut masing-masing berinisial RM (18), MR (18), AQ (17), SU (18), SP (20), dan FD (16). Mereka dijerat dengan pasal berlapis, yaitu Pasal 187 ayat 1, Junto Pasal 55 dan 56, serta Pasal 170 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), dengan ancaman hukuman pidana penjara maksimal 12 tahun.

Indikasi Jaringan Narkoba dan Kronologi Kekerasan

Kombes Pol Setiadi Sulaksono, didampingi oleh Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Didik Supranoto dan Dansat Brimob yang juga menjabat sebagai Pelaksana Harian (Plh) Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Muhammad Ridwan, menjelaskan lebih lanjut mengenai dugaan keterlibatan jaringan narkoba. Rumor persaingan antar kartel narkoba di wilayah utara kota berpenduduk sekitar 1,4 juta jiwa ini muncul sebagai respons terhadap pertanyaan wartawan mengenai pemicu bentrokan.

Secara spesifik, Setiadi merujuk pada tewasnya seorang pelajar SMA berinisial MDJ (16) yang tertembak pada Jumat (21/11/2025) dini hari. Korban ditemukan meninggal dunia dengan luka tembak di dada kiri akibat peluru senapan angin saat berada di Jl Tinumbu Lorong 148. Peristiwa ini terjadi di tengah bentrokan antara warga setempat dengan warga Kampung Layang, yang berjarak hanya sekitar 1-2 kilometer dari lokasi tawuran sebelumnya antara Sapiria dan Borta.

"Ini kalau saya lihat banyak faktor ya. Di samping, rumor bilang katanya adanya persaingan jaringan (bandar) narkoba di dalamnya," ujar Setiadi Sulaksono, mengindikasikan bahwa konflik yang telah terjadi selama tiga bulan terakhir tidak hanya dipicu oleh perseteruan antarwarga semata.

Dugaan persaingan jaringan narkoba semakin menguat dengan temuan bahwa keenam tersangka pelaku pembakaran rumah tersebut dinyatakan positif mengonsumsi narkoba saat ditangkap. "Ini rata-rata pemakai juga semua. Iya (positif), jadi mereka memang pada saat diambil keterangan, kelihatan sakau," ungkap Setiadi.

Selain itu, dalam operasi patroli gabungan TNI-Polri di wilayah rawan konflik Sapiria dan Borta, petugas juga berhasil mengamankan lima orang warga yang diduga tengah berpesta narkoba jenis sabu. Kelima individu ini, berinisial TH (53), ZK (39), AH (35), DS, dan AP, diserahkan oleh petugas TNI kepada Satresnarkoba Polrestabes Makassar. Turut disita sejumlah paket berisi kristal bening yang diduga sabu.

Operasi Gabungan dan Dampak Tawuran Berkepanjangan

Bahkan, sepuluh hari sebelum tawuran berdarah antara Sapiria dan Borta yang mengakibatkan 13 rumah terbakar, tim gabungan Polda Sulsel dan BNNP Sulsel telah melakukan penggerebekan di Kampung Sapiria dan sekitarnya pada Sabtu (8/11/2025). Operasi yang melibatkan sekitar 500 personel ini dipimpin langsung oleh Wakapolda Sulsel Brigjen Pol Nasri dan Kepala BNNP Sulsel Brigjen Pol Budi Sajidin.

Hasil penyisiran di berbagai lokasi, seperti Lembo, Sapiria (Gotong), dan Borta, mengamankan puluhan orang yang diduga sebagai bandar maupun pengguna narkotika, serta sejumlah barang bukti.

  • Di Lokasi Lembo: Delapan terduga pelaku diamankan dengan barang bukti non-narkotika, termasuk 11 unit ponsel, alat isap sabu (bong), pipet, korek api, dan 13 sachet plastik kosong.
  • Di Lokasi Sapiria (Gotong): Lima belas terduga pelaku diamankan dengan barang bukti narkotika berupa satu saset kecil berisi kristal putih diduga sabu, satu saset ganja, dan satu saset sintek. Barang bukti non-narkotika yang disita meliputi senapan angin, senjata tajam, uang tunai Rp6,7 juta, alat isap sabu, dan ratusan sachet plastik kosong.
  • Di Lokasi Borta: Enam terduga pelaku diamankan dengan barang bukti non-narkotika berupa tiga unit ponsel, 12 alat isap sabu, DVR CCTV, timbangan digital, senjata tajam, dan ratusan plastik klip.

Dari hasil pemeriksaan dan tes urine terhadap puluhan orang yang diamankan, 17 orang dinyatakan positif narkoba (16 orang positif Methamphetamine dan Amphetamine, serta 1 orang positif THC), sementara 12 orang lainnya dinyatakan negatif.

Untuk mengungkap lebih lanjut keterlibatan kartel narkoba dalam konflik yang berlarut-larut ini, polisi melalui Ditresnarkoba Polda Sulsel tengah melakukan investigasi mendalam. "Kemudian terkait dengan narkoba, jadi selain Krimum, ini juga Direktorat Narkoba juga sudah melakukan mapping," ujar Setiadi, mantan Dir Samapta Polda Sulsel. Pemetaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi jalur distribusi narkotika yang berpotensi terkait dengan konflik sosial di kedua wilayah tersebut.

Setiadi menegaskan bahwa polisi akan terus menindaklanjuti penanganan kasus ini, baik oleh Direktorat Kriminal Umum (Krimum), Direktorat Narkoba, maupun unit Binmas dan Intelijen yang terus berupaya mendeteksi, mencari informasi, dan mendalami masyarakat di lokasi.

Tawuran yang terjadi secara sporadis sejak Agustus hingga November 2025 di Kecamatan Tallo ini telah menimbulkan kerugian besar. Total, 18 rumah dilaporkan terbakar dan dua korban meninggal dunia. Rinciannya meliputi lima rumah terbakar di Jl Kandea III pada 23 September 2025 akibat tawuran kelompok warga Lembo, Sapiria, dan Layang. Kemudian, korban meninggal dunia pertama bernama Nursyam alias Cipas (37) pada tawuran Sapiria versus Borta di Pekuburan Beroangin, Jl Pannampu, pada 16 November 2025. Peristiwa pembakaran 13 rumah di kampung Borta terjadi setelah pemakaman Nursyam pada 18 November 2025. Terakhir, korban meninggal dunia kembali terjadi pada 21 November 2025 akibat bentrokan di Jl Tinumbu Lorong 148 antara warga setempat dengan warga Layang, yang merenggut nyawa pelajar SMA berinisial MDJ (16).

Geger di SMPN 19 Tangsel: Bocah 13 tahun meninggal diduga jadi korban bullying teman sekelas, memicu duka dan perhatian publik luas di media sosial.

medkomsubangnetwork Kasus bullying yang berujung pada meninggalnya seorang siswa terjadi di SMP Negeri di Tangerang Selatan. MH (13), siswa kelas I, meninggal di ruang ICU RS Fatmawati, Jakarta Selatan, pada Minggu (16/11/2025) pagi.

Sejak awal masuk sekolah, MH diduga menjadi korban perundungan oleh teman-temannya.

Bentuk perundungan ini diduga turut memperburuk kondisi kesehatannya, yang ternyata memiliki penyakit bawaan yang sebelumnya tidak terdeteksi.

Kabar duka ini menyoroti rangkaian peristiwa yang dialami MH, mulai dari dugaan kekerasan di lingkungan sekolah, penanganan medis yang panjang, hingga temuan kondisi kesehatan lain yang baru diketahui menjelang kematiannya.

Peristiwa ini menjadi perhatian publik dan mengundang diskusi luas mengenai keamanan, pengawasan, dan perlindungan terhadap siswa di sekolah.

Berawal dari perundungan yang berulang

MH diduga mengalami intimidasi oleh teman sekelasnya sejak Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Menurut ibunya, Y (38), perlakuan tersebut tidak hanya berupa ejekan, tetapi juga kekerasan fisik.

“Sering ditusukin sama sedotan tangannya. Kalau lagi belajar, ditendang lengannya. Asal nulis ditendang, sama punggungnya itu dipukul,” kata Y.

Puncak kekerasan terjadi pada Senin (20/10/2025), ketika kepala MH dihantam menggunakan kursi besi oleh rekan sekelasnya.

Sejak saat itu, kondisi korban terus menurun hingga harus menjalani perawatan intensif.

Awalnya MH dirawat di sebuah rumah sakit swasta di Tangerang Selatan.

Namun karena kondisinya tidak membaik, ia dirujuk ke RS Fatmawati pada Minggu (9/11/2025).

Pada Selasa (11/11/2025), MH masuk ruang ICU dengan intubasi.

Sejak itu, kondisinya terus kritis. Hingga pada Minggu (16/11/2025), pendamping dari LBH Korban, Alvian, menerima kabar duka sekitar pukul 06.00 WIB dari keluarga.

“Korban sudah tidak ada. Kalau jamnya kami kurang tahu, tapi kami dikabari pihak keluarga pas jam 06.00 WIB," ujar Alvian

Tumor yang baru terdeteksi

Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie membenarkan kabar tersebut.

Ia mengatakan, pihak medis menemukan kondisi kesehatan lain dalam tubuh MH.

“Jadi memang si anak ini sudah menderita tumor, memang baru ketahuan saja. Terpicu, kemarin dengan kejadian itu,” ujar Benyamin.

Ia menyebutkan, informasi tersebut diperoleh dari rumah sakit.

Menurut dia, tumor otak yang diderita MH kemungkinan telah berkembang selama bertahun-tahun tanpa disadari.

Meski begitu, Pemkot Tangsel akan menelusuri lebih lanjut kondisi medis tersebut.

"Prosesnya saya serahkan kepada polisi, kalau yang bersangkutan memang keluarga korbannya mengadukan, itu kita serahkan kepada Pak kapolres," jelasnya.

Enam saksi diperiksa

Kasi Humas Polres Tangsel AKP Agil Sahril mengatakan, penyidik telah memeriksa enam saksi, termasuk guru-guru yang mengajar MH.

“Penyidik sudah meminta keterangan klarifikasi dari beberapa saksi, ada enam orang termasuk guru pengajar,” kata Agil, Minggu.

Sebelum MH kritis, penyidik juga beberapa kali meminta keterangan korban dengan pendampingan keluarga, KPAI, Dinas Pendidikan, dan UPTD PPA Kota Tangsel.

“Petugas juga membuat laporan informasi sebagai dasar dimulainya penyelidikan secara resmi,” jelas Agil.

Polres Tangsel menyampaikan belasungkawa sekaligus memastikan penyelidikan dugaan perundungan tetap dilakukan secara profesional.

Respons pemkot dan upaya pencegahan

Benyamin menegaskan bahwa dugaan perundungan terhadap MH telah didampingi hingga tingkat kepolisian.

“Kalau memang keluarga mengadukan, kami serahkan kepada Pak Kapolres. Penanganan hukumnya kewenangan kepolisian,” ujarnya.

Pemkot Tangsel menyebutkan, telah membentuk Satgas Anti-Bullying di seluruh sekolah.

Selain itu, Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) juga akan diperkuat untuk mencegah kejadian serupa terulang.

 “Baik di dalam maupun di luar sekolah, kekerasan itu tidak boleh dilakukan,” kata Benyamin.

TribunJateng.com |  Msi | medkomsubangnetwork| Surya Rafi

Koresponden medkomsubangnetwork, Nuri Yatul Hikmah

medkomsubangnetwork, PALMERAH— Perundungan di sekolah-sekolah Indonesia semakin sering terjadi. Yang menyedihkan, tindakan ini tidak hanya berupa ucapan kasar, tetapi bahkan bisa mengancam jiwa.

Senin lalu, tepatnya tanggal 10 November 2025, beredar kabar mengenai dugaan kekerasan yang dialami seorang siswa kelas IX di SMP Negeri 19 Tangerang Selatan oleh teman sebangkunya saat jam istirahat.

Ia diduga mengalami benturan keras di kepala dengan kursi besi sampai pingsan, dan kini telah meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di ruang ICU anak RS Fatmawati, Jakarta Selatan.

Menanggapi persoalan ini, Rissalwan Habdy Lubis, seorang Pengamat Sosial dari Universitas Indonesia (UI), menyatakan bahwa perundungan merupakan tindakan tercela yang kerap terjadi di lingkungan sekolah dan kasusnya sangat sering ditemui.

Menurutnya, pada dasarnya manusia adalah pribadi yang kompetitif. Apalagi, sekolah merupakan wadah pembelajaran bagi siswa di masa perkembangannya.

Dengan kata lain, mereka belajar untuk membuktikan bahwa persaingan mereka tidak terbatas di lingkungan kelas saja. Sebagian pelaku perundungan memang berasal dari kalangan yang tidak terintegrasi dengan sistem (di luar sistem). Oleh karena itu, anak-anak tersebut cenderung nakal dan sulit diatur," ujar Rissal ketika dihubungi Warta Kota pada Minggu (16/11/2025).

Rissal mengemukakan bahwa terdapat dua pola yang menjadi penyebab maraknya perundungan di sekolah.

Pertama, karena mereka berada di luar sistem, yaitu individu yang nakal dan kurang berprestasi, sehingga mereka mencari cara untuk membuat diri mereka lebih menonjol dibandingkan orang lain.

Kedua, ingin mempertinggi atau meninggikan kelas atau statusnya. Pola ini kebanyakan dilakukan oleh anak yang terlahir dari keluarga kaya raya.

Jika ini (pola kedua), maka ia melakukan perundungan yang terstruktur. Ia memiliki teman, misalnya. Jadi, perundungan akan selalu terjadi dan dalam jumlah besar, terangnya.

Menurut Rissal, pencegahan terhadap pola perundungan nomor 2 lebih mudah dilakukan dibandingkan pola perundungan nomor 1. Bahkan, metode pencegahan tersebut sudah banyak tersebar luas di media sosial.

Dalam situasi tersebut, seseorang yang menjadi sasaran perundungan oleh individu dengan status ekonomi lebih baik, cukup menunjukkan sikap menolak agar keinginan perundung tidak terpuaskan.

"Jadi, jika ia berhasil membuat orang lain merasa malu, itu berarti ia dianggap sebagai orang yang terpandang. Hal ini dilakukan untuk memperkuat kedudukannya sebagai anggota kelompok paling atas di lingkungan sekolah," terang Rissal.

Hal terpenting pertama adalah, korban tidak boleh merasa rendah diri atau bersikap defensif. Jika bersikap defensif, serangan akan terus berlanjut. Namun, ada cara untuk membalas. Contohnya, jika ada yang berkata, 'Kamu orang miskin ya? Emang kamu kaya banget?', maka langsung tanyakan balik dengan tegas," jelasnya.

Namun, sebagian besar orang abai dalam menangani pola pertama, yaitu anak yang terpinggirkan dari sistem. Padahal, justru pola inilah yang memicu maraknya perundungan.

Rissal menjelaskan bahwa korban perundungan adalah individu yang dipandang berada dalam posisi yang kurang berdaya.

Rissal mengamati bahwa dugaan kasus perundungan di SMPN 19 Tangerang Selatan, yang telah sampai pada tahap kekerasan, menunjukkan pola yang terjadi di luar sistem yang seharusnya.

Karena, tampak ada keberanian pada siswa dalam melakukan tindakan memukul dan kekerasan fisik lainnya. Ini berarti, pelaku yang diduga tidak lagi mempedulikan status sosial.

Menurut Rissal, tren ini mengarah pada anak-anak yang berada di luar sistem pendidikan, yang tidak mendapatkan perhatian dari sekolah, memiliki nilai akademis yang buruk, dan berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang kurang baik.

"Akhirnya, ia menjadi jagoan, menjadi preman di sekolah. Pola *bullying* semacam ini paling banyak terjadi di Amerika. Sementara di Indonesia, yang dominan adalah pola kedua," terangnya.

Dengan demikian, menurut Rissal, kedua bentuk perundungan yang umum terjadi pada anak ini berakar dari persaingan untuk menegaskan kedudukan sosial dan sebagai ganti dari status sosial yang tidak mereka peroleh di lingkungan sekolah.

Meski demikian, Rissal menyayangkan bahwa tidak semua orang tua mampu membimbing anak mereka dalam menghadapi perundungan di sekolah secara efektif. Rendahnya status sosial menjadi salah satu faktor yang berkontribusi pada hal ini.

Perundungan di SMPN 19 Tangerang Selatan

Seorang siswa SMP berinisial MH menjadi korban kekerasan di dalam kelas pada hari Senin, 10 November 2025, saat jam istirahat. Diduga, MH mengalami kekerasan berupa kepalanya dibenturkan ke kursi besi oleh teman sebangkunya yang berinisial RI.

MH menjadi korban kekerasan di ruang kelas pada hari Senin, 10 November 2025, saat jam istirahat. Diduga, RI, teman sebangku MH, membenturkan kepala korban ke sebuah kursi besi.

Kepala SMPN 19 Tangsel, Frida Tesalonika, membenarkan adanya peristiwa tersebut dan mengatakan pihak sekolah telah melakukan mediasi antara orang tua korban dan pelaku. 

Namun, kondisi MH saat ini dikabarkan meninggal dunia di RS Fatmawati setelah sebelumnua kritis dan mendapatkan perawatan intensif di ICU, Minggu (16/11/2025) pukul 06.00 WIB. 

Penjelasan keluarga

Keluarga menyebut Muhammad Hisyam sempat koma dan dirawat di ICU sebelum meninggal. Dugaan perundungan di SMPN 19 Tangsel disorot, sementara Pemkot Tangsel berkomitmen mendukung penyelidikan.

Keluarga korban perundungan di SMPN 19 Kota Tangerang Selatan, Muhammad Hisyam, mengungkapkan bahwa sebelum meninggal, remaja tersebut sudah berada dalam kondisi koma selama menjalani perawatan di RS Fatmawati, Jakarta Selatan.

Rizky Fauzi, sepupu Hisyam, menerangkan bahwa sang korban awalnya menjalani pengobatan di RS Colombus BSD, Serpong. Setelah itu, ia dipindahkan ke RS Fatmawati dan langsung dirawat di ruang ICU selama tujuh hari.

“Sepupu saya masih berada di ruang ICU RS Fatmawati sejak awal dirawat. Dokter belum dapat memberikan keterangan lebih lanjut karena kondisinya masih koma,” tutur Rizky pada hari Minggu, 16 November 2025.

Di tengah suasana berduka, pihak keluarga menyatakan belum mengajukan laporan resmi kepada aparat kepolisian.

"Menurut informasi yang saya dapatkan, KPAI berencana menjatuhkan sanksi kepada pihak sekolah. Pihak keluarga belum melaporkan karena kami masih memprioritaskan proses pemakaman jenazah," urainya lebih lanjut.

Kepala Hisyam diduga dibenturkan ke bangku besi oleh seorang teman sekelasnya, yang mengakibatkan luka serius di kepala dan membuatnya langsung pingsan.

Awalnya, pada tanggal 21 Oktober, korban hanya menyampaikan keluhan sakit kepala ringan kepada keluarganya. Belakangan, setelah diselidiki oleh keluarganya, terungkap bahwa ia menjadi korban perundungan di sekolahnya.

MH awalnya menjalani perawatan di sebuah rumah sakit swasta di Tangsel pada tanggal 21 Oktober. Namun, kondisinya memburuk sehingga ia dipindahkan ke RS Fatmawati pada tanggal 9 November.

Pada tanggal 11 November, ia ditempatkan di Unit Perawatan Intensif (ICU) dan memerlukan intubasi karena kesulitan bernapas yang disebabkan oleh cedera otak serius.

Wakil Wali Kota Tangsel Mengantarkan Jenazah

Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan, ikut mengantarkan jenazah hingga ke tempat peristirahatan terakhir dan menyampaikan simpati mendalam kepada pihak keluarga.

“Pemerintah Kota Tangerang Selatan menyampaikan belasungkawa kami. Semoga almarhum mendapatkan ketenangan di alam kubur dan amalnya diterima oleh Allah SWT,” ujar Pilar.

Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) menyatakan dukungan penuh terhadap investigasi yang tengah berlangsung oleh kepolisian. Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangsel dilaporkan telah menjalin komunikasi dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) guna menangani aspek perlindungan anak terkait insiden ini.

Pilar menyatakan bahwa sosialisasi mengenai pencegahan perundungan secara teratur dilaksanakan bersama para kepala sekolah, komite, serta dewan pendidikan, meskipun demikian, kasus ini tetap menjadi bahan evaluasi yang mendalam bagi pemerintah daerah.

"Ini menjadi pengalaman berharga. Kami menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada keluarga yang ditinggalkan," ujarnya.

Temukan informasi terkini lainnya dari medkomsubangnetwork melalui Google News dan WhatsApp.

3 Berita Populer Padang: Damkar Evakuasi Ular & Biawak, Residivis Tertangkap

medkomsubangnetworkBerikut adalah 3 berita terpopuler dari Padang yang telah diterbitkan dalam 24 jam terakhir di Tribun Padang.

Ada berita tentang Damkar Padang Evakuasi Ular dari Celah Dinding Asrama Polisi Koto Tangah.

Seorang wanita muda di Padang kembali berurusan dengan hukum karena kasus pencurian, tak lama setelah ia baru saja keluar dari penjara.

Selanjutnya, berikut adalah berita tentang seekor biawak yang berhasil dievakuasi oleh petugas pemadam kebakaran dari bak air kamar mandi sebuah rumah warga di Kuranji, Padang.

Baca berita selengkapnya :

1.Seekor ular piton terdeteksi keluar dari retakan dinding di sebuah asrama polisi di Koto Tangah, Padang, Sumatera Barat, pada hari Minggu, 16 November 2025.

Petugas pemadam kebakaran dari Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Padang segera dikirim untuk mengevakuasi korban.

Kejadian tersebut pertama kali disadari oleh Daud Febrianto (37), seorang saksi yang juga merupakan anggota Polri.

Ia menyaksikan kepala ular menyembul dari celah dinding yang ditutupi papan atau triplek di salah satu unit hunian asrama.

Menyikapi keadaan itu, Daud segera menghubungi tim pemadam kebakaran Padang guna memohon pertolongan evakuasi.

“Kami menerima laporan pada pukul 12.40 WIB, dan tim langsung diberangkatkan tiga menit kemudian,” ujar Rinaldi, Kabid Operasi dan Sarana Prasarana Damkar Kota Padang, pada hari Minggu, 16 November 2025.

Sebuah unit mobil pemadam kebakaran beserta tujuh petugas dikirim ke lokasi yang berjarak kurang lebih 350 meter dari posko.

Setibanya di lokasi pada pukul 12.45 WIB, petugas segera mengambil tindakan penanganan.

Menurut Rinaldi, reptil tersebut keluar dari retakan di dinding rumah asrama yang ditempati oleh tiga individu.

“Ular itu tampak merayap keluar dari celah di dinding bagian dalam rumah. Petugas lantas membuka penutup papan dan melakukan pencarian sampai akhirnya reptil tersebut berhasil ditangkap,” terangnya.

Penanganan insiden tersebut rampung pada pukul 13.11 WIB. Keadaan berhasil diatasi tanpa menyebabkan kerusakan pada bangunan atau adanya korban jiwa.

“Proses evakuasi berjalan lancar dan aman. Setelah berhasil diamankan, ular tersebut lantas dibawa ke tempat yang terpencil dari area penduduk,” jelas Rinaldi lebih lanjut.

Ia menganjurkan warga untuk segera menghubungi Dinas Pemadam Kebakaran apabila menjumpai satwa liar, terutama ular, di sekitar kediaman mereka demi menghindari potensi ancaman.

Di Komplek Asrama Polisi Koto Tangah, yang terletak di Kelurahan Lubuk Buaya, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, itulah tempat peristiwa itu terjadi.

Sebelumnya diberitakan,Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Padang kembali melakukan aksi penyelamatan hewan liar setelah menerima laporan mengenai keberadaan seekor ular yang masuk ke rumah warga di Kelurahan Bungus Selatan, Kecamatan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang, Sumatera Barat, Minggu 16/11/2025) siang.

Kepala Bidang Operasi dan Sarana Prasarana Damkar Kota Padang, Rinaldi, mengatakan laporan diterima pada pukul 11.56 WIB dari warga bernama Petri Yanti (46), seorang ibu rumah tangga.

Ia melihat ular masuk ke dalam rumah dan bersembunyi di bawah karpet, sehingga membuat penghuni rumah merasa khawatir.

Ia pun segera menghubungi Dinas Pemadam Kebakaran Kota Padang untuk meminta bantuan.

Menanggapi laporan yang diterima, tim penyelamat dari Peleton B segera dikerahkan pada pukul 11.58 WIB, demikian disampaikan oleh Rinaldi.

Petugas sampai di tempat kejadian perkara pada pukul 12.04 WIB, kira-kira enam menit setelah kejadian.

Sesampainya di lokasi, petugas pemadam kebakaran langsung bergerak mencari dan mengamankan area rumah sebelum akhirnya mengeluarkan ular dari tempat persembunyiannya.

Penanganan ular dilakukan dengan sangat hati-hati karena reptil tersebut bersembunyi di area sempit di bawah karpet.

Saat proses evakuasi berlangsung, petugas memanfaatkan tongkat penjepit.

"Operasi rampung pada pukul 12.37 WIB dalam keadaan aman," katanya.

Pemerintah Kota Padang melalui Dinas Pemadam Kebakaran mengingatkan warga agar selalu berhati-hati jika ada satwa liar yang masuk ke dalam rumah, dan segera menghubungi nomor darurat agar penanganannya bisa dilakukan dengan aman dan ahli.

Dalam keadaan mendesak, warga bisa menghubungi Call Center Padang Sigap di nomor 112.

2.Seorang wanita kembali diamankan oleh Tim Klewang Satreskrim Polresta Padang terkait dugaan keterlibatannya dalam aksi pencurian di minimarket X Mart Ulak Karang, yang berlokasi di Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Sumatera Barat.

Mirisnya, pelaku berinisial SF atau Cipa (22) diketahui merupakan residivis yang baru saja bebas dari penjara.

Penangkapan dilaksanakan pada Sabtu, 15 November 2025, kira-kira pukul delapan malam WIB. Hal ini dilakukan setelah para penyidik mengonfirmasi jati diri pelaku berdasarkan rekaman kamera pengawas di area kejadian.

Kompol Muhammad Yasin, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Padang, menjelaskan bahwa penangkapan tersebut dilakukan berdasarkan laporan polisi yang diajukan pada 15 November 2025 oleh Abdul Latip.

Peristiwa pencurian tersebut berlangsung pada hari Kamis, tanggal 13 November 2025, kira-kira pukul 10.00 pagi WIB, di X Mart Ulak Karang yang berlokasi di Jalan S Parman Nomor 137, Kecamatan Padang Utara.

Menurut Yasin, SF tiba di minimarket dengan mengendarai sepeda motor milik rekannya. Sesampainya di dalam, ia berpura-pura melakukan aktivitas belanja sambil mengambil beberapa barang keperluan.

Pelaku memasukkan barang-barang tersebut ke dalam tas belanja yang ia bawa dari kos. Ia memanfaatkan situasi toko yang sedang lengang, kemudian keluar melalui pintu depan tanpa melakukan pembayaran, ujar Kompol Muhammad Yasin pada Minggu (16/11/2025).

Setelah keluar dari toko, pelaku membawa seluruh barang yang dicuri ke kediamannya dan mengonsumsinya, alhasil tidak ada satu pun barang bukti yang tertinggal.

Pihak minimarket kemudian melaporkan kejadian itu kepada Polresta Padang.

Tim Opsnal Klewang langsung melakukan penyelidikan dan memeriksa rekaman CCTV.

Berdasarkan hasil investigasi, pihak berwajib mengidentifikasi tersangka sebagai seorang wanita yang baru saja menghirup udara bebas setelah menjalani masa hukuman.

Sekitar pukul tujuh malam pada Sabtu itu, SF kembali mendatangi X Mart Ulak Karang. Pegawai toko menyadari kedatangannya dan segera menghubungi Tim 1 Klewang.

Dipimpin oleh Kanit Opsnal Iptu Adrian Afandi dan Kasubnit Opsnal Ioda Ryan Fermana, tim segera bergerak ke tempat kejadian dan berhasil mengamankan SF tanpa adanya perlawanan.

Ketika diinterogasi di lokasi kejadian, SF mengakuinya dan mengonfirmasi bahwa dialah orang yang terekam oleh CCTV.

Meskipun tidak ada barang bukti fisik yang ditemukan sebab barang curian telah habis terpakai, pengakuan tersangka serta rekaman CCTV menjadi dasar yang kokoh untuk melanjutkan proses hukum. Tersangka kini telah kami amankan guna menjalani pemeriksaan lebih lanjut,” kata Yasin.

3.Petugas Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Padang berhasil mengeluarkan seekor biawak yang bersembunyi di dalam bak air milik salah seorang warga pada hari Minggu, 16 November 2025.

Berdasarkan informasi yang ada, reptil jenis biawak tersebut ditemukan memasuki kediaman penduduk di area Kandang Gabuo Tampat Durian, yang terletak di Kelurahan Korong Gadang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang.

Menurut Rinaldi, Kepala Bidang Operasi dan Sarana Prasarana Damkar Kota Padang, insiden ini bermula dari laporan warga yang terkejut mendapati seekor biawak memasuki kediamannya.

Selanjutnya, kadal itu menyelinap ke dalam kamar mandi dengan cara masuk ke dalam bak mandi.

Kejadian tersebut dilaporkan oleh Irvan Muhammad Meiji (20), seorang karyawan swasta, demikian Rinaldi menginformasikan.

Karena cemas akan keamanan ketujuh anggota keluarganya, Irvan lalu menghubungi petugas pemadam kebakaran guna memohon pertolongan.

"Menurut saksi, seekor biawak terlihat memasuki rumah dan bersembunyi di dalam bak mandi di kamar mandi. Selanjutnya, saksi melaporkan kejadian tersebut kepada Dinas Pemadam Kebakaran Kota Padang," ujarnya.

Laporan terkait peristiwa itu masuk pada jam 09.09 pagi WIB.

Menanggapi laporan yang diterima, sebuah tim penyelamat dari Peleton B segera dikirim pada pukul 09.11 WIB dan sampai di tempat tujuan dalam waktu sembilan menit.

Sesampainya di tempat kejadian, para petugas langsung bergerak melakukan penyelamatan satwa liar dengan memanfaatkan perlengkapan khusus.

"Proses penanganan memakan waktu kurang lebih 31 menit, dan biawak tersebut berhasil diselamatkan dengan selamat pada pukul 09.51 WIB," tambahnya.

Sebelumnya diberitakan, petugas Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Padang kembali melakukan evakuasi hewan liar berupa biawak yang masuk ke dalam kamar rumah warga, Minggu (2/11/2025) siang.

Kali ini petugas menerima informasi dari warga yang ada di kawasan Jalan Mahakam, Kelurahan Rimbo Kaluang, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Sumatera Barat.

Kepala Bidang Operasi dan Sarana Prasarana Dinas Pemadam Kebakaran Kota Padang, Rinaldi, mengatakan bahwa peristiwa ini dilaporkan oleh warga bernama Merry (42), seorang warga yang bekerja sebagai wiraswasta.

Kata dia, awalnya warta tersebut melihat seekor biawak berada di dalam kamar rumahnya.

"Terkejut dan cemas, ia langsung menginformasikan kepada Damkar Kota Padang," ujar Rinaldi.

Menyikapi laporan yang diterima, para petugas segera bertindak sigap.

Laporan masuk pada pukul 11.31 WIB, dan tim hilux yang terdiri dari 10 personel dari Peleton C segera diberangkatkan ke titik kejadian.

Tim penyelamat tiba di lokasi kejadian pada pukul 11.35 WIB dan berhasil mengamankan biawak tersebut dalam kurun waktu kurang lebih lima menit.

Berdasarkan keterangan petugas yang berada di lokasi, reptil tersebut memiliki ukuran rata-rata dan ditemukan bersembunyi di celah dinding kamar.

Proses pemindahan warga berlangsung lancar tanpa menyebabkan kerugian.

"Hewan biawak berhasil ditangkap dan keadaan di tempat kejadian kini sudah aman," ujarnya.

Satwa itu kelak akan dikembalikan ke lingkungan aslinya yang lebih terjamin keamanannya.

Diberdayakan oleh Blogger.