Halloween party ideas 2015
Tampilkan postingan dengan label tragedi. Tampilkan semua postingan

medkomsubangnetwork,, MAGELANG - Jenazah Syafiq Ridhan Ali Razan (18), pendaki yang ditemukan meninggal di Gunung Slamet tiba di Perumahan Depkes, Kota Magelang, Jawa Tengah, pada Kamis, (15/1/2026).

Dhani Rusman, ayah Syafiq Ali bersama rombongan tiba pada pukul 20.27 WIB.

Tangis para sanak saudara pecah begitu melihat kotak putih panjang berisi remaja 18 tahun yang kabarnya dinanti-nanti.

Jenazah lantas disholatkan di masjid setempat dan dikebumikan di tempat pemakaman di Sidotopo. 

Sebelum tiba di kompleks Perumahan Depkes, jenazah Syafiq Ali dibawa ke RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga untuk menjalani visum. 

Dhani Rusman, Ayah Syafiq Ali telah mengikhlaskan kepergian putra bungsunya itu.

"Kami telah mengikhkaskan kepergiannya. Anak saya memang murni musibah kecelakaan," ucapnya di area basecamp Gunung Malang.

Syafiq Ali Mendaki Gunung Slamet

Sebelumnya, Syafiq Ali dilaporkan hilang saat melakukan pendakian melalui jalur Dipajaya sejak Sabtu (27/12/2025). 

Ia mendaki bersama teman satu sekolahnya, Himawan Choidar Bahran, warga Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang.

Berbeda dengan Ali, Himawan telah ditemukan lebih dahulu oleh tim SAR gabungan dalam kondisi selamat pada Selasa (30/12/2025) di sekitar Pos 5. 

Sementara, Syafiq Ali ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Rabu (14/1/2026).

Tim penyelamat kemudian mengevakuasi jasad korban ke basecamp Gunung Malang di Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga.

Rute ini berubah dari rencana sebelumnya, yang akan dievakuasi melalui basecamp Dipajaya di Kabupaten Pemalang.

Relawan SAR Purbalingga, Andi Fitrianto mengatakan, perubahan rute evakuasi dilakukan karena pertimbangan medan yang sulit serta kondisi cuaca.

Ayah Saksikan Evakuasi

Ia adalah Dani Rusman, ayah Syafiq, pendaki asal Magelang yang ditemukan meninggal dunia di Gunung Slamet yang memilih merawat duka dengan doa, ikhtiar, dan keikhlasan.

Dani bercerita, Syafiq bukanlah pendaki berpengalaman. Gunung Andong mulanya menjadi pendakian pertamanya, sebelum akhirnya Gunung Slamet menjadi gunung kedua, dan terakhir yang ia daki. 

Bahkan, awal kepergiannya pun tak sepenuhnya direncanakan.

“Syafiq awalnya pamit ke Gunung Sumbing,” tutur Dani, mengenang cerita sang anak, saat proses evakuasi tengah berlangsung, Kamis (15/1/2026). 

Namun entah karena keinginan spontan atau perubahan rencana di perjalanan, ia mengatakan Syafiq justru berbelok ke Gunung Slamet. 

Kepada ibunya, Syafiq sempat mengirimkan pesan yang kini menjadi kenangan paling pilu. 

‘Duh Bun, aku kok kesasar ke Gunung Slamet,’ tulis Syafiq.

Pesan singkat itu rupanya menjadi isyarat terakhir bahwa langkah anaknya tengah berada di jalur yang tak ia rencanakan sebelumnya.

Meskipun demikian, bagi Dani peristiwa ini menjadi pengingat penting, tak hanya untuk keluarganya, tetapi juga bagi siapa pun yang hendak mendaki gunung.

“Ini jadi pembelajaran buat kita semua. Mendaki itu harus betul-betul dengan izin dan restu orang tua. Jangan sampai terulang,” ujarnya lirih.

Ia berharap Syafiq menjadi anak terakhir yang harus pergi dengan cara seperti ini.

Adapun, selama 15 hari pencarian, Dani dan keluarga tak tinggal diam. Doa tak pernah putus, ikhtiar terus dilakukan. 

Ia mengingat hari pertama menyusuri informasi di internet hingga mendatangi basecamp demi basecamp, saat anaknya mendadak hilang kabar hingga akhirnya sempat dinyatakan hilang.  

“Segala macam cara kami lakukan. Tapi mungkin Allah saat itu belum menunjukkan kekuasaan-Nya. Alhamdulilah Allah menunjukkan jalan sehingga Syafiq bisa ketemu," katanya. 

Meskipun merasa terpukul, ucapan syukur justru mengiringi kabar duka tersebut. Dani menyampaikan terima kasih mendalam kepada tim SAR gabungan, relawan, serta warga Desa Clekatakan yang saat itu tanpa pamrih ikut membantu pencarian.

“Mereka luar biasa. Naik turun gunung siang malam, hujan badai, tanpa pandang bulu. Semua ikhlas membantu mencari anak kami,” katanya.

Dengan keikhlasan penuh, keluarga memutuskan tidak melakukan otopsi. Bagi Dani, Syafiq telah pergi karena musibah dan kecelakaan murni.

“Kami hanya ingin tahu perkiraan waktu meninggalnya anak kami, supaya bisa menentukan hari tahlil. Itu saja,” jelasnya.

Selain itu, ia juga menanggapi isu yang sempat beredar terkait keterangan Himawan, sahabat Syafiq sejak SMP, yang dinilai memiliki keterangan kronologi yang janggal.

Ia mengatakan , memilih menutup pintu prasangka.

“Saya sudah ikhlas. Saya tidak mengaitkan ini dengan siapa pun. Himawan sahabat Ali, saya anggap juga anak saya sendiri,” tegasnya.

Kini, keikhlasan pun menjadi penutup dari perjalanan panjang pencarian. Bagi Dani Rusman, Syafiq telah kembali,bukan hanya dari gunung, tetapi ke pangkuan Sang Pencipta. (*)

 

Sebagian artikel ini sudah tayang di Kompas.co, dengan judul Jenazah Pendaki Syafiq Ali Tiba di Magelang, Tangis Keluarga Pecah

Tabiat Pratu Farkhan Syauqi yang tewas diduga dianiaya senior, Ayah: Anakku mati di tangan kopral
Ringkasan Berita:
  • Pratu Farkhan Syauqi Marpaung meninggal dunia pada 31 Desember 2025 di Papua, diduga akibat penganiayaan oleh seniornya berpangkat Kopral.
  • Panglima TNI telah memerintahkan pengusutan tuntas kasus ini. 
  • Terduga pelaku saat ini sudah diamankan dan ditahan di POM Timika untuk pemeriksaan lebih lanjut terkait kemungkinan adanya pelaku lain.
 

medkomsubangnetwork,Seorang prajurit TNI bernama Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, meninggal dunia, Rabu (31/12/2025).

Pratu Farkhan tewas diduga dianiaya seniornya saat bertugas di Papua. 

Ayah Pratu Farkhan, Zakaria Marpaung, menceritakan bahwa awalnya sang putra bertugas di Yonif 113/Jaya Sakti Aceh.

Kemudian, Pratu Farkhan ditugaskan ke Papua. 

Zakaria tak menyangka anaknya justru meregang nyawa saat menjalankan tugas negara. 

"Kabar itu disampaikan sepupunya. Awalnya dia sakit, lalu menghangatkan badan di perapian, di Papua," kata Zakaria saat diwawancarai di Desa Hassan Air Genting, Sabtu (3/1/2026), dikutip medkomsubangnetwork,dari Kompas.com.

Seorang prajurit berpangkat Sersan kemudian menghampiri Pratu Farkhan untuk menanyakan kondisi. 

Saat itu, Pratu Farkhan mengaku sakit.

"Terus si Sersan ini memijiti. Lalu, datang yang berpangkat Kopral dan memanggil anak saya."

"Diajaknya ke samping, lalu disuruh tunduk, dipukul pakai ranting punggungnya," ungkap Zakaria.

"Disuruh, kalau istilah di tentara itu, peluk tobat, ditendang. Dia tersungkur, jatuh. Lalu, dia bangkit terjadi pembelaan," katanya lagi.

Zakaria pun menyayangkan insiden tersebut.

Meski begitu, dia bangga anaknya berani melawan senior untuk membela nyawanya.

"Yang kukecewakan anakku mati bukan di ujung senjata GPK (Gerakan Pengacau Keamanan). Anakku mati sesama TNI dan di bawah tangan dan kaki seorang Kopral TNI," ujar Zakaria.

"Mereka menyambung nyawa di sana. Yang harusnya saling menguatkan, saling melindungi, kenapa saling membunuh."

"Belum kering makam Prada lucky sekarang datang lagi makam Pratu Farkhan," katanya lagi.

Momen Pemakaman 

Jasad Pratu Farkhan Syauqi sudah dimakamkan di TPU Dusun V, Desa Hessa Air Genting, Air Batu, Kabupaten Asahan, Sabtu (3/1/2026).

Prosesi pemakaman diawali upacara penghormatan yang dipimpin oleh inspektur upacara, Kolonel Inf Dimar Bahtera.

Tangis keluarga tak terbendung setelah melihat peti mati Pratu Farkhan Syauqi dibawa dari masjid dekat rumahnya di Dusun IV, Desa Hessa Air Genting, Air Batu, Kabupaten Asahan ke TPU.

Tampak ibu Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, Marsinah Wati Silalahi, bersandar di bahu keluarga,

"Anakku, sehat-sehat kamu ya nak. Selamat jalan anakku," kata Marsinah Wati, dikutip medkomsubangnetwork,dari TribunMedan.

Iringan sirene ambulans mengiringi perjalanan Pratu Farkhan Syauqi Marpaung ke kediaman terakhirnya.

Tabiat Pratu Farkhan Syauqi

Sebagai seorang prajurit TNI, Pratu Farkhan Syauqi Marpaung termasuk sosok tangguh yang dimiliki Batalyon infanteri 113/Jaya Sakti.

"Pratu Farkhan ini memiliki motivasi yang tinggi, dia menjadi prajurit yang dicontoh bagi rekan-rekannya, adik-adiknya."

"Seperti diamanat saya tadi, Pratu Farkhan ini prajurit yang tangguh," kata Komandan Brigif 25/Siwah Aceh, Kolonel Infanteri Dimar Bahtera.

Pratu Farkhan Syauqi Marpaung menjadi prajurit yang siap ditugaskan di mana saja.

"Dia orangnya flexible, mudah bergaul dan tegas."

"Kami adalah orang tuanya, kami adalah mentornya, kami adalah pelatihnya, kami juga adalah abangnya, kami saudaranya, kami juga sahabatnya. Kami tau beliau anak yang tangguh," ujarnya.

Dugaan Penganiayaan Memang Benar

Terkait dugaan penganiayaan terhadap Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, Kolonel Infanteri Dimar tak menampik. 

Menurutnya, kasus tersebut sedang diusut oleh pihak satuan TNI Angkatan Darat, dan diperintahkan langsung oleh panglima TNI, Agus Subianto.

"Adik kita meninggal karena sakit, dan memang ada dugaan kekerasan."

"Tapi kejadiannya ada didaerah penugasan, jadi ada proses dan mekanisme dalam memeriksa dan menyelidiki kasus ini," katanya. 

Terduga Pelaku Sudah Diamankan

Komandan Brigade Infanteri 25/Siwah, Kolonel Dimar Bahtera turut hadir dalam upacara pemakaman bersama beberapa prajurit lainnya.

Kolonel Dimar menuturkan bahwa kasus Pratu Farkhan sedang diusut satuan TNI AD atas perintah langsung Panglima TNI, Agus Subianto.

"Terduga pelaku sudah diamankan dan ditahan di POM Timika. Sejauh ini masih satu orang. Tapi kami masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Barang kali ada pelaku lainnya," kata Dimar dikutip dari Tribun Medan.

===

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam Whatsapp Channel Harian Surya. Melalui Channel Whatsapp ini, Harian Surya akan mengirimkan rekomendasi bacaan menarik Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Persebaya dari seluruh daerah di Jawa Timur.  

Klik di sini untuk untuk bergabung 

Tragedi Irene Sokoy: Presiden Prabowo Perintahkan Audit Menyeluruh Layanan Kesehatan Papua

Kasus memilukan tentang Irene Sokoy, seorang ibu hamil yang meninggal dunia setelah ditolak oleh empat rumah sakit di Papua, telah menarik perhatian serius dari Presiden Prabowo Subianto. Peristiwa tragis ini menjadi sorotan utama dalam rapat terbatas (ratas) yang digelar di Istana Kepresidenan Jakarta pada Senin, 24 November 2025, di mana Presiden Prabowo secara langsung membahas persoalan ini dengan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian.

Instruksi Audit Mendalam dari Istana

Menindaklanjuti laporan mengenai insiden Irene Sokoy, Presiden Prabowo memberikan instruksi tegas untuk segera melakukan audit terhadap seluruh rumah sakit dan pejabat terkait di Papua. Tujuannya adalah untuk mengungkap akar penyebab kematian Irene dan mencegah terulangnya tragedi serupa di masa mendatang.

"Saya melapor pada beliau (Presiden Prabowo). Jadi di antaranya itu, perintah beliau untuk segera lakukan perbaikan, audit," ungkap Mendagri Tito Karnavian usai pertemuan dengan Presiden. Ia menjelaskan bahwa audit internal ini akan mencakup berbagai tingkatan, mulai dari institusi rumah sakit itu sendiri, pejabat di dinas kesehatan, hingga pejabat di tingkat provinsi dan kabupaten.

Lebih lanjut, audit juga akan menyasar pada peraturan-peraturan yang relevan di bawah Kementerian Dalam Negeri, termasuk peraturan yang dikeluarkan oleh kepala daerah. Hal ini penting mengingat kasus Irene melibatkan penolakan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Jayapura dan RSUD Provinsi.

Ruang Lingkup Audit

  • Institusi Rumah Sakit: Evaluasi komprehensif terhadap operasional, manajemen, dan standar pelayanan di semua rumah sakit di Papua.
  • Pejabat Kesehatan: Pemeriksaan terhadap kinerja dan akuntabilitas pejabat di dinas kesehatan tingkat provinsi dan kabupaten.
  • Pejabat Daerah: Peninjauan terhadap peraturan dan kebijakan yang dikeluarkan oleh gubernur, bupati, dan walikota terkait layanan kesehatan.
  • Peraturan Perundang-undangan: Analisis terhadap aturan di Kementerian Dalam Negeri, peraturan gubernur, dan peraturan bupati yang berpotensi menghambat atau memperburuk kualitas layanan kesehatan.

Tindakan Cepat: Menteri Kesehatan dan Mendagri Turun Langsung ke Papua

Sebagai respons cepat terhadap arahan Presiden, Mendagri Tito Karnavian telah berkoordinasi erat dengan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin. Menindaklanjuti komunikasi tersebut, Menkes Budi beserta tim khusus dari Kementerian Kesehatan dan perwakilan Kemendagri dilaporkan telah bertolak menuju Jayapura, Papua, pada hari Selasa, 25 November 2025.

Tim gabungan ini bertugas melakukan audit teknis mendalam terkait masalah layanan kesehatan yang dialami Irene. "Kemudian Menkes mengirimkan tim khusus juga untuk melakukan audit teknis mengenai masalah layanan kesehatan. Kita enggak ingin terulang lagi. Sama tadi pesan dari Pak Presiden jangan sampai terulang lagi hal yang sama," tegas Tito.

Selain audit, Mendagri juga telah menghubungi Gubernur Papua, Mathius D Fakhiri, untuk segera memberikan bantuan kepada keluarga Irene Sokoy. "Saya sudah sampaikan, saya sudah komunikasi dengan Gubernur. Saya minta Gubernur, begitu saya dapat informasi, Gubernur Pak Mathius Fakhiri sesegera mungkin ke rumah korban, keluarga korban, semua dibantu," ujar Tito.

Permohonan Maaf Gubernur dan Pengakuan Kebobrokan Layanan

Gubernur Papua, Mathius Fakhiri, secara terbuka telah menyampaikan permohonan maaf atas tragedi yang menimpa Irene Sokoy. Ia mengakui bahwa insiden ini merupakan cerminan dari kebobrokan sistem layanan kesehatan di Papua dan berjanji akan melakukan evaluasi total.

"Saya mohon maaf atas kebodohan jajaran pemerintah dari atas sampai bawah. Ini contoh kebobrokan pelayanan kesehatan di Papua," kata Fakhiri usai mengunjungi rumah keluarga Irene di Kampung Hobong, Distrik Sentani, seperti dikutip dari rilis yang diterima pada Sabtu, 22 November 2025.

Gubernur Fakhiri tidak menampik adanya banyak fasilitas kesehatan di Papua yang pengelolaannya belum optimal, termasuk masalah kerusakan peralatan medis. "Saya mengaku banyak peralatan medis rusak karena tidak dikelola dengan baik," ungkapnya.

Oleh karena itu, ia berkomitmen untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap rumah sakit-rumah sakit di bawah kewenangan pemerintah provinsi. Salah satu langkah konkret yang akan diambil adalah mengganti direktur rumah sakit yang dinilai tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Gubernur Fakhiri juga secara resmi telah meminta bantuan langsung dari Menteri Kesehatan untuk memperbaiki infrastruktur dan kualitas layanan rumah sakit di seluruh Papua.

Kronologi Tragedi: Penolakan Beruntun yang Berujung Maut

Peristiwa nahas yang merenggut nyawa Irene Sokoy terjadi pada Minggu, 16 November 2025. Saat itu, Irene yang sedang hamil tua mulai merasakan kontraksi dan segera dibawa menuju RSUD Yowari menggunakan speedboat.

Setibanya di RSUD Yowari, Irene tidak segera mendapatkan penanganan yang memadai meskipun kondisinya terus memburuk. Proses pembuatan surat rujukan ke rumah sakit lain pun berjalan sangat lambat, menambah kecemasan keluarga.

Dalam upaya mencari pertolongan, keluarga kemudian membawa Irene ke RS Dian Harapan dan RSUD Abepura. Namun, di kedua rumah sakit tersebut, Irene kembali tidak mendapatkan layanan yang dibutuhkan.

Perjalanan pencarian pertolongan belum berakhir. Irene akhirnya dibawa ke RS Bhayangkara. Di rumah sakit ini, keluarga dihadapkan pada permintaan uang muka sebesar Rp 4 juta karena kamar BPJS dilaporkan penuh.

Dalam kondisi yang terus melemah setelah melalui perjalanan panjang dan melelahkan dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya tanpa penanganan medis yang memadai, Irene Sokoy menghembuskan napas terakhirnya pada Senin, 17 November 2025, pukul 05.00 WIT. Tragedi ini menyisakan duka mendalam dan menjadi pengingat akan urgensi perbaikan sistem layanan kesehatan di wilayah terpencil seperti Papua.

Seorang ayah yang baru saja pulang dari tanah suci harus mengalami dinginnya tahanan, setelah anaknya terlibat dalam kasus pengintegrasian pengemudi ShopeeFood.

Ironisnya, kejadian ini dimulai dari pertengkaran anaknya, Takbirdha Tsalasiwi Wartyana (TTW), yang viral sebagai "mas pelayaran", karena tidak puas dengan pesanan makanannya yang terlambat datang.

Tidak hanya TTW, ayah dan saudara kandungnya juga ditetapkan sebagai tersangka.

Ayah mas pelayaran yang baru saja kembali dari haji mengalami masalah hukum dan kini ditahan karena dugaan kasus penganiayaan terhadap supir ShopeeFood.

Sebelumnya, anaknya Takbirdha Tsalasiwi Wartyana (TTW) yang dikenal sebagai pria yang mengaku bekerja di bidang pelayaran terlibat perkelahian dengan pengemudi ojek online yang mengantar makanan.

Namun pertengkaran tersebut justru berakhir dengan penganiayaan.

Bahkan, Ketua RT merasa kaget karena kondisi wilayahnya tiba-tiba menjadi ramai.

Ternyata keramaian tersebut disebabkan oleh warga bernama Takbirdha Tsalasiwi Wartyana (TTW).

Ketua RT 3 Bantulan, Nur Salim, mengatakan kaget ketika ratusan pengemudi ojek online berkumpul di wilayahnya pada malam Kamis (3/7/2025).

Mereka mengunjungi rumah keluarga Takbirdha Tsalasiwi Wartyana (TTW) guna menuntut pertanggungjawaban terkait dugaan penganiayaan terhadap pasangan pengemudi ShopeeFood.

"Baru pulang siang, malamnya sudah heboh," kata Nur Salim saat diwawancarai TribunJogja.com, Sabtu (5/7/2025).

Salim menjelaskan, ayah TTW baru saja tiba dari ibadah haji, sehingga seluruh anggota keluarga besar sedang berkumpul di rumah.

TTW yang bekerja sebagai pegawai Bea Cukai di luar Pulau Jawa juga sedang berada dalam masa cuti untuk berkunjung ke keluarganya di Sleman.

Namun, belum sampai sehari berada di kampung halaman, TTW justru terlibat dalam kejadian penganiayaan yang berdampak panjang.

Viral sebagai 'Mas-mas Pelayaran'

Tokoh TTW menjadi perhatian setelah videonya menyebar dan ia memperkenalkan diri sebagai "mas-mas pelayaran".

Namun, pihak kepolisian memberikan penjelasan bahwa TTW bukan lulusan dari sekolah pelayaran.

"Untuk TTW ini bukan berasal dari pelaut atau sekolah pelaut. Yang bersangkutan hanya bekerja di perusahaan sebagai staf administrasi pelabuhan Fatufia Morowali, Sulawesi Tengah," ujar Kasat Reskrim Polresta Sleman, AKP Wahyu Agha Ari Septyan, di Mapolresta Sleman, Senin (7/7/2025).

TTW adalah lulusan Sarjana Akuntansi dari sebuah universitas yang berada di Yogyakarta.

Menurut Agha, istilah "pelayaran" yang digunakan TTW saat bertengkar dengan korban dimaksudkan untuk menggambarkan dirinya sebagai seseorang yang taat aturan.

"Intinya, penyebutan pelayaran dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa dia teratur dan disiplin. Tidak ada istilah terlambat. Itulah intinya," kata Agha.

Polisi Mengungkap Urutan Kejadian Penganiayaan Sopir Ojek Online oleh TTW

Peristiwa ini dimulai pada hari Kamis (3 Juli 2025) sekitar pukul 21.30 WIB.

Pengemudi Shopee Food yang bernama ADP bersama kekasihnya, AML, sedang melakukan pengiriman pesanan dari TTW di wilayah Bantulan, Sidoarum, Godean.

Malam itu, sistem aplikasi mengalami pesanan ganda sehingga TTW diminta untuk mengetahui kemungkinan keterlambatan pengiriman pesanan.

Selain itu, proses pengiriman terganggu akibat kemacetan jalan, sehingga mengakibatkan keterlambatan sekitar lima menit.

Saat AML berusaha memberikan penjelasan mengenai keterlambatan, terjadi perdebatan dengan TTW yang diduga menarik pakaian korban dan berusaha mendekatinya.

Tindakan itu dihentikan oleh penduduk setempat.

Selain TTW, dua anggota keluarga lainnya juga ditetapkan sebagai tersangka, yaitu kakaknya THW (32) dan ayahnya RTW (58).

Diketahui, ayah TTW baru saja kembali dari ibadah haji.

Ketiganya ditahan di kantor polisi Sleman.

Menurut Agha, mereka mengakui memiliki niat untuk menengahi, tetapi metode yang diterapkan justru menyebabkan kekerasan fisik terhadap korban.

"Jika penjelasan mereka ingin menengahi, tetapi menengahi dengan cara yang salah. Yang mengakibatkan korban tersebut terluka," katanya.

THW menarik pakaian korban dan mendorongnya hingga jatuh beberapa kali, sementara RTW menarik rambut dan tangan korban hingga korban kembali terjatuh.

Aksi Demonstrasi Sopir Online hingga Penetapan Tersangka

Peristiwa itu memicu tindakan solidaritas dari ratusan pengemudi ojek online pada Sabtu (5/7/2025) dini hari.

Mereka mengunjungi rumah keluarga TTW, yang berakhir dengan tindakan kerusakan terhadap mobil polisi.

Meskipun korban AML telah lebih dahulu melaporkan kejadian tersebut ke Mapolresta Sleman pada Jumat (4/7) dini hari.

Setelah melakukan penyelidikan, pihak kepolisian secara resmi menetapkan tiga orang sebagai tersangka dan langsung melakukan penahanan sejak Minggu (6/7/2025).

(/Tribun-Medan.com)

Diberdayakan oleh Blogger.