Halloween party ideas 2015
Tampilkan postingan dengan label bencana alam. Tampilkan semua postingan

Gajah Perkasa Turun Tangan: Membantu Korban Banjir Bandang di Pidie, Aceh

Aceh kembali diguncang oleh bencana alam berupa banjir bandang yang meluluhlantakkan beberapa wilayah di Kabupaten Pidie Jaya. Di tengah kepedihan dan kehancuran, muncul sebuah kisah mengharukan yang melibatkan pahlawan tak terduga: empat ekor gajah perkasa. Keempat satwa megah ini, yang memiliki nama Abu, Mido, Ajis, dan Noni, tidak tinggal diam menyaksikan penderitaan manusia. Mereka secara sukarela ikut serta dalam upaya pembersihan puing-puing kayu dan material berat yang terseret arus dahsyat banjir bandang.

Aksi solidaritas yang luar biasa ini terlihat jelas di Kecamatan Meurah Dua dan Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. Gajah-gajah tersebut dengan sigap dan penuh tenaga memindahkan batang-batang kayu gelondongan berukuran besar yang menumpuk, menghalangi akses dan memperparah kerusakan. Belalai mereka yang kuat dengan cekatan mengangkat dan menyingkirkan beban berat, menunjukkan kekuatan alam yang luar biasa dalam membantu sesama.

Gajah Terlatih: Kekuatan Besar untuk Misi Kemanusiaan

Keempat gajah yang menunjukkan kemampuan luar biasa ini bukanlah gajah sembarangan. Mereka adalah bagian dari program Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh dan berasal dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree. Gajah-gajah ini telah menjalani pelatihan khusus untuk berbagai tugas berat, termasuk penanganan pasca bencana.

Kepala KSDA Wilayah Sigli, Hadi Sofyan, menjelaskan bahwa gajah-gajah jinak ini memiliki rekam jejak panjang dalam membantu pembersihan pasca bencana alam. Pengalaman mereka bahkan mencakup penanganan pasca tsunami Aceh pada tahun 2004, di mana kehadiran gajah terbukti sangat membantu dalam membersihkan puing-puing yang berserakan. "Gajah terlatih yang kita bawa ini sebanyak empat ekor, dan semuanya dari PLG (Pusat Latihan Gajah) Saree. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, termasuk saat tsunami di Aceh, kehadiran gajah sangat membantu membersihkan puing-puing," ujar Hadi Sofyan.

Lebih dari Sekadar Tenaga Fisik

Peran gajah-gajah ini tidak terbatas pada tugas pembersihan fisik semata. Dengan kekuatan dan kelincahan mereka, gajah-gajah ini juga mampu membuka akses jalan darat antardesa yang masih terputus akibat bencana. Mereka dapat menjangkau area-area yang sulit diakses oleh alat berat maupun manusia, sehingga mempercepat proses evakuasi dan distribusi bantuan logistik. Selain itu, gajah juga dapat dimanfaatkan untuk mengantarkan logistik kepada para korban yang membutuhkan dan bahkan membantu dalam pencarian korban yang belum ditemukan.

Tim yang mendatangkan gajah-gajah ini menargetkan pembersihan di lokasi-lokasi yang paling terdampak banjir bandang di Kecamatan Meureudu dan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya. Rencananya, mereka akan bertugas selama tujuh hari di lokasi tersebut, dengan perkiraan selesai pada 14 Desember 2025.

Reaksi Warganet: Haru, Apresiasi, dan Refleksi

Aksi heroik para gajah ini sontak menarik perhatian luas dari warganet di berbagai platform media sosial. Banyak yang mengungkapkan rasa haru mendalam dan apresiasi setinggi-tingginya atas bantuan yang diberikan oleh hewan-hewan luar biasa ini.

Perhatian khusus diberikan pada ironi yang terjadi: manusia seringkali dianggap merusak habitat alami gajah, namun ketika bencana melanda, justru gajahlah yang datang membantu manusia membersihkan rumah dan lingkungan mereka yang porak-poranda. Hal ini memicu refleksi mendalam tentang hubungan manusia dengan alam dan satwa liar.

Beberapa komentar yang muncul di media sosial mencerminkan perasaan ini:

  • "Rumah mereka di hancurkan oleh manusia, sekarang mereka membantu manusia membersihkan rumah manusia..... semoga gajah sumatera tetap terlindungi..." tulis akun Purbo Sri Indarto.
  • "Manusia yg serakah itu menganggap Gajah adalah Hama bagi mreka, tp mereka tdk sadar bhwa manusia sendiri yg merebut rmh Gajah.. ketika ada musibah Gajah dgn tulus membantu manusia-manusia itu Ya Allah.. sehat-sehat hewan berhati baik, smoga hak kehidupan dan rumah gajah segera kembali.. aamiin aamiin," tulis akun Sevviana Luluk.
  • "Masyaa Allah klu begini Gajah dibutuhkan tenaganya,tapi kemaren2 mereka diburu,ditembaki,dibunuh sama manusia2 yg ga punya hati nurani tapi semoga setelah ini membawah hikmah yg baik buat kita semua agar menyangi gajah dan binatang lainnya," tulis akun Yanti Ariyanti.
  • "Kasihan gajahnya jika sampai terluka dan kelelahan.Apa lagi habitat dan jumlahnya mulai punah," tulis akun Jon F Adi.
  • "Manusia merusak rumah gajah sedangkan gajah membatu membersihkan rumah manusia," tulis akun Taufik.
  • "Manusia serba serakah giliran susah masih pakai jasa SI gajah semoga pada sadar jangan di habisin hutan mereka biar hidup di Alam bebas mencari makanan Dan menebar benih karena tanaman biji'' an yg di makan gajah keluar sama tainya jd tumbuh tanaman baru yg subur & lebih cepat drapada manusia yg menanam," tulis akun Tinae Masadjie.

Komentar-komentar ini menunjukkan harapan besar agar gajah Sumatera terus dilindungi dan dihargai sebagai bagian integral dari ekosistem dan kekayaan budaya lokal.

Dukungan Psikologis: Gajah Sebagai Terapi Trauma

Selain manfaat fisik dalam pembersihan pasca bencana, kehadiran gajah-gajah jinak ini juga memberikan dukungan psikologis yang tak ternilai bagi para korban, terutama anak-anak. Kapolres Pidie Jaya, AKBP Ahmad Faisal Pasaribu, menambahkan bahwa gajah-gajah ini didatangkan tidak hanya untuk tugas fisik, tetapi juga sebagai sarana trauma healing bagi anak-anak yang menjadi korban banjir.

Kehadiran gajah yang ramah dan jinak mampu menciptakan suasana yang lebih ceria di tengah kepedihan, mengurangi ketegangan, dan membantu memulihkan kondisi psikologis masyarakat yang terdampak bencana. "Gajah-gajah ini kita datangkan bukan hanya untuk mengangkat material berat, tetapi juga untuk kegiatan trauma healing bagi anak-anak korban banjir. Kehadiran gajah dapat menghadirkan suasana ceria, mengurangi ketegangan, dan membantu memulihkan kondisi psikologis mereka," ujar Faisal.

Langkah ini merupakan wujud komitmen Polri dan para pemangku kepentingan terkait untuk memberikan pelayanan yang humanis dan responsif kepada masyarakat yang membutuhkan. Melalui kerja sama antara Polres Pidie Jaya dan BKSDA Aceh, diharapkan proses pembersihan dan pemulihan dapat berjalan lebih cepat dan efektif.

Kasat Reskrim Polres Pidie Jaya, Iptu Fauzi Admaja, mengonfirmasi bahwa fokus pembersihan dilakukan di Gampong Meunasah Bie, Kecamatan Meurah Dua, yang merupakan salah satu lokasi paling parah terdampak bencana. "Empat gajah yang kita datangkan bersama BKSDA Aceh hari ini sudah berada di lokasi. Mereka langsung kita kerahkan untuk menarik kayu-kayu besar serta material berat lainnya yang menumpuk akibat banjir," jelas Iptu Fauzi.

Ancaman Tumpukan Kayu di Sungai Krueng Meureudu

Meskipun gajah-gajah perkasa ini telah diturunkan, masalah yang dihadapi di Pidie Jaya masih terbilang kompleks. Hingga memasuki hari ke-13 pasca banjir bandang, tumpukan kayu sepanjang hampir satu kilometer di Sungai Krueng Meureudu, yang terletak di perbatasan Dayah Husen dengan Pante Gelima, belum juga dibersihkan. Tumpukan kayu bulat besar dan kecil ini menjadi ancaman serius bagi pemukiman warga yang berada di dekat Daerah Aliran Sungai (DAS) karena berpotensi menyebabkan banjir berulang.

Dampak dari tersangkutnya kayu gelondongan di sungai ini sangat signifikan. Alur sungai di beberapa lokasi lainnya menjadi hilang tertimbun lumpur. Keuchik Gampong Meunasah Raya, Kecamatan Meurah Dua, A Halim Ishak, mengungkapkan betapa parahnya banjir yang melanda desanya. Banyak hewan ternak mati terkubur lumpur, termasuk 15 ekor lembu dan 60 ekor kambing milik warga.

Selain itu, bencana ini menyebabkan 288 rumah rusak, dengan 179 di antaranya mengalami kerusakan berat. Fasilitas publik seperti satu SDN, PAUD, kantor keuchik, tiga tempat pengajian, dan Dayah Abi Anwar juga turut rusak. Banjir di Gampong Meunasah Raya juga menimbun 15 unit mobil dan 500 unit sepeda motor milik warga.

"Banjir kali ini sangat parah terjadi di gampong kami, banyak hewan ternak mati terkubur lumpur banjir," ujar A Halim. Ia menambahkan bahwa ketinggian air mencapai 2 meter, membuat warga tidak sempat menyelamatkan harta benda mereka dan hanya bisa menyelamatkan diri dengan naik ke atas plafon rumah.

Kini, prioritas utama adalah membersihkan tumpukan kayu di jembatan Krueng Meureudue. Jika kayu-kayu ini tidak segera dipindahkan, air sungai akan terus meluap saat hujan turun karena alirannya terhambat. Luapan air ini bahkan berpotensi mengubah jalan menjadi alur sungai baru, menghantam pemukiman warga dan menyebabkan banjir susulan.

"Kami minta kepada pemerintah, kayu di Sungai Meureudue yang tersangkut di jembatan, agar segera dibersihkan. Sebab, jika turun hujan air sungai akan meluap menghantam pemukiman rumah masyarakat. Sehingga banjir akan terus berulang," pinta A Halim.

Di Gampong Meunasah Raya, tercatat dua warga meninggal dunia akibat banjir: Rosmani (50) yang mengalami stroke dan terjebak banjir di rumah, serta Akrami (61) yang meninggal pasca banjir karena sakit. Saat ini, para pengungsi sangat membutuhkan fasilitas MCK, selimut, dan air bersih. Kondisi kesehatan pengungsi mulai terganggu dengan munculnya gatal-gatal, sementara Dinas Kesehatan Pidie Jaya dan Puskesmas Meurah Dua masih tergenang lumpur.

Selama lebih dari satu abad, Death Valley di California, Amerika Serikat, telah memegang reputasi sebagai salah satu tempat terpanas di Bumi. Gelar ini melekat kuat sejak catatan suhu di Greenland Ranch mencapai angka mencengangkan 56,7 derajat Celsius pada 10 Juli 1913. Angka ini diakui oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) sebagai rekor global, meskipun klaim keabsahannya telah lama menjadi subjek perdebatan di kalangan para klimatolog.

Roy Spencer, seorang ahli meteorologi dari Universitas Alabama Huntsville, menjelaskan bahwa meskipun semua gurun mengalami panas yang menyengat di musim panas, Death Valley memiliki karakteristik yang membuatnya lebih ekstrem. Lokasinya yang berada di bawah permukaan laut berkontribusi signifikan terhadap suhu yang melonjak. Lebih jauh lagi, Spencer menekankan bahwa status sebagai "tempat terpanas di Bumi" telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas pariwisata lembah tersebut, menarik pengunjung yang ingin merasakan langsung kondisi iklim yang brutal ini.

Meskipun rekor suhu ekstrem seperti pada tahun 1913 tidak pernah terulang lagi di era modern, Death Valley terus menunjukkan betapa ganasnya iklim di kawasan tersebut. Suhu yang tercatat pada tahun 2020 dan 2021, yaitu 54,4 derajat Celsius, dianggap oleh para ilmuwan sebagai angka yang lebih realistis dan konsisten dengan pengamatan ilmiah terkini.

Keraguan Terhadap Rekor Suhu 1913

Sebuah penelitian terbaru yang dipimpin oleh Spencer kembali mengangkat pertanyaan mengenai keabsahan rekor suhu tahun 1913. Tim peneliti melakukan analisis mendalam terhadap data suhu bulan Juli selama 101 tahun, mulai dari tahun 1923 hingga 2024. Mereka meneliti data dari berbagai stasiun cuaca yang berlokasi dalam radius 250 kilometer dari Greenland Ranch. Selanjutnya, data tersebut disesuaikan dengan perbedaan ketinggian antara lokasi-lokasi pengamatan.

Temuan Mengejutkan dari Analisis Data

Hasil analisis tersebut memberikan gambaran yang sangat berbeda. Diperkirakan, suhu yang lebih realistis pada tanggal 10 Juli 1913 sebenarnya hanya berkisar sekitar 48,9 derajat Celsius. Angka ini menunjukkan selisih hampir 8 derajat Celsius dari catatan resmi yang selama ini diakui.

Tim peneliti juga menemukan beberapa kejanggalan yang semakin memperkuat keraguan mereka. Kejanggalan ini meliputi:

  • Perpindahan Alat Ukur: Terdapat indikasi bahwa alat pengukur suhu dipindahkan ke lokasi yang lebih panas tanpa izin yang semestinya.
  • Penggunaan Termometer Tidak Standar: Ada kemungkinan bahwa termometer beranda yang digunakan saat itu tidak sesuai dengan standar yang berlaku, sehingga menghasilkan pembacaan yang tidak akurat.
  • Laporan Surat Kabar Lama: Laporan dari surat kabar lama menunjukkan adanya kemungkinan bahwa sebagian catatan suhu pada periode tersebut tidak berasal dari instrumen resmi yang terkalibrasi.

"Catatan suhu ekstrem pada awal Juli 1913 tidak konsisten dengan stasiun cuaca di sekitarnya," demikian tertulis dalam laporan yang dipublikasikan di Bulletin of the American Meteorological Society.

Death Valley Tetap Menjadi Salah Satu Tempat Terpanas

Meskipun temuan ini menimbulkan keraguan terhadap rekor suhu historis, hal tersebut tidak serta-merta menggeser posisi Death Valley sebagai salah satu tempat terpanas di dunia. Justru, data modern yang lebih akurat dan terverifikasi menjadi dasar yang lebih kuat untuk mempertahankan reputasi ini.

Dan McEvoy dari Desert Research Institute menyatakan dukungannya terhadap penyelidikan lebih lanjut oleh WMO dan NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) untuk memastikan keakuratan data di masa depan.

Kehidupan di Tengah Panas Ekstrem

Tinggal di Death Valley berarti harus beradaptasi dengan panas ekstrem yang menjadi keseharian. Stewart, seorang warga yang telah menghabiskan lima tahun di kawasan tersebut, menggambarkan pengalaman uniknya kepada BBC pada tahun 2020. Ia menuturkan, "Kami hampir tidak merasakan keringat di kulit karena langsung menguap."

Mayoritas aktivitas warga, terutama selama musim panas, dilakukan di dalam ruangan untuk menghindari paparan langsung sinar matahari. Sebagian lainnya memilih untuk mencari tempat peristirahatan sementara di daerah pegunungan yang mengelilingi lembah, di mana suhu terasa lebih sejuk. Stewart menambahkan, "Setelah lama tinggal di sini, suhu 27 derajat Celsius justru terasa dingin."

Pendingin ruangan (AC) menjadi kebutuhan primer, baik untuk tidur maupun beraktivitas sehari-hari. Namun, penggunaan AC secara bersamaan oleh seluruh warga, terutama saat puncak gelombang panas, sering kali menimbulkan risiko pemadaman listrik.

Banyak penduduk yang memilih untuk tinggal dan bekerja di Furnace Creek, sebuah wilayah yang terletak sekitar 80 meter di bawah permukaan laut. Kawasan ini secara konsisten mencatatkan suhu ekstrem. Jason Heser, seorang pekerja di lapangan golf terendah di dunia yang berlokasi 85 meter di bawah permukaan laut, mengaku sudah terbiasa dengan kondisi panas yang menyengat. Ia bercerita sambil tertawa, "Saya dua kali bertugas di Irak. Kalau bisa menghadapi Irak, saya bisa menghadapi Death Valley." Pengalamannya di zona konflik yang keras memberinya ketahanan yang membuatnya lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan Death Valley yang ekstrem.

Kisah Darussalam dan keluarganya di Aceh Tamiang, 8 hari bertahan tanpa bantuan, warga bantu warga
Ringkasan Berita:
  • Banjir besar di Aceh menenggelamkan ratusan rumah dan membuat ribuan warga terisolasi tanpa listrik, air bersih, dan bantuan. 
  • Darussalam dan keluarganya bertahan delapan hari di bukit dengan harga kebutuhan yang melambung. 
  • Di Aceh Utara, 109 warga hilang dan kondisi pengungsi memprihatinkan. 
  • Pemerintah mempercepat perbaikan infrastruktur, sementara tiga perusahaan yang diduga memperparah banjir dihentikan operasionalnya.

medkomsubangnetwork - Kisah sedih disampaikan Darussalam (29), warga Desa Sungai Liput, Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang saat menceritakan detik-detik penyelamatannya dari banjir dahsyat yang menerjang pada 26 November 2025 sekitar pukul 02.00 WIB.

Bersama istrinya, Mahyuni, dan empat anak mereka, Darussalam memutuskan meninggalkan rumah.

Meski berada di atas bukit, rumah itu tetap tenggelam karena banjir yang begitu besar.

“Tetangga yang di bawah naik ke halaman rumah kami. Itu pun tenggelam juga, kami lihat air begitu deras. Jam 02.00 WIB, kami putuskan pergi meninggalkan rumah ke lebih belakang, ke atas bukit,” ujar Mahyuni kepada Kompas.com, Sabtu (6/12/2025).

Air diperkirakan mencapai enam meter dari badan jalan.

Pada pukul 03.00 WIB, air terus meninggi.

Listrik padam, hujan deras, dan angin kencang.

Warga nekat menyeberangi anak sungai menggunakan batang pinang sebagai jembatan darurat.

“Anak sungai itu hanya pohon pinang jadi jembatannya. Itulah yang kami lewati, ada yang bawa bayi dan lain sebagainya,” ceritanya.

Mereka berjalan menelusuri bukit, menghindari air bah yang mulai mencapai kaki bukit.

Hujan deras dan jalan licin dilalui hingga menemukan sebuah rumah yang lebih tinggi, tempat mereka bertahan selama delapan hari.

“Kami bertahan di situ hingga hari kedelapan. Warga bantu warga. Tidak bicara lagi bantuan pemerintah, tidak ada sama sekali,” katanya.

Bahan makanan diperoleh dari pedagang yang menjualnya lewat perahu, tetapi dengan harga sangat tinggi.

Gas 3 kilogram yang normalnya Rp 20.000 dijual Rp 150.000.

Beras lima kilogram dijual Rp 120.000, dan mi instan Rp 200.000 per kardus.

“Kami tidak punya pilihan, anak-anak harus makan. Seberapa mahal pun kami beli. Padahal beras itu sudah terendam banjir, kami beli juga,” ujarnya.

Pada 2 Desember 2025, mereka akhirnya bisa keluar dari desa.

“Desa kami sekitar 600 jiwa, 90 persen rumah hancur,” katanya.

Kini Mahyuni dan anak-anak tinggal sementara di rumah saudara di Lhokseumawe, sementara Darussalam kembali ke Aceh Tamiang untuk membersihkan rumah dan membantu warga lain.

“Anak dan istri di Lhokseumawe itu. Biar aman,” pungkasnya.

Banjir di kawasan tersebut menghancurkan ratusan rumah, memutus listrik, dan menghambat evakuasi korban.

Korban Belum Ditemukan

Korban banjir di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, mendesak pemerintah pusat untuk memprioritaskan penanganan dampak bencana saat ini.

Apalagi sampai sekarang, ratusan mayat belum ditemukan.

Data dari posko utama Pemerintah Kabupaten Aceh Utara mencatat, 109 orang dinyatakan hilang.

Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah seiring berlanjutnya pencarian korban jiwa.

Sampai hari ini, kondisi di lokasi banjir pun masih memprihatinkan.

Listrik padam, air bersih langka, tidak ada sinyal komunikasi, serta minimnya pasokan bahan pangan, terpal sebagai hunian sementara, obat-obatan, dan kelambu untuk pengungsi.

“Kami setuju seluruh bandit illegal logging disikat. Namun, fokuskan pada dampak bencana. Lebih penting selamatkan rakyat dari kelaparan dan ketidakberdayaan, nanti urus lagi illegal logging,” ujar

Usman Nur, salah seorang penyintas banjir di Desa Parang Sikureung, Kecamatan Matangkuli, Kabupaten Aceh Utara, Sabtu (6/12/2026).

Usman menambahkan, pemerintah pusat seharusnya tidak hanya menerima laporan yang terkesan indah dari aparat di bawahnya.

“Faktanya, kebutuhan bahan pangan minim, air bersih tidak ada. Listrik tidak menyala, sinyal handphone juga tidak ada. Lengkap sudah penderitaan kami,” tutur dia.

Hal senada disampaikan Isbahanur, salah satu pengungsi korban banjir di Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara.

“Bahkan untuk minum pun kami susah. Lalu, pemerintah pusat menganggap semuanya sudah terkendali. Pak Presiden, tidak terkendali dampak banjir ini, lumpur masih setinggi 3 meter bekas banjir,” tegasnya.

Dia berharap Presiden RI Prabowo Subianto dapat mengintruksikan seluruh menterinya untuk turun ke lokasi bencana.

“Terpenting, bawa bahan bantuan lewat segala upaya, baik darat, laut, udara, maupun sungai. Jangan biarkan kami sendirian,” pungkasnya.

Sebagai informasi, banjir di kawasan tersebut mulai terjadi pada 22 November 2025.

Hingga kini, sejumlah titik masih terisolasi dan belum dapat diakses.

Sementara itu, kabupaten lain di Aceh baru mengalami banjir pada 26 November 2025.

Anggota DPD RI asal Aceh, Sudirman atau Haji Uma sebanyak 350 rumah di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara hilang atau sudah rata dengan tanah pascabencana banjir dan longsor di Aceh.

"Desa itu nyaris rata dengan tanah. Dari sekitar 400 unit rumah warga, hanya 41 unit yang masih terlihat bekasnya. Selain kerusakan fisik, enam warga dilaporkan hilang dan hingga kini belum ditemukan jenazahnya," kata Sudirman Haji Uma, di Aceh Utara, Sabtu.

Ia menyampaikan, saat mendatangi langsung desa tersebut, merasa sangat prihatin atas besarnya kerusakan yang ditimbulkan akibat bencana tersebut.

Kondisi ini, menjadi peringatan serius bagi pemerintah.

Dampak banjir banjir di sana, kata dia, selain hilangnya rumah masyarakat, juga mengakibatkan listrik padam, akses jalan rusak, dan tidak ada air bersih, serta krisis tenda pengungsian.

"Tercatat lebih dari 400 kepala keluarga atau sekitar 2.000 jiwa terdampak. Banyak warga mulai mengalami gatal-gatal akibat penggunaan air yang tidak layak di sini," ujarnya.

Haji Uma meminta pemerintah segera mengirimkan bantuan, khususnya kebutuhan mendesak seperti air bersih, obat-obatan, dan bahan makanan.

Apalagi, pemulihan desa ini memakan waktu yang cukup lama.

“Kalau dibangun kembali, saya perkirakan bisa memakan waktu hingga 10 tahun untuk kembali seperti sedia kala,” katanya.

Penanganan Infrastruktur

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus mempercepat penanganan infrastruktur jalan nasional di Provinsi Aceh pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang mengakibatkan terputusnya sejumlah ruas utama pada jalur Lintas Timur, Lintas Barat, dan Lintas Tengah.

"Pascabencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, pembukaan kembali jalur transportasi menjadi prioritas utama sebelum pemerintah berbicara lebih jauh mengenai tahap rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur," kata Menteri PU Dody Hanggodo dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (6/12/2025).

Dody mengatakan pihaknya telah mengerahkan dan mengalihkan alat berat dari sejumlah proyek infrastruktur untuk mempercepat pembukaan akses jalan di Aceh guna menjaga distribusi logistik serta mencegah risiko sosial.

Upaya ini dilakukan guna memastikan kembali kelancaran distribusi logistik, mobilitas masyarakat, serta pemulihan aktivitas sosial dan ekonomi di wilayah terdampak.

Pada jalur Lintas Timur Aceh, saat ini secara umum tidak terdapat kendala berarti.

Dua jembatan yang sempat putus tengah dalam proses perbaikan dengan target penyelesaian pada 12 Desember 2025.

Sejumlah ruas utama pada Lintas Timur Aceh telah kembali terhubung dan fungsional, di antaranya ruas Lhokseumawe-Aceh Utara hingga Langsa, Langsa-Kuala Simpang, serta Kuala Simpang-Batas Provinsi Sumatera Utara yang sejak 3 Desember 2025 telah dapat dilalui seluruh jenis kendaraan.

Pembersihan sedimen dan material sisa banjir masih terus dilakukan untuk memulihkan kondisi jalan secara optimal.

Selanjutnya, pada Lintas Barat Aceh, penanganan telah dilakukan Kementerian PU dan sejumlah ruas telah kembali fungsional.

Kementerian PU melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh terus melakukan pembersihan material banjir dan longsoran di sejumlah titik untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan.

Sementara itu, pada Lintas Tengah Aceh, tantangan terbesar masih dihadapi karena banyaknya jembatan yang putus serta badan jalan yang tergerus sungai.

Tercatat terdapat 13 jembatan terputus pada jalur-jalur akses menuju wilayah Takengon dan sekitarnya.

Saat ini, fokus utama penanganan diarahkan pada pemasangan jembatan bailey secara bertahap serta penanganan badan jalan yang amblas.

Beberapa ruas sudah dapat dilalui dengan kondisi terbatas, seperti jalur Simpang Uning-Blangkejeren yang baru dapat dilalui kendaraan roda dua, serta Genting Gerbang-Celala-batas Aceh Tengah/Nagan Raya yang masih menunggu penyelesaian akses menuju Jembatan Kr Beutong dengan target selesai pada 17 Desember 2025.

3 Perusahaan Perparah Banjir Ditutup

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menghentikan sementara tiga perusahan yang diduga berkontribusi banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera.

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, mengambil keputusan tersebut setelah melakukan inspeksi melalui udara dan darat di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru dan Garoga.

Ia juga mendatangi PT Agincourt Resources, PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III), dan PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) pengembang PLTA Batang Toru.

Dari temuan lapangan itu pihaknya memutuskan menghentikan sementara operasional ketiga perusahaan tersebut.

“Mulai 6 Desember 2025, seluruh perusahaan di hulu DAS Batang Toru wajib menghentikan operasional dan menjalani audit lingkungan,” kata Hanif dalam keterangan resminya, sebagaimana dikutip, Sabtu (6/12/2025).

Hanif juga menyebut, ketiga perusahaan itu dipanggil untuk menjalani pemeriksaan di KLH pada 8 Desember 2025 mendatang.

Ia menegaskan, fungsi ekologis dan sosial kawasan DAS Batang Toru dan Garoga sangat penting.

“Tidak boleh dikompromikan,” tutur Hanif.

Sementara itu, Deputi Bidang Penegakan Hukum Lingkungan Hidup, KLH, Rizal Irawan, mengungkapkan hasil pantauan udara menunjukkan terdapat praktek pembukaan lahan yang massif dilakukan.

Kegiatan itu membuat tekanan pada DAS Batang Toru dan Garoga lebih besar karena lahan hutan dibabat untuk tambang, tanaman industri, PLTA, dan kebun kelapa sawit.

“Tekanan ini memicu turunnya material kayu dan erosi dalam jumlah besar. Kami akan terus memperluas pengawasan ke Batang Toru, Garoga, dan DAS lain di Sumatera Utara,” ungkap Rizal.

Lebih lanjut, Hanif menekankan seluruh kegiatan industri di kawasan tersebut harus dievaluasi secara menyeluruh, mengingat curah hujan ekstrem bisa mencapai lebih dari 330 mm per hari.

“Pemulihan lingkungan harus dilihat sebagai satu kesatuan lanskap. Kami akan menghitung kerusakan, menilai aspek hukum, dan tidak menutup kemungkinan adanya proses pidana jika ditemukan pelanggaran yang memperparah bencana,” kata Hanif.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, menyebut, banjir bandang di Sumatera Barat (Sumbar) tidak disebabkan tambang.

Sementara itu, pihaknya masih mengkaji apakah tambang berkontribusi pada banjir bandang di Aceh dan Sumatera Utara (Sumut).

"Kalau di Sumatera Barat, itu tidak ada. Di Aceh pun kita lagi melakukan pengecekan. Kalau di Sumut, tim evaluasi kita lagi melakukan evaluasi. Jadi nanti setelah tim evaluasi, baru saya akan cek dampak dari tambang ini ada atau tidak," ujar Bahlil di Istana, Jakarta, Kamis (4/12/2025).

Diketahui, tiga provinsi di Sumatera yakni, Aceh, Sumatera Barat (Sumbar), dan Sumatera Utara (Sumut) dilanda banjir bandang dan tanah longsor.

Berdasarkan laporan BNPB jumlah korban meninggal per Jumat (5/12/2025) mencapai 867 jiwa sementara ratusan orang lainnya masih hilang.

Bencana besar itu mengakibatkan ribuan rumah, fasilitas umum, dan infrastruktur rusak. (*)

Gempa M4,9 Guncang Melonguane Sulut, BMKG Beri Info

Gempa Magnitudo 4,9 Guncang Sulawesi Utara, BMKG Ingatkan Pentingnya Kesiapsiagaan

Pada Kamis, 27 November 2025, sebuah peristiwa alam mengagetkan warga Melonguane, Sulawesi Utara. Gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 4,9 mengguncang wilayah tersebut pada pukul 11.41.35 WIB. Menurut informasi yang dirilis, pusat gempa berlokasi di koordinat 5.02 Lintang Utara dan 126.16 Bujur Timur. Lokasi persisnya berada 127 kilometer arah barat laut Melonguane, dengan kedalaman gempa yang relatif dangkal, yaitu 10 kilometer di bawah permukaan bumi.

Meskipun informasi awal mengenai gempa seringkali bersifat dinamis dan dapat mengalami pembaruan seiring kelengkapan data, kejadian ini menegaskan kembali pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam, khususnya gempa bumi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara rutin memberikan panduan dan informasi mengenai langkah-langkah yang perlu diambil ketika bencana ini terjadi.

Langkah-langkah Penting Saat Gempa Melanda

Menghadapi gempa bumi, baik yang berskala kecil maupun besar, kepanikan seringkali menjadi respons awal. Namun, menjaga ketenangan adalah kunci utama untuk dapat mengambil tindakan yang tepat dan menyelamatkan diri serta orang lain. BMKG menekankan beberapa langkah penting yang perlu diperhatikan, tergantung pada lokasi Anda saat gempa terjadi.

1. Saat Berada di Dalam Ruangan

Jika Anda sedang berada di dalam rumah atau bangunan saat gempa terjadi, prioritas utama adalah mencari perlindungan.

  • Tetap Tenang dan Cari Tempat Aman: Tarik napas dalam-dalam untuk meredakan kepanikan. Amati kondisi sekitar dan segera cari tempat yang aman untuk berlindung.
  • Berlindung di Bawah Perabot Kokoh: Meja atau tempat tidur yang kokoh menjadi pilihan terbaik untuk melindungi diri dari benda-benda yang berjatuhan, seperti lampu, vas bunga, atau bagian bangunan yang rapuh.
  • Lindungi Kepala: Gunakan benda-benda empuk seperti bantal, helm, atau buku tebal untuk melindungi kepala Anda. Jika tidak ada benda lain, gunakan kedua tangan untuk menutupi dan melindungi kepala sambil merunduk.
  • Jauhi Jendela dan Benda Berat: Pastikan Anda tidak berada di dekat jendela, kaca, atau benda-benda berat yang berpotensi jatuh dan menyebabkan cedera.

2. Saat Berada di Luar Ruangan

Berada di area terbuka saat gempa terjadi memiliki tantangan tersendiri.

  • Jauhi Bangunan dan Struktur Berbahaya: Segera bergerak menjauhi gedung, tiang listrik, pohon, atau struktur lain yang berpotensi roboh atau tumbang.
  • Menuju Area Terbuka: Cari lapangan luas atau area terbuka yang aman dari potensi bahaya reruntuhan.
  • Tetap Tenang dan Waspada Gempa Susulan: Setelah getaran pertama mereda, tetaplah tenang dan bersiap untuk kemungkinan adanya gempa susulan.

3. Saat Berada di Tempat Ramai (Kerumunan)

Situasi kerumunan seringkali memicu kepanikan massal yang bisa berbahaya.

  • Perhatikan Arahan Petugas: Ikuti instruksi dari petugas keamanan atau tim penyelamat. Mereka biasanya memiliki protokol evakuasi yang telah ditetapkan.
  • Cari Tangga Darurat: Jika memungkinkan, segera menuju tangga darurat untuk keluar dari gedung dan bergerak menuju area terbuka.
  • Hindari Panik: Usahakan untuk tetap tenang dan jangan ikut terdorong dalam kepanikan massa.

4. Saat Berada di Gunung atau Dataran Tinggi

Kondisi geografis pegunungan memiliki risiko tambahan, yaitu longsor.

  • Bergerak ke Area Lapang: Segera menjauh dari lereng gunung atau tebing yang berpotensi longsor. Cari dataran yang lebih datar dan terbuka.
  • Waspadai Longsor dan Jatuhan Batu: Tetap waspada terhadap kemungkinan longsoran tanah atau jatuhan batu akibat getaran gempa.

5. Saat Berada di Laut

Gempa yang berpusat di bawah laut dapat berpotensi menimbulkan tsunami.

  • Naik ke Dataran Tinggi: Jika Anda berada di pantai atau dekat laut saat gempa terjadi, segera bergerak menuju dataran yang lebih tinggi.
  • Ikuti Peringatan Dini: Perhatikan sirene atau pengumuman peringatan tsunami dari pihak berwenang.

6. Saat Berada di Dalam Kendaraan

Perjalanan saat gempa membutuhkan kewaspadaan ekstra.

  • Pegang Erat Kendaraan: Jika Anda sedang di dalam kendaraan, pegang erat-erat untuk menjaga keseimbangan.
  • Berhenti di Tempat Aman: Segera cari tempat yang lapang dan aman untuk menepikan kendaraan Anda. Hindari berhenti di bawah jembatan, pohon, atau bangunan yang rentan roboh.
  • Matikan Mesin dan Tetap di Dalam: Setelah berhenti, matikan mesin kendaraan dan tetap berada di dalam hingga getaran mereda.

Memahami Skala MMI (Modified Mercalli Intensity)

Selain mengetahui langkah-langkah evakuasi, pemahaman mengenai intensitas gempa berdasarkan skala MMI juga penting. Skala ini mengukur dampak atau getaran gempa yang dirasakan oleh manusia dan kerusakan yang ditimbulkan.

  • I MMI: Getaran gempa tidak dirasakan, kecuali oleh orang yang sangat peka dalam kondisi luar biasa.
  • II MMI: Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang tergantung mulai bergoyang.
  • III MMI: Getaran dirasakan nyata di dalam rumah, terasa seperti ada truk yang lewat.
  • IV MMI: Dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah, beberapa orang di luar rumah. Gerabah pecah, jendela dan pintu berderik, dinding berbunyi.
  • V MMI: Dirasakan hampir semua orang, orang berlarian, gerabah pecah, barang-barang terlempar, tiang dan benda besar bergoyang.
  • VI MMI: Dirasakan oleh semua orang, kebanyakan terkejut dan lari keluar. Plester dinding jatuh, cerobong asap pabrik rusak ringan.
  • VII MMI: Semua orang keluar rumah. Kerusakan ringan pada bangunan baik, kerusakan signifikan pada bangunan dengan konstruksi kurang baik. Cerobong asap pecah.
  • VIII MMI: Kerusakan ringan pada bangunan kuat, retakan pada bangunan kurang baik, dinding terlepas, cerobong asap dan monumen roboh, air keruh.
  • IX MMI: Kerusakan pada bangunan kuat, rangka rumah tidak lurus, banyak retakan. Rumah bergeser dari pondasi, pipa putus.
  • X MMI: Bangunan kayu kuat rusak, rangka rumah lepas dari pondasi. Tanah terbelah, rel melengkung, longsor di sungai dan lereng curam.
  • XI MMI: Sedikit bangunan yang masih berdiri. Jembatan rusak, terjadi lembah, pipa bawah tanah tidak dapat dipakai, rel sangat melengkung.
  • XII MMI: Hancur total, gelombang terlihat di permukaan tanah, pemandangan gelap, benda-benda terlempar ke udara.

Dengan memahami langkah-langkah kesiapsiagaan dan skala intensitas gempa, masyarakat diharapkan dapat lebih siap dan mengurangi risiko saat bencana alam terjadi. Kesiapsiagaan adalah investasi terbaik untuk keselamatan jiwa.

Fenomena gempa bumi besar yang memicu tsunami kembali menjadi sorotan di Indonesia. Hal itu seiring dengan rilis terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait peta zona megathrust nasional. Penjelasan ini mempertegas bahwa beberapa wilayah Nusantara berada di area yang secara geologis rawan.

Sebetulnya apa itu megathrust dan kenapa gempa ini begitu diwaspadai? Berikut penjelasan lengkap dari BMKG yang perlu kamu pahami.

Apa itu megathrust?

Megathrust adalah zona subduksi lempeng tektonik yang sangat panjang dan luas, tepatnya satu lempeng menyusup di bawah lempeng lain dan menyimpan energi besar. Menurut BMKG, tekanan konvergen antar lempeng tersebut bersifat "mega" karena menempati wilayah sangat besar. Seramnya, saat segmen-segmen di sana bergerak, bisa memicu gempa bumi besar yang dikenal sebagai gempa megathrust.

Di wilayah Indonesia, BMKG mengidentifikasi setidaknya 13 zona megathrust aktif yang potensial menimbulkan gempa besar, seperti di Aceh-Andaman, Selat Sunda, dan Mentawai-Siberut. Mengingat beberapa segmen belum melepaskan energi dalam waktu lama, ahli memperingatkan agar masyarakat waspada walaupun waktu terjadinya gempa besar tidak bisa diprediksi.

Dampak gempa megathrust

Gempa megathrust sebetulnya bisa terjadi di berbagai wilayah yang dilewati subduksi aktif. Sebagai contoh yang baru saja terjadi (08/08/2024) di Jepang, Pulau Kyushu dilanda gempa dengan magnitudo 7,1 yang bersumber dari Megathrust Nankai.

Di Indonesia sendiri, tercatat telah beberapa kali terjadi gempa besar. Contohnya di selatan Pulau Jawa pernah mengalami gempa dengan magnitudo lebih dari 8,0 pada 1780, 1859, dan 1943.

Dilansir Earthquakes Canada, megathrust tak hanya menjadi gempa bumi terbesar di dunia, tetapi juga dapat memicu tsunami. Ketika megathrust terjadi, gerakan dorongan menyebabkan gerakan vertikal yang besar di dasar laut. Alhasil, terjadi perpindahan sejumlah besar air dan bergerak menjauh dari gerakan bawah laut hingga memicu tsunami.

Potensi gempa megathrust di Indonesia

BMKG menyebut bahwa gempa megathrust di Indonesia tinggal menghitung waktu. Sayangnya, tidak ada yang tahu pasti mengenai datangnya fenomena alam ini.

Kekhawatiran akan adanya gempa megathrust di Indonesia dilihat setelah analisa terhadap seismic gap, terutama pada Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut. FYI, seismic gap sendiri merupakan wilayah di sepanjang batas lempeng aktif yang belum mengalami gempa selama lebih dari 30 tahun. 

Megathrust Mentawai-Siberut sendiri terakhir mengalami gempa besar pada 10 Februari 1797 dengan kekuatan mencapai magnetudo 8,5 dan memicu tsunami besar. Artinya, seismic gap-nya sudah lebih dari 200 tahun dan mungkin tinggal menunggu waktu hingga akhirnya melontar kekuatan terpendam.

Lantas, apakah gempa kecil yang berlangsung berulang bisa membantu mengurangi tekanan gempa bumi megathrust? Tidak bisa demikian, melansir Earthquake Canada. Faktanya, peningkatan satu unit pada skala magnitudo, jumlah energi yang dilepaskan meningkat sekitar 40 kali lipat. Diperlukan banyak sekali gempa bumi kecil untuk melepaskan jumlah energi yang setara dengan gempa bumi besar. 

Lebih lanjut, analisis BMKG menunjukkan bahwa gempa megathrust ini bisa mencapai magnitudo antara 7,8 hingga 9,2, tergantung segmen yang pecah. Mengingat potensi kekuatan gempa dan kedekatan beberapa zona dengan pesisir, risiko tsunami tidak bisa diabaikan. Oleh karenanya, kesiapsiagaan masyarakat dan mitigasi bencana menjadi sangat krusial.

Itulah penjelasan mengenai apa itu gempa megathrust. Kondisi tersebut memang berpotensi menyebabkan gempa dengan magnitudo besar. Namun, selain khawatir, pastikan sudah siapkan mitigasi sejak dini untuk antisipasi terbaik. Kamu bisa menyalakan notifikasi gempa di HP dan mempersiapkan emergency kit juga, ya.

FAQ seputar apa itu gempa megathrust

Question

Answer

Apa itu gempa megathrust?

Gempa megathrust adalah gempa besar yang terjadi di zona subduksi ketika satu lempeng bumi menukik dan “mengunci” di bawah lempeng lainnya, lalu tiba-tiba melepaskan energi sangat besar.

Mengapa gempa megathrust bisa sangat kuat?

Karena area patahannya sangat luas dan tekanan yang terkumpul berlangsung dalam waktu lama, sehingga sekali lepas dapat menghasilkan magnitudo besar.

Apakah gempa megathrust bisa memicu tsunami?

Ya. Gempa jenis ini sering mengangkat dasar laut secara tiba-tiba sehingga mampu memicu tsunami besar.

Apakah gempa megathrust bisa diprediksi?

Tidak bisa diprediksi secara tanggal dan jam, tetapi zona rawannya sudah dapat dipetakan berdasarkan aktivitas tektonik.

Referensi:

"Questions and Answers on Megathrust Earthquakes". Earthquakes Canada. Diakses November 2025.

"Tentang Gempa di Selat Sunda dan Mentawai-Siberut yang “Tinggal Menunggu Waktu”. BMKG. Diakses November 2025.

"Mengenal Potensi Megathrust Kesiapsiagaan Adalah Koentji". BMKG. Diakses November 2025.

Mengapa Jepang Sering Terjadi Gempa Bumi? Ini Penjelasannya Apa Itu Black Swan Earthquake? Gempa Langka yang Guncang Papua

Gempa Terkini di Jawa Barat M3,6 Guncang Laut Selatan Sukabumi,Berikut Laporan BMKG

- Baru saja gempa terkini di Jawa Barat mengguncang Sukabumi pada Kamis (31/7/2025) pagi dengan pusat gempa di laut.

BMKG Wilayah II melaporkan gempa bumi di Sukabumi, Jawa Barat terjadi pukul 08.44 WIB dengan kekuatan Magnitudo 3,6.

Pusat gempanya berada di laut 113 Km Tenggara Kabupaten Sukabumi.

Titik pusat gempa berada pada kedalaman 10 Km.

"Info Gempa Mag:3.6, 31-Jul-25 08:44:05 WIB, Lok:8.00 LS - 106.69 BT (113 km Tenggara KAB-SUKABUMI-JABAR), Kedlmn: 10 Km ::BMKG," tulis BMKG Wilayah II di akun X @bmkgwilayah2, Kamis (31/7/2025) pagi.

Sebelumnya, gempa terkini di Jawa Barat mengguncang Sukabumi pada Jumat (26/7/2025) malam dengan pusat gempa di darat.

BMKG Wilayah II melaporkan gempa bumi di Sukabumi, Jawa Barat terjadi pukul 21.53 WIB dengan kekuatan Magnitudo 3,5.

Pusat gempanya berada di darat 24 Km Utara Kabupaten Sukabumi.

Titik pusat gempa berada pada kedalaman 147 Km.

"Info Gempa Mag:3.5, 26-Jul-25 21:53:32 WIB, Lok:6.77 LS - 106.55 BT (24 km Utara KAB-SUKABUMI-JABAR), Kedlmn: 147 Km ::BMKG," tulis BMKG Wilayah II di akun X @bmkgwilayah2, Jumat (26/7/2025) malam.

Skala Gempa

Berdasarkan skala MMI yang dikutip dari laman BMKG, berikut info MMI yang dapat dipelajari.

I MMI

Getaran gempa tidak dapat dirasakan kecuali dalam keadaan luarbiasa oleh beberapa orang.

II MMI

Getaran atau goncangan gempa dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung seperti lampu gantung bergoyang.

III MMI

Getaran gempa dirasakan nyata dalam rumah.

Getaran terasa seakan-akan ada naik di dalam truk yang berjalan.

IV MMI

Pada saat siang hari dapat dirasakan oleh orang banyak di dalam rumah, di luar rumah oleh beberapa orang, gerabah pecah, jendela/pintu bergoyang hingga berderik dan dinding berbunyi.

V MMI

Getaran gempa bumi dapat dirasakan oleh hampir semua orang, orang-orang berlarian, gerabah pecah, barang-barang terpelanting, tiang-tiang dan benda besar tampak bergoyang, bandul lonceng dapat berhenti.

VI MMI

Getaran gempa bumi dirasakan oleh semua orang.

Kebanyakan orang terkejut dan lari keluar, plester dinding jatuh dan cerobong asap di pabrik rusak, kerusakan ringan.

VII MMI

Semua orang di rumah keluar.

Kerusakan ringan pada rumah dengan bangunan dan kontruksi yang baik.

Sedangkan pada bangunan dengan konstruksi kurang baik terjadi retakan bahkan hancur, cerobong asap pecah.

Dan getaran dapat dirasakan oleh orang yang sedang naik kendaraan.

VIII MMI

Kerusakan ringan pada bangunan dengan konstruksi kuat.

Keretakan pada bangunan dengan konstruksi kurang baik, dinding terlepas dari rangka rumah, cerobong asap pabrik dan monumen roboh, air berubah keruh.

IX MMI

Kerusakan pada bangunan dengan konstruksi kuat, rangka rumah menjadi tidak lurus, banyak terjadi keretakan.

Rumah tampak bergeser dari pondasi awal. Pipi-pipa dalam rumah putus.

X MMI

Bangunan dari kayu yang kuat rusak, rangka rumah lepas dari pondamennya, tanah terbelah rel melengkung, tanah longsor di tiap-tiap sungai dan di tanah-tanah yang curam.

XI MMI

Bangunan-bangunan yang sedikit yang masih berdiri.

Jembatan rusak, terjadi lembah.

Pipa dalam tanah tidak dapat terpakai sama sekali, tanah terbelah, rel sangat melengkung.

XII MMI

Hancur total, gelombang tampak pada permukaan tanah.

Pemandangan berubah gelap, benda-benda terlempar ke udara.

Berikut tindakan yang perlu kamu lakukan saat gempa terjadi.

1. Tetap tenang

Saat gempa terjadi, berusahalah untuk tidak panik dan tetap tenang!

Tarik napas dalam-dalamnya, lalu lihatlah keadaan sekitar dan pilihlah spot yang aman untuk berlindung.

2. Di dalam rumah

Jika pada saat gempa sedang berada di dalam penginapan, berusahalah menyelamatkan diri dan orang yang ada di sekitarmu.

Meja adalah tempat terbaik untuk berlindung dari benda-benda yang berjatuhan akibat gempa.

Setelah itu, lindungi kepala dengan benda empuk.

Misalnya bantal, helm, papan, atau yang paling praktis kamu bisa menggunakan kedua tangan dengan posisi tertelungkup.

3. Di luar ruangan

Jika pada saat gempa terjadi kamu sedang berada di luar ruangan tindakan pertama yang harus dilakukan adalah bergerak menjauhi gedung dan tiang lantas menuju daerah terbuka.

Tetap tenang dengan menarik napas dalam-dalam dan jangan lakukan apapun.

Sebab, biasanya setelah gempa pertama akan terjadi gempa susulan. 

4. Di kerumunan

Gempa bisa terjadi kapan saja.

JIka saat itu kamu sedang berada di kerumunan, biasanya akan terjadi kepanikan.

Untuk mengindari hal tersebut. kamu bisa perhatikan arahan petugas penyelamat dan usahakan langsung menuju ke tangga darurat untuk menuju ke daerah terbuka.

5. Di gunung atau dataran tinggi

Jika gempa terjadi saat kamu sendang berada di gunung, bergeraklah menuju daerah lapang untuk berlindung.

Hidari daerah dekat lereng karena dipastikan akan menimbulkan longsor dan mengancam keselamatan jiwa.

6. Di laut

Gempa di bawah laut bisa menimbulkan gelombang tsunami.

Jika gempa itu terjadi, bergeraklah ke dataran yang lebih tinggi.

7. Di dalam kendaraan

Bagi yang sedang melakukan perjalanan saat terjadi gempa, berpeganglah erat agar tak terjatuh.

Berhentilah di tempat yang lapang dan berhentilah di sana.(*)

 

Baca Berita-berita diGoogle News

Diberdayakan oleh Blogger.