Halloween party ideas 2015
Tampilkan postingan dengan label sektor energi. Tampilkan semua postingan

medkomsubangnetwork, — Perusahaan infrastruktur kendaraan listrik terkemuka asal Amerika Serikat, ChargePoint, mengumumkan kemajuan teknologi yang berpotensi merevolusi pengalaman pemilik kendaraan listrik (EV) di seluruh dunia. Dengan kemampuan mengisi daya dari kosong hingga penuh dalam waktu sekitar 10 menit, terobosan ini diperkirakan dapat mendorong adopsi EV lebih cepat di berbagai negara.

Dilansir dari The Cool Down, Selasa (13/1/2026), ChargePoint berencana meluncurkan stasiun pengisian baru bernama ChargePoint Express Grid pada 2026. Sistem ini menggunakan DC fast charger 600 kilowatt (kW), yakni pengisian arus searah langsung ke baterai EV, yang mampu memangkas waktu pengisian hingga tingkat yang belum pernah dicapai sebelumnya.

Laporan tersebut menekankan, “Stasiun pengisian yang menawarkan solusi berdaya tinggi dan efisiensi tinggi dapat menjadi pembeda utama bagi para pengemudi,” menunjukkan bahwa kemampuan pengisian yang cepat dan efisien kini menjadi salah satu pertimbangan utama konsumen EV saat memilih stasiun pengisian.

Menurut laporan The Tennessean yang dikutip The Cool Down, pengisian EV dengan Express Grid kini dapat dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, bahkan “lebih cepat daripada menyelesaikan secangkir kopi pagi.” Dengan kapasitas 600 kW, durasi pengisian ini membuat proses mengisi daya kendaraan listrik terasa lebih mirip pengisian bahan bakar konvensional, sehingga pemilik EV tidak perlu menunggu lama di pinggir jalan.

Kepala ChargePoint, Rick Wilmer, menegaskan dalam pengumuman resmi yang dilaporkan Design News, bahwa teknologi ini bukan sekadar peningkatan kapasitas, tetapi merupakan pergeseran signifikan dalam cara masyarakat memandang infrastruktur EV. 

“Arsitektur ChargePoint Express versi terbaru, khususnya varian Express Grid, akan membawa pengisian cepat DC ke tingkat kinerja dan biaya yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan,” ujarnya, menekankan efisiensi dan kecepatan pengisian yang lebih tinggi dan ramah pengguna.

Wilmer menambahkan bahwa kolaborasi ChargePoint dengan Eaton, perusahaan manajemen energi global, menghadirkan “grid listrik cerdas” yang memungkinkan pengisian cepat terintegrasi dengan energi terbarukan dan jaringan lokal, sekaligus mengurangi biaya operasional stasiun pengisian. “Dengan kemampuan jaringan end-to-end Eaton, ChargePoint menghadirkan solusi yang membantu kendaraan listrik unggul dari sisi ekonomi murni,” kata Wilmer.

Dari perspektif industri, salah satu hambatan utama adopsi EV adalah kekhawatiran waktu pengisian. Dengan Express Grid yang memangkas durasi pengisian hingga sekitar seperlima dibanding teknologi DC fast charging saat ini, hambatan tersebut berkurang signifikan. Survei menyebut 42 persen pemilik EV mengutamakan kecepatan pengisian saat memilih stasiun umum, menegaskan pentingnya inovasi ini bagi keputusan membeli EV.

Selain mempersingkat pengisian untuk perjalanan jauh dan komuter harian, teknologi ini juga berpotensi mengurangi antrean di stasiun perkotaan. Kapasitas tinggi Express Grid memungkinkan pelayanan lebih banyak kendaraan secara efisien, sekaligus mendorong masyarakat mengadopsi EV demi efisiensi waktu, penghematan biaya, dan pengurangan dampak lingkungan.

Peluncuran Express Grid pada paruh kedua 2026 nanti menandai fase baru dalam era kendaraan listrik global. Dengan kapasitas tinggi dan integrasi cerdas dengan jaringan energi, terobosan ini berpotensi mendorong transisi global menuju mobilitas bersih dan elektrifikasi lebih luas, sekaligus memperkuat posisi infrastruktur EV Amerika Serikat di panggung internasional.

Dampak Bencana Ekologis: Tambang dan Energi Terbarukan di Sumatera Disebut Jadi Pemicu Utama

Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, belakangan ini telah memicu keprihatinan mendalam. Analisis mendalam dari Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) mengungkap bahwa musibah ini tidak hanya disebabkan oleh perubahan bentang alam akibat aktivitas pertambangan mineral dan batu bara, tetapi juga diperparah oleh ekspansi proyek-proyek energi terbarukan. Temuan ini menyoroti kompleksitas penyebab bencana dan perlunya tinjauan ulang terhadap kebijakan pengelolaan sumber daya alam.

Ekspansi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Sumatera: Ancaman Ekologis yang Nyata

JATAM mencatat adanya proliferasi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Pulau Sumatera. Data mereka menunjukkan setidaknya terdapat 28 proyek PLTA yang telah beroperasi atau sedang dalam tahap pengembangan di seluruh pulau. Distribusi proyek ini sangat terkonsentrasi di Sumatera Utara, dengan 16 titik lokasi. Menyusul di belakangnya adalah Bengkulu dengan lima PLTA, Sumatera Barat dengan tiga PLTA, serta Lampung dan Riau yang masing-masing memiliki dua PLTA.

Laporan tersebut secara tegas menyatakan, "Sebaran operasi PLTA ini menandakan bahwa hampir semua provinsi di Sumatera sedang didesak menjadi basis energi air yang sarat risiko ekologis." Implikasi dari pernyataan ini sangat luas, menunjukkan adanya pola pembangunan energi yang berpotensi mengorbankan kelestarian lingkungan.

Salah satu contoh yang disorot adalah PLTA Batang Toru dan PLTA Sipansihaporas di Sumatera Utara. Kedua proyek ini memanfaatkan aliran dari salah satu daerah aliran sungai (DAS) utama di ekosistem Batang Toru. Kawasan yang memiliki nilai ekologis vital ini kini dipenuhi oleh berbagai infrastruktur, termasuk bendungan, terowongan air, dan jaringan pendukung lainnya, yang semuanya merupakan konsekuensi dari pembangunan PLTA.

Analisis citra satelit Google Imagery yang dilakukan JATAM per 28 November 2025 semakin memperjelas dampak fisik dari proyek PLTA Batang Toru. Proyek ini dilaporkan telah membuka lahan seluas minimal 56,86 hektare kawasan hutan di sepanjang aliran sungai. Lahan tersebut digunakan untuk pembangunan fasilitas utama, kolam, jalan akses, dan area pendukung lainnya. Perubahan ini terlihat jelas sebagai area terbuka yang meluas di dalam ekosistem yang sebelumnya utuh.

Modifikasi Aliran Sungai dan Peningkatan Risiko Bencana

Kehadiran PLTA dalam skala besar memiliki konsekuensi ekologis yang signifikan. Laporan JATAM menguraikan, "Kehadiran PLTA dalam skala masif memodifikasi aliran sungai, mengubah pola sedimen, dan memperbesar risiko banjir maupun longsor di hilir ketika kombinasi curah hujan ekstrem dan pengelolaan bendungan yang buruk terjadi bersamaan." Fenomena ini menciptakan kerentanan baru, di mana bencana alam yang dipicu oleh faktor cuaca dapat diperparah oleh infrastruktur buatan manusia.

Energi Panas Bumi: Ancaman Baru di Kawasan Pegunungan

Selain PLTA, ekspansi energi panas bumi juga menjadi perhatian serius. Proyek-proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) telah mengunci ruang hidup di banyak kawasan pegunungan di Sumatera. Saat ini, tercatat delapan PLTP yang telah beroperasi di pulau ini. Sebarannya meliputi Sumatera Utara (empat PLTP), Sumatera Barat (satu PLTP), Sumatera Selatan (dua PLTP), dan Lampung (satu PLTP).

Angka ini belum mencakup wilayah yang masih berstatus Wilayah Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (WPSPE) maupun Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) yang masih dalam tahap eksplorasi. Artinya, masih ada potensi peningkatan risiko di masa depan ketika wilayah-wilayah ini beralih ke tahap operasi penuh. Proses operasi penuh ini akan melibatkan pembukaan hutan untuk pembangunan sumur produksi, jaringan pipa, dan akses jalan.

Kondisi geografis di mana sebagian besar proyek panas bumi berada, yakni di lereng-lereng gunung yang curam, menambah kompleksitas risiko. Kombinasi antara pembukaan hutan, aktivitas pengeboran, dan perubahan struktur tanah berpotensi meningkatkan kerentanan terhadap longsor dan banjir bandang.

Tiga Lapis Beban Industri di Sumatera

JATAM merangkum kondisi Sumatera saat ini dengan gambaran yang mengkhawatirkan: "Jika seluruh angka ini disatukan, terlihat jelas bahwa wajah Sumatera saat ini adalah pulau yang tubuh ekologisnya dibebani tiga lapis industri sekaligus, yakni tambang minerba yang merusak tutupan hutan dan tanah, PLTA yang memotong dan mengatur ulang aliran sungai, serta PLTP berikut WPSPE/WKP yang menggali kawasan pegunungan dan hulu DAS." Gambaran ini menunjukkan adanya akumulasi dampak negatif dari berbagai sektor industri yang saling terkait dan memperparah kerentanan lingkungan.

Kasus PLTA Batang Toru: Pendanaan dan Gugatan

Pembangunan PLTA Batang Toru dengan kapasitas 510 megawatt (MW) yang didanai oleh Tiongkok turut berkontribusi pada alih fungsi kawasan di DAS Batang Toru. Proyek ini ditargetkan untuk mulai beroperasi pada tahun 2026.

Namun, upaya untuk mendapatkan konfirmasi mengenai proyek ini menemui kesulitan. Reuters melaporkan bahwa North Sumatra Hydro Energy, pengelola PLTA tersebut, tidak memberikan tanggapan. Induk perusahaannya, SDIC Power Holdings dari Tiongkok, juga tidak memberikan jawaban langsung atas pertanyaan yang diajukan.

Di sisi lain, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) pernah mengajukan gugatan pada tahun 2018 untuk mencabut izin pemerintah terkait proyek PLTA tersebut di Pengadilan Tata Usaha Negara. Sayangnya, gugatan tersebut ditolak pada tahun 2019.

Menanggapi situasi ini, Walhi menegaskan, "Bencana ini bukan semata-mata akibat faktor alam, tetapi juga faktor ekologis, yakni salah kelola sumber daya alam oleh pemerintah." Pernyataan ini menekankan pentingnya peran pemerintah dalam memastikan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan dan bertanggung jawab demi mencegah bencana di masa depan.

Aceh Bangkit: Kolaborasi Lintas Sektor Perkuat Pemulihan Pasca Bencana

Aceh kini tengah berjuang keras untuk bangkit dari cengkeraman bencana banjir bandang dan longsor yang melanda. Upaya pemulihan, khususnya dalam aspek kelistrikan, terus digenjot melalui sinergi kuat antara berbagai pemangku kepentingan. Pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Aceh, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Republik Indonesia (Polri), dan PT PLN (Persero) bergerak serentak demi memastikan penanganan darurat berjalan efektif dan layanan kelistrikan bagi masyarakat yang terdampak dapat segera dipulihkan.

Prioritas Logistik dan Percepatan Pemulihan Listrik

Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, menegaskan bahwa distribusi bantuan logistik menjadi prioritas utama mengingat banyaknya wilayah yang masih terisolasi dan sangat membutuhkan pertolongan. "Prioritas utama pemerintah saat ini adalah pendorongan logistik bagi masyarakat, mulai dari bahan makanan, kebutuhan pribadi seperti pakaian, hingga obat-obatan. Seluruh bantuan akan didistribusikan menggunakan alutsista TNI ke titik-titik terdampak," ungkapnya.

Sjafrie juga menyoroti urgensi pemulihan kelistrikan. Ia mengapresiasi langkah cepat PLN di lapangan dan mendorong agar proses pemulihan terus dioptimalkan. "Langkah pertama adalah memperkuat mobilitas udara. Semua logistik kita konsentrasikan. Listrik harus segera hidup dalam waktu singkat. Kita akan tambah kekuatan helikopter. Evakuasi darat dan udara harus dipercepat," ujarnya, menekankan pentingnya kecepatan dalam penanganan bencana.

Dukungan Penuh dari Pemerintah Pusat

Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, turut menunjukkan dukungannya dengan mengirimkan tim khusus ke wilayah terdampak. Tujuannya adalah untuk membantu mengakselerasi penanganan bencana, dengan penekanan pada stabilisasi layanan publik, termasuk layanan kelistrikan. "Kebutuhan listrik ini sangat krusial. Kami bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, dan PLN terus mempercepat pemulihan untuk memastikan masyarakat terdampak dapat segera menikmati layanan listrik," tegas Tito.

PLN Bergerak Cepat dengan Sumber Daya Terbaik

Menindaklanjuti arahan dari Presiden, Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyampaikan bahwa PLN telah mengerahkan seluruh sumber daya dan personel terbaiknya dari berbagai unit di seluruh Indonesia. Tujuannya adalah untuk memulihkan jaringan listrik di wilayah yang terdampak bencana. Kolaborasi erat dengan seluruh pihak menjadi kunci dalam mendorong percepatan pemulihan kelistrikan pascabencana di Aceh.

"Kami mendapat arahan dari Bapak Presiden bahwa seluruh kekuatan PLN harus dikerahkan untuk membantu pemulihan bencana, baik banjir bandang maupun tanah longsor yang terjadi di Aceh. Untuk itu, sesuai arahan Bapak Presiden, kami semua berkolaborasi," ujar Darmawan.

Sinergi TNI, Polri, dan Pemerintah Daerah dalam Pemulihan

Proses pemulihan ini melibatkan kerja sama yang solid antara PLN dengan Pemerintah Provinsi Aceh, Komando Daerah Militer (Kodam) Iskandar Muda, Pangkalan TNI Angkatan Udara (AU) Sultan Iskandar Muda, Kepolisian Daerah (Polda) Aceh, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh, semuanya di bawah koordinasi pemerintah pusat.

Salah satu langkah krusial yang telah dilakukan adalah pengiriman unit-unit tower emergency dari Jakarta menuju Banda Aceh menggunakan pesawat Hercules milik TNI Angkatan Udara (AU). Selain itu, beberapa unit juga diangkut melalui jalur darat dan laut dengan dukungan penuh dari TNI Angkatan Darat (AD) dan jajaran Kepolisian.

Darmawan memberikan apresiasi khusus kepada Polri yang telah berperan penting dalam memastikan kelancaran komunikasi di tengah kondisi jaringan yang terputus. Dari sisi logistik, TNI AD memfasilitasi pengiriman material menggunakan truk dan secara aktif membuka akses menuju wilayah terdampak yang sebelumnya sulit dijangkau.

"Kami harus menggunakan helikopter untuk membawa material ke lokasi. Ada helipad yang perlu dibuka, dan di sana pasukan dari TNI dan Kepolisian ikut membantu. Kekompakan ini menjadi kekuatan besar dalam percepatan pemulihan," ungkap Darmawan, menyoroti semangat gotong royong yang ditunjukkan oleh seluruh elemen.

Dukungan Kemanusiaan dan Solidaritas Antar Instansi

Tidak hanya fokus pada pemulihan infrastruktur kelistrikan, dukungan kemanusiaan juga menjadi prioritas. Pembangunan posko, dapur umum, dan fasilitas pendukung lainnya dilakukan secara bersama-sama sebagai wujud solidaritas antar instansi.

"Seluruh komponen kekuatan Indonesia bergerak bersama. Dengan semangat perjuangan dari tim PLN, Pemerintah Daerah, TNI, Polri, serta masyarakat, kami merasakan kekompakan luar biasa. Semoga Allah SWT memudahkan segala ikhtiar ini, sehingga Aceh dapat segera pulih," pungkas Darmawan, menutup pernyataannya dengan harapan akan pemulihan yang cepat bagi tanah Rencong.

PHE Satu Pangan: Dari Tantangan Lokal Menuju Pengakuan Nasional dalam Ketahanan Pangan

Beberapa tahun lalu, para petani kecil di sekitar wilayah operasi PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menghadapi kenyataan pahit. Lahan pertanian mereka menunjukkan penurunan kualitas yang mengkhawatirkan, biaya produksi terus merangkak naik, dan ketergantungan pada pasokan dari luar semakin mengikis ketahanan pangan lokal. Situasi yang penuh tantangan inilah yang kemudian melahirkan sebuah gagasan, sebuah inisiatif yang perlahan tumbuh dan kini menjelma menjadi sumber harapan yang nyata. Harapan ini baru saja mendapatkan pengakuan di kancah nasional.

Pada acara Indonesia’s SDGs Action Awards 2025, yang merupakan bagian dari agenda Sustainable Development Annual Conference (SAC) 2025 yang diselenggarakan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), PHE berhasil meraih predikat Terbaik II dalam kategori Badan Usaha Besar. Penghargaan ini menjadi bukti nyata dampak positif dari program inovatif PHE, yaitu "PHE Satu Pangan - Sinergi Aksi Tangguh untuk Pangan". Program ini telah berhasil membawa perubahan signifikan bagi kesejahteraan masyarakat di wilayah operasinya. Penyerahan penghargaan prestisius ini dilakukan langsung oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, kepada Direktur Eksplorasi PHE, Muharram Jaya Panguriseng.

Dalam pernyataannya, Direktur Eksplorasi PHE, Muharram Jaya Panguriseng, menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh pemerintah. Ia juga menekankan bahwa pencapaian ini adalah hasil kolaborasi erat antara seluruh insan PHE dan masyarakat yang terlibat. "Program PHE Satu Pangan tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi pangan semata, tetapi juga membangun sebuah sistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan. Kami melakukannya melalui inovasi teknologi, program edukasi yang komprehensif, pengembangan model bisnis yang inovatif, serta pelibatan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar area operasi perusahaan. Ini membuktikan bahwa ketahanan energi dan ketahanan pangan dapat berjalan seiring dan saling mendukung," ujar Muharram.

Transformasi Ketahanan Pangan Melalui Inovasi dan Pemberdayaan

Program PHE Satu Pangan lahir dari komitmen mendalam untuk memberdayakan masyarakat melalui penguatan ketahanan pangan. Dampak positifnya kini telah dirasakan secara langsung oleh ribuan keluarga. Program ini telah berhasil mendorong peningkatan produksi berbagai komoditas pangan secara signifikan. Tercatat, produksi beras meningkat lebih dari 1.200 ton per tahun, jagung sebanyak 22 ton per tahun, dan cabai mencapai 9,8 ton per tahun. Selain itu, produksi telur unggas juga melonjak lebih dari 1.800 ton per tahun. Tidak berhenti di situ, program ini juga mencakup komoditas lain seperti ikan, daging unggas, dan daging ruminansia seperti kambing dan sapi. Salah satu pencapaian penting dari inisiatif ini adalah berkurangnya ketergantungan desa-desa terhadap pasokan pangan dari luar wilayah mereka.

Lebih dari sekadar peningkatan produktivitas, program ini juga membawa efisiensi yang luar biasa melalui penerapan berbagai teknologi inovatif. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Irigasi Tetes (Water Drip Irrigation): Sistem ini mengantarkan air langsung ke akar tanaman, meminimalkan penguapan dan pemborosan air.
  • Penampungan Air Hujan (Rain Harvesting): Memanfaatkan sumber daya air alami yang melimpah untuk kebutuhan irigasi.
  • Atmospheric Harvesting: Teknologi canggih yang mampu mengekstraksi uap air dari udara untuk keperluan irigasi.
  • Sistem Irigasi Otomatis Berbasis Android: Memungkinkan pengelolaan irigasi yang presisi dan efisien melalui perangkat seluler, yang mampu menekan penggunaan air hingga 40-100 persen.

Selain efisiensi air, program ini juga berhasil mengurangi penggunaan pupuk kimia secara drastis, yaitu lebih dari 400 kg per musim tanam. Penghematan biaya yang dirasakan oleh kelompok masyarakat mencapai Rp 350 juta per tahun. Untuk mengatasi tantangan budidaya di lahan kritis, PHE Satu Pangan juga memperkenalkan teknologi tambahan seperti:

  • Soil Nutrient Sensor: Alat untuk menganalisis kandungan nutrisi tanah secara akurat, membantu petani dalam pemupukan yang tepat sasaran.
  • Dry House Berbahan Briket Jerami: Solusi pengeringan hasil panen yang ramah lingkungan dan hemat biaya.
  • Alat Penyiang Cakra Baskara: Mempermudah dan mempercepat proses penyiangan gulma, meningkatkan efektivitas budidaya.

Dampak Sosial dan Lingkungan yang Luas

Dari sisi sosial, PHE Satu Pangan memberikan manfaat langsung kepada lebih dari 1.400 penerima manfaat. Sebanyak 90 kepala keluarga prasejahtera kini mengalami peningkatan kapasitas keterampilan dan pendapatan yang lebih baik. Program ini juga telah memicu terbentuknya lebih dari 25 kelompok masyarakat baru, termasuk Kelompok Wanita Tani (KWT), yang aktif berkontribusi dalam ketahanan pangan. Lebih jauh lagi, inisiatif ini telah mendorong lahirnya 4 regulasi baru dan 47 inovasi ketahanan pangan yang secara kolektif mendukung terciptanya tata kelola pertanian yang berkelanjutan.

Integrasi program ini dengan sektor energi bersih juga menjadi poin penting. Penerapan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas 22,42 kWp tidak hanya memberikan penghematan biaya listrik hingga Rp41 juta per tahun, tetapi juga berkontribusi signifikan dalam pengurangan emisi. Diperkirakan, emisi dapat berkurang sebesar 28,52 ton CO₂eq per tahun, sebuah langkah maju yang penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim sekaligus memperkuat ketahanan pangan.

Implementasi program PHE Satu Pangan tersebar di berbagai wilayah kerja Subholding Upstream Group di seluruh Indonesia, meliputi:

  • Sumatera:
    • Kabupaten Pali
    • Kabupaten Aceh
    • Kabupaten Muaro Jambi
    • Kabupaten Muara Enim
    • Kabupaten Musi Banyuasin
    • Kota Prabumulih
  • Jawa:
    • Kota Subang
    • Kepulauan Seribu
    • Kabupaten Indramayu
    • Kabupaten Tuban
    • Kabupaten Blora
    • Kabupaten Bojonegoro
    • Kabupaten Bangkalan
  • Kalimantan:
    • Kabupaten Kutai Kartanegara
    • Kabupaten Bulungan
    • Kabupaten Tana Tidung
    • Kota Bontang
  • Sulawesi:
    • Kabupaten Banggai
  • Papua:
    • Kabupaten Sorong

Penghargaan yang diraih PHE ini menjadi pengingat bahwa penguatan ketahanan pangan bukanlah sekadar sebuah program, melainkan sebuah perjalanan panjang yang menyentuh kehidupan banyak orang. PHE berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan dan dampak program ini, sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) yang meliputi pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, dan penguatan ketahanan pangan nasional.

Di samping upaya penguatan ketahanan pangan, PHE juga terus mengembangkan operasi dan bisnis di sektor hulu migas dengan prinsip-prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG). Perusahaan menerapkan kebijakan Zero Tolerance on Bribery melalui Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) yang telah berstandar ISO 37001:2016, memastikan seluruh proses bisnis berjalan bersih dari praktik-praktik penyuapan.

Diskon 50% Tambah Daya Listrik: Hemat Hingga November!

medkomsubangnetworkCara memperoleh potongan harga 50% untuk penambahan daya listrik PLN hingga November 2025.

PLN kembali menawarkan potongan harga 50% untuk penambahan daya listrik dalam program Power Hero, yang akan berlangsung sampai 23 November 2025.

Kesempatan ini dapat dimanfaatkan untuk menambah daya listrik rumah dengan biaya yang jauh lebih terjangkau.

Program potongan harga listrik untuk penambahan daya ini dapat dinikmati oleh semua kategori tarif, asalkan pelanggan sudah terdaftar sebelum tanggal 1 November 2025.

Akan tetapi, terdapat beberapa ketentuan yang harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum mengajukan penambahan daya listrik melalui program promosi ini.

Cara memperoleh potongan harga 50% untuk peningkatan daya listrik

Agar dapat menikmati diskon tambahan daya, pelanggan wajib memenuhi persyaratan berikut:

-Telah menjadi pelanggan PLN sebelum 1 November 2025

- Menyelesaikan semua tunggakan listrik dan kewajiban lainnya

- Membayar penuh biaya penyambungan (tidak ada opsi cicilan).

- Membeli token listrik atau melunasi tagihan listrik menggunakan aplikasi PLN Mobile.

Setiap akun PLN Mobile dapat menerima hingga empat voucher tambah daya, yang bisa diterapkan pada IDPEL yang berbeda-beda.

Pelanggan yang menggunakan promo ini tidak diizinkan untuk menurunkan daya selama 12 bulan. Pengecualian berlaku jika mereka telah melakukan penambahan daya dengan biaya normal dan permintaan penurunan daya tidak melebihi kapasitas akhir yang ditetapkan dalam promo.

Cara mengajukan voucher diskon untuk penambahan daya listrik

PLN menerangkan bahwa pengajuan diskon 50 persen ini sepenuhnya dapat dilakukan melalui aplikasi PLN Mobile. Berikut adalah panduannya:

-Dapatkan token listrik atau lunasi tagihan listrik Anda lewat aplikasi PLN Mobile

-Usai pembayaran sukses, pelanggan berhak menerima kode voucher pengisian daya.

- Saat Anda mengajukan permohonan Tambah Daya melalui aplikasi, silakan cantumkan nomor voucher yang Anda miliki.

-PT PLN menginformasikan promo tersebut melalui akun Instagram resminya, yaitu @pln123_official, dengan disertai pesan:

Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, PLN Mobile menawarkan potongan harga sebesar 50% untuk penambahan daya. Promosi ini berlaku bagi seluruh pelanggan daya 1 fasa, mulai tanggal 10 hingga 23 November 2025, dan hanya dapat diakses melalui aplikasi PLN Mobile.

Rincian biaya penambahan daya listrik dengan diskon 50 persen

Berikut adalah rincian lengkap biaya penambahan daya listrik dengan potongan harga 50%, sesuai data resmi dari PLN:

Daya 450 VA

1.300 VA: harga normal Rp 796.450 kini menjadi Rp 398.225

Ke 2.200 VA: harga normal Rp 1.639.750 kini menjadi Rp 819.875

Ke 3.500 VA: harga normal Rp 2.955.450 menjadi Rp 1.477.725

Ke 4.400 VA: harga normal Rp 3.827.550 menjadi Rp 1.913.775

5.500 VA: harga normal Rp 4.893.450 turun menjadi Rp 2.446.725

7.700 VA: harga normal Rp 7.025.250 turun menjadi Rp 3.512.625

Daya 900 VA

1.300 VA: harga normal Rp 374.800 kini menjadi Rp 187.400

2.200 VA: harga normal Rp 1.218.100 turun menjadi Rp 609.050

Ke 3.500 VA: harga normal Rp 2.519.400 kini menjadi Rp 1.259.700

4.400 VA: Harga asli Rp 3.391.500 kini menjadi Rp 1.695.750

5.500 VA: Harga dari Rp 4.457.400 turun menjadi Rp 2.228.700.

7.700 VA: Harga normal Rp 6.589.200 kini menjadi Rp 3.294.600

Daya 1.300 VA

Ke 2.200 VA: harga normal Rp 843.300 menjadi Rp 421.650 Ke 2.200 VA: harga normal Rp 843.300 turun menjadi Rp 421.650 Ke 2.200 VA: harga normal Rp 843.300 kini Rp 421.650 Ke 2.200 VA: harga normal Rp 843.300 didiskon menjadi Rp 421.650 Ke 2.200 VA: harga normal Rp 843.300 sekarang Rp 421.650

Ke 3.500 VA: harga normal Rp 2.131.800 turun menjadi Rp 1.065.900

Ke 4.400 VA: harga asli Rp 3.003.900 kini menjadi Rp 1.501.950

Ke 5.500 VA: harga normal Rp 4.069.800 menjadi Rp 2.034.900

7.700 VA: harga normal Rp 6.201.600 turun menjadi Rp 3.100.800

Daya 2.200 VA

Ke 3.500 VA: diskon 50%, dari Rp 1.259.700 menjadi Rp 629.850

Ke 4.400 VA: harga normal Rp 2.131.800 turun menjadi Rp 1.065.900

Untuk kapasitas 5.500 VA, harga yang semula Rp 3.197.700 kini menjadi Rp 1.598.850.

Ke 7.700 VA: harga normal Rp 5.329.500 menjadi Rp 2.664.750

Daya 3.500 VA

Ke 4.400 VA: harga normal Rp 872.100 menjadi Rp 436.050

5.500 VA: harga normal Rp 1.938.000 kini menjadi Rp 969.000

7.700 VA: harga normal Rp 4.069.800 turun menjadi Rp 2.034.900

Daya 4.400 VA

Ke 5.500 VA: harga normal Rp 1.065.900 kini menjadi Rp 532.950

7.700 VA: harga semula Rp 3.197.700 kini menjadi Rp 1.598.850

Daya 5.500 VA

7.700 VA: Harga normal Rp 2.131.800 kini menjadi Rp 1.065.900

Berikut ini adalah rangkuman tentang potongan harga 50% untuk penambahan daya listrik di bulan November 2025, mencakup persyaratan, langkah-langkah mendapatkan voucher, dan rincian tarif setelah diskon. (medkomsubangnetwork/ Kompas.com )

Featured Image

Kinerja PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) pada semester I tahun 2025 menunjukkan hasil yang beragam. Meskipun pendapatan perusahaan mengalami peningkatan, laba bersih justru mengalami penurunan. Berikut adalah rincian kinerja PGEO berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2025:

Pendapatan dan Laba Bersih

  • Pendapatan: PGEO mencatatkan pendapatan sebesar US$ 204,85 juta. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 0,53% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).
  • Laba Bersih: Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mengalami penurunan sebesar 28,37% yoy, menjadi US$ 68,96 juta.

Aset dan Kas

  • Total Aset: Total aset PGEO mencapai US$ 3,05 miliar, meningkat sebesar 1,62% yoy.
  • Total Kas dan Setara Kas: Total kas dan setara kas perusahaan tercatat sebesar US$ 712,34 juta, tumbuh 8,69% yoy.

Optimisme Perusahaan di Tengah Tantangan Global

Meskipun laba bersih mengalami penurunan, manajemen PGEO menyatakan optimisme terhadap kinerja perusahaan. Direktur Keuangan Pertamina Geothermal Energy, Yurizki Rio, menyampaikan bahwa kinerja PGEO berada pada jalur yang sehat, menandakan fundamental keuangan perusahaan yang kuat. Menurutnya, hal ini didorong oleh produksi yang melampaui proyeksi awal.

Yurizki menambahkan bahwa kinerja bisnis PGEO menunjukkan peran strategis panas bumi sebagai sumber energi terbarukan dalam mendukung transisi energi di Indonesia. Meskipun terdapat tantangan geopolitik dan ekonomi global yang memengaruhi pendanaan proyek dan biaya operasional, PGEO tetap mampu mencatatkan kinerja operasional yang solid.

Produksi Energi dan Efisiensi Operasional

Produksi energi pada kuartal II tahun 2025 telah melampaui proyeksi awal, yang turut mendorong pertumbuhan pendapatan perusahaan. Lebih lanjut, Yurizki menjelaskan bahwa net profit perusahaan tetap sehat, dan EBITDA margin terjaga di atas 80%, mencerminkan efisiensi dan profitabilitas dalam mengelola aset dan operasional.

Target Kapasitas Terpasang 1 GW

PGEO optimistis terhadap pencapaian target 1 gigawatt (GW) kapasitas terpasang yang dikelola mandiri. Optimisme ini didukung oleh sejumlah proyek kunci yang tengah digarap perusahaan, antara lain:

  • Pengembangan Hululais Unit 1 & 2: Proyek ini memiliki kapasitas 110 megawatt (MW).
  • Proyek Co-generation: Proyek-proyek ini memiliki total kapasitas 230 MW.
  • Eksplorasi Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Tiga: Proyek eksplorasi ini diresmikan pada bulan Juni.
  • PLTP Lumut Balai Unit 2: Beroperasinya PLTP Lumut Balai Unit 2 pada akhir Juni menambah pasokan listrik sebesar 55 MW ke jaringan nasional. Hal ini diharapkan berdampak positif terhadap kinerja keuangan PGEO sepanjang tahun.

Komitmen Terhadap Energi Bersih dan Pemberdayaan Masyarakat

Direktur Utama Pertamina Geothermal Energy, Julfi Hadi, menegaskan komitmen PGEO sebagai perusahaan energi hijau kelas dunia untuk menyediakan energi bersih berbasis panas bumi yang stabil dan andal. Hal ini merupakan bagian dari kontribusi nyata terhadap pencapaian target Net Zero Emission 2060 Indonesia.

Julfi menambahkan bahwa perjalanan menuju 1 GW ditempuh dengan konsistensi dan keyakinan. Beroperasinya Lumut Balai Unit 2, proyek eksplorasi (green field) PLTP Gunung Tiga, serta pengembangan berbagai proyek lainnya merupakan bukti konsistensi PGE dalam mengembangkan pemanfaatan panas bumi.

Lebih lanjut, Julfi menegaskan bahwa misi PGEO tidak hanya menyediakan energi listrik, melainkan juga memberdayakan masyarakat di sekitar wilayah operasional. PGEO percaya bahwa energi panas bumi harus memberikan manfaat bagi semua.

Inisiatif Sosial dan Penghargaan

Selain melakukan investasi strategis dan menjaga profitabilitas, PGEO juga memastikan bahwa setiap langkah perusahaan turut mendorong ekonomi sirkular dan meningkatkan kesejahteraan komunitas sekitar. Komitmen ini tercermin melalui berbagai inisiatif sosial yang telah diakui secara global, termasuk delapan penghargaan yang diraih dalam ajang Indonesia Social Responsibility Award (ISRA) 2025.

Pengalaman dan Target Jangka Panjang

Dengan pengalaman lebih dari 40 tahun, PGEO saat ini mengelola kapasitas terpasang sebesar 1.932 MW, terdiri dari 727 MW yang dikelola mandiri dan 1.205 MW bersama mitra. PGEO optimistis dapat meningkatkan kapasitas terpasang mandiri menjadi 1 GW dalam 2-3 tahun ke depan, serta mencapai 1,7 GW pada 2033. Hal ini menunjukkan komitmen jangka panjang PGEO dalam mengembangkan energi panas bumi di Indonesia dan berkontribusi pada transisi energi yang berkelanjutan.

Diberdayakan oleh Blogger.