Halloween party ideas 2015
Tampilkan postingan dengan label seni. Tampilkan semua postingan

medkomsubangnetwork, MANGUPURA - Menjelang pergantian tahun 2025, ruang keseharian kita terus dijejali kabar-kabar yang menyesakkan: perang, kerusuhan, bencana alam, hingga berbagai bentuk kejahatan yang seolah tak pernah berhenti. 

Arus informasi yang deras—yang hadir tanpa henti melalui layar gawai di genggaman, tak jarang membuat dada sesak dan kewarasan kita diuji setiap waktu. 

Di tengah gempuran itu, kita membutuhkan ruang untuk bernafas; sebuah oase tempat kesadaran dipulihkan dan harapan kembali ditumbuhkan, sebuah utopia.

Bentara Budaya dan Komunitas Seni Rupa HOCA (House Of Cartoon maniA) menangkap kebutuhan tersebut lalu bekerja sama menghadirkan oase tersebut lewat pameran karya seni modern yang bernuansa positif di Bali. 

Pameran bertajuk “UTOPIA 2025” ini hadir karena adanya kebutuhan akan ruang refleksi atas berbagai peristiwa sepanjang tahun 2025. 

Pembukaan Pameran seni visual “UTOPIA 2025” ini berlangsung pada Jumat 5 Desember 2025 petang, di Hotel Tijili Seminyak, Jl. Drupadi Seminyak No.9 Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali. 

Pameran berlangsung dari tanggal 5 Desember, dan berakhir pada 14 Desember 2025. 

Karya-karya yang sudah dipamerkan dan belum diambil oleh kolektor atau dengan persetujuan kolektornya akan dipamerkan kembali di Hotel Tijili Benoa, Nusa dua, Bali. 

Pameran UTOPIA 2025 dibuka oleh Manajer Bentara Budaya, Ika W Burhan, Kadispar Kota Denpasar Ni Luh Putu Riyastiti, Kasi Promosi Dispar Bali I Ketut Yadnya Winarta, perwakilan HOCA, perwakilan Baliola dan perwakilan Hotel Tijili.

Pameran ini menghadirkan 17 perupa anggota HOCA yang berasal dari berbagai daerah.

Ke-17 seniman tersebut adalah Agus Yudha (Denpasar), Andhika Wicaksana (Denpasar), Beng Rahadian (Jakarta), Damuh Bening (Jakarta), Den Dede (Makassar), Ika W Burhan (Bogor), I Wayan Nuriarta (Denpasar), I Made Marthana Yusa (Tabanan), I Komang Try Adi Stanaya (Denpasar), Ninik Juniati (Surabaya), Pinky Sinanta (Karangasem), Putu Ebo (Denpasar), Pradya (Denpasar), Supradaka (Jakarta), Thomdean (Tangerang) dan Yere Agusto (Denpasar) dan Yulius Widi Nugroho (Surabaya).

Para perupa menghadirkan 52 karya dalam berbagai bentuk karya visual berupa lukisan, ilustrasi, kartun, maupun tenun (fashion). 

Terinspirasi dari gagasan Utopia dengan sub tema mengangkat sisi-sisi positif dari kondisi-kondisi suram (negatif) yang ada di tataran lokal, nasional dan international, pameran ini menghadirkan kembali imajinasi tentang tatanan masyarakat yang harmonis, maju, tertib, dan nyaris sempurna—sebuah dunia ideal di mana kejahatan, keserakahan, dan kekacauan tidak lagi menjadi arus utama kehidupan. 

Sebagaimana menggunakan utopia untuk mengkritik kondisi sosial-politik zamannya, pameran ini menghadirkan karya-karya yang memantik imajinasi tentang keadaan yang lebih baik, bukan dengan menonjolkan keburukan, melainkan dengan menampilkan kemungkinan ideal yang layak diperjuangkan.

Keistimewaan Pameran Seni Rupa “UTOPIA 2025”, selain kerja sama dengan Bentara Budaya, juga terletak pada kolaborasi antara HOCA dengan Baliola, start up yang menginisiasi Sertifikat Digital Kraflab berbasis Blockchain. 

"Ini kan kerja sama antara Bentara Budaya dengan HOCA, sudah yang ketiga ya, bahkan mungkin keempat, sedangkan dengan Kraflab ini baru pertama kali. Jadi, sertifikasi digital ini saya rasa unik ya," ujar Manajer Bentara Budaya, Ika W Burhan, disela pembukaan pameran.

Menurutnya embel-embel bahwa karya itu tidak akan hilang, itu ia kira perlu dipikirkan, perlu pertimbangkan, untuk ikuti perkembangan teknologi seperti Sertifikat Digital Kraflab. 

Kemudian harapannya bahwa pameran ini dari Bentara sendiri ingin tetap bisa merangkul banyak komunitas, tidak hanya HOCA tetapi komunitas seni lainnya.

"Dengan bekerja sama dengan komunitas, sesuai dengan CEO Letter Kompas Gramedia ya, bahwa kita tetap merangkul anak-anak muda, baik itu penonton maupun pelanggan seninya," imbuh Ika.

Selain itu, pihaknya juga berharap Pameran Seni Visual UTOPIA ini akan menjadi agenda rutin tahunan bersama HOCA dan dengan menggandeng komunitas lainnya.

Untuk penyelenggaraan berikutnya, Ika pun berkeinginan untuk merangkul seniman yang berbasis karya di atas daun lontar.

"Itu agenda berikutnya saya minta teman-teman tim di Bali untuk mencari para pelukis di atas daun lontar. Walaupun itu kesannya seperti lawasan, tapi kan diterjemahkannya dengan lebih kekinian. Karya situasi kini, tapi di atas daun lontar," ungkapnya.

Lebih lanjut Ika menyampaikan, ke depannya setiap bulan akan selalu ada pameran seperti di Jakarta, Bali, dan juga Jogja.

Di mana khusus Bentara Budaya di Bali dalam setahun bisa dua hingga kali digelar.

Seluruh karya yang ditampilkan dalam UTOPIA 2025 sudah disertifikasi dengan perlindungan pencatatan digital yang tak bisa diubah dalam Blockchain. 

Hal ini adalah terobosan baru dalam perlindungan karya dan peningkatan value. 

Umumnya sertifikat dikeluarkan oleh kreatornya sendiri yang memiliki kemungkinan untuk digandakan atau dipalsukan oleh pihak-pihak yang tak bertanggungjawab. 

Namun dengan Sertifikat Digital Kraflab yang diverifikasi oleh komunitas seperti HOCA, sulit untuk melakukan kejahatan seperti itu terhadap karya-karya yang telah tersertifikasi Kraflab.

Kurator pameran I Wayan Nuriarta, melalui kacamata “UTOPIA” mengajak pengunjung melihat kembali kesuraman yang ada—baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional—dan mencari sisi-sisi positif, potensi, serta harapan yang tersembunyi di dalamnya. 

Sering kali kita terjebak dalam kritik yang hanya menyoroti keburukan. Padahal, kritik juga dapat dilakukan dengan menunjukkan gambaran ideal yang seharusnya hadir dalam masyarakat. 

Lewat karya-karya bernapaskan utopia, para perupa menghadirkan kemungkinan-kemungkinan yang mendorong kita membayangkan masa depan yang lebih cerah sekaligus menantang diri sendiri untuk mewujudkannya, dimulai dari lingkup hidup yang paling dekat.  

“UTOPIA” bukan sekadar pameran visual, tetapi sebuah undangan untuk merayakan harapan, membayangkan tatanan yang lebih manusiawi, dan menemukan kembali keteduhan di tengah dunia yang gaduh. 

Pameran ini mengajak publik untuk melihat, merenung, dan pada akhirnya percaya bahwa dunia yang lebih baik tetap mungkin diwujudkan.(*)

Kumpulan Artikel Bali

Pameran ”Around and About” Ode Observasi Minor

KORAN - PIKIRAN RAKYAT - Melalui pameran bertajuk "Around and About", Aurora Arazzi mempersembahkan sebuah ode ­untuk observasi-observasi minor dan tak ­berbahaya. Pa­meran tunggal yang menampilkan ­belasan karya instalasi seni dan lukisan tersebut hadir di ArtSociates Gallery and Cafe, Jalan Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat, 24 Oktober-24 ­November 2025.

Kurator Lisa Mar­kus me­nye­but­kan, dari ko­leksi observasi Aurora dalam pameran ini, serangkaian nuansa yang persisten muncul. Kar­ya instalasi seni dan lukisan disa­jikan dengan cara berbeda oleh Aurora.

Dia mempertimbangkan pengalaman berja­lan kaki, yaitu menemukan, memungut benda atau objek, dan merekam ruang untuk menjadi bahan pertimbang­an eks­­plorasi karyanya. Pe­nya­ji­an karya seni rupa kontemporer  Aurora juga meng­upa­ya­kan kategori peng­alam­an seni.

Pertama, rasa ingin tahu. Bukan terhadap suatu objek atau lokasi tertentu yang me­narik, melainkan untuk me­lepaskan diri dari rutinitas dalam metode menggambar yang biasa, jalur perja­lanan yang paling efektif, de­ngan cara-cara yang telah 'terlalu dikenal'.

"Oleh karena itu, observasi Aurora didorong oleh do­rong­an menuju hal yang tak di­ketahui, yaitu tujuan yang tak diketahui dan titik akhir yang tak diketahui. Hal yang tak diketahui datang sebe­lum penemuan, dan rasa ­ingin tahu datang sebelum berjalan," tutur Lisa.

Kedua, berjalan adalah fa­silitator untuk memurni­kan hal yang diketahui guna mem­beri ruang bagi pemi­kir­­an-pemikiran baru. Pa­par­an adalah penyeimbang yang menjaga berjalan sebagai aktivitas yang adil jika tidak netral.

Dalam berjalannya, kata Lisa, Aurora terpapar stimulus sama seperti stimulus itu baginya. Ia terlindungi dari orang lain dan stimulus, le­wat tikungan jalan, perbedaan ketinggian dan medan, sebagaimana beberapa sti­mulus tersembunyi bagi­nya melalui cara yang sama.

Ketiga, objek. Dalam perjalanannya, Aurora menya­da­ri bagaimana observasi, rasa ingin tahu, dan hasrat cenderung saling memicu dia pasti akan menemukan objek yang menggelitiknya. Bayangkan pikirannya seperti museum dengan komite etik yang solid yang mencoba menentukan kemungkinan aksesi artefak.

Menurut Lisa, objek-objek yang muncul dalam karya­nya adalah objek-objek bebas, liar, dan hilang. Objek-objek yang tidak bebas, atau tidak dapat dikoleksi, ia tiru melalui video, lipatan kertas, lukisan, patung, dan cara-cara lainnya.

Terakhir, simulasi. Keasli­an bukanlah perhatian utama Aurora karena mengha­dirkan susunan material asli bukanlah tujuannya dalam menggabungkan objek-objek itu. Melain­kan, karena ia me­rasa perjalanan observa­sinya hanya dapat ditransfer melalui pengalaman.

"Pameran 'Around and About' memandu pengunjung ke dalam latihan me­ngamati dengan penuh perhatian," kata Lisa.

Ruangan

Aurora mengatakan, peng­alaman yang ingin dibagi ke pengunjung pameran  ada­lah ruangan yang bisa diolah. Ruang galeri unik karena ada lower-gro­und dan upper-ground. Per­bedaan ruang itu jadi peluang.

Pengalaman jalan kaki, memulung pengalaman, dan bentuk dan objek untuk di­konfigurasi menjadi bentuk lain. Berjalan kaki di sini cenderung mengeksplorasi berjalan di ruang pameran.

"Di karya 'Sailing the Duck Weed' misalnya, saya me­ng­a­jak publik merasa­kan kembali pengalaman berja­lan kaki di ruang artistik secara lebih intim, sehing­ga menjadi sebuah aksi performatif dilihat oleh orang lain. Selamat menyemplung di air kertas yang sudah saya saji­kan di galeri," ucap Aurora.

Aurora Arazzi adalah seniman kontemporer Indonesia yang praktiknya mencakup seni pahat, gambar, lukisan, dan instalasi. Dia terobsesi dengan penggunaan benda-benda sehari-hari, eksplorasi material, serta teknik-teknik kertas yang rumit.

Karya seni Aurora bersumber dari pengalaman pribadi dan lingkungan sekitarnya untuk menghadirkan perenungan tentang realitas, ga­gasan, dan bentuk. Dia me­lepaskan diri dari konvensi latar belakang seni cetaknya.***

Tari Topeng Bajra Geni: Suara Pelestarian Lingkungan di Bali

, MANGUPURA -Pentas Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali, kembali menjadi saksi keelokan seni tradisional Bali dengan menghadirkan cerita yang penuh makna.

Sanggar Seni Bajra Geni, Banjar Batu, Desa Mengwi, Kecamatan Mengwi, tampil luar biasa dalam acara Rekasadana (Pagelaran) Topeng Bondres yang mereka tampilkan sebagai utusan Kabupaten Badung dalam rangka Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47, pada hari Rabu tanggal 9 Juli 2025.

Dengan judul "Damar Sasangka", Sanggar Bajra Geni menyajikan pertunjukan yang penuh makna filosofis.

"Kisah Damar Sasangka" menjadi lambang dari seorang pemimpin yang tulus, seperti lampu di tengah kegelapan, ia muncul untuk memberi cahaya, bukan hanya memberikan alasan, tetapi berbicara tentang kebenaran.

Tokoh utama dalam pertunjukan ini adalah Ida Cokorda Nyoman Mayun, Raja Kawya Pura, yang menghadapi tantangan berat ketika Subak Batan Tanjung mengalami kekeringan dan perselisihan di dalamnya.

Alih-alih membuat keputusan dengan tergesa-gesa, raja memutuskan melakukan meditasi di Pucak Pengelengan guna menyelaraskan dirinya dengan kehendak alam semesta.

Setelah menerima wahyu, solusi ditemukan, yaitu sebuah upacara suci yang disebut Aci Tulak Tunggul diadakan di Dam Pura Taman Ayun.

Upacara ini memanfaatkan peralatan keagamaan yang bernama pekelem ulam suci serta diiringi oleh Baris Keraras, tradisi yang hingga saat ini masih terus dipertahankan dalam piodalan di Pura Taman Ayun.

Cerita ini tidak hanya menggambarkan kepemimpinan spiritual yang penuh tanggung jawab, tetapi juga menyampaikan pentingnya menjaga lingkungan, khususnya air sebagai sumber kehidupan dan penghidupan pertanian.

Di era modern, pesan ini sangat penting, yaitu para pemimpin perlu mampu menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, antara dunia besar dan dunia kecil.

Sebelum memasuki inti cerita, pertunjukan dimulai dengan tabuh pembuka dan tiga tampilan Topeng khas, yaitu Topeng Keras, Topeng Tua, dan Topeng Bondres Monyer Manis.

Ketiganya memperlihatkan perjalanan kepribadian Bali, terutama dari kekuatan dan kebijaksanaan hingga kelucuan dan kritik sosial.

Anak Agung Bagus Sudarma sebagai pembina tari menjelaskan bahwa pertunjukan ini diambil dari Babad Mengwi, khususnya cerita mengenai Aci Tulak Tunggul.

"Ini merupakan bagian dari upaya menjaga pertanian serta kesejahteraan masyarakat Subak Batan Tanjung. Cerita ini menunjukkan betapa pentingnya air, bendungan, dan keseimbangan dalam kehidupan," katanya.

Ia menuturkan, persiapan pertunjukan telah dilakukan sejak Maret 2025, dengan melibatkan sekitar 50 seniman tari dan pemain alat musik.

"Hari ini merupakan puncak dari ekspresi dan kreativitas kami. Terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Bali yang konsisten menyelenggarakan PKB sebagai wadah pelestarian budaya," katanya dengan rasa syukur.

Di sisi lain, pembina tabuh, I Wayan Griya, menyampaikan apresiasi terhadap dukungan yang diberikan Kabupaten Badung dalam melestarikan seni tradisional.

"Ini merupakan pertama kalinya kami diberi kepercayaan sebagai utusan Badung untuk mempersembahkan Topeng kreatif di PKB. Terima kasih kepada pemerintah dan para pemain muda yang telah menunjukkan komitmen luar biasa," katanya.

Ia menekankan peran pentingnya tempat seni sebagai alternatif aktivitas positif bagi kalangan pemuda.

"Melalui seni, para pemuda memperoleh pelajaran penting dalam kehidupan serta terhindar dari kegiatan yang tidak baik. Itu adalah tujuan utama kami," tegasnya.

Selanjutnya, Wayan Griya menyampaikan bahwa perkembangan seni di Badung kini semakin menarik.

"Dari desa hingga kecamatan dan kabupaten, pembinaan dilakukan secara terencana. Hal ini menunjukkan adanya keterlibatan yang kuat antara para seniman dan pemerintah," ujarnya.

Pertunjukan Topeng Bondres “Damar Sasangka” bukan sekadar tampilan visual yang menarik, tetapi juga menyajikan wawasan mendalam mengenai makna kepemimpinan yang bertanggung jawab, spiritual, dan berakar pada bumi.

Penonton tidak hanya dihibur dengan tawa atau keindahan tarian dan alunan gamelan, tetapi juga diajak untuk merenung mengenai air yang memberi kehidupan, petani yang berjuang, serta pemimpin yang memilih jalan sendirian demi menemukan cahaya harapan.

Dengan tampilan yang indah dan cerita yang menggambarkan akar budaya Bali, Sanggar Seni Bajra Geni mampu menyampaikan pesan bahwa seni merupakan tempat pembelajaran, refleksi, serta pelestarian warisan yang tak pernah pudar. (Gus)

Kumpulan Artikel Badung

Diberdayakan oleh Blogger.