Halloween party ideas 2015
Tampilkan postingan dengan label masyarakat. Tampilkan semua postingan

medkomsubangnetwork - Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi mengunjungi Kawasan Transmigrasi Kuamang Kuning di Lapangan Desa Karya Harapan Mukti, Kecamatan Pelepat Ilir, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi, Minggu (7/12/2025). 

Ribuan orang yang memadati lapangan tersebut menyambut kedatangan Wamentrans dengan lantunan selawat badar untuk mengikuti tablig akbar.

Sejak pagi, warga datang menggunakan sepeda motor dan berbagai angkutan untuk menghadiri acara yang diselenggarakan Ikatan Muslim Kuamang Kuning (IMKK) itu.

Kegiatan itu berlangsung istimewa. Selain dihadiri Wamentrans, turut hadir Wakil Gubernur Jambi Abdullah Sani, Bupati Bungo Dedy Putra, Wakil Bupati Bungo Tri Wahyu Hidayat, unsur forkopimda, serta jajaran pemerintah daerah dari tingkat kabupaten hingga desa.

Tablig akbar bertema “Membentang Harapan, Menguatkan Peradaban: Transmigrasi Sebagai Jalan Berkah untuk Generasi Muda ke Depan” itu juga menghadirkan pengasuh Pondok Pesantren Sunan Kalijogo, Sragen, Jawa Tengah, Kiai Haji Mawardi, sebagai penceramah.

Acara tersebut dijaga oleh aparat Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Banser, dan anggota Perguruan Silat Setia Hati Teratai.

Selain menjadi ajang menimba ilmu agama dan mempererat silaturahmi bagi transmigran dan masyarakat setempat, kegiatan itu juga menjadi peluang bagi pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) untuk memperoleh pendapatan.

Di hadapan ribuan jemaah, Viva Yoga menyampaikan rasa syukur dapat hadir dalam acara itu. Dia mengatakan, Kawasan Transmigrasi Kuamang Kuning memiliki jejak sejarah tersendiri.

“Dibuka sebagai kawasan transmigrasi pada 1985, setahun kemudian, Presiden Suharto dan Menteri Transmigrasi Martono hadir di Kuamang Kuning,” ujar Viva dalam siaran persnya, Selasa (9/12/2025). 

Viva menambahkan, kunjungan presiden kala itu menunjukkan bahwa Kuamang Kuning merupakan kawasan yang penting.

“Setelah 1986, sekarang saya hadir kembali di sini,” katanya disambut tepuk tangan jemaah.

Dia mengungkapkan, pada masa pemerintahan Suharto, transmigrasi dikelola oleh kementerian khusus. Oleh karena itu, Presiden Prabowo Subianto pun membentuk kembali kementerian tersendiri untuk mengelola transmigrasi.

Viva mengaku bangga melihat Kuamang Kuning yang kini berkembang menjadi desa yang maju, mandiri, dan sejahtera sejak program transmigrasi dimulai pada 1985.

Sebagai kawasan yang mayoritas warganya berprofesi sebagai petani sawit, Kementerian Transmigrasi (Kementrans) berupaya terus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “

Saya mendengar di sini setiap bulan ada yang umrah,” ujar Viva.

Menurutnya, peningkatan kesejahteraan transmigran merupakan wujud paradigma baru transmigrasi. Program ini tidak lagi sekadar memindahkan penduduk, tetapi berfokus pada peningkatan taraf hidup masyarakat.

Meski demikian, lanjut Viva, kesejahteraan tidak datang secara instan. Diperlukan usaha dan kerja keras.

Dia berharap warga tetap giat bekerja seperti generasi pertama. Penerima lahan seluas 2 hektar (ha) saat itu berhasil mengubah kawasan hutan menjadi perkebunan sawit produktif melalui perjuangan dan ketekunan.

“Sekarang generasi kedua sudah menikmati hasilnya,” tutur Viva. 

Dia menegaskan, produktivitas perkebunan sawit di kawasan transmigrasi telah berdampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Menurut Viva, hal tersebut menunjukkan bahwa program transmigrasi mampu menciptakan kawasan pertumbuhan ekonomi baru.

“Adanya aktivitas manusia memunculkan kegiatan ekonomi, budaya, sosial, hingga tumbuh pusat-pusat peradaban,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Viva juga mendoakan masyarakat Kuamang Kuning agar selalu mendapatkan rezeki yang berlimpah, diberi kesehatan, dijauhkan dari bencana, ditambahkan imannya, serta senantiasa menjaga silaturahmi dan kerukunan.

Setelah tablig akbar, bertempat di Kantor Desa Karya Harapan Mukti, Viva menerima puluhan transmigran dari Kawasan Transmigrasi Batin III Ulu.

Mereka menyampaikan sejumlah aspirasi, termasuk pembangunan jalan beraspal di Satuan Pemukiman (SP) I dan SP II.

Dalam pertemuan yang turut dihadiri Bupati Dedy Putra, Viva juga menerima aspirasi terkait pembangunan jalan nonstatus.

“Program pembuatan jalan nonstatus ini akan dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2026,” terangnya.

Pancarkan Pesona Alami: Rekomendasi Bronzer Lokal Terbaik untuk Kulit Indonesia

Industri kecantikan lokal kini semakin berinovasi, menghadirkan produk-produk berkualitas tinggi yang mampu bersaing di pasar global. Salah satu produk yang kian diminati adalah bronzer lokal. Diciptakan dengan pemahaman mendalam akan karakter kulit wanita Indonesia, bronzer lokal menawarkan pigmentasi yang kaya, kemudahan dalam aplikasi, dan hasil akhir yang membuat riasan tampak lebih berdimensi serta alami. Khusus bagi pemilik kulit sawo matang, kini pilihan warna bronzer semakin beragam dan ramah digunakan, membuka peluang untuk tampilan makeup yang lebih standout tanpa terkesan berlebihan.

Berikut adalah tujuh rekomendasi bronzer lokal terbaik yang patut Anda pertimbangkan untuk melengkapi koleksi makeup Anda:

1. Inez Radiant Touch Bronzing Powder

Memulai daftar ini adalah Inez dengan produk unggulannya, Radiant Touch Bronzing Powder. Dikemas dalam packaging khas Inez yang elegan, bronzer ini memiliki tekstur yang sangat halus. Kehalusan ini memungkinkan terciptanya efek shading 3D yang membuat struktur wajah tampak lebih tegas dan berdimensi. Memberikan hasil akhir matte, bronzer ini memancarkan kesan mewah yang sangat cocok untuk digunakan sehari-hari maupun pada acara-acara spesial. Keunggulan lainnya adalah formulanya yang buildable, artinya Anda dapat dengan mudah menyesuaikan intensitas warna sesuai dengan tone kulit dan kebutuhan riasan Anda.

Harga Inez Radiant Touch Bronzing Powder: sekitar Rp55.000.

2. Sun Shade Kusuma Kosmetika

Selanjutnya, hadir dari Kusuma Kosmetika dengan produk Sun Shade. Bronzer ini dirancang khusus untuk mencegah tampilan riasan yang monoton. Seringkali dianggap sebagai hidden gem di dunia kecantikan lokal, Sun Shade banyak dibicarakan karena sangat ramah untuk kulit sawo matang. Formulasinya dikembangkan dengan mempertimbangkan iklim Indonesia yang panas dan lembap, sehingga mampu memberikan daya tahan hingga 7 jam pemakaian di luar ruangan. Tersedia dalam empat pilihan warna, bronzer ini memberikan hasil akhir yang menyatu sempurna dengan warna kulit perempuan Indonesia, memberikan sentuhan hangat dan alami.

Harga Sun Shade Kusuma Kosmetika: sekitar Rp101.000.

3. Dew It Sunkissed Bronzer Stick

Bagi Anda yang menyukai kepraktisan, Dew It Sunkissed Bronzer Stick adalah pilihan yang tepat. Bronzer berbentuk stick ini tidak hanya memberikan dimensi pada wajah, tetapi juga dilengkapi dengan SPF untuk perlindungan ekstra. Menghasilkan satin finish yang sehat dan bercahaya, formulanya terasa ringan dan mudah menyatu dengan kulit. Diperkaya dengan antioksidan dan bahan-bahan yang menenangkan kulit, bronzer ini tidak hanya mempercantik tetapi juga berkontribusi dalam menjaga kesehatan kulit wajah. Teksturnya yang creamy dan kemasannya yang berbentuk tube menjadikannya produk yang ideal dan sangat praktis untuk dibawa bepergian.

Harga Dew It Sunkissed Bronzer Stick: sekitar Rp135.000.

4. Somethinc EGGO 3D Contour Bronzer

Somethinc tak ketinggalan dalam menghadirkan bronzer lokal berkualitas. EGGO 3D Contour Bronzer dari Somethinc hadir dengan formula ringan yang menggunakan teknologi nano powder texture. Teknologi ini memastikan bronzer menyatu dengan mulus ke dalam kulit. Dengan pigmentasi yang baik dan sifat buildable, bronzer ini juga memiliki ketahanan tinggi terhadap keringat. Hal ini membuatnya ideal untuk digunakan sepanjang hari, bahkan saat Anda aktif beraktivitas. Anda tidak perlu khawatir bronzer akan luntur atau mengalami fallout, sehingga tampilan makeup Anda akan tetap sempurna.

Harga Somethinc EGGO 3D Contour/Bronzer: sekitar Rp55.000.

5. Luxcrime Warm It Up Bronzer

Sesuai dengan namanya, Luxcrime Warm It Up Bronzer hadir untuk memberikan sentuhan hangat pada riasan Anda, membuatnya tidak lagi terlihat membosankan. Produk ini memungkinkan Anda berinovasi dalam menciptakan dimensi pada wajah tanpa risiko terlihat menor berkat formulanya yang sangat blendable. Selain berfungsi sebagai bronzer, produk ini juga dapat diaplikasikan sebagai contour untuk membentuk wajah. Luxcrime Warm It Up Bronzer hadir dalam tiga pilihan warna yang telah disesuaikan agar cocok dengan berbagai jenis kulit Indonesia.

Harga Luxcrime Warm It Up Bronzer: sekitar Rp65.000.

6. ESQA Bronzer

Merek ESQA, yang telah dikenal luas dengan produk eyeshadow berkualitasnya, juga menawarkan bronzer yang patut diacungi jempol. Bronzer ESQA menjadi perbincangan hangat berkat pilihan warnanya yang cantik. Formula halusnya mempermudah proses blending, menghasilkan tampilan wajah yang lebih berdimensi secara alami. Produk ini sangat versatile, dapat digunakan sebagai all over bronzer untuk memberikan kehangatan menyeluruh pada wajah, atau sebagai contour untuk menonjolkan struktur wajah. Hasil akhirnya yang mulus memastikan bronzer ini menyatu sempurna dengan powder yang Anda gunakan.

Harga ESQA Bronzer: sekitar Rp105.000.

7. MOP Tender Touch Creamy Butter Bronzer

Rekomendasi terakhir datang dari Mother of Pearl (MOP) dengan Tender Touch Creamy Butter Bronzer. Bronzer ini hadir dengan formula creamy yang unik. Tekstur creamy ini membuatnya sangat mudah untuk dibaurkan dengan complexion Anda, menghasilkan tampilan yang lebih menyatu dan tahan lama. Dengan pilihan warna yang bervariasi, produk ini menawarkan opsi yang sesuai untuk berbagai undertone kulit. Selain pilihan warnanya yang menawan, bronzer ini juga hadir dengan detail emboss yang cantik pada permukaannya, menambah nilai estetika produk.

Harga MOP Tender Touch Creamy Butter Bronzer: sekitar Rp108.000.

Itulah dia tujuh bronzer lokal terbaik yang menawarkan pigmen intens dan formulasi yang cocok untuk kulit Indonesia. Segera coba dan rasakan perbedaannya untuk tampilan makeup yang lebih memukau!

FAQ Seputar Bronzer

  • Apakah bronzer lokal cocok untuk kulit sawo matang? Ya, banyak bronzer lokal saat ini memiliki pilihan warna warm tone yang dirancang khusus agar menyatu dengan indah pada kulit sawo matang, memberikan hasil yang natural dan hangat.

  • Lebih baik memilih bronzer powder atau cream? Pilihan antara bronzer powder dan cream bergantung pada jenis kulit dan hasil akhir yang diinginkan. Bronzer powder umumnya lebih cocok untuk kulit berminyak dan memberikan hasil akhir matte. Sementara itu, bronzer cream cenderung memberikan hasil yang lebih dewy (lembap bercahaya) dan lebih mudah dibaurkan, cocok untuk kulit kering atau normal.

  • Apa perbedaan antara bronzer dan contour? Meskipun sering digunakan bersamaan, bronzer dan contour memiliki fungsi yang sedikit berbeda. Bronzer umumnya digunakan untuk memberikan dimensi dan kehangatan pada wajah, seolah-olah kulit baru saja terpapar sinar matahari. Sementara itu, contour lebih berfokus pada menciptakan bayangan untuk membentuk dan menonjolkan struktur wajah, seperti tulang pipi atau rahang, sehingga memberikan ilusi wajah yang lebih tirus atau terdefinisi.

Masyarakat luas saat ini tengah giat mencari informasi mengenai cara memeriksa kategori desil pada tahun 2025. Tujuannya adalah untuk memastikan kelayakan mereka sebagai penerima bantuan sosial (bansos) yang disalurkan oleh Kementerian Sosial (Kemensos). Kategori desil ini memegang peranan krusial sebagai indikator utama pemerintah dalam menentukan individu atau keluarga yang berhak menerima berbagai program bantuan, mulai dari Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) atau yang dikenal sebagai Program Sembako, hingga Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan Nasional (PBI-JK).

Untuk menghindari informasi yang keliru dan menyesatkan, artikel ini akan mengupas tuntas seluk-beluk mengenai apa itu desil, bagaimana pengaruhnya terhadap kelayakan penerimaan bansos, serta panduan lengkap cara memeriksa kategori desil Anda untuk tahun 2025 secara daring.

Memahami Konsep Desil dalam Penyaluran Bansos

Desil merupakan sebuah sistem pengelompokan masyarakat yang didasarkan pada tingkat kesejahteraan ekonomi. Sistem ini membagi populasi ke dalam sepuluh tingkatan atau level, yang diberi label dari desil 1 hingga desil 10. Penilaian ini sangat bergantung pada Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), yang menjadi landasan fundamental bagi pemerintah dalam mendistribusikan berbagai program bantuan sosial.

Berikut adalah gambaran umum dari setiap kategori desil:

  • Desil 1: Mewakili 10 persen dari populasi masyarakat yang berada dalam kategori termiskin, seringkali disebut sebagai miskin ekstrem.
  • Desil 2: Dikelompokkan sebagai masyarakat miskin.
  • Desil 3: Dikategorikan sebagai masyarakat yang hampir miskin atau rentan miskin.
  • Desil 4: Dikelompokkan sebagai masyarakat rentan miskin.
  • Desil 5: Berada pada posisi pas-pasan atau mendekati kelompok kelas menengah.
  • Desil 6 hingga Desil 10: Kelompok ini mencakup masyarakat kelas menengah ke atas. Mereka dinilai sudah memiliki kemampuan ekonomi yang memadai dan umumnya tidak menjadi prioritas utama dalam penerimaan bansos.

Melalui penerapan sistem desil ini, pemerintah berupaya keras untuk memastikan bahwa bantuan sosial yang disalurkan dapat menjangkau pihak-pihak yang paling membutuhkan secara lebih akurat dan tepat sasaran.

Bagi masyarakat yang mungkin mencari cara untuk menurunkan kategori desil mereka melalui aplikasi Cek Bansos, perlu dipahami bahwa fitur semacam itu tidak tersedia. Penetapan kelompok desil seseorang didasarkan pada data kondisi ekonomi yang tercatat resmi dalam basis data Kemensos. Oleh karena itu, kategori desil tidak dapat diubah secara mandiri oleh individu.

Pengaruh Kategori Desil terhadap Kelayakan Penerimaan Bansos

Berdasarkan Keputusan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 79/HUK/2025, kategori desil memiliki pengaruh langsung terhadap jenis bantuan sosial yang berhak diterima oleh seseorang atau keluarga:

  • Desil 1 hingga 4: Kelompok ini berhak untuk menerima Program Keluarga Harapan (PKH).
  • Desil 1 hingga 5: Kelompok ini berhak untuk menerima Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) atau yang dikenal sebagai Program Sembako.
  • Desil 1 hingga 5: Kelompok ini juga berhak untuk menerima Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan Nasional (PBI-JK), di mana iuran BPJS Kesehatan mereka akan dibayarkan oleh pemerintah.
  • Desil 1 hingga 5: Kelompok ini berpotensi menerima bantuan ATENSI (Atensi Kebutuhan Individual dan Keluarga) jika hasil asesmen lapangan menunjukkan bahwa mereka memenuhi kriteria yang disyaratkan.

Umumnya, kelompok masyarakat yang berada di atas desil 5 tidak diprioritaskan sebagai penerima bansos. Hal ini didasarkan pada penilaian bahwa mereka dinilai sudah memiliki kemampuan ekonomi yang cukup. Namun demikian, mereka tetap akan melalui proses verifikasi lapangan untuk memastikan kondisi aktualnya.

Selain itu, di beberapa daerah, kategori desil juga kerap dijadikan sebagai salah satu syarat penting untuk mendapatkan jalur afirmasi dalam bidang pendidikan.

Kelompok Masyarakat yang Dinyatakan Tidak Layak Menerima Bansos

Meskipun seseorang atau sebuah keluarga tergolong dalam kategori desil penerima bantuan, terdapat beberapa kondisi yang dapat menyebabkan mereka dinyatakan tidak layak untuk menerima bansos. Kondisi-kondisi tersebut antara lain:

  • Alamat Tidak Ditemukan: Apabila alamat yang terdaftar dalam data tidak dapat ditemukan atau tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.
  • Data Tidak Valid atau Belum Terverifikasi: Jika data yang dimiliki tidak valid, cacat, atau belum melalui proses verifikasi resmi oleh pihak berwenang.
  • Penerima Telah Meninggal Dunia: Jika penerima bantuan yang terdaftar telah dinyatakan meninggal dunia.
  • Memiliki Anggota Keluarga dengan Profesi Tertentu: Seseorang dapat dinyatakan tidak layak jika ia atau anggota keluarganya berstatus sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI), anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), pejabat negara, atau pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Kebijakan penentuan kelayakan ini diterapkan secara ketat untuk memastikan bahwa program bantuan sosial benar-benar tersalurkan kepada mereka yang paling membutuhkan dan memenuhi kriteria yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Panduan Lengkap Cara Mengecek Kategori Desil 2025 Secara Daring

Untuk memudahkan masyarakat dalam mengetahui status desil mereka, terdapat dua cara utama yang dapat ditempuh untuk melakukan pengecekan kategori desil pada tahun 2025 secara daring: melalui situs web resmi Kementerian Sosial atau melalui aplikasi Cek Bansos.

1. Melalui Situs Web Resmi Kemensos (cekbansos.kemensos.go.id)

Langkah-langkah untuk melakukan pengecekan melalui situs web Kemensos adalah sebagai berikut:

  • Akses laman resmi Kementerian Sosial untuk pengecekan bansos melalui alamat https://cekbansos.kemensos.go.id.
  • Pilih lokasi geografis Anda secara berurutan, mulai dari Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan, hingga Desa tempat Anda berdomisili.
  • Masukkan nama lengkap Anda sesuai yang tertera pada Kartu Tanda Penduduk (KTP).
  • Isi kode captcha yang ditampilkan pada layar untuk memverifikasi bahwa Anda bukan robot.
  • Klik tombol "Cari Data".

Apabila Anda terdaftar sebagai penerima bantuan, sistem akan menampilkan informasi rinci mengenai bansos yang Anda terima, status kelayakan penerimaan, serta periode pencairan. Kategori desil Anda juga akan tertera dalam informasi tersebut.

2. Melalui Aplikasi Cek Bansos

Bagi pengguna smartphone, pengecekan desil juga dapat dilakukan melalui aplikasi resmi Cek Bansos. Berikut adalah langkah-langkahnya:

  • Unduh dan instal aplikasi "Cek Bansos" dari toko aplikasi resmi (misalnya Google Play Store atau App Store).
  • Setelah aplikasi terpasang, pilih menu "Masuk" untuk melanjutkan.
  • Anda akan diarahkan untuk melakukan "Login" atau "Buat Akun Baru" jika Anda belum memiliki akun.
  • Untuk membuat akun baru, Anda perlu mengunggah dokumen yang dibutuhkan, seperti Kartu Keluarga (KK), Nomor Induk Kependudukan (NIK), foto KTP, serta melakukan swafoto (selfie) dengan KTP.
  • Setelah akun Anda berhasil diaktifkan, buka menu "Profil" untuk melihat informasi kategori desil Anda.
  • Untuk memeriksa status bantuan sosial secara lebih rinci, Anda dapat membuka menu "Cek Bansos" di dalam aplikasi.

Memahami secara mendalam mengenai kategori desil merupakan langkah penting bagi setiap warga negara. Hal ini tidak hanya membantu masyarakat mengetahui apakah mereka masih berhak menerima bantuan sosial, tetapi juga memastikan bahwa data pribadi yang tercatat dalam sistem Kemensos adalah akurat dan valid. Dengan demikian, penyaluran bantuan dapat berjalan lebih efektif dan efisien, sesuai dengan tujuan utamanya untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.

PLN UID S2JB Tanam 3.000 Pohon: Hijaukan Rejang Lebong, Perkuat Warga

PLN Perkuat Keberlanjutan Ekosistem Melalui Penanaman 3.000 Pohon Produktif di Bengkulu

Rejang Lebong, Bengkulu – Di tengah meningkatnya tantangan global akibat perubahan iklim dan degradasi lingkungan, PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu (UID S2JB) kembali menegaskan komitmennya terhadap kelestarian alam. Melalui penanaman 3.000 pohon produktif di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, pada momentum Hari Menanam Pohon Indonesia, 28 November 2025, PLN UID S2JB berupaya memulihkan ekosistem dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Kegiatan monumental ini merupakan bagian integral dari gerakan nasional bertajuk “Roots of Energy”. Inisiatif ini dilaksanakan secara serentak oleh seluruh unit PLN di penjuru Indonesia, menunjukkan semangat kolaborasi yang kuat dalam upaya pemulihan lingkungan yang terukur dan berkelanjutan.

Penanaman Skala Besar di Kawasan Strategis

Secara spesifik, sebanyak 1.000 bibit pohon durian dan 2.000 bibit pohon alpukat ditanam di area tangkapan air (catchment area) PLTA Musi, yang berlokasi di Kabupaten Rejang Lebong. Pemilihan jenis tanaman produktif ini memiliki tujuan ganda yang strategis.

  • Fungsi Ekologis: Penanaman pohon ini tidak hanya bertujuan untuk menghijaukan lahan yang telah ditentukan, tetapi juga untuk memperkuat fungsi ekologis kawasan tersebut. Vegetasi baru diharapkan mampu meningkatkan daya resap air tanah, yang krusial untuk menjaga ketersediaan air baku bagi PLTA Musi. Selain itu, keberadaan pepohonan ini akan berperan penting dalam mengurangi risiko erosi tanah, terutama di area lereng yang rentan.

  • Manfaat Ekonomi Jangka Menengah: Konsep agroforestri yang diterapkan melalui penanaman pohon produktif ini dirancang untuk memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi masyarakat sekitar dalam jangka menengah. Ketika pohon-pohon ini memasuki masa produktif dan berbuah, hasil panen durian dan alpukat diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan tambahan yang substansial bagi warga. Hal ini sejalan dengan upaya PLN untuk menciptakan kemandirian ekonomi berbasis lingkungan.

Harapan Baru untuk Lingkungan dan Masyarakat

General Manager PLN UID S2JB, Adhi Herlambang, menekankan bahwa penanaman pohon ini merupakan langkah strategis yang tidak hanya berfokus pada keberlanjutan lingkungan, tetapi juga pada keberlanjutan energi. “Yang kami tanam hari ini bukan hanya bibit pohon, tetapi juga bibit harapan. Durian dan alpukat ini kelak diharapkan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, sekaligus memperkuat fungsi ekologis kawasan PLTA Musi. Ketika lingkungan sehat, energi untuk masyarakat pun terjaga,” ujar Adhi.

Lebih lanjut, Adhi Herlambang juga menyoroti pentingnya sinergi dan kolaborasi lintas sektor. “Upaya menjaga bumi adalah pekerjaan kolektif. PLN bersama pemerintah daerah, komunitas, dan masyarakat bergerak bersama agar apa yang ditanam hari ini benar-benar tumbuh dan memberi dampak nyata di tahun-tahun mendatang.”

Dukungan Penuh dari Pemerintah Daerah

Inisiatif PLN ini disambut antusias oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Rejang Lebong. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Rejang Lebong, Dr. M. Asli Samin, SKep., M.Kes., menilai kegiatan ini sebagai langkah krusial dalam memperkuat ketahanan ekologis daerah.

“Inisiatif PLN ini sangat relevan dengan kebutuhan pemulihan lahan dan penguatan daerah tangkapan air di Rejang Lebong. Penanaman pohon produktif seperti durian dan alpukat memberi dua manfaat sekaligus, yaitu: lingkungan pulih dan masyarakat terbantu. Kami menyambut baik kolaborasi ini karena dampaknya akan terasa dalam jangka panjang,” ungkap Dr. M. Asli Samin.

Dampak Langsung bagi Kelompok Tani

Manfaat program ini tidak hanya dirasakan secara teoritis, tetapi juga secara langsung oleh masyarakat setempat, terutama kelompok tani yang secara aktif terlibat dalam proses penanaman hingga pemeliharaan pohon. Sudir Harianto, Ketua Kelompok Tani Tik Glicok, mengungkapkan apresiasinya terhadap dukungan yang diberikan PLN.

“Bagi kami, pohon-pohon ini adalah kesempatan baru. Selain memperbaiki tanah di sekitar lahan kami, hasil panennya nanti bisa menambah penghasilan keluarga. Ini bukan hanya penghijauan, tapi juga membuka harapan ekonomi bagi petani di sini. Kami berkomitmen merawat pohon ini agar benar-benar tumbuh dan bermanfaat,” katanya dengan penuh semangat.

Kolaborasi Multisektor untuk Keberlanjutan

Kegiatan penanaman pohon ini merupakan wujud nyata dari kolaborasi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Pihak-pihak yang berpartisipasi meliputi:

  • Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Rejang Lebong
  • Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Bukit Balai Rejang
  • Perangkat kecamatan dan desa setempat
  • Unit-unit PLN anggota KORSI (Koordinasi Sinergi Insan PLN)
  • Kelompok-kelompok tani lokal

Partisipasi aktif dari masyarakat memegang peranan vital dalam memastikan keberlanjutan program ini. Peran serta masyarakat sangat krusial, terutama dalam tahap pemeliharaan rutin dan penyulaman tanaman selama beberapa bulan ke depan untuk memastikan tingkat pertumbuhan yang optimal.

Penanaman 3.000 pohon ini sejalan dengan upaya PLN untuk meningkatkan ketahanan daerah terhadap dampak perubahan iklim. Selain itu, kegiatan ini juga berkontribusi dalam memastikan ketersediaan pasokan air yang stabil, yang merupakan elemen fundamental untuk mendukung operasional pembangkit listrik PLN.

Dengan semangat Hari Menanam Pohon Indonesia, program “Roots of Energy” di Rejang Lebong diharapkan dapat menjadi warisan hijau yang berharga bagi generasi mendatang. Program ini menjadi pengingat bahwa konsep keberlanjutan bukanlah hasil dari satu tindakan tunggal yang spektakuler, melainkan buah dari ribuan upaya kecil yang tumbuh perlahan, membawa kesejukan, kehidupan, dan harapan baru bagi bumi serta seluruh masyarakat yang bergantung padanya.

Mahasiswa UNSIL Gelar Program "Tunas Berdikari": Mengubah Sampah Dapur Menjadi Solusi Lingkungan Inovatif

Tasikmalaya - Sebuah inisiatif brilian muncul dari para mahasiswa Universitas Siliwangi (UNSIL) Program Studi Pendidikan Masyarakat. Melalui program bernama "Aksi Sampah Bersih Dikelola Aktif dan Inovatif" atau yang disingkat "Tunas Berdikari", mereka berhasil menggelar kegiatan edukatif yang berfokus pada pengelolaan sampah rumah tangga secara kreatif dan berkelanjutan. Acara perdana ini diselenggarakan pada hari Sabtu, 11 Oktober 2025, di lingkungan RT 02 RW 03 Kp. Leuwimalang, Kelurahan Bantarsari, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya.

Program "Tunas Berdikari" memiliki misi ganda yang sangat penting: meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang benar dan memberdayakan warga melalui pelatihan pembuatan enzim ramah lingkungan, yang dikenal sebagai eco enzyme, dari limbah dapur. Antusiasme tinggi terlihat dari kehadiran 45 peserta yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat setempat, termasuk ibu rumah tangga, para remaja, dan tokoh masyarakat yang memberikan dukungan penuh terhadap gerakan positif ini.

Kegiatan dilaksanakan secara langsung dengan metode tatap muka, diawali dengan sesi sosialisasi yang komprehensif. Para peserta diajak untuk memahami betapa krusialnya memilah sampah sejak dari sumbernya, bagaimana dampak buruk sampah yang tidak terkelola dengan baik terhadap lingkungan, serta strategi praktis untuk mengurangi volume sampah yang dihasilkan dari aktivitas rumah tangga sehari-hari.

Pelaksanaan program berjalan dengan sangat semarak dan penuh semangat. Peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman teoritis mengenai konsep eco enzyme, tetapi juga mendalami manfaatnya yang luas bagi lingkungan dan kesehatan. Sesi pelatihan langsung yang diberikan memungkinkan mereka untuk mempraktikkan teknik fermentasi, sehingga menghasilkan pembelajaran yang mendalam dan signifikan. Program ini lebih dari sekadar acara edukasi; ia menjadi sarana ampuh untuk menumbuhkan kesadaran, memicu kreativitas, dan membangun keberanian masyarakat agar mampu mengelola sampah mereka secara mandiri di lingkungan rumah masing-masing.

Mengenal Lebih Dekat Eco Enzyme: Dari Limbah Dapur Menjadi Solusi Berharga

Setelah sesi edukasi awal, para peserta diperkenalkan lebih dalam pada konsep eco enzyme. Mereka diajak untuk memahami apa itu eco enzyme, berbagai manfaat luar biasa yang ditawarkannya bagi kelestarian lingkungan, serta potensi penerapannya dalam kehidupan sehari-hari di rumah. Ibu Deviani Badruddin, seorang pemateri yang juga merupakan pemilik rumah eco enzyme dan kompos Tasikmalaya, membagikan ilmu berharga mengenai tahapan-tahapan penting dalam pembuatan eco enzyme. Penjelasannya mencakup cara memilih limbah organik yang tepat, komposisi ideal dari bahan-bahan yang digunakan, proses fermentasi yang krusial, hingga cara penyimpanan yang benar agar kualitas produk terjaga. Untuk memastikan pemahaman yang mendalam, warga diberikan kesempatan emas untuk langsung mempraktikkan pembuatan eco enzyme dengan menggunakan bahan-bahan yang telah disiapkan.

Dalam sesi praktik utama, para peserta secara aktif mempraktikkan pembuatan eco enzyme. Mereka menggunakan berbagai jenis kulit buah-buahan segar seperti pisang, pepaya, jeruk, alpukat, mangga, semangka, dan bahkan kulit buah naga. Bahan-bahan organik ini kemudian difermentasi menggunakan gula aren atau molase serta air.

Para fasilitator dengan sabar memandu setiap langkah proses pembuatan, menekankan pentingnya perbandingan bahan baku yang tepat, yaitu 1:3:10 (limbah organik : gula : air), untuk mencapai proses fermentasi yang optimal selama periode 100 hari. Terlihat jelas bagaimana para peserta begitu antusias, aktif berdiskusi satu sama lain, dan mencoba langsung setiap tahapan pencampuran bahan.

Manfaat Nyata: Relaksasi dan Peningkatan Pemahaman

Selain fokus pada pelatihan teknis pembuatan eco enzyme, kegiatan ini juga dirancang untuk memberikan pengalaman langsung tentang manfaatnya. Salah satu sesi yang paling dinanti adalah detoks rendam kaki menggunakan larutan eco enzyme. Para peserta dapat merasakan secara langsung efek relaksasi yang ditimbulkan oleh ramuan fermentasi ini.

Banyak peserta yang memberikan testimoni positif setelah sesi ini. Mereka melaporkan bahwa tubuh terasa lebih hangat, lebih rileks, dan segar. Bahkan, aroma khas dari eco enzyme dinilai sangat menenangkan. Sesi ini menjadi bukti nyata bagaimana eco enzyme dapat memberikan manfaat terapeutik dan medis yang signifikan.

Tahap terakhir dari program ini adalah pelaksanaan post-test yang bertujuan untuk mengukur sejauh mana pemahaman peserta mengalami peningkatan setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan yang sangat memuaskan dan signifikan.

Hampir seluruh peserta menyatakan bahwa kemampuan mereka dalam mengelola sampah organik telah meningkat drastis, beralih dari kategori "Baik" menjadi "Sangat Baik". Selain itu, keyakinan mereka terhadap efektivitas eco enzyme sebagai solusi ampuh untuk mengurangi limbah organik rumah tangga juga semakin menguat. Mereka juga merasa bahwa proses pembuatan eco enzyme yang diajarkan sangat mudah diikuti.

Apresiasi dan Harapan untuk Keberlanjutan

Para tokoh masyarakat yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan apresiasi yang tinggi atas terselenggaranya program "Tunas Berdikari". Mereka menilai bahwa pelatihan eco enzyme ini memberikan dampak yang sangat positif dan langsung bagi lingkungan sekitar. "Program ini tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga praktik yang sangat dibutuhkan masyarakat untuk mengatasi masalah sampah yang kian kompleks. Peserta menunjukkan perubahan sikap dan pemahaman yang luar biasa," ujar salah seorang tokoh masyarakat.

Pengurus lingkungan dan warga setempat juga turut menyampaikan harapan agar kegiatan serupa dapat terus dilanjutkan. Mereka percaya bahwa program ini sangat membantu dalam memperkuat budaya peduli lingkungan dan meningkatkan kemandirian masyarakat dalam mengolah sampah. Program ini dianggap sukses besar dalam membuka wawasan baru, menunjukkan bahwa sampah organik yang selama ini dianggap sebagai masalah, ternyata memiliki nilai guna yang sangat tinggi apabila dikelola dengan cara yang benar.

Acara ditutup dengan sesi foto bersama yang menjadi dokumentasi resmi dari seluruh rangkaian kegiatan. Warga berharap agar program-program inovatif semacam ini dapat terus diadakan di masa mendatang. Hal ini penting untuk terus meningkatkan keberlanjutan dalam pengelolaan sampah dan menjaga kelestarian lingkungan agar tetap bersih, sehat, dan lestari untuk generasi mendatang.

Menunggu sering kali terasa seperti perjalanan panjang tanpa peta. Waktu melambat, detak jam terdengar lebih keras daripada biasanya, dan seseorang bisa merasa sendirian meski berada di tengah keramaian. Dalam setiap detik menunggu, kita sering kali mencari-cari cara untuk membuat waktu berjalan lebih cepat. Beberapa orang memilih menatap layar gawai, mengusir jenuh dengan guliran tanpa akhir. Sebagian membuka buku yang entah sudah berapa lama tidak tersentuh. Ada pula yang memilih berbicara tanpa arah, sekadar agar suasana tidak terlalu sunyi. Namun, bagi sebagian lainnya, menunggu justru mengantarkan mereka pada ruang kontemplasi: ruang untuk diam, merenung, dan sesekali, tanpa disadari, mengenang wajah seseorang entah ayah, entah anak yang pernah, atau masih, mereka tunggu.

Menanti di Sisi Lapangan Latihan

Saya pun menjalani masa-masa menunggu itu saat mengantar anak saya berlatih taekwondo setiap malam. Latihan dimulai pukul tujuh dan berakhir sekitar pukul setengah sepuluh, kadang-kadang bahkan lebih larut. Dua hingga tiga jam bukanlah waktu yang pendek untuk sekadar duduk di bangku depan dojang, di bawah lampu kuning yang temaram dan kadang berkedip pelan, seolah ikut menahan letih bersama para orang tua yang menunggu. Bila seseorang hanya melihat dari kejauhan, mungkin yang terlihat hanyalah ayah-ayah biasa yang mengantar anaknya. Tetapi bila diperhatikan lebih dekat, di sanalah terhampar kisah cinta paling sunyi yang pernah ada.

Pada awal-awal saya mengantar anak latihan, saya masih membawa buku. Walau lampu terlalu redup untuk membaca dengan nyaman, saya tetap menaruh satu buku di tas, seolah ingin memberi harapan pada diri sendiri bahwa waktu menunggu ini akan berlangsung produktif. Tetapi kenyataannya berbeda. Cahaya yang remang membuat saya hanya membuka halaman pertama, lalu menutupnya kembali. Saya tergoda untuk bertanya kepada para sabeum tentang teknik, tahapan sabuk, disiplin latihan, dan banyak hal lainnya, namun saya tidak sampai hati mengganggu mereka. Selain karena rasa sungkan, saya juga merasa bahwa waktu latihan anak-anak ini terlalu berharga untuk disela hanya demi memuaskan rasa ingin tahu seorang ayah baru seperti saya.

Hari-hari berlalu. Minggu menjadi bulan. Dan lambat laun, rasa bosan mulai tumbuh seperti rumput liar. Ketidaktahuan saya tentang taekwondo membuat rasa ingin tahu justru berubah menjadi rasa terasing. Saya ingin memahami dunia anak saya, tetapi saya tidak memiliki siapa pun untuk bertanya. Setiap kali saya membuka chat grup WhatsApp dojang, saya membaca tanpa sungguh-sungguh paham. Ada istilah yang asing, instruksi yang samar, dan penjadwalan yang kadang membuat saya bertanya dalam hati apakah semua orang selain saya sudah begitu berpengalaman.

Pertemuan yang Membuka Pintu

Sampai suatu hari, semesta seakan menghadirkan seseorang untuk menemani waktu menunggu saya. Seorang bapak, seorang ASN dari sebuah SMA negeri di Kota Tangerang, duduk di samping saya. Percakapan itu dimulai dengan sapaan sederhana, mungkin hanya komentar ringan tentang cuaca atau panjangnya antrean latihan malam itu. Tetapi siapa sangka bahwa percakapan kecil itulah yang membuka pintu pertemanan baru bagi saya. Kami berbicara tentang pekerjaan, tentang anak-anak, tentang pendidikan, bahkan tentang kegelisahan sederhana yang sering muncul di antara para ayah yang jarang punya waktu untuk bertegur sapa dengan sesamanya. Namun seperti halnya obrolan pada umumnya, lama-kelamaan kami kehabisan topik. Lalu kami kembali terdiam, menatap anak-anak kami yang berlatih di kejauhan.

Dari perkenalan itu, saya kemudian dikenalkan dengan Pak Ali, seorang pengusaha warung yang sering kali hanya mengantar anaknya lalu kembali bekerja. Kadang ia ikut menunggu, kadang ia harus pulang lebih dulu. Ada malam-malam ketika bangku di samping saya kosong, dan saya kembali sendiri, mencoba mencari sudut yang lampunya lebih terang agar buku saya bisa dibaca meski hanya beberapa paragraf.

Namun, malam itu, segalanya berubah. Untuk pertama kalinya, saya bertemu Pak Sudiyono. Sosoknya sederhana, wajahnya ramah, dan dari caranya berbicara, saya bisa merasakan ketulusan yang alami. Kami berdiri bersebelahan, memperhatikan anak-anak berlatih, dan entah bagaimana, percakapan itu mengalir dengan begitu mudah. Saya bertanya banyak hal, dan ia menjelaskan semampunya. Hingga ketika ia tidak bisa menjawab, ia berkata dengan senyum kecil, "Nanti bapak ikut saja Komunitas Kopi Hitam." Saya mengernyit pelan. Komunitas apa itu? Apakah itu semacam perkumpulan ayah-ayah penunggu? Atau hanya sebutan untuk mereka yang nongkrong di warung kopi? Saya tidak tahu. Namun kalimat itu menancap, seperti undangan menuju sesuatu yang lebih besar.

Komunitas Kopi Hitam: Lebih dari Sekadar Menunggu

Waktu berjalan. Sebelum saya benar-benar bertemu dengan komunitas yang dimaksudkan Pak Sudiyono, anak saya lebih dulu mengikuti kejuaraan di Indomilk Arena. Itu merupakan kejuaraan kedua kami. Suasana ramai, sorak-sorai terdengar di setiap sudut, dan di antara kerumunan itu, saya melihat beberapa ayah mengenakan kaos bertuliskan Kopi Hitam. Entah mengapa, dada saya tiba-tiba hangat. Ada rasa ingin mendekat, ingin bertanya, ingin memperkenalkan diri. Namun keraguan menahan langkah saya.

Justru salah satu dari mereka yang datang menyapa saya terlebih dahulu. Pak Eko, dengan wajah ramah dan tatapan sabar, bertanya apakah saya sudah menyiapkan sabuk dan gamsil untuk anak saya. Seketika saya merasa seperti seorang anak yang tidak membawa tugas sekolahnya. Saya tidak tahu apa pun. Saya tidak tahu perlengkapan apa yang harus disiapkan, tidak tahu teknis pertandingan, tidak tahu prosedur apa pun. Namun yang membuat saat itu begitu berarti bukanlah informasi yang saya dapat, melainkan penerimaan. Pak Eko menenangkan saya, memberi arahan, menjelaskan dengan sabar, dan mengajak saya untuk tidak ragu bertanya kepada para orang tua lain.

Selepas kejuaraan itu, ketika rutinitas latihan kembali dimulai, saya merasakan sesuatu yang berbeda. Ada rasa hangat yang tumbuh, seperti ada keluarga baru yang menjalani perjalanan yang sama dengan saya. Pada suatu malam, Pak Eko mengajak saya bergabung ke dalam Komunitas Kopi Hitam. Di sanalah saya dipertemukan dengan sosok yang kelak menjadi figur penting dalam perjalanan saya menunggu: Pak Hendry.

Pak Hendry adalah ketua Komunitas Kopi Hitam. Perawakannya tegas, namun tutur katanya hangat. Wibawanya terasa, namun hatinya lembut. Walaupun beliau seorang birokrat dengan jabatan strategis di kementerian, beliau tidak pernah membawa kesombongan sedikit pun. Justru sebaliknya, beliau membawa tawa. Setiap malam, beliau memulai obrolan dengan candaan, lalu menutupnya dengan nasihat yang lembut namun menancap dalam. Saya bisa merasakan bahwa komunitas ini tidak terbentuk begitu saja. Ia tumbuh dari hati yang bersentuhan melalui waktu menunggu yang panjang.

Komunitas Kopi Hitam berawal dari empat orang ayah: Pak Hendry, Pak Lindu, Pak Imam, dan ayah dari Bian. Mereka duduk, menunggu, bercerita, dan dari situlah ikatan terbentuk. Dari empat orang itu, komunitas ini berkembang menjadi keluarga besar yang hangat, penuh tawa, penuh cerita, namun juga penuh kepedulian. Setiap orang datang dari profesi berbeda, namun semua menyatukan hati pada satu titik yang sama: cinta pada anak-anak mereka.

Di antara mereka, saya menemukan sosok-sosok hebat. Ada yang ahli olahraga, ahli elektronika, ahli transportasi, ahli investasi, ahli keamanan, ahli arsitektur, pedagang yang menjunjung keberkahan, birokrat, pensiunan, hingga orang tua biasa yang hanya ingin anaknya bertumbuh dalam disiplin. Tetapi di balik semua itu, yang paling terasa adalah kehangatan mereka. Setiap malam, tiga hingga empat jam terasa seperti percakapan lima belas menit. Waktu seperti mengecil ketika diisi dengan tawa, diskusi, cerita hidup, dan nasihat yang keluar dari hati.

Cinta yang Ditemukan dalam Penantian

Pada saat-saat seperti itulah saya sadar, bahwa menunggu bukan sekadar tentang waktu yang berlalu. Ia tentang hati yang bertemu. Tentang cinta yang tumbuh dalam diam. Tentang ayah-ayah yang sibuk menahan kantuk, duduk di bangku keras, rela tidak pulang, hanya untuk menyaksikan anaknya mengejar mimpi. Ada sesuatu yang begitu mulia dari cara seorang ayah mencintai anaknya: diam, namun nyata; sederhana, namun dalam; tidak bersuara, namun terasa sampai ke tulang.

Pak Hendry sering mengulang sebuah kalimat yang kini saya pahami dengan sungguh-sungguh: "Hidup itu ibarat kopi hitam, kalau tidak dinikmati, maka yang terasa hanya pahitnya saja." Dan setiap kali saya mendengar kalimat itu, saya teringat malam-malam ketika saya duduk di bawah lampu temaram, memandangi anak saya yang sedang berlatih, sambil sesekali menatap ayah-ayah lain yang membawa perjuangan yang sama. Di sana, di tengah dingin malam dan suara hentakan kaki dari dalam dojang, saya melihat cinta paling sunyi yang pernah ada. Cinta seorang ayah, yang tidak meminta apa-apa, selain melihat anaknya tumbuh menjadi manusia yang lebih baik.

Dan pada akhirnya, saya mengerti bahwa menunggu bukanlah beban. Menunggu adalah bentuk cinta yang jarang diberi kata-kata. Menunggu adalah doa yang tidak diucapkan, tetapi dilakukan. Menunggu adalah waktu yang dipersembahkan dari hati, demi seseorang yang kita cintai lebih dari hidup kita sendiri.

Soal & Kunci Jawaban Antropologi XI: Kebiasaan Perilaku Halaman 54

Memahami Adaptasi Biokultural Melalui Kebiasaan Sehari-hari: Sebuah Kajian Antropologi Kelas 11

Dalam studi Antropologi, pemahaman mendalam mengenai bagaimana manusia berinteraksi dengan lingkungan fisik dan sosialnya menjadi kunci. Salah satu konsep penting yang diajarkan dalam Kurikulum Merdeka, khususnya pada buku pelajaran Antropologi kelas 11 yang disusun oleh Tri Joko Sri Haryono dkk. dan diterbitkan oleh Kemdikbudristek tahun 2024 edisi Revisi, adalah pendekatan biokultur. Pendekatan ini mengkaji perilaku dan kebiasaan sehari-hari manusia sebagai hasil interaksi antara faktor biologis dan budaya.

Pada halaman 54 buku tersebut, siswa dihadapkan pada tugas individu yang menantang untuk mengamati dan menganalisis kebiasaan sehari-hari di lingkungan sekitar mereka menggunakan lensa biokultur. Tugas ini dirancang untuk mendorong siswa tidak hanya mengidentifikasi berbagai praktik sosial, tetapi juga memahami akar penyebab dan fungsi dari kebiasaan tersebut dalam konteks adaptasi manusia.

Lembar Kegiatan Peserta Didik 2.1: Mengungkap Kebiasaan Melalui Pengamatan

Untuk memfasilitasi pemahaman ini, buku Antropologi kelas 11 menyajikan Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) 2.1. LKPD ini memandu siswa melalui serangkaian langkah sistematis untuk melakukan pengamatan dan analisis:

  1. Pembentukan Kelompok: Siswa diminta untuk membentuk kelompok belajar yang terdiri dari 4-5 orang. Kolaborasi ini penting untuk mendapatkan perspektif yang lebih luas dan memperkaya hasil pengamatan.
  2. Melakukan Pengamatan: Tahap selanjutnya adalah melakukan pengamatan langsung di lingkungan sekitar, baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal. Pengamatan ini harus fokus pada perilaku dan kebiasaan yang terlihat sehari-hari.
  3. Mencatat Perilaku Adat/Kebiasaan: Siswa ditugaskan untuk mencatat berbagai perilaku yang telah menjadi adat atau kebiasaan di lingkungan yang mereka amati. Ini bisa berupa ritual, norma interaksi, praktik kebersihan, atau kegiatan sosial lainnya.
  4. Mengaitkan Perilaku dengan Adaptasi Sederhana: Setelah mengidentifikasi kebiasaan, siswa harus menghubungkannya dengan bentuk-bentuk adaptasi sederhana, sebagaimana dicontohkan dalam kasus 2.2 pada buku pelajaran. Analisis ini bertujuan untuk menunjukkan bagaimana kebiasaan tersebut membantu manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
  5. Menceritakan Hasil Pengamatan: Setelah diskusi dalam kelompok, setiap kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil pengamatan mereka kepada kelas.
  6. Membandingkan Hasil: Tahap akhir adalah membandingkan hasil pengamatan dan analisis kelompok sendiri dengan kelompok lain untuk melihat variasi dan persamaan dalam temuan mereka.

Studi Kasus: Laporan Hasil Pengamatan Perilaku Masyarakat dan Adat Kebiasaan

Sebagai contoh panduan, sebuah laporan hasil pengamatan kelompok disajikan. Laporan ini menguraikan proses dan temuan dari pelaksanaan LKPD 2.1.

1. Pembentukan Kelompok Kelompok ini terdiri dari empat anggota: Aisyah (Leader), Citra (Penulis), Bima (Pengamat), dan Danu (Pengamat). Pembagian tugas ini memastikan kelancaran proses pengamatan dan dokumentasi.

2. Kegiatan Pengamatan Pengamatan dilakukan di dua lokasi utama: lingkungan sekolah dan lingkungan tempat tinggal. Kegiatan ini berlangsung secara langsung selama dua hari untuk mendapatkan gambaran yang representatif.

3. Perilaku yang Sudah Menjadi Adat/Kebiasaan

  • Di Lingkungan Sekolah:

    • Saling menyapa ketika bertemu.
    • Pelaksanaan upacara bendera setiap hari Senin.
    • Kegiatan kerja bakti membersihkan kelas setiap pagi.
    • Membuang sampah pada tempatnya sesuai jenisnya.
    • Berbaris sebelum memasuki kelas.
    • Shalat Dzuhur berjamaah (di sekolah yang mayoritas Muslim).
    • Penggunaan bahasa yang sopan kepada guru.
  • Di Lingkungan Tempat Tinggal:

    • Gotong royong membersihkan selokan setiap akhir pekan.
    • Salam sapa kepada tetangga saat berpapasan.
    • Kebiasaan musyawarah untuk menyelesaikan masalah di tingkat RT.
    • Tradisi ronda malam untuk menjaga keamanan.
    • Saling mengirim makanan saat hari besar keagamaan.
    • Anak-anak bermain bersama di sore hari.

4. Mengaitkan Perilaku dengan Bentuk Adaptasi

Perilaku-perilaku yang diamati dapat dikategorikan sebagai bentuk adaptasi sosial dan budaya:

  • Saling menyapa: Merupakan adaptasi terhadap norma kesopanan dan kebiasaan lokal yang membangun interaksi sosial yang positif.
  • Upacara Senin: Bentuk adaptasi terhadap aturan sekolah dan penanaman nilai kedisiplinan.
  • Kerja bakti: Adaptasi terhadap lingkungan fisik untuk menjaga kebersihan dan menumbuhkan rasa tanggung jawab komunal.
  • Membuang sampah sesuai jenis: Adaptasi ekologis yang bertujuan menjaga kesehatan lingkungan.
  • Ronda malam: Adaptasi terhadap kebutuhan akan keamanan lingkungan dari ancaman eksternal.
  • Musyawarah RT: Adaptasi dalam menghadapi masalah sosial secara kolektif dan mencari solusi bersama.
  • Mengirim makanan saat hari besar: Adaptasi budaya yang bertujuan mempererat keharmonisan sosial antarwarga.

Adaptasi semacam ini terjadi karena masyarakat secara naluriah menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan sosial dan fisiknya agar kehidupan dapat berjalan dengan lebih tertib, aman, dan harmonis.

5. Hasil Pengamatan Kelompok

Kelompok pengamat menyimpulkan bahwa masyarakat di lingkungan sekolah dan tempat tinggal memiliki berbagai kebiasaan yang telah mengakar menjadi adat. Kebiasaan ini tidak hanya berfungsi sebagai penanda ketertiban sosial, tetapi juga berperan penting dalam memperkuat ikatan antarindividu dalam masyarakat. Misalnya, kerja bakti di sekolah tidak hanya menciptakan lingkungan yang bersih, tetapi juga memupuk rasa kebersamaan dan kepedulian. Di sisi lain, tradisi musyawarah dan gotong royong di lingkungan tempat tinggal menunjukkan kemampuan masyarakat untuk beradaptasi dan menghadapi tantangan bersama, seperti menjaga kebersihan lingkungan dan keamanan. Secara keseluruhan, perilaku yang diamati merupakan manifestasi adaptasi sederhana terhadap aturan, norma, kondisi alam, serta kebutuhan fundamental untuk hidup bersama.

6. Perbandingan dengan Hasil Kelompok Lain

Setelah membandingkan laporan hasil pengamatan, ditemukan beberapa kesamaan dan perbedaan antar kelompok:

  • Persamaan:
    • Semua kelompok mengidentifikasi kebiasaan umum seperti gotong royong, praktik kebersihan, kebiasaan saling menyapa, dan kepatuhan terhadap aturan sekolah.
  • Perbedaan:
    • Beberapa kelompok melaporkan adanya tradisi lokal yang lebih spesifik di lingkungan mereka, seperti selamatan, arisan ibu-ibu, atau program Jumat bersih, yang tidak ditemukan di lokasi pengamatan kelompok lain.
    • Ada kelompok yang secara khusus menyoroti penggunaan bahasa daerah sebagai bagian dari adaptasi budaya, sementara fokus kelompok lain mungkin lebih pada kebiasaan sosial umum.

Kesimpulannya, setiap kelompok menghasilkan temuan yang unik sesuai dengan karakteristik lingkungan masing-masing. Namun, semua temuan tersebut secara konsisten menunjukkan bagaimana masyarakat beradaptasi melalui berbagai bentuk perilaku dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Penting untuk dicatat bahwa kunci jawaban dan laporan hasil pengamatan ini berfungsi sebagai panduan belajar bagi siswa dan orang tua. Idealnya, siswa harus berusaha menjawab soal-soal tersebut terlebih dahulu sebelum merujuk pada contoh jawaban. Analisis mendalam terhadap kebiasaan sehari-hari melalui pendekatan biokultur ini memberikan wawasan berharga tentang kompleksitas kehidupan sosial manusia dan mekanisme adaptasi yang mereka lakukan.

Daftar Pengurus DPW IATTA Sulut 2025-2030: Wajah Baru Terpilih

Suasana hangat dan penuh semangat menyelimuti Ma'nda Cafe & Resto yang terletak di tepi Danau Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Lokasi yang indah ini menjadi saksi bisu pengukuhan sebuah babak baru bagi geliat pariwisata petualangan di Tanah Nyiur Melambai. Komunitas pelaku wisata petualangan dari berbagai disiplin berkumpul, menandai momen penting pelantikan Pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Indonesia Adventure Travel Trade Association (IATTA) Sulawesi Utara (Sulut) periode 2025-2030.

Pelantikan DPW IATTA Sulut: Semangat Baru untuk Wisata Petualangan

Acara pelantikan ini secara resmi dipimpin oleh Ketua Umum IATTA, Amalia Yunita, yang hadir langsung untuk memberikan amanah kepada para pengurus baru. Dalam sambutannya, Amalia Yunita menekankan pentingnya menjalankan setiap aktivitas pariwisata petualangan dengan mengedepankan prinsip keamanan, kenyamanan, etika profesi, serta komitmen kuat terhadap keberlanjutan lingkungan atau sustainable tourism. Hal ini menjadi fondasi krusial dalam membangun citra Indonesia sebagai destinasi wisata petualangan kelas dunia yang bertanggung jawab.

Ketua DPW IATTA Sulut yang baru dilantik, Bob Sumoked, SPd, menyampaikan rasa optimisme yang tinggi melihat antusiasme luar biasa dari para pengelola pariwisata petualangan yang telah bergabung dengan IATTA Sulawesi Utara. "Antusiasme ini bukan sekadar isapan jempol belaka," ujar Bob Sumoked dengan penuh keyakinan. "Kami bangga melihat begitu banyak perwakilan dari berbagai organisasi yang memiliki dedikasi tinggi terhadap dunia petualangan kini menjadi bagian dari kepengurusan ini."

Keberagaman keanggotaan ini menjadi bukti nyata dari luasnya spektrum pariwisata petualangan di Sulawesi Utara. Bob Sumoked merinci, "Ini dibuktikan dengan masuknya personel dari FASI (Federasi Aero Sport Indonesia), FAJI (Federasi Arung Jeram Indonesia), FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia), APGI (Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia), POSSI (Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia), PADI (Professional Association of Diving Instructors), AWISTA (Asosiasi Wisata Arung Jeram Indonesia), AELI (Asosiasi Edukasi Lingkungan Indonesia), FREE DIVING, FORMASI (forum mancing), bahkan UNIT SAR Manado dalam kepengurusan." Kolaborasi lintas disiplin ini diharapkan dapat menciptakan sinergi yang kuat untuk pengembangan pariwisata petualangan di wilayah tersebut.

Potensi Luas dan Inovasi Berkelanjutan

Cahyo Alkantana, salah satu pendiri IATTA, turut memberikan pandangannya mengenai potensi besar yang dimiliki Sulawesi Utara. Ia mengungkapkan kekagumannya terhadap keragaman atraksi wisata petualangan yang ditawarkan oleh provinsi ini. "Sulawesi Utara memiliki potensi wisata petualangan yang sangat beragam, mulai dari keindahan bawah laut, tantangan pendakian gunung, hingga keseruan aktivitas air lainnya," jelas Cahyo Alkantana.

Lebih lanjut, Cahyo Alkantana mendorong IATTA untuk senantiasa berpikir out of the box dalam menciptakan inovasi. "Maka IATTA harus berpikir out of the box untuk menciptakan atraksi wisata yang baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya untuk menarik wisatawan berkunjung ke Sulawesi Utara," tuturnya. Inovasi inilah yang akan menjadi kunci untuk membedakan Sulawesi Utara dari destinasi lain dan meninggalkan kesan mendalam bagi para pengunjung.

Mengenal Indonesia Adventure Travel Trade Association (IATTA)

Indonesia Adventure Travel Trade Association (IATTA) merupakan sebuah asosiasi industri pariwisata petualangan di Indonesia yang didirikan dengan visi ambisius untuk mengangkat kualitas dan reputasi Indonesia sebagai salah satu destinasi wisata petualangan terkemuka di kancah global. IATTA hadir sebagai wadah kolaborasi yang kuat bagi seluruh pelaku industri pariwisata petualangan, bertujuan untuk menghubungkan, memperkuat, dan mendorong pertumbuhan sektor ini secara berkelanjutan dan bertanggung jawab.

Perjalanan IATTA dimulai pada tanggal 10 November 2017, ketika asosiasi ini dideklarasikan di Hotel Ibis Tamarin, Jakarta. Deklarasi tersebut dihadiri oleh 58 pelaku industri dan media pariwisata petualangan dari seluruh penjuru Indonesia, serta perwakilan dari berbagai asosiasi yang menaungi kegiatan petualangan, di antaranya AELI, ASTAGA, ACI, FAJI, APGI, FPTI, APTIPI, dan IASA. Keberadaan IATTA diharapkan dapat menjadi mitra strategis bagi pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, dalam merumuskan kebijakan-kebijakan yang efektif untuk mendorong pembangunan sektor pariwisata petualangan di Indonesia.

Struktur Pengurus DPW IATTA Sulut Masa Bhakti 2025-2030

Struktur kepengurusan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) IATTA Sulawesi Utara untuk masa bakti 2025-2030 telah terbentuk dengan solid, mencerminkan komitmen dan dedikasi para anggotanya. Susunan lengkapnya adalah sebagai berikut:

Dewan Pembina: * Kepala Dinas Pariwisata Sulut (jabatan ex officio) * Kepala Dinas Kehutanan Sulut (jabatan ex officio) * Kepala Dinas Pemuda & Olahraga (jabatan ex officio)

Dewan Pengawas: 1. Martin L. Tumbelaka, SH 2. Joune Ganda, MAP, MSi 3. Dr. Richard Sualang 4. Nanvie Tagah, SIP 5. Steven Malonda, SIP, MSi, MH 6. Alwan Hatma, SPd

Dewan Pengurus: * Ketua Umum: Bob Sumoked, SPd * Sekretaris Umum: Mauldy Maili * Bendahara: Lauhien Kowaas

Wakil Ketua Bidang: * Organisasi: Ferdy Pangalila, SPd * Pemasaran dan Pengembangan: Stephant Langitan, SPd * Pengembangan Kapasitas: Yefta Tololiu, SPd * Wisata Petualang: Arlen Kolinug * Komunikasi & Hubungan Kelembagaan: Franky Singkoh * Keselamatan dan Kesehatan Keamanan: Yandre Muntiaha * Riset dan Pendataan: Richard Rambitan

Kepala Bidang: * Organisasi: Rian Williem, SPd * Brand Communication: Marynita. A. Watulingas, MSc * Pendidikan Pelatihan: Christine Ingkiriwang * Ekonomi dan Sosial: Meggie G. Mamahit, SPi * Lingkungan Hidup: Geovani Poluakan, SPsi, MAP * Humas dan Media: Ridwan Nurhamidin, SPd * Kesehatan Keselamatan Wisata Petualang: Fardi Bokang * Kesehatan Keselamatan Nusa Tirta Dirga: Meitjia Worotican * Riset dan Pendataan: Fathan Mubin

Dengan kepengurusan yang solid dan visi yang jelas, IATTA Sulawesi Utara optimis dapat membawa pariwisata petualangan di provinsi ini ke tingkat yang lebih tinggi, memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian daerah dan kelestarian alam.

JAKARTA, medkomsubangnetwork— Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan taman bermain anak di Gang Royal, RW 13, Penjaringan, Jakarta Utara, yang dibangun pemerintah untuk menghadirkan ruang publik aman, justru berubah fungsi menjadi lokasi pembuangan alat kontrasepsi bekas aktivitas prostitusi di sekitar rel kereta.

RTH dan taman bermain anak itu dibangun sekitar 2023 setelah puluhan bangunan liar tempat prostitusi di Gang Royal, baik di Jakarta Utara maupun Jakarta Barat, dibongkar total. Namun, aktivitas prostitusi tidak benar-benar hilang.

Prostitusi di Gang Royal dilakukan di sisi kanan dan kiri rel kereta api yang menjadi perbatasan antara Jakarta Barat dan Jakarta Utara.

Setelah bangunan liar di Jakarta Barat dibongkar pada Oktober 2025, aktivitas itu kembali muncul melalui tenda-tenda bongkar pasang. Tenda-tenda tersebut didirikan tepat di atas RTH dan taman bermain anak.

“Iya betul, setelah pembongkaran di barat lalu dia bergeser atau bangun lagi tenda-tenda itu di wilayah utara,” ujar Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK) RW 13, Endang Wijaya Diharja (23), Selasa (18/11/2025).

Sebelum pembongkaran, hanya ada dua tenda bongkar pasang di Jakarta Utara. Kini jumlahnya bertambah menjadi sekitar 13 tenda.

Alat kontrasepsi berserakan di taman

Aktivitas prostitusi yang masih berlangsung membuat area RTH dan taman bermain anak kerap dipenuhi alat kontrasepsi bekas. Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PJLP) menjumpai temuan tersebut hampir setiap pagi.

“Iya benar kadang ada tisu magic, kondom, botol minuman,” kata Yoyo (bukan nama sebenarnya, 43), salah satu petugas Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP).

Bahkan, Yoyo pernah mendapati anak-anak menemukan kondom bekas.

“Bahkan, anak kecil memberi unjuk ke saya lagi meniup kondom,” ujar Yoyo.

Ia mengaku kerap menemukan tisu magic yang terbawa angin dan jatuh ke RTH setiap hari. Petugas harus bekerja ekstra untuk memastikan tidak ada alat kontrasepsi tersisa yang dapat dijangkau anak-anak.

"Kalau tisu mah hampir setiap hari, enggak bisa dihitung banyak, namanya dia buang sembarangan terus ada kereta kena angin jatuh ke taman," jelas Yoyo.

Warga dan petugas resah

Yoyo dan warga sekitar mengaku sangat khawatir. Selain mengganggu kebersihan, mereka takut anak-anak terpapar material berbahaya.

“Ya, sangat meresahkan saya melihat anak kecil megang-megang alat kontrasepsi, kami tidak tahu apakah itu bekas yang punya penyakit atau tidak,” ujar Yoyo.

Temuan ini rutin ia laporkan, termasuk laporan yang dibuat orangtua anak yang sempat meniup kondom bekas melalui aplikasi JAKI.

Namun, prostitusi masih berjalan dan sampah terus berserakan.

Sekretaris RT 002 RW 13, Agung (46), menjelaskan warga sulit melakukan penertiban karena tenda-tenda tersebut dibangun di area RTH dan taman, yang belum diserahkan pengelolaannya oleh Pemprov DKI kepada warga.

Karena tidak ada wewenang resmi, pelaku prostitusi merasa bebas mendirikan tenda. Agung berharap taman tersebut dapat diubah menjadi RPTRA agar warga bisa ikut mengelola.

"Harapannya ditertibkan jadi RPTRA, jadi UMKM, taman bermain, atau taman baca anak, ditambah lagi dengan acara keagamaan dan olahraga seperti futsal untuk anak wilayah itu yang kita inginkan," ungkap Agung.

Pemerintah dinilai gagal putus mata rantai prostitusi

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Ai Maryati Solihah menilai kondisi ini menunjukkan pemerintah belum berhasil menyelesaikan persoalan prostitusi di Gang Royal sampai tuntas.

“Kalau diubah menjadi tempat bermain untuk mengelabui berbagai pihak padahal itu masih menjadi tempat prostitusinya, berarti artinya tidak terselesaikan sampai ke akar permasalahannya,” ujarnya.

Menurut dia, RTH dan taman bermain seharusnya menjadi ruang aman bagi anak, bukan untuk tempat pembuangan alat kontrasepsi bekas.

KPAI mendesak agar pemerintah bisa mengawasi langsung dan menyelesaikan permasalahan prostitusi di Gang Royal yang meresahkan.

"Untuk kembali menyelesaikan sampai akar permasalahannya dan secara langsung membangun kembali kondusifitas masyarakat supaya tidak terjadi lagi prostitusi di sana, apalagi terdapat tenda-tenda yang seharusnya enggak ada," tegas Ai.

Dampak serius bagi anak

KPAI menegaskan, anak-anak yang tumbuh di lingkungan prostitusi rentan mengalami dampak fisik dan psikologis, serta perilaku menyimpang.

"Banyak hal-hal yang seharusnya tidak terjadi atau belum mereka ketahui tapi mereka ketahui, kayak kontrasepsi dikira mainan, tentu ini akan berpengaruh buruk terhadap fisik, psikis, dan perkembangan," ungkap Ai.

Bahkan, kata Ai, anak-anak yang biasa menyaksikan aktivitas prostitusi berpotensi mengalami tumbuh kembang yang tidak wajar.

Di sisi lain, anak-anak tersebut juga akan terdorong memiliki perilaku yang menyimpang, seperti melakukan kekerasan, adanya hasrat ingin mencoba, mengumpulkan dan menjual alat kontrasepsi, dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu, Ai mendesak agar pemerintah selalu mengambil tindakan tegas terhadap setiap laporan warga mengenai aktivitas prostitusi di Gang Royal.

Lakukan pengawasan ketat

Di sisi lain, KPAI juga tak akan tinggal diam terhadap praktik prostitusi di Gang Royal yang mengancam masa depan anak-anak.

"KPAI akan melakukan langkah pengawasan dan koordinasi dengan berbagai pihak berarti ini ada disfunction antara pemerintah, partisipasi masyarakat, kemungkinan penyelesaian masalah yang sudah dirumuskan tidak terselenggara dengan optimal," ucap Ai.

Ke depannya, Ai berujar, KPAI akan memperjuangkan agar anak-anak di Gang Royal bisa mendapatkan ruang bermain yang layak dan aman.

KPAI juga meminta agar penertiban dan pengawasan yang ketat dilakukan pemerintah setempat agar aktivitas prostitusi tersebut tak lagi terjadi.

Namun, Ai tetap meminta penertiban yang dilakukan terus menjujung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

"Kami mengimbau dilakukan dengan langkah-langkah absertif, kemanusiaan, bukan represif apalagi dengan pola-pola kekerasan tentu ini kami tolak," jelas Ai.

Penertiban sesuai aturan

Kepala Dinas Sosial DKI Jakarta Iqbal Akbarudin memastikan penertiban terus dilakukan melalui pembongkaran dan razia rutin, sesuai dasar hukum yang berlaku.

"Dasar hukum pelaksanaan kegiatan Penertiban Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) dilakukan berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2007  tentang Ketertiban Umum dan Peraturan Gubernur Nomor 169 Tahun  2014 tentang Pola Penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial," tutur Iqbal.

PSK yang terjaring diberikan pembinaan selama satu tahun di Panti Sosial Perlindungan Bina Karya Harapan Mulia, termasuk pelatihan keterampilan untuk mencari pekerjaan baru.

Tak hanya melakukan penertiban, Dinas Sosial juga selalu memberikan sederet pembinaan terhadap PSK yang ditangkap.

Para PSK yang ditangkap akan dibina selama satu tahun di Panti Sosial Perlindungan Bina Karya Harapan Mulia.

Di sana, mereka akan mendapatkan pembinaan keterampilan seperti tata boga, tata rias, seni musik, dan lain sebagainya.

Keterampilan-keterampilan tersebut diharapkan bisa menjadi modal para PSK untuk mencari peluang kerja baru setelah keluar dari panti sosial.

Geger di SMPN 19 Tangsel: Bocah 13 tahun meninggal diduga jadi korban bullying teman sekelas, memicu duka dan perhatian publik luas di media sosial.

medkomsubangnetwork Kasus bullying yang berujung pada meninggalnya seorang siswa terjadi di SMP Negeri di Tangerang Selatan. MH (13), siswa kelas I, meninggal di ruang ICU RS Fatmawati, Jakarta Selatan, pada Minggu (16/11/2025) pagi.

Sejak awal masuk sekolah, MH diduga menjadi korban perundungan oleh teman-temannya.

Bentuk perundungan ini diduga turut memperburuk kondisi kesehatannya, yang ternyata memiliki penyakit bawaan yang sebelumnya tidak terdeteksi.

Kabar duka ini menyoroti rangkaian peristiwa yang dialami MH, mulai dari dugaan kekerasan di lingkungan sekolah, penanganan medis yang panjang, hingga temuan kondisi kesehatan lain yang baru diketahui menjelang kematiannya.

Peristiwa ini menjadi perhatian publik dan mengundang diskusi luas mengenai keamanan, pengawasan, dan perlindungan terhadap siswa di sekolah.

Berawal dari perundungan yang berulang

MH diduga mengalami intimidasi oleh teman sekelasnya sejak Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Menurut ibunya, Y (38), perlakuan tersebut tidak hanya berupa ejekan, tetapi juga kekerasan fisik.

“Sering ditusukin sama sedotan tangannya. Kalau lagi belajar, ditendang lengannya. Asal nulis ditendang, sama punggungnya itu dipukul,” kata Y.

Puncak kekerasan terjadi pada Senin (20/10/2025), ketika kepala MH dihantam menggunakan kursi besi oleh rekan sekelasnya.

Sejak saat itu, kondisi korban terus menurun hingga harus menjalani perawatan intensif.

Awalnya MH dirawat di sebuah rumah sakit swasta di Tangerang Selatan.

Namun karena kondisinya tidak membaik, ia dirujuk ke RS Fatmawati pada Minggu (9/11/2025).

Pada Selasa (11/11/2025), MH masuk ruang ICU dengan intubasi.

Sejak itu, kondisinya terus kritis. Hingga pada Minggu (16/11/2025), pendamping dari LBH Korban, Alvian, menerima kabar duka sekitar pukul 06.00 WIB dari keluarga.

“Korban sudah tidak ada. Kalau jamnya kami kurang tahu, tapi kami dikabari pihak keluarga pas jam 06.00 WIB," ujar Alvian

Tumor yang baru terdeteksi

Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie membenarkan kabar tersebut.

Ia mengatakan, pihak medis menemukan kondisi kesehatan lain dalam tubuh MH.

“Jadi memang si anak ini sudah menderita tumor, memang baru ketahuan saja. Terpicu, kemarin dengan kejadian itu,” ujar Benyamin.

Ia menyebutkan, informasi tersebut diperoleh dari rumah sakit.

Menurut dia, tumor otak yang diderita MH kemungkinan telah berkembang selama bertahun-tahun tanpa disadari.

Meski begitu, Pemkot Tangsel akan menelusuri lebih lanjut kondisi medis tersebut.

"Prosesnya saya serahkan kepada polisi, kalau yang bersangkutan memang keluarga korbannya mengadukan, itu kita serahkan kepada Pak kapolres," jelasnya.

Enam saksi diperiksa

Kasi Humas Polres Tangsel AKP Agil Sahril mengatakan, penyidik telah memeriksa enam saksi, termasuk guru-guru yang mengajar MH.

“Penyidik sudah meminta keterangan klarifikasi dari beberapa saksi, ada enam orang termasuk guru pengajar,” kata Agil, Minggu.

Sebelum MH kritis, penyidik juga beberapa kali meminta keterangan korban dengan pendampingan keluarga, KPAI, Dinas Pendidikan, dan UPTD PPA Kota Tangsel.

“Petugas juga membuat laporan informasi sebagai dasar dimulainya penyelidikan secara resmi,” jelas Agil.

Polres Tangsel menyampaikan belasungkawa sekaligus memastikan penyelidikan dugaan perundungan tetap dilakukan secara profesional.

Respons pemkot dan upaya pencegahan

Benyamin menegaskan bahwa dugaan perundungan terhadap MH telah didampingi hingga tingkat kepolisian.

“Kalau memang keluarga mengadukan, kami serahkan kepada Pak Kapolres. Penanganan hukumnya kewenangan kepolisian,” ujarnya.

Pemkot Tangsel menyebutkan, telah membentuk Satgas Anti-Bullying di seluruh sekolah.

Selain itu, Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) juga akan diperkuat untuk mencegah kejadian serupa terulang.

 “Baik di dalam maupun di luar sekolah, kekerasan itu tidak boleh dilakukan,” kata Benyamin.

TribunJateng.com |  Msi | medkomsubangnetwork| Surya Rafi

Kiprah Pemuda Suku Osing Banyuwangi yang Jadi Penggerak Desa Wisata Kelas Dunia
Ringkasan Berita:
  • Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi tenar dan menjadi jujugan wisatawan lokal maupun mancanegara. Festival Ngopi Sepuluh Ewu angkat potensi budaya Suku Osing dan wisata  Desa Kemiren
  • Selain Ngopi Sepuluh Ewu, dua festival lain yang rutin digelar yaitu Festival Barong Ider Bumi dan Tumpeng Sewu
  • Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, menyebut prestasi Desa Kemiren di tingkat internasional berasal dari kearifan dan budaya lokal yang dirawat dengan sungguh-sungguh
 

medkomsubangnetwork, BANYUWANGI - Anak-anak muda suku Osing, suku yang berasal dari pengasingan era Perang Puputan Bayu, kini menjelma jadi desa wisata terbaik dunia.

Aroma kopi menyeruak ketika melangkah di jalan utama Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Sabtu (8/11/2025) petang.

Di kanan-kiri jalan, ratusan orang duduk santai di kursi kayu bergaya lawas sembari menikmati suguhan kopi tubruk.

Petang itu, masyarakat suku Osing—suku asli Banyuwangi yang banyak tinggal di Desa Kemiren—menggelar perayaan Festival Ngopi Sepuluh Ewu.

Ngopi sepuluh ewu dalam bahasa Indonesia berarti minum kopi sepuluh ribu.

Seperti namanya, sebanyak kurang lebih 10 ribu cangkir kopi disajikan secara cuma-cuma untuk siapapun yang datang ke festival yang rutin digelar setiap tahun itu.

Kopi gratis, suasana syahdu, dan keramahtamahan warga. Tiga hal yang cukup untuk menarik ribuan orang dari berbagai penjuru daerah datang ke Festival Ngopi Sepuluh Ewu. Termasuk wisatawan asal Mancanegara.

"Saya suka di sini karena semua orang baik. Semua orang tersenyum. Kopinya juga enak," kata Adela, wisatawan asal Ceko.

Adela datang bersama pasangannya, Adrek. Mereka berlibur selama dua hari di Banyuwangi untuk menikmati kekayaan alam dan budaya kabupaten ujung Timur Pulau Jawa itu.

"Menyenangkan melihat orang sebanyak ini berbaur. Saya sebenarnya bukan penikmat kopi. Tapi di sini saya meminumnya untuk ikut merayakan bersama warga," ujar Sebastian, wisatawan lain asal Prancis.

Adela, Adrek, dan Bebasitan berbaur dengan ribuan warga lain yang silih berganti berdatangan ke kampung berpenduduk sekitar 2.500 jiwa itu.

Bukan Desa Penghasil Kopi

Desa Kemiren bukanlah penghasil kopi. Kopi sebanyak satu kuintal yang disajikan dalam festival itu merupakan blend jenis arabika dan robusta yang didapat dari perkebunan wilayah lain di Banyuwangi dan Bondowoso.

Tapi masyarakat suku Osing punya kedekatan dengan kopi dari sisi budaya. Wajib bagi mereka menyuguhkan kopi kepada tamu yang datang ke rumah.

Mereka juga punya kebiasaan unik lain. Dalam setiap pernikahan, orang tua akan menghadiahi pengantin dengan beberapa perabot rumah.

Satu yang tak pernah ketinggalan adalah selusin cangkir keramik kecil. Bisa cangkir baru atau cangkir lawas yang diwariskan secara turun temurun.

Cangkir-cangkir ini juga yang dikeluarkan dari tiap rumah untuk disajikan kepada wisatawan dalam festival Ngopi Sepuluh Ewu.

"Dulu tidak terpikirkan bagi kami bahwa budaya sederhana yang kami miliki menarik bagi para wisatawan," kata Moh Edy Saputro, Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Kemiren.

Ada Tiga Event Besar di Desa Kemiren

Festival Ngopi Sepuluh Ewu yang rutin digelar setiap tahun bukanlah satu-satunya pagelaran besar di desa tersebut.

Kemiren setidaknya menyumbang tiga event dalam kalender Banyuwangi Festival (B-Fest), sebuah rangkaian event wisata yang sukses memoles citra Banyuwangi sebagai Kota Wisata di Indonesia.

Selain Ngopi Sepuluh Ewu, dua festival lain adalah Festival Barong Ider Bumi dan Tumpeng Sewu.

"Barong Ider Bumi merupakan ritual yang digelar sebagai penyucian dan perlindungan. Upacara tradisional ini sudah digelar puluhan atau bahkan ratusan tahun setiap hari kedua bulan Syawal dalam kalender Islam," terang Edy.

Sementara Tumpeng Sewu berakar dari tradisi selamatan desa atas hasil panen yang melimpah.

Warga suku Osing menggelarnya sebagai bentuk rasa syukur sekaligus untuk memperkuat solidaritas sosial antarwarga.

"Kami berusaha menjaga warisan leluhur. Pariwisata menjadi momentum bagi masyarakat suku Osing terus merawat tradisi," imbuh pria 27 tahun itu.

Edy menjelaskan, memoles desa adat menjadi desa wisata tidak semudah membalik telapak tangan.

Beberapa kali upaya dilakukan, tapi tak selalu membuahkan hasil maksimal. Desa wisata pertama kali digagas sekitar tahun 2013.

Berbagai kegiatan budaya digelar untuk mendatangkan minat wisatawan. Sempat berjalan beberapa tahun, tapi kurangnya konsistensi membuat desa adat sempat mati suri.

Siapkan Titik Destinasi Budaya dengan Paket Wisata

Baru sekitar 2017, pemuda-pemuda suku Osing yang tergabung dalam kelompok karang taruna mencoba mengulangnya kembali.

Sekitar 20 remaja membentuk Pokdarwis. Mereka menyiapkan titik-titik destinasi budaya sebagai paket wisata dengan konsep yang lebih matang.

Para pemuda yang melek teknologi membuat promosi Desa Wisata Adat Kemiren menjadi lebih bergairah.

Apalagi saat itu bertepatan juga dengan momentum kebangkitan wisata di Bumi Blambangan.

Data pemerintah daerah yang dihimpun dari Badan Statistik Nasional mencatat, jumlah wisatawan yang datang ke Banyuwangi pada 2017 mencapai 4,9 juta kunjungan.

Naik signifikan dari tahun sebelumnya sebesar 4 juta kunjungan.

Sejak saat itu, wisatawan di Banyuwangi terus meningkat dari tahun ke tahun, yakni 5,3 juta pada 2018 dan 5,4 juta pada 2019.

Sempat menurun karena pandemi Covid-19, Banyuwangi terus mencoba bangkit untuk mengulang kesuksesan sebelumnya.

Di beberapa daerah, pariwisata mengubah budaya dari sebuah desa. Tapi tidak di Kemiren. Di sana, kearifan lokal justru semakin dirawat sebab ia menjadi daya tarik.

"Masyarakat suku Osing memiliki rumah yang khas terbuat dari kayu dan bambu dengan bentuk atap yang berbeda dari rumah khas Jawa atau Bali. Sejak menjadi desa wisata, rumah-rumah adat justru semakin banyak karena ini juga menjadi daya tarik," tambah Edy tahun itu.

Tari Gandung Mendunia

Kebudayaan lain masyarakat suku Osing tak boleh dilupakan adalah Tari Gandrung.

Ini merupakan sebuah tarian yang pertama kali ditampilkan zaman kependudukan Belanda atau sekitar abad ke-18.

Tarian tersebut kini dikenal luas melalui pentas tari kolosal Festival Gandrung Sewu yang digelar oleh Pemkab Banyuwangi.

Festival yang rutin digelar di pantai Selat Bali ini menjadi salah satu event unggulan nasional dan masuk dalam kalender wisata Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata.

Kekayaan budaya yang dibungkus dalam atraksi wisata berhasil mengantarkan Desa Kemiren sebagai salah satu desa wisata terbaik di dunia 2025.

Kemiren masuk dalam jaringan desa wisata terbaik dunia kategori Upgrade Programme dari UN Tourism, badan kepariwisataan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Kategori itu merupakan tingkat kedua tertinggi dalam penilaian desa wisata opeh UN Tourism. Dari 72 desa wisata terbaik di dunia tahun ini, hanya ada dua desa wisata di Indonesia yang masuk di dalamnya.

Ratusan Keluarga Bergantung pada Sektor Wisata

Sejak Kemiren menjelma menjadi desa wisata, lebih dari 200 keluarga hidupnya bergantung pada sektor tersebut.

Mereka antara lain adalah para pemandu wisata, pekerja seni, pemilik akomodasi penginapan, pelaku usaha mikro kecil menengah, pengelola rumah adata kawasan cagar budaya, hingga pemilik persewaan tempat tinggi atau homestay.

Jumlah pelaku jasa wisata di Desa Kemiren juga terus tumbuh seiring waktu berjalan. Tercatat saat ini, sebanyak 22 usaha kecil-menengah berdiri di desa tersebut. Mereka bergerak di usaha makan-minuman hingga sandang.

Jumlah homestay berkali-kali lipat lebih banyak. Pihak desa mencatat, lebih dari 40 homestay berdiri di kawasan Desa Wisata Kemiren.

Mayoritas adalah rumah tinggal milik pribadi yang disewakan saat ada tamu berkunjung.

Beberapa sedikit di antaranya adalah hunian berupa kamar-kamar yang sengaja dibangun untuk tempat menginap tamu.

“Adanya wisata juga membuat sanggar kesenian tetap hidup. Di Kemiren, sanggar kesenian berjumlah 18. Semuanya adalah sanggar yang melestarikan kebudayaan adat suku Osing,” ujar Edy.

Ribuan Orang Datang ke Desa Wisata Kemiren

Setiap tahunnya, ribuan orang datang ke Desa Wisata Kemiren untuk mengenal kebudayaan setempat.

Data yang dihimpun Pokdarwis setempat, rata-rata 2 ribu hingga 4 ribu kunjungan tercatat dalam buku tamu dalam setiap tahunnya.

“Sebelum pandemi Covid-19, kunjungan di Desa Wisata Kemiren sempat menyentuh angka 18 ribu kunjungan. Itu terjadi pada 2019. Namun setelah pandemi, kunjungan sebanyak itu masih belum terulang kembali. Kami berupaya menyuguhkan kebudayaan dalam pariwisata sebaik mungkin untuk mengulang kembali capaian waktu itu,” imbuhnya.

Budaya dan Wisata Berjalan Beriringan

Bagi masyarakat suku Osing, kebudayaan yang membaur dengan pariwisata justru memberi nilai lebih. Keduanya saling melengkapi. Adat istiadat tetap lestari dan dijunjung tinggi. Di satu sisi, asap dapur rumah warga juga terus mengepul dampak dari pariwisata yang bergeliat.

“Kalau menurut saya, keduanya bisa berjalan beriringan dengan sangat baik. Dengan jadinya Kemiren sebagai desa wisata, masyarakat juga sejahtera. Anak-anak muda tak perlu pergi ke kota besar untuk mencari kerja,” kata Ketua Adat Osing Desa Kemiren, Suhaimi.

Suhaimi menjelaskan, suku Osing sebenarnya memiliki lebih banyak kebudayaan menarik di luar yang disuguhkan dalam pariwisata.

Contohnya, masyarakat suku Osing memiliki bahasa Osing, sebuah dialek jawa khas yang hingga kini masih menjadi bahasa ibu, bahkan oleh kalangan muda-mudi.

Bahasa Osing bisa didengar dalam lirik lagu-lagu bergenre kendang kempul Banyuwangi yang salah satunya dinyanyikan oleh penyanyi legendaris Sumiati. Lagu dengan lirik serupa juga banyak dinyanyikan oleh penyanyi dangdut generasi terkini seperti Suliayana atau Wandra Resturian.

Sejarah Panjang Bahasa Osing

Suhaimi bercerita, bahasa Osing menarik untuk diulik sebab memiliki sejarah yang panjang.

Sejarah bahasa ini berhubungan erat dengan asal muasal masayarakat suku Osing yang lahir era Perang Puputan Bayu (1771-1773).

“Jadi sebagian masyarakat Blambangan yang sudah bosan dengan peperangan memilih untuk mengasingkan dan memisahkan diri dari pemerintahan. Mereka tidak mau terlibat lagi dengan peperangan. Untuk itu mereka mengubah jati diri dengan salah satunya menggunakan bahasa yang berbeda. Bahasa Osing itulah yang masih digunakan hingga saat ini,” sambung Suhaimi.

Di Banyuwangi, masyarakat suku Osing sebenarnya tak hanya tinggal di Desa Kemiren. Suhaimi menyebut, warga suku Osing menyebar di sembilan kecamatan. Masing-masing memiliki komunitas Osing yang eksis.

“Yang dikenal masih menjaga dan melestarikan adat budaya sampai sekarang salah satunya Kemiren,” imbuhnya.

Kampung Berseri Astra

Desa Kemiren termasuk satu dari 235 Kampung Berseri Astra, sebuah program berbasis komunitas yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, cerdas, dan produktif.

Kepala Desa Kemiren Mohammad Arifin mengatakan, desa yang ia pimpin mendapat dukungan dari Astra sejak 2024.

Dukungan tersebut meliputi empat pilar, yakni pendidikan, kewirausahaan, lingkungan, dan kesehatan.

Pada pilar kesehatan, Astra memberi dukungan pada penyediaan sarana kesehatan dan pendampingan kader kesehatan. Astra juga memelopori pertemuan dini ibu hamil.

Sementara pada pilar pendidikan, Astra mendukung sarana pada lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) di Kemiren. Termasuk juga penyediaan peralatan belajar mengajar dan pelatihan bagi guru dan murid.

Pada pilar lingkungan, Astra melatih warga Kemiren untuk memanfaatkan limbah ternak menjadi beberapa produk bermanfaat.

Seperti pupuk organik dan biogas rumah tangga. Astra juga turut membentuk kelompok sadar lingkungan di Kemiren.

Terakhir, Astra turut memperkuat ekonomi melalui pengembangan unit usaha berbasis budaya lokal. 

“Astra juga yang mendukung kami ketika perwakilan warga harus berangkat ke China untuk pemaparan dalam program desa wisata terbaik dunia yang digelar UN Tourism di China pada Oktober lalu. Sehingga desa kami bisa masuk menjadi salah satu desa wisata terbaik di dunia,” kata dia. 

Kearifan dan Budaya Lokal Dirawat

Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi Taufik Rohman mengatakan, prestasi Desa Kemiren di tingkat internasional berasal dari kearifan dan budaya lokal yang dirawat dengan sungguh-sungguh.

Tugas terpenting saat ini, kata dia, adalah memastikan Kemiren tetap konsisten dalam menguri-uri budaya dan membangkitkan pariwisata.

“Penghargaan internasional ini tidak boleh membuat berpuas diri. Harus terus ada inovasi-inovasi dalam bentuk apapun yang membuat Kemiren akan tetap dikenal sebagai desa wisata terbaik dunia,” kata Taufik.

BACA BERITA medkomsubangnetworkLAINNYA DI GOOGLE NEWS

Diberdayakan oleh Blogger.