Halloween party ideas 2015
Tampilkan postingan dengan label atlet. Tampilkan semua postingan

medkomsubangnetwork, - Presiden Republik Indonesia (RI) Prabowo Subianto menepati janjinya untuk para peraih medali emas SEA Games 2025 dengan memberikan bonus sebesar Rp 1 miliar. Nominal itu meningkat drastis dari edisi sebelumnya.

Presiden Prabowo mencairkan bonus secara simbolis menyerahkan buku rekening kepada tiga perwakilan atlet peraih medali SEA Games ke-33. Yakni Edgar Xavier Marvelo (wushu), Basral Graito Hutomo (stakateboard), dan Martina Ayu Pratiwi (triathlon).

Pemberian bonus itu dilakukan oleh Prabowo saat menerima para atlet peraih medali SEA Games 2025 di Istana Negara, Jakarta pada Kamis (8/1) sore. Total Rp 465,25 miliar dikucurkan pemerintah kepada pahlawan olahraga nasional.

Rp 1 miliar jadi nominal bonus tertinggi yang diberikan pemerintah kepada atlet. Bonus itu diberikan kepada para atlet yang berhasil meraih medali emas di nomor perorangan.

Sementara atlet yang mendapatkan emas di nomor ganda dan beregu, masing-masing mendapatkan Rp 800 juta dan Rp 500 juta. Angka ini melonjak jauh ketimbang SEA Games edisi sebelumnya pada 2023.

Pada SEA Games 2023, peraih emas nomor perorangan dapat Rp 525 juta. Lalu ganda/pasangan menerima Rp 420 juta serta nomor beregu memperoleh bonus sebesar Rp 367,5 juta.

Peningkatan bonus emas ini sejalan dengan rekor manis yang diciptakan oleh kontingen merah putih. Raihan 91 emas dari total 333 medali ini bukan hanya sekedar melampaui target, tetapi juga mengantarkan Indonesia menempati ranking 2

Adapun pemberian bonus diputuskan berdasarkan Keputusan Menteri (Kepmen) Pemuda dan Olahraga RI Nomor 219 Tahun 2025 tentang Pemberian Penghargaan Olahraga kepada Olahragawan dan Pelatih Olahraga Berprestasi pada Penyelenggaraan South East Asian (SEA) Games Ke-33 Thailand Tahun 2025.

“Bapak Presiden juga begitu bangga atas raihan 91 emas, sehingga bonus untuk peraih emas SEA Games kali ini naik dua kali lipat dari sebelumnya menjadi Rp 1 miliar. Ini terbesar sepanjang sejarah," kata Erick di Istana Negara.

"Ini adalah bukti kepedulian Bapak Presiden atas masa depan para atlet, dan komitmen pemerintah untuk selalu mendukung para atlet kebanggaan tanah air,” tambahnya.

Namun peningkatan bonus hanya terjadi pada peraih emas. Untuk atlet yang dapat perak dan perunggu tak mengalami perubahan alias sama seperti saat SEA Games 2023.

Atlet peraih medali perak berhak mendapatkan Rp 315 juta untuk nomor perorangan, Rp 252 juta untuk ganda, serta Rp 220,5 juta untuk nomor beregu. Begitu pula dengan mereka yang menyabet perunggu.

Atlet tunggal peraih medali perunggu dapat bonus sebesar Rp 157 juta. Lalu yang berlaga di nomor ganda dapat Rp 126 juta, serta Rp 110,25 juta untuk kategori beregu.

Rincian pemberian bonus SEA Games 2025

– Atlet Perorangan:

Emas Rp 1.000.000.000

Perak Rp 315.000.000

Perunggu Rp 157.500.000

– Atlet Ganda:

Emas Rp 800.000.000

Perak Rp 252.000.000

Perunggu Rp 126.000.000

– Atlet Beregu:

Emas Rp 500.000.000

Perak Rp 220.500.000

Perunggu Rp 110.250.000

– Pelatih Perorangan/Ganda:

Emas Rp 300.000.000

Perak Rp 126.000.000

Perunggu Rp 63.000.000

– Pelatih Beregu:

Emas Rp 400.000.000

Perak Rp 189.000.000

Perunggu Rp 94.500.000

– Pelatih untuk Medali Kedua dan seterusnya:

Emas Rp 150.000.000

Perak Rp 63.000.000

Perunggu Rp 31.500.000

medkomsubangnetwork - Sebanyak tujuh dari sembilan atlet renang Indonesia berhasil melangkah ke babak final SEA Games 2025. Kontingen Merah Putih pun berpotensi panen medali emas pada hari kedua perebutan medali, Kamis (11/12).

Tim renang Indonesia sebelumnya telah membuka hari pertama dengan cukup apik. Satu emas dan satu perak dipersembahkan oleh tim renang, masing-masing dari Jason Donovan Yusuf dan Farrel Armandio Tangkas.

Jason Donovan dapat medali emas di nomor 100m gaya punggung putra. Sementara Farrel ada di bawahnya dan meraih perak pada nomor yang sama.

Kini memasuki hari kedua, cabor renang berpotensi menambah pundi-pundi medali, termasuk emas. Peluang itu muncul setelah tujuh perenang Indonesia menjalani lomba renang sesi pagi (babak kualifikasi) di Swimming Pool, Sports Authority of Thailand, Bangkok, dengan manis.

Pagi tadi ada sembilan perenang Indonesia yang berlomba di lima nomor lomba renang SEA Games 2025. Yakni 50m gaya punggung putra, 50m gaya punggung putri, 50m gaya bebas putra, 200m gaya bebas putri dan 100m gaya dada putra. Nah tujuh di antaranya sukses melesat ke final.

Mulai dari nomor 50m gaya punggung putra, di mana ada Jason Donovan Yusuf yang mencatatkan waktu 25,88 detik dan perenang senior I Gede Siman Sudartawa dengan waktu 26,40. Keduanya kompak melaju dan akan bertarung di final nomor 50m gaya punggung putra sore nanti.

Kemudian di nomor 50m gaya punggung putri, tim renang Indonesia juga memiliki potensi tinggi untuk bisa meraih medali emas. Ada perenang Merah Putih yang berhasil melaju ke final, yakni Flairene Candrea berkat mencatatkan waktu 29,53 detik dan Masniari Wolf dengan 29,20 detik.

Lalu di nomor 50m gaya bebas putra, Indonesia mengirimkan satu wakilnya ke final. Dia adalah Samuel Maxson Septionus, yang mampu lolos secara langsung ke babak final dengan catatan waktu renang 23,18 detik.

Bergeser ke nomor 200m gaya bebas putri, perenang Indonesia Serenna Karmelita Muslim juga membuka asa untuk meraih medali. Karmelita melesat ke perlombaan puncak setelah mencatatkan waktu 2:07.36 di babak kualifikasi.

Sementara atlet terakhir yang juga siap beraksi untuk memperebutan medali adalah Muhammad Dwiky Raharjo. Dia bakal berlomba di final nomor 100m gaya dada putra, berkat keberhasilannya lolos dari kualifikasi dengan waktu renang 1 menit 3,53 detik.

Albert C. Sutanto selaku pelatih timnas Renang Indonesia, mengaku senang dengan tembusnya 7 perenang Indonesia ke final. Menurutnya, keberhasilan anak asuhnya semakin membuka pintu harapan untuk menambah pundi-pundi medali SEA Games Thailand dari cabor renang.

"Kita punya peluang bagus di 50m gaya punggung putra karena ada Jason yang lagi bagus setelah kemarin dapat emas dan ada perenang senior kita Siman yang secara mental udah matang sekali dengan pengalaman 9 medali emasnya," ujar Albert, dalam keterangan resmi PB Akuatik Indonesia.

"Di bagian putri kita ada Masniari Wolf dan Flairene, yang bisa memberikan tekanan ke perenang naturalisasi Filipina. Jadi kita ada 2 peluru, mudah-mudahan bisa kena sasaran dua-duanya," tambahnya.

Tujuh perenang Indonesia tersebut dijadwalkan memulai perlombaan babak final hari kedua perlombaan di arena yang sama, di Swimming Pool, Sports Authority of Thailand, Bangkok. Final akan dilaksanakan mulai 18.00 waktu Bangkok, Thailand, yang sama seperti WIB.

Perjuangan Laila Rahmawati: Emas Angkat Besi Pati Terlahir dari Pengorbanan Pribadi

Di balik gemerlap medali emas yang diraih pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Praporprov) Jawa Tengah 2025, terselip kisah penuh dedikasi dan pengorbanan dari seorang atlet angkat besi kebanggaan Pati, Laila Rahmawati, yang baru berusia 22 tahun. Atlet putri yang bertanding di kelas 69 kg ini tidak hanya berjuang melawan beratnya beban besi di atas panggung kompetisi, tetapi juga harus menghadapi kenyataan pahit tekanan ekonomi yang memaksanya menggadaikan kalung emas kesayangannya demi meraih prestasi.

Suara dentuman besi yang beradu menjadi melodi latar belakang saat Laila menjalani sesi latihannya di bawah tribun Stadion Joyokusumo Pati. Kondisi tempat latihan yang ia hadapi sehari-hari jauh dari kata ideal: ruangan yang berdebu, lantai yang retak, dan peralatan yang sudah usang termakan usia. Namun, semangat juang Laila tak pernah padam.

"Latihan terus, yang penting persiapan matang. Mau fasilitasnya seperti apa, ya harus tetap dijalani," ungkap Laila, gadis asli Desa Lahar, Kecamatan Tlogowungu, dengan nada penuh tekad. Hampir setiap hari, ia berlatih di venue yang sangat memprihatinkan. Namun, keinginannya untuk terus berprestasi jauh lebih kuat daripada rasa lelah atau kekecewaan yang mungkin timbul akibat keterbatasan fasilitas.

Prestasi Gemilang di Tengah Keterbatasan Fasilitas

Kerja keras dan dedikasi Laila akhirnya membuahkan hasil yang manis. Pada bulan Oktober lalu, ia berhasil menaklukkan para pesaingnya di ajang Praporprov Jawa Tengah 2025 dengan selisih angkatan yang signifikan, meninggalkan jauh para peraih medali perak dan perunggu.

"Saya berhasil meraih medali emas. Capaiannya jauh melampaui atlet peraih medali perak dan perunggu," ucapnya dengan bangga. Prestasi gemilang Laila ini semakin mempertegas rekam jejak panjang cabang olahraga angkat besi Kabupaten Pati yang secara konsisten berhasil menyumbangkan medali emas sejak tahun 2018.

Namun, di balik sorak sorai kemenangan dan kilauan medali emas tersebut, terdapat sebuah kisah lain yang jarang tersentuh oleh publik. Sebuah kisah tentang pengorbanan pribadi yang mendalam.

Menggadaikan Kalung Emas Demi Sebutir Medali

Untuk dapat berpartisipasi dalam ajang Praporprov, Laila membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk keperluan persiapannya. Kebutuhan tersebut meliputi nutrisi khusus, suplemen, biaya bahan bakar untuk transportasi, hingga perlengkapan latihan lainnya. Sayangnya, uang pembinaan yang diterimanya dari pihak terkait ternyata tidak mencukupi untuk menutupi seluruh biaya tersebut.

Tahun ini, situasi semakin sulit. Uang pembinaan yang biasanya ia terima sebesar Rp 800 ribu per bulan, kini mengalami penurunan drastis menjadi hanya Rp 400 ribu. Lebih parah lagi, tunjangan suplemen yang sebelumnya ia terima sebesar Rp 400 ribu per bulan, kini sepenuhnya ditiadakan.

Ketika tenggat waktu pertandingan semakin dekat dan kebutuhan dana semakin mendesak, Laila terpaksa melakukan satu-satunya cara yang ia miliki. Ia harus rela mengorbankan aset pribadinya.

"Kemarin, total biaya yang saya keluarkan untuk persiapan mendekati Rp 5 juta. Saya terpaksa menggadaikan kalung emas kesayangan saya senilai Rp 1,5 juta. Selain itu, saya juga terpaksa menggunakan tabungan pribadi saya," ungkap Laila dengan suara lirih.

Kalung emas yang digadaikannya itu bukanlah sekadar perhiasan biasa. Benda tersebut merupakan hadiah berharga dari keluarganya, yang memiliki nilai emosional sangat tinggi baginya. Namun, demi menjaga tradisi emas bagi Kabupaten Pati dan demi memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang atlet, Laila harus merelakan benda kesayangannya itu. Ia juga harus menguras tabungannya hingga menyisakan Rp 3,5 juta.

"Uang pembinaan sebesar Rp 400 ribu itu bahkan hanya cukup untuk biaya bensin saja. Belum lagi untuk kebutuhan makan, nutrisi, dan berbagai keperluan lain yang harus dipenuhi oleh seorang atlet angkat berat," jelasnya lebih lanjut.

Anggaran Menipis, Beban Atlet Semakin Berat

Laila menegaskan bahwa para pengurus cabang olahraga angkat besi sebenarnya telah berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan dukungan. Namun, mereka juga terikat oleh kondisi anggaran yang mengalami penurunan signifikan, sehingga kemampuan mereka untuk memberikan bantuan lebih lanjut menjadi terbatas.

"Para pengurus sebenarnya sudah berusaha keras untuk membantu. Namun, karena anggaran yang diturunkan, mereka juga tidak bisa berbuat banyak," tuturnya.

Situasi ini mau tidak mau membuat sebagian besar beban persiapan latihan harus ditanggung sendiri oleh para atlet. Sebagai salah satu cabang olahraga yang selalu menjadi lumbung medali emas bagi Kabupaten Pati, angkat besi selalu menunjukkan performa yang konsisten dalam berbagai kejuaraan. Oleh karena itu, Laila sangat berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian yang lebih serius terhadap pembinaan atlet.

"Sejak tahun 2018, kami selalu meraih medali emas. Jika sampai tahun ini kami tidak bisa meraihnya, tentu akan sangat memalukan. Demi kebutuhan gizi dan persiapan lainnya, saya sampai harus menggadaikan kalung. Olahraga seperti angkat besi ini jarang sekali mendapatkan sorotan, padahal potensinya sangat besar," tegasnya dengan penuh keyakinan.

Medali Emas yang Terlahir dari Pengorbanan Tulus

Kisah pengorbanan Laila ini diharapkan dapat menjadi sebuah alarm bagi pemerintah daerah untuk segera melakukan perbaikan dalam sistem pembinaan atlet di Pati. Medali emas yang kini terpajang di kamarnya bukan hanya sekadar simbol kemenangan atas sebuah pertandingan, melainkan juga simbol dari perjuangan dan pengorbanan yang tulus. Tidak banyak atlet yang memiliki keberanian luar biasa untuk melepas barang pribadi berharga demi meraih sebuah prestasi.

Melalui perjuangannya, Laila menunjukkan bahwa di Pati, masih ada atlet-atlet yang berjuang bukan karena fasilitas yang memadai atau dukungan finansial yang melimpah, melainkan semata-mata karena kecintaan yang mendalam pada olahraga dan tekad kuat untuk mengharumkan nama daerahnya.

Dan medali emas tersebut, pada akhirnya, adalah sebuah kebanggaan yang patut dirasakan oleh seluruh masyarakat Kabupaten Pati. Namun, kisah di balik kemenangan ini menjadi sebuah pengingat yang berharga: prestasi yang gemilang membutuhkan dukungan yang nyata, bukan sekadar harapan semata.

Diberdayakan oleh Blogger.