Ringkasan Berita:
- Nur Handayani, perajin tas anyaman asal Desa Sepat, Masaran, Sragen, telah mengembangkan usaha sejak tahun 2000 dengan bahan tali strapping.
- Produknya kini diekspor ke tujuh negara, termasuk Jepang, Korea Selatan, Belanda, Australia, dan Singapura, dengan ribuan pesanan per bulan.
- Selain tas, Nur juga memproduksi sepatu dan sandal anyaman, dengan pasar ekspor rutin terutama ke Jepang, Korea, dan Hongkong.
Laporan Wartawan medkomsubangnetwork,, Septiana Ayu Lestari
medkomsubangnetwork,, SRAGEN -Nur Handayani tengah fokus menganyam sebuah tas berwarna biru saat medkomsubangnetwork,berkunjung ke kediamannya di Desa Sepat, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, Jumat (2/1/2026).
Ia duduk dengan bersandar di tumpukan tali strapping yang menjadi bahan baku pembuatan tas anyaman.
Kedua tangannya sangat lihai menganyam, sehinga dalam waktu sekejap, tas berukuran kecil yang akan dikirim ke Jepang itu hampir jadi.
Di rumah produksinya itu ia tidak sendiri, juga ada dua karyawan yang lain, yang mana salah satunya sedang memotong tali strapping, sementara yang satu memilah-milah tali strapping.
Di ruangan itu juga penuh dengan tas-tas anyaman berbagai warna dan bentuk, yang sudah siap kirim.
Di ruang sebelah ada 3 karyawan, yang membuat tiga jenis tas anyaman berbeda.
Kemudian, Nur memperlihatkan koleksi tas anyaman berbagai bentuk dan warna miliknya.
Tali strapping ada yang dipadukan dengan bahan kulit, ada tas berwarna hitam putih yang dibuat seperti rajutan, juga ada tas perpaduan coklat dan hitam terdapat motif persegi panjang, yang kata Nur merupakan pesanan dari Australia.
Tak hanya tas, Nur juga menunjukkan sepatu dan sandal buatannya yang dipadukan dengan anyaman tali strapping, yang begitu unik.
Tembus 7 Negara
Ibu dua anak ini menceritakan jika usaha tas anyaman yang diberi nama bandar Azalea itu ia mulai sejak tahun 2000.
Kini, usaha terus berkembang dan kerajinan yang dikerjakan oleh emak-emak ini telah masuk pasar Korea Selatan, Jepang, Belanda, Australia, Singapura, hingga Turki.
"Kalau yang ekspor sudah ke 7 negara, kalau yang lokalan sudah ke seluruh Indonesia, diekspor ke Jepang, Australia, Denmark, Singapura, Belanda, Malaysia, Hongkong, ekspor pertama itu ke Belanda," kata Nur kepada medkomsubangnetwork,, Jumat (2/1/2026).
Ia menceritakan setelah merintis usaha tas anyaman, ia didatangi temannya dan mengajak agar hasil karyanya itu diekspor keluar negeri.
"Awalnya tahu-tahu ada teman datang, ngajak untuk diekspor, awalnya Belanda tidak mau, karena katanya susah buang limbahnya, diekspor bareng produk rotan untuk memenuhi kuota, itu nyoba tas anyaman," jelasnya.
"Sudah diekspor ke Belanda sejak tahun 2016 atau 2017, sekarang ekspor ke Belanda sudah tidak banyak, yang banyak itu Jepang ke 7 kota," sambungnya.
Nur menuturkan produk yang diekspor ke Jepang ada bermacam-macam, kebanyakan tas belanja dan juga barang custom.
"Kalau di Tokyo ada aktivis perlindungan orang utan, kalau beli tas saya satu, nanti ditanam 1 pohon untuk reboisasi, jadi aktivis di Tokyo," terangnya.
Menurutnya, tas anyaman yang paling banyak diekspor ke Korea Selatan adalah tas jali-jali.
"Kalau ke Korea per bulan minimal 300 jali-jali, kalau ke Nagoya itu minimal 4.000 tas perbulan," singkatnya.
"Ekspor ke Jepang sudah lama, sudah sebelum corona tahun 2019, kalau ke Turki pernah tapi tidak bianyak, terus berhenti, yang rutin itu Jepang, Korea, Hongkong rutin tiap minggu ada," pungkasnya. (*)
(*)