Halloween party ideas 2015

Ringkasan Berita:
  • Rion Kaluku dianiaya secara brutal menggunakan senjata tajam dan kursi oleh sekelompok pria di depan keluarganya
  • Polisi telah menetapkan dua tersangka berinisial AR
  • Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea, yang berada di lokasi saat kejadian, meminta maaf dan menegaskan insiden ini tidak terkait dengan aktivitas UMKM
 

medkomsubangnetwork– Novaris Kaluku (60) menjadi salah satu saksi kunci dalam kasus pembacokan di Pasar Sentral Kota Gorontalo.

Ia mengungkap detik-detik peristiwa berdarah yang menimpa adiknya, Rion Kaluku, pada Sabtu malam (7/12/2025).

Novaris menyebut dirinya berada di lokasi bersama keluarga ketika insiden itu terjadi. Ia melihat langsung bagaimana adiknya dianiaya oleh tiga pria menggunakan kursi dan senjata tajam.

Dalam kondisi panik, Novaris berlari meminta pertolongan kepada Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea, dan Wakil Wali Kota Indra Gobel yang kebetulan berada tidak jauh dari tempat kejadian.

Sontak, Wali Kota dan Wakil Wali Kota kaget mendengar laporan tersebut. Mereka berusaha menghentikan aksi pelaku, namun serangan tetap berlangsung.

Namun, pelaku bertindak brutal dan tidak terkendali. Rion yang sudah terkapar tetap dihujani serangan hingga bersimbah darah.

Setelah itu, pelaku memasukkan parang ke dalam sarung dan meninggalkan korban yang tergeletak di pelataran pasar.

Belakangan diketahui pelaku langsung menyerahkan diri ke polisi tak lama setelah insiden itu.

Sementara korban segera dilarikan ke RS Multazam menggunakan sepeda motor oleh warga sekitar.

Penetapan Tersangka

Polisi bergerak cepat menangani kasus ini. Dua pria bernama Apriyanto Runtu (35) dan Aksel Rorintulus (29), resmi ditetapkan sebagai tersangka.

Apriyanto diketahui merupakan nelayan asal Gorontalo, sementara Aksel merupakan warga Manado, Sulawesi Utara.

Kapolresta Gorontalo Kota, Kombes Pol Suryono, menjelaskan penetapan tersangka dilakukan setelah pemeriksaan terhadap tujuh saksi.

“Kami sudah menetapkan dua orang berinisial AR,” ungkapnya.

Keduanya dijerat dengan Pasal 170 KUHP dan UU Darurat karena salah satu pelaku menggunakan senjata tajam saat menyerang korban.

Kapolresta menegaskan bahwa kejadian tersebut bukan serangan acak.

Dari hasil pemeriksaan, diketahui konflik antara pelaku dan korban sudah berlangsung lama.

Kronologi Kejadian

Sekitar pukul 22.40 Wita, Novaris bersama Rion dan keluarga mereka dari Jakarta sedang duduk dan menikmati kopi di salah satu booth warkop Pasar Sentral.

Tak lama kemudian, Rion meninggalkan tempat duduknya dan berpindah ke bagian belakang booth.

Novaris melihat Rion berbincang dengan salah seorang temannya.

Selang beberapa waktu, tiba-tiba terjadi keributan yang melibatkan tiga orang tak dikenal.

Novaris berdiri dan memperhatikan orang yang dianiaya. Ia kaget ketika mengetahui korban adalah adiknya sendiri.

Ia melihat Rion terkapar dan dianiaya oleh tiga pria menggunakan kursi serta parang.

Dalam kondisi panik, Novaris berlari menuju tempat duduk Wali Kota Adhan Dambea dan Wakil Wali Kota Indra Gobel.

Mendengar laporan itu, keduanya langsung berteriak dan berusaha menghentikan pelaku.

Namun, pelaku tidak terkendali dan terus melancarkan aksinya.

Setelah puas menyerang, pelaku memasukkan parang ke dalam sarung dan meninggalkan lokasi.

Korban yang bersimbah darah segera dibawa ke RS Multazam menggunakan sepeda motor.

Permintaan Maaf Wali Kota Gorontalo

Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas insiden yang terjadi.

Ia menegaskan bahwa peristiwa itu tidak direncanakan dan tidak berkaitan dengan aktivitas UMKM di kawasan Pasar Sentral.

"Mohon maaf atas kejadian semalam. Kejadian itu memang tidak direncanakan, saya kira semua tidak menghendaki semua itu," ujarnya.

Menurut Adhan, aksi penikaman tersebut dipicu oleh konflik personal yang telah terjadi sejak satu tahun lalu, tepatnya pada masa kampanye.

Ia menuturkan bahwa pelaku dan korban kebetulan bertemu di Pasar Sentral, sehingga pertikaian lama itu kembali memanas.

Terduga pelaku dikenal dengan panggilan "Starky", sementara korban bernama Rion Kaluku.

Adhan menjelaskan bahwa dirinya pernah menjadi sasaran berbagai tuduhan di media sosial, termasuk dituding memiliki utang Rp1 miliar.

Bahkan melalui media sosial, Adhan Dambea jadi sasaran cibiran hingga hinaan oleh korban.

Karena itu, Starky disebut sudah lama memendam amarah terhadap Rion Kaluku.

"Tetapi kebetulan semalam ketemu dengan saudara Rion ini (di Pasar Sentral),” ungkap Adhan.

Kapolresta Gorontalo Kota memastikan pihaknya akan terus mengusut kasus ini hingga tuntas.

Selain menetapkan tersangka, polisi juga berkomitmen meningkatkan keamanan di kawasan Pasar Sentral.

Patroli rutin akan digencarkan dengan melibatkan petugas keamanan pasar.

“Secara rutin tiap malam anggota kami melaksanakan patroli,” jelas Kapolresta.

Kegiatan UMKM Tidak Terkait Peristiwa

Adhan menegaskan bahwa insiden tersebut bukan terjadi karena kegiatan komunitas UMKM di Pasar Sentral.

Ia mengingatkan bahwa aktivitas UMKM yang kini ramai di Pasar Sentral murni berasal dari inisiatif warga.

“Kegiatan ini kegiatan saudara-saudara, bukan kegiatan komunitas pemerintah. Pemerintah hanya memfasilitasi, menyiapkan tempat. Ini benar-benar lahir dari masyarakat, mayoritas generasi muda,” tegasnya.

Ia meminta agar bila terjadi persoalan antarpersonal, sebaiknya diselesaikan secara internal atau dilaporkan ke pihak kepolisian untuk mencegah konflik berkembang menjadi kekerasan.

Adhan bahkan mengungkap bahwa ia sendiri pernah melaporkan dugaan pencemaran nama baik ke Polda Gorontalo namun tidak diproses.

Ia menilai jika laporan itu ditindaklanjuti, kemungkinan besar insiden Sabtu malam tidak akan terjadi.

Meski begitu, kericuhan yang terjadi menyebabkan ratusan kursi dan meja UMKM rusak.

Adhan mengapresiasi sejumlah pihak yang langsung berinisiatif mengumpulkan dana untuk mengganti kerugian pedagang.

Namun ia mengingatkan agar penggantian dilakukan dengan jujur dan berdasarkan bukti riil, bukan dengan menambah-nambahi kerusakan.

“Saya sarankan, jangan kasih uang. Dihitung berapa kursi yang rusak, diganti dengan kursi, bukan uang. Jangan tambah-tambah, kalian dapat dosa. Yang penting ada nota yang benar,” tegasnya.

 

(medkomsubangnetwork/Herjianto Tangahu/*)

Diberdayakan oleh Blogger.