Halloween party ideas 2015
Tampilkan postingan dengan label bisnis. Tampilkan semua postingan

Lingkungan kerja yang sehat dan suportif adalah dambaan setiap profesional. Namun, realitasnya, tak jarang kita dihadapkan pada sosok pemimpin yang justru menciptakan atmosfer penuh tekanan dan kecemasan. Atasan yang toxic bukan hanya sekadar menyebalkan, tetapi mereka adalah individu yang secara konsisten merusak moral dan menurunkan performa tim di bawahnya. Perilaku mereka yang destruktif dapat mengikis keterlibatan karyawan, menghilangkan rasa kepemilikan, serta merampas otonomi dan tujuan kerja yang esensial untuk pertumbuhan profesional.

"Atasan yang toxic ibarat menarik semua tuas yang mengarah pada kelelahan," ujar Peter Ronayne, seorang anggota senior di Center for Creative Leadership dan penulis buku "The Toxic Boss Survival Guide". Memang, tidak semua atasan yang kurang ideal secara otomatis masuk dalam kategori toxic. Ada yang mungkin sekadar kurang terorganisir, menjaga jarak, atau bahkan sedikit mengganggu. Namun, ada garis batas yang jelas antara ketidaksempurnaan biasa dengan perilaku yang secara inheren merusak.

Lantas, apa saja ciri-ciri atasan toxic yang perlu kita waspadai?

Ciri-Ciri Atasan Toxic yang Perlu Diwaspadai

Memahami karakteristik ini dapat membantu Anda mengidentifikasi dan menghadapi situasi yang merugikan.

  • Tidak Mendengarkan Umpan Balik Salah satu indikator paling jelas dari atasan toxic adalah ketidakmampuan atau keengganan mereka untuk mendengarkan. Umpan balik, saran, atau bahkan kekhawatiran yang Anda sampaikan seringkali diabaikan atau tidak diakui. "Penolakan terus-menerus dari seorang atasan tidak hanya merugikan tim mereka, tetapi seluruh perusahaan," jelas Tiziana Casciaro, Profesor Perilaku Organisasi dan Manajemen SDM di Universitas Toronto. Ia menambahkan, "Tidak ada organisasi yang dapat berkembang tanpa orang-orang yang belajar dari satu sama lain. Jika tidak, kita semua akan terus melakukan hal yang sama seperti yang selalu kita lakukan." Ketika Anda merasa komunikasi Anda dengan atasan selalu mentok, ini bukan hanya menghambat peluang belajar dan berkontribusi, tetapi juga bisa membuat Anda merasa bahwa pekerjaan atau ide Anda tidak memiliki nilai.

  • Micromanagement yang Berlebihan Meskipun micromanagement bisa menjadi sifat yang menyebalkan dari atasan mana pun, ia seringkali menjadi ciri khas dari atasan yang toxic. Ini menjadi toxic ketika atasan merasa perlu ikut campur dalam setiap detail pekerjaan, bahkan ketika Anda telah membuktikan kompetensi dan akuntabilitas Anda. Lebih parah lagi, mereka kerap mengambil pujian atas hasil kerja yang sebenarnya dilakukan oleh bawahan. "Ini benar-benar masalah kendali dan kurangnya kepercayaan," tegas Ronayne.

  • Menghambat Pertumbuhan Karyawan Bekerja di bawah atasan yang toxic seringkali membuat pekerjaan terasa monoton. Anda mungkin tidak pernah mendapatkan tanggung jawab baru, tugas-tugas menarik, atau pengakuan atas kontribusi Anda. Akibatnya, Anda bisa merasa terkekang, terjebak, dan tidak memiliki ruang untuk berkembang. "Atasan yang toxic menurunkan motivasi. Mereka memberikan sangat sedikit kelonggaran dalam cara bawahan melakukan pekerjaan yang ditugaskan, sangat sedikit mendengarkan, dan tidak memanfaatkan kemampuan bawahan sebaik-baiknya," ujar Casciaro.

  • Perilaku Berbeda di Hadapan Orang Lain Atasan toxic seringkali memiliki sifat "bermuka dua". Mereka cenderung bertindak sangat berbeda tergantung pada siapa yang mengamati mereka. Perilaku ini bisa sangat merugikan, terutama karena rekan kerja yang berada di level yang sama atau lebih tinggi mungkin tidak melihat bagaimana mereka memperlakukan bawahan atau mendapatkan gambaran yang objektif tentang dinamika sehari-hari di tim. Bagi bawahan, situasi ini dapat menimbulkan perasaan terisolasi dan meningkatkan ketakutan untuk menyuarakan kekhawatiran.

  • Menciptakan Rasa Tidak Aman Sebuah laporan dari US Surgeon General pada tahun 2022 menekankan bahwa menciptakan kondisi keselamatan fisik dan psikologis adalah fondasi penting untuk kesehatan mental dan kesejahteraan di tempat kerja. Atasan yang toxic secara aktif merusak rasa aman ini. "Atasan yang toxic mengurangi rasa memiliki dan hubungan Anda dengan perusahaan," kata Ronayne. Intinya, ketika Anda merasa tidak aman untuk berbicara dan terus-menerus khawatir tentang keamanan pekerjaan Anda, ini akan menguras energi mental Anda. Ketidakpastian dan kecemasan yang ditimbulkan oleh atasan toxic sangat melelahkan bagi siapa pun yang mengalaminya. Dengan merusak rasa aman karyawan, mereka mempercepat kelelahan tim dan perusahaan secara keseluruhan.

  • Memiliki Ekspektasi yang Tidak Realistis Atasan toxic seringkali kaku dalam menetapkan ekspektasi mereka. Mereka dapat menuntut beban kerja yang berlebihan, penyelesaian tugas yang sangat cepat, bahkan respons terhadap pesan di akhir pekan. Tuntutan yang tidak masuk akal ini dapat meningkatkan kecemasan dan ketakutan karyawan, serta merusak keseimbangan kehidupan kerja, yang merupakan komponen krusial bagi kesejahteraan karyawan.

  • Memihak dan Menjelek-jelekkan Rekan Kerja Favoritisme dan gosip negatif di antara anggota tim adalah ciri khas atasan toxic. Hal ini dapat membuat anggota tim kehilangan semangat karena keputusan tidak lagi didasarkan pada kinerja, melainkan pada kedekatan atau preferensi pribadi. Lebih jauh lagi, membicarakan rekan kerja di belakang dapat memicu konflik, persaingan tidak sehat, dan pada akhirnya menciptakan lingkungan kerja yang toxic.

  • Memberikan Umpan Balik Negatif di Depan Umum Atasan yang baik biasanya memberikan umpan balik negatif secara pribadi, dengan tujuan membangun. Sebaliknya, beberapa atasan toxic memilih untuk melakukannya di depan umum, di hadapan seluruh tim atau rekan kerja Anda. Tindakan ini sangat merendahkan moral dan mempermalukan, terutama jika kritik yang disampaikan bersifat kasar atau meremehkan, bukan konstruktif.

Memahami ciri-ciri ini adalah langkah awal yang penting untuk melindungi diri Anda dan, jika memungkinkan, berkontribusi pada perubahan positif di lingkungan kerja Anda.

Salah satu orang terkaya di dunia dan investor paling sukses, Waren Buffet terkenal bijaksana dan sederhana dalam mengelola keuangan. Menurut pemegang saham terbesar di Berkshire Hathaway ini, ada 10 kesalahan yang sering dilakukan seseorang dalam mengelola keuangan sehingga tak kunjung kaya. Apa saja kesalahan itu?

1. Tak Berinvetasi pada Diri Sendiri

Salah satu tips Buffett yang paling terkenal, yang dikenal sebagai rumus Buffett, adalah pergi tidur dengan pengetahuan lebih banyak setiap hari.

Buffett menyarankan untuk membaca. Ia menghabiskan sekitar 80% harinya untuk membaca, dan menyarankan siapa pun yang berharap meraih kesuksesan dengan membaca 500 halaman per hari.

Menurut dia, sudah saatnya seseorang mempertimbangkan strategi yang diambil jika sedang berinvestasi dalam hal lain selain diri sendiri.

"Investasi paling penting yang dapat Anda lakukan adalah pada diri Anda sendiri. Itulah cara pengetahuan berkembang. Seperti bunga majemuk," kata Buffett, menurut Inc.

2. Mengandalkan Kartu Kredit

Dalam menjalankan hidupnya, Buffet lebih senang menggunakan uang tunai daripada kartu kredit.

“Saya memiliki kartu American Express, yang saya dapatkan pada tahun 1964. Tapi saya membayar tunai 98% dari waktu," kata Buffett kepada Yahoo Finance.

3. Memilih Keuntungan Jangka Pendek

Meski sering berbicara mengenai berinvestasi dalam bisnis, Buffet tidak akan berinvestasi pada sesuatu hanya karena itu murah. Pasalnya, dengan mengutamakan kuantitas daripada kualitas, keuntungan jangka pendek mungkin tidak begitu berarti dalam jangka panjang.

“Jauh lebih baik membeli perusahaan yang luar biasa dengan harga yang wajar daripada membeli perusahaan yang biasa dengan harga yang luar biasa,” tulis Buffett dalam suratnya kepada pemegang saham Berkshire Hathaway pada tahun 1989.

4. Pengeluaran Tidak Perlu

Berdasarkan AP Moneywise, Buffett tidak peduli untuk memiliki teknologi terbaru atau label desainer. Hal tersebut terlihat dari ponsel flip seharga US$ 20 yang digunakan sampai dengan 2020 sebelum menggantinya dengan iPhone.

“Jangan menabung apa yang tersisa setelah pengeluaran, tetapi belanjakan apa yang tersisa setelah menabung,” menurut Moneywise.

5. Membeli Mobil Baru

Buffet lebih memilih membeli mobil bekas dengan harga yang lebih rendah dibandingkan dengan membeli mobil baru. Ini karena mobil merupakan aset yang mengalami penyusutan nilai setiap tahunnya.

Berdasarkan Kelley Blue Book, sebagian besar kendaraan baru mengalami penurunan nilai sebesar 20% pada tahun pertama. “Kenyataannya, saya hanya mengemudi sekitar 3.500 mil setahun, jadi saya sangat jarang membeli mobil baru,” katanya kepada Forbes.

6. Membeli Barang Tanpa Diskon

Warren Buffett selalu mencari penawaran yang bagus dalam membeli barang ataupun makanan untuk dirinya. Beberapa tahun yang lalu, Buffett pernah mentraktir Bill Gates makan di restoran capet saji dan menggunakan kupon untuk membayar makanannya.

“Ingat tawa yang kita alami ketika kita bepergian bersama ke Hong Kong dan memutuskan untuk makan siang di McDonald's? Kamu menawarkan untuk membayar, merogoh saku, dan mengeluarkan... kupon!” tulis Gates dalam surat tahunan 2017 bersama mantan istrinya, Melinda.

“Melinda baru saja menemukan foto saya dan ‘pengeluar besar.’ Itu mengingatkan kami betapa kamu menghargai penawaran yang bagus,” tulis Gates.

7. Sering Makan Malam di Luar

Buffett memiliki pola makan yang sangat sederhana dan tidak suka keluar banyak. Hal tersebut terungkap dalam biografi Buffett, "The Snowball: Warren Buffett and the Business of Life".

“Saya suka makan hal yang sama berulang-ulang. Saya bisa makan sandwich ham setiap hari selama lima puluh hari berturut-turut untuk sarapan,” seperti yang dilaporkan Mashed.

8. Membuang Peluang

Pada awal karirnya, Buffett mencari pekerjaan sampingan dan menghasilkan uang dengan mengantarkan surat kabar, menjual bola golf bekas, dan memoles mobil. Seperti yang dilaporkan oleh GOBankingRates, Buffet juga mencari peluang baru, dan ketika tidak bisa menemukannya, ia akan menciptakannya sendiri.

9. Judi

Pada rapat pemegang saham Berkshire Hathaway tahun 2007, Buffett mengatakan judi merupakan sesuatu yang memalukan secara sosial.

“Saya bukan orang yang sok moral, tetapi sampai batas tertentu, perjudian adalah pajak atas ketidaktahuan,” katanya, pada The Motley Fool.

Ia menilai bahwa seharusnya pemerintah memberikan jaminan sosial kepada penjudi.Untuk itu, ia menyarankan agar orang yang sudah memiliki uang ekstra tidak mensia-siakanya dengan berjudi.

10. Hidup Diluar Kemampuan

Ketika berbelanja dan melihat sesuatu yang disuka, seharusnya tanyakan kembali ke diri sendiri apakan benar membutuhkanya atau hanya menginginkannya.

Selama pertemuan pada tahun 2009 di Universitas Emory, Buffett mengatakan seseorang tidak bisa membeli kesehatan atau cinta dan memperingatkan untuk tidak membingungkan biaya hidup dengan standar hidup.

Diberdayakan oleh Blogger.